LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 49 : GAJIAN PERTAMA


__ADS_3

Keesokan harinya, Farel sebelum jam delapan sudah tiba di kantor, dengan sabar kepala bagian personalia memberi petunjuk serta memperkenalkan dirinya dengan karyawan dan karyawati lainnya. Mulailah ia mengerjakan tugasnya, yaitu mengantarkan dokumen-dokumen yang penting dari bagian ini ke bagian itu untuk ditanda tangani. Ternyata Farel mendapat uang makan dan uang transport sebanyak lima puluh ribu rupiah sehari. Ketika istirahat tengah hari, ia hanya makan nasi murahan di pinggir jalan. Pulang kerja langsung ia memberitahukan pada Rahmawati bahwa sehari sebanyak lima puluh ribu rupiah di dapatnya dari kantor.


"Lumayan juga!" Ucap Rahmawati sembari tersenyum. "Kalau misalnya gajimu tidak mencukupi, saya boleh bekerja juga kan?" Ucap Rahmawati.


"Lihat saja nanti!" Farel menyandarkan punggungnya ke belakang, saat itu mereka sedang duduk di ruangan tamu. "Saya rasa cukup, satu hari berikut ongkos saya hanya memakai dua puluh lima ribu rupiah, berarti masih sisa dua puluh lima ribu rupiah, untuk dapur sehari dan sedikit menabung... cukup tidak?" Tanya Farel.


"Saya rasa cukup!" Jawab Rahmawati. "Kalau demikian, kita masih bisa menabung sisa dari belanja perharinya minimal sepuluh ribu rupiah, sebulan berarti hampir tiga ratus rupiah kita simpan, belum ditambah gaji, saya rasa sehabis gajian, kau sudah bisa masuk kuliah!" Ucap Rahmawati.


"Tapi... kita masih belum mengetahui berapa gaji saya sebulan, kalau sudah mengetahui, kita bisa perhitungkan secara seksama." Jelas Farel.


"Farel, bukankah kita masih mempunyai sisa uang dari mami saya tempo hari?" Ucap Rahmawati lagi.


"Ya! Tapi, ingat! Kita tidak boleh sembarangan memakai uang itu." Balas Farel.


"Jika untuk ongkos kuliah, saya rasa boleh." Ucap Rahmawati.


"Rahma, bagaimana nanti saja setelah saya gajian baru dibicarakan!" Balas Farel.


"Baiklah!" Ucap Rahmawati kemudian.


Andi dengan rajin serta tekun bekerja di kantornya, siapa saja yang menyuruhnya, ia pasti jalan, sehingga dirinya sangat disayang oleh rekan-rekannya. Hari gajian ialah hari yang paling gembira bagi setiap karyawan atau setiap karyawati, demikianjuga dengan Farel, hatinya sangat girang ketika ia menerima amplop yang berisi uang gajiannya. Pulang kerja langsung ia memanggil-manggil Rahmawati yang sedang mencuci pakaian.


"Ada apa?" Rahmawati menghampirinya, Farel sedang duduk di kursi dapur.


"Rahma, saya telah gajian." Ucap Farel dengan girang.


"Sudah gajian?" Wajah Rahmawati cerah.


"Sudah!" Jawab Farel.


Setelah membersihkan tangannya yang penuh dengan busa sabun, dengan cepat Rahmawati menghampiri Farel.


"Berapa?" Tanyanya.


"Saya belum membuka amplop ini!" Farel memperlihatkan amplop yang berisi uang gajiannya. "Mari kita ke ruangan tamu." Ajaknya.


"Rahma, mari kita bertaruh." Ucap Farel setelah duduk.


"Bertaruh apa?" Rahmawati duduk di sebelahnya.


"Berapa isi amplop ini?" Balas Farel.


"Maksudmu uang gajian?" Rahmawati menatap Farel sembari berpikir. "Satu juta rupiah."


"Sehari lima puluh ribu rupiah uang makan dan uang transport, berarti sebulan sudah hampir satu juta lima ratus rupiah, jadi gaji pokok saya paling-paling ... Lima ratus rupiah atau satu juta rupiah lagi." Ucap Farel.


"Mari kita buka sambil berteriak Sim Sa La Bim!" Ucap Rahmawati dengan mata bercahaya-cahaya.


"Baiklah!" Perlahan-lahan Farel merobek pinggiran amplop itu, matanya dipejamkan, kemudian ia menyerahkan uang gajiannya kepada Rahmawati.


"Hitung, Rahma!" Farel masih memejamkan matanya. "Sudah menghitung belum?" Farel tidak berani membuka matanya.


"Sudah!" Seru Rahmawati dengan suara girang, mendadak wajahnya berobah muram.


"Berapa? Rahma!" Tercengang Farel melihat air muka Rahma.


"Ada... ada..." Ucap Rahmawati tak berlanjut.


"Ada berapa?" Farel tidak sabaran.


"Tiga ratus ribu rupiah!" Ucap Rahmawati.


Spontan punggung Farel terjatuh ke belakang dan berseru dengan lesu. "Lumayan!"


"Farel!" Mendadak Rahmawati tertawa-tawa.


"Eh! Rahma, kau senang dengan gaji saya hanya tiga ratus ribu rupiah sebulan?" Terbelalak mata Farel.


"Sebetulnya... sebetulnya gajimu" ucap Rahmawati.


"Kenapa gaji saya?" Farel tercenung melihat sikap Rahma.


"Gajimu sebanyak... " Sengaja Rahmawati berhenti sebentar. "Sebanyak satu juta lima ratus rupiah!"


"Rahma, kau belajar membohong ya?" Farel tidak percaya. "Tadi kau bilang hanya tiga ratus rupiah, sekarang berobah menjadi satu juta lima ratus rupiah, mana yang benar?" Ucap Farel.


"Yang benar ini!" Rahma menyerahkan uang gajian kepada Farel. Farel menghitung, mendadak ia melompat dari tempat duduknya sembari berseru, "Cihui, dua juta rupiah, mulai besok saya akan masuk kuliah Akunting!" Ucap Farel girang.

__ADS_1


"Ya! Besok kau boleh mendaftarkan diri!" Rahmawati ikut bergirang.


"Oh... ya! Rahma, entar kita ke rumah om dan tante ya?" Ajak Farel senang.


"Ayo...!" Balas Rahmawati tak kalah gembiranya.


Setelah merapikan ini dan itu, berangkatlah mereka ke rumah om Ismo Harsoyo atau pak Ismo Harsoyo. Tiba di rumah om Ismo Harsoyo, mereka disambut dengan girang dengan isteri om Ismo Harsoyo dan Amanda. Amanda menggandeng tangan Rahmawati sambil tersenyum manis, setelah duduk, segera Amanda menyediakan minuman.


"Farel, kau sudah bekerja?" Tanya tantenya.


"Sudah!" Jawab Farel. "Malah saya telah menerima gaji, dengan jujur Farel menceritakan ia bekerja di mana dan berapa gajinya serta berapa uang makannya sehari tanpa menambahi dan mengurangi.


"Bagus, Farel!" Ucap tantenya. "Ommu pasti merasa girang sekali mendengar hal ini!"


"Benarkah kak Farel sudah bekerja?" Tanya Amanda.


"Benar!" Rahma mewakili Farel menjawab.


"Kalau demikian, aku harap kalian harus irit, supaya bisa mengumpulkan uang demi kepentingan masa yang akan datang!" Ucap tantenya.


"Ya! Tante!" Jawab Farel. "Saya ingin masuk kuliah."


"Pikiran yang bagus!" Tantenya tertawa kecil.


"Dengan demikian berarti kau akan bertambah maju." Balas tantenya lagi.


"Kak Farel ingin kuliah apa?" Tanya Amanda yang duduk di samping Rahmawati. Wajahnya selalu berseri-seri.


"Saya ingin kuliah Akunting!" Jawab Farel.


"Kalau selesai kuliah, berarti kak Farel akan bertambah maju kan?" Balas Amanda.


"Mudah-mudahan!" Jawab Farel, kemudian ia bertanya pada tantenya. "Om jam berapa baru pulang?" Tanya Farel.


"Biasa! Tidak tentu." Tantenya tertawa.


"Kalau om sudah pulang, tolong sampaikan salam kami!" Ucap Rahmawati.


"Baik!" Tantenya bertanya. "Apakah mamahmu tidak ke rumah?" Tanya tantenya lagi.


"Tidak!" Jawab Rahmawati. "Mana mamah tahu alamat saya. Iya! Aku lupa! Kalau misalnya mamah saya kemari, tante tolong antar mamah saya ke rumah, ya?" Ucap Rahmawati meminta.


"Kak Farel, kak Rahma!" Ucap Amanda. "Saya yakin kalian sangat rukun dan bahagia." Lanjut Amanda.


"Berkat doamu!" Rahmawati tersenyum manis pada Amanda.


"Memang kak Farel sangat baik sih orangnya!" Ucap Amanda. "Sifatnya juga sabar serta halus. Benar-benar kak Farel dan kak Rahmawati adalah pasangan, yang tepat." Ucap Amanda.


"Amanda, kau juga sangat cantik." Rahmawari memandang ke arah Amanda.


"Kak Rahma lebih cantik!" Amanda menundukkan kepalanya.


"Rahma, entah papahmu menyesal tidak setelah mengusirmu?" Tanya tante.


"Mungkin tidak menyesal!" Rahmawati menarik nafas.


Tiba-tiba Ilham berlari ke dalam rumah sambil berseru, "Kak Farel, kak Rahma, kapan datang?"


"Belum lama!" Jawab Farel.


"Kak Farel sudah bekerja?" Ilham berdiri di samping ibunya.


"Sudah!" Jawab Farel singkat.


"Bagus! Kalau kak Farel sudah mempunyai uang, tolong belikan gitar yang bagusan ya?" Ucap Ilham meminta.


"Husssh! Minta yang bukan-bukan!" Bentak ibunya.


"Benarkah Ilham ingin gitar yang baru?" Tanya Farel sungguh-sungguh.


"Benar!" Jawab Ilham cepat.


"Farel, jangan ladeni!" Suara tantenya. "Anak kecil yang tidak tahu urusan."


"Siapa bilang saya tidak tahu urusan?" Ilham mengangkat dadanya, sehingga gagah tampaknya.


"Urusan dunia saya masih tahu, apa lagi urusan yang disebut sepele." Ucap Ilham.

__ADS_1


"Urusan dunia yang bagaimana?" Farel tercengang.


"Dunia dalam berita!" Ilham menyengir persis seperti monyet. Membuat Farel dan Rahmawati tertawa geli.


"Husssh! Kebanyakan nonton tivi." Ibunya mengomel.


"Pengetahuan dunia harus diketahui oleh orang-orang yang hidup di dunia. Sedangkan pengetahuan keluarga harus diketahui oleh yang baru berkeluarga, kalau pengetahuan keluarga berencana harus ke dokter. Oh ya! Apakah kak Farel masuk keluarga berencana?" Tanya Ilham asal.


"Eh! Kau masih kecil, tahu?" Bentak ibunya.


"Justru saya masih kecil dan harus mengetahui, supaya setelah dewasa nanti tidak usah pusing-pusing lagi menanyakan apa artinya keluarga berencana." Sahut Ilham. "Kalau tidak salah keluarga berencana berarti ..." Ilham menelan ludah sebentar, kemudian ia baru melanjutkan. "Keluarga yang mempunyai rencana, misalnya harus bagaimana irit, bagaimana mengatur perongkosan setiap hari, terus... bagaimana mengatur cara makan supaya tidak sakit maag dan... dan... habis!" Ucap Ilham. "Betul tidak kak Farel?"


"Hah!" Farel terkejut ketika ditanya, ia ternganga sebentar. "Mungkin betul!"


"Kok, pakai mungkin segala?" Ilham menggaruk kepalanya.


"Setelah dewasa, kau akan mengerti sendiri!" Ucap Farel tersenyum.


"Anak kecil jangan sok tahu." Celetuk ibunya.


"Saya bukan sok tahu, melainkan ingin tahu!"


Ucap Ilham. "Sebab sukseskan keluarga berencana tidak diberitahukan umur berapa baru boleh mengetahuinya, maka jika saya ingin mengetahuinya, apakah salah?" Tanya Ilham.


"Salah sih tidak, tapi belum waktunya anak kecil mengetahuinya." Sabar suara Farel.


"Kalau demikian berarti tujuh belas tahun ke atas!" Tanya Ilham.


"Bukan!" Jawab Farel. "Keluarga berencana hanya boleh diketahui oleh orang-orang yang sudah berkeluarga, mengerti?" Tegas Farel.


"Oh...!" Ilham mengangguk. "Pantas tidak ketinggalan ucapan keluarga." Ilham mengangguk


lagi seakan sudah mengerti.


Tertawa semua orang menyaksikan tingkah laku Ilham itu.


"Kalau Ilham sudah dewasa nanti, ingin menjadi apa?" Tanya Farel mendadak.


"Ingin menjadi..." Ilham berpikir sebentar.


"Pilot kapal terbang, nnnngunnnng... nngunnng!"


Ilham bersikap seperti sedang mengemudi kapal terbang.


"Mana ada kapal terbang yang berbunyi ngung-ngungan, itu sih kapal-kapalan!" Amanda mengejek.


"Kalau bukan ngung-ngungan, haruskah ngikngikan?" Ilham melotot.


Tertawa semua orang mendengar ucapan Ilham, ibunya juga ikut tersenyum geli.


"Amanda, kalau kau sudah dewasa ingin menjadi apa?" Tanya Rahmawati.


"Ingin menjadi perawat!" Jawab Amanda.


"Apa? Kak Amanda ingin menjadi jerawat?" Ilham nyengir.


"Tuli ya?" Bentak Amanda. "Perawat, bloon!" Balas Amanda kesal.


"Kedengarannya mirip jerawat sih!" Sengaja Ilham melemaskan suaranya.


"Kenapa kau ingin menjadi perawat?" Tanya Rahmawati.


"Saya ingin membaktikan diri pada orang-orang yang sakit!" Tegas jawaban Amanda.


"Semoga kau sukses!" Kagum hati Rahmawati.


"Bagus!" Ilham bertepuk tangan. "Kalau saya sakit, kak Amanda bisa merawat saya!" Balas Ilham.


"Kebagusan!" Amanda cemberut.


"Lho! Orang-orang Kak Amanda bersedia membaktikan diri, kenapa adik sendiri kak Amanda tidak bersedia merawatnya?" Ucap Ilham protes.


"Karena kau terlalu tengil!" Jawab Amanda.


"Tengil?" Ilham tertawa ha ha hi hi. "Kalau saya sudah dewasa nanti, betapa ganteng, cakap dan gagah diri saya serta mempesona kan setiap..." Ucap Ilham terputus.


"Setiap nenek-nenek!" Potong Amanda.

__ADS_1


"Itu baru luar biasa!" Ilham memainkan bola matanya. Tertawa lagi semua orang.


Setelah puas mengobrol, akhirnya mereka berpamitan dan pulang ke rumah dengan hati yang riang gembira.


__ADS_2