LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 40 : GADIS PERAWAN


__ADS_3

"Tapi kenapa kau melawan larangan papahmu?" Farel tercekat hatinya.


"Melarang adalah hak papah, sedangkan saya mempunyai hak untuk berteman denganmu!" Jawab Rahmawati tegas. "Cinta kasih tidak bisa dilarang, kecuali perbuatan yang tidak senonoh baru boleh dilarang!" Lanjutnya.


"Oh ya! Rahma, kau masih mempunyai saudara?" Tanya Farel.


"Masih, seorang adik perempuan!" Tiba-tiba Rahmawati menghela nafas. "Adik saya berteman dengan anak presiden direktur, hal tersebut amat dibanggakan hati papah..." Jelas Rahmawati.


"Justru kau sebaliknya!" Sambung Farel. "Kau berteman dengan seorang pemuda yang miskin!" Farel menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Namun, hati saya tetap merasa bergembira!" Ucap Rahmawati.


"Adikmu sekolah di mana?" Tanya Farel.


"Satu sekolahan, hanya dia pagi dan saya siang!" Jawab Rahmawati. "Dia sudah kelas dua Sekolah Menengah Atas." Jelas Rahmawati.


"Rahma, kalau misalnya ketahuan oleh papahmu, bagaimana baiknya?" Tanya Farel.


"Hadapi dengan ketabahan." Rahmawati tersenyum dan tidak merasa kuatir. "Rintangan tersebut harus diterobos!" Lanjutnya.


"Benar!" Ucap Farel dengan penuh semangat. "Rintangan tersebut harus saya terobos dengan prestasi yang akan tercapai nanti!" Lanjut Farel.


"Bagus dan sudah waktunya kita pulang!" Sambung Rahmawati tersenyum cerah.


"Ya, jangan sampai kau diomeli oleh papahmu!" Jelas Farel.


"Bagaimana saya suruh pak Ucup mengantarmu pulang?" Tanya Rahmawati.


"Tidak usah!" Farel menggeleng. "Nanti kau akan pulang terlambat!" Jawab Farel.


"Kalau demikian, terpaksa kita berpisah di sini?" Rahmawati berpikir sebentar. "Farek, saya harap kau jangan marah, sebab saya ingin memberikan sesuatu untukmu!" Lanjut Rahmawati.


"Rahma, memang terpaksa kita berpisah di sini, tapi saya merasa enggan menerima pemberianmu, walau merupakan apapun juga!" Balas Farel.


"Farel, kau harus menerima!" Rahmawati mengeluarkan sebuah amplop dari saku baju seragamnya. "Terimalah!" Farel ragu-ragu menerima pemberian itu, tapi Rahmawati memaksanya, terpaksa Farel menerima dan akhirnya mereka berpisah. "Andi" Ucap Rahmawati di dalam mobil, kepalanya diulurkan keluar. "Jangan lupa pada hari minggu ya! Jam delapan pagi!" Farel melambaikan tangannya dan dibalas oleh Rahmawati, makin lama semakin jauh mobil yang diluncurkan oleh pak Ucup akhirnya menghilang di sebuah tikungan jalan.


Dengan hati-hati Farel membuka amplop surat itu, ternyata di dalam amplop surat tersebut terdapat uang dua juta serta secarik kertas berbunyi, "Farel,... maafkanlah saya, mungkin uang tersebut dapat membantumu untuk ongkos mencari pekerjaan, semoga kau sukses."


Farel menyimpan uang tersebut dan surat itu ke dalam kantong celananya, kemudian ia memanggil sebuah ojek, terlalu mahal, tidak jadi naik. Ojek yang lain dipanggilnya lagi, saling ngotot, kemudian Farel baru naik bis kota pulang ke rumah. Tiba di rumah ia melihat Amanda sedang menyiram bunga, dengan cepat ia menghampiri Amanda seraya berkata, "Amanda, apakah om sudah pulang?" Tanya Farel.


"Oh! Kak Farel!" Sahut Amanda tersenyum. "Papah belum pulang!" Amanda berhenti menyiram bunga. "Kak Farel, saya baru tanam bunga mawar lagi."


"Warna apa?" Tanya Farel.


"Warna kesenangan kak Farel!" Amanda tersenyum manis.


"Warna merah muda?" Tanya Farel dan di jawab Amanda dengan mengangguk.


"Oh ya! Kak Farel sudah makan belum?" Tanya Amanda.


"Belum!" Jawab Farel.


"Saya siapkan ya?" Ucap Amanda.


"Nanti saja!" Ucap Farel. "Saya belum lapar!" Farel masuk ke dalam rumah, tantenya sedang menyapu. "Tante!"


"Oh!. Farel. sudah makan belum?" Tanya tantenya dengan ramah.


"Belum lapar tante!" Jawab Farel balik ramah.


"Makan saja!" Ucap tantenya. "Nanti masuk angin, suruh saja Amanda menyediakan sayur serta lauk pauk yang berada di dalam lemari makan!"


"Terimakasih tante, saya ingin mandi dulu!" Ucap Farel.


"Kak Farel, mana pakaian kotor, saya mau mencuci!" Suara Amanda dari belakang Farel.


"Amanda, kalau kak Farel sudah selesai mandi. segera kau siapkan nasi serta sayur yang ada di dalam lemari makan!" Ucap mamahnya Amanda.


"Ya, ma!" Sahut Amanda dengan girang.


"Amanda, saya merasa sering mengganggumu, maka lebih baik saya mencuci sendiri!" Ucap Farel.


"Biar Amanda saja yang mencuci!" Ucap tantenya sedang merapikan kursi.


"Tapi...!" Kata Farel terhenti.


"Tidak apa-apa kak Farel!" Ucap Amanda.


Terpaksa Farel memberikan pakaian kotornya kepada Amanda, setelah itu, baru ia menuju ke kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, Amanda telah menyiapkan hidangan di atas meja makan.


"Kak Farel, makan!" Ucap Amanda.


"Terimakasih, Amanda!" Ucap Farel. "Kau sudah makan?" Lanjut Farel bertanya.


"Sudah!" Kemudian Amanda menuju ke kamar mandi.


Andi menuju ke ruangan tamu, tidak kelihatan tantenya, dilongoknya ke depan, ternyata tantenya sedang membersihkan pekarangan rumah.


"Tante, makan!" Sapa Farel.


"Aku sudah makan!" Tantenya berkata sembari membersihkan pekarangan. "Makan saja dulu, Farel, tidak usah tunggu om pulang!"


"Ya, tante!" Farel kembali ke dapur dan duduk menghadap meja makan, terdengarlah bunyi suara sendok dan garpu. Selesai makan, Farel keluar dan duduk di bangku pekarangan sambil menghirup hawa yang segar. Sedangkan tantenya memetik daun bunga yang sudah layu.


"Farel, sudah mendapat pekerjaan?" Tanya tantenya.

__ADS_1


"Belum tante!" Jawab Farel.


"Perlahan-lahan!" Ucap tantenya sambil membuang daun-daun yang layu ke dalam tempat sampah. "Nanti juga kau akan mendapatkan pekerjaan!"


"Lebih cepat lebih baik, tante!" Ucap Farel sambil memandang ke tempat yang jauh. "Sebab saya masih ingin kuliah!" Lanjut Farel.


"Bagus pikiranmu, Farel, mudah-mudahan kau akan tercapai cita-citamu!" Ucap tantenya.


"Justru yang memusingkan saya ialah belum mendapat pekerjaan, kalau sudah mendapat pekerjaan berarti saya bisa masuk kuliah!" Balas Farel.


"Masuk kuliah memerlukan biaya yang cukup besar!" Tantenya seolah-olah sedang menarik nafas. "Hal ini kau boleh berunding dengan ommu, mungkin om bisa membantu!" Balas tantenya lagi.


"Saya rasa tidak perlu!" Ucap Farel. "Sebab setelah saya kerja, gaji saya akan cukup, membiayai masuk kuliah!" Lanjutnya.


"Tapi, biar bagaimanapun juga kau harus berunding dengan ommu!" Tantenya mendesak.


"Bagaimana nanti saja!" Farek menundukkan kepalanya.


Tantenya melangkah ke dalam meninggalkan Farel yang duduk termenung memikirkan nasibnya.


"Tidak semestinya saya menerima uang Rahmawati, karena saya adalah seorang lelaki!" Ucapnya dalam hati. "Apa lagi hari Minggu Rahmawati harus menyewa mobil untuk jalan-jalan, ah! Betapa malu perasaan saya!" Mendadak tangan Farel memukul-mukul bangku yang didudukinya.


"Kak Farel, kau kenapa?" Tanya Amanda yang muncul mendadak.


"Tidak apa-apa!" Jawab Farel dengan cepat.


"Kenapa memukul-mukul bangku?" Amanda mendekatinya, kemudian ia duduk di samping Farel.


"Saya merasa malu." Jawab Farel. "Sebab hari Minggu Rahmawati ingin mengajak saya jalan-jalan!" Jelasnya.


"Kak Farel lucu." Ucap Amanda. "Jalan-jalan kenapa harus merasa malu?" Lanjutnya.


"Karena Rahmawati yang menyewa mobil." Jawab Farel. "Dia ingin mengajak saya ke... Puncak!" Jelas Farel.


"Oh! Jadi gadis itu yang mengeluarkan ongkos!" Amanda menganggukkan kepalanya. "Sungguh baik gadis itu, kenapa kak Farel tidak mau mengajaknya kemari?" Tanya Amanda.


"Saya merasa tidak enak pada orang tuamu." Balas Farel.


"Tidak apa-apa kan?" Balas Amanda.


"Memang, tapi... saya kuatir dikatai orang, belum mempunyai pekerjaan sudah mulai berpacaran!" Jawab Farel.


"Kak Farel!" Ucap Amanda. "Cinta dan pekerjaan harus dipisahkan, sebab cinta tumbuh dari lubuk hati, sedangkan pekerjaan harus diusahakan berdasarkan kemauan yang keras. Percayalah kak Farel, jika kak Farel memiliki kemauan yang keras, niscaya pada suatu hari kak Farel pasti mendapatkan pekerjaan, di samping itu, jikalau gadis itu sangat baik pada kak Farel, tidak seharusnya kak Farel merasa malu!" Jelas Amanda.


"Amanda, sebetulnya saya menjadi bingung mendengar uraianmu!" Ucap Farel.


"Menurut kak Farel?" Tanya Amanda.


"Kau terlalu banyak mengerti pergaulan, pada hal kau belum dewasa." Balas Farel.


"Bukankah bulan itu ditemani oleh bintang-bintang?" Farel menengadahkan kepalanya.


"Hanya di temani, namun tidak bias berdekatan atau berkumpul untuk selama-lamanya." Amanda menghela nafas.


"Tapi, bukankah bulan itu akan merasa bahagia ditemani oleh bintang-bintang yang senantiasa dipuja insan yang tengah dilanda cinta?" Jelas Farel.


"Justru bulan itu merasa kesepian dan merana sepanjang masa, karena tiada yang menemani dirinya." Balas Amanda.


"Bukankah para Astronout-Astronout di seluruh dunia telah mendarat di sana?" Ucap Farel.


"Benar!" Jawab Amanda. "Namun, berapa lama para Astronout berada di sana? Tidak lama! Dan akhirnya bulan tetap merana!" Ucap Amanda.


"Eh! Amanda," Farel merasa heran. "Kenapa otakmu muncul pikiran-pikiran yang aneh-aneh?" Ucap Farel lagi.


"Tidak aneh!" Jawab Amanda. "Sebab bulan itu saya ibaratkan sebagai seorang manusia!" Balas Amanda kemudian.


"Lelaki atau perempuan?" Tanya Farel.


"Gadis perawan!" Jawab Amanda.


"Gadis perawan?" Farel tertawa geli. "Siapakah gadis perawan itu?" Tanya Farel.


"Entahlah!" Jawab Amanda. "Mungkin saya, mungkin juga gadis perawan yang lain." Jawab Amanda.


"Kalau kau tidak mungkin! Sebab kau belum dewasa, lagi pula setelah kau dewasa, tidak mungkin kau akan merana, sebab kau adalah gadis yang cantik manis serta perangaimu halus." Jelas Farel.


"Mungkinkah saya tidak merana?" Amanda membelalakkan matanya.


"Ya!" Jawab Farel sembari menyandarkan punggungnya ke belakang. "Sebab setelah kau dewasa, pasti banyak pemuda yang berusaha mendekatimu, karena kau sangat cantik serta budi pekertimu halus dan lembut!" Jelas Farel.


"Betulkah saya sangat cantik?" Tanya Amanda.


"Sekarang saja kecantikanmu telah menonjol, apa lagi setelah dewasa!" Ucap Farel sungguh-sungguh.


"Benarkah banyak pemuda akan berusaha mendekati saya?" Tanya Amanda.


"Betul!" Farel tersenyum mendengar pertanyaan Amanda. "Saya tidak bohong." Farel menatap ke arah Amanda.


"Termasuk kak Farel?" Tanya Amanda tiba-tiba.


"Hah!" Farel kaget. "Ini itu eh! Bukankah sekarang saya telah mendekatimu?" Farel menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Sekarang kak Farel mendekati saya dikarenakan saya belum dewasa, setelah saya dewasa mungkin kak Farel akan mendekati saya sebagai kakak, karena waktu yang akan datang kak Farel telah kawin." Jelas Amanda.


"Hussh!, Mana mungkin saya begitu cepat kawin, kemungkinan kau yang akan kawin duluan." Balas Farel.

__ADS_1


"Saya tidak mungkin kawin dengan pemuda yang lain, sebab walau pun sekarang saya dianggap oleh kak Farel masih belum dewasa, namun di hati, saya telah dewasa, malah saya telah memilih seorang pemuda, jikalau tidak kawin dengan pemuda itu, tidak bakal saya kawin dengan pemuda yang lain!" Jawab Amanda yakin.


"Yang benar?" Farel merasa hatinya geli. "Siapakah pemuda yang beruntung itu?" Tanya Farel.


"Saya tidak membohong dan belum waktunya saya memberitahukan siapa pemuda itu?" Jawab Amanda.


"Amanda, betulkah kau tidak akan kawin, selain kawin dengan pemuda pilihanmu? Kau masih kecil.." Farel merasa geli.


"Kak Farel, saya tidak bergurau!" Ucap Amanda sungguh-sungguh. "Memang saya tidak mengenal cinta yang diliputi hawa nafsu kotor, tapi, saya lebih mengenal cinta kasih yang bersifat suci bersih." Lanjut Amanda. Amanda berhenti sebentar, sedangkan Farel terbengong-bengong menatap ke arah Amanda. Amanda melanjutkan ucapannya. "Saya akan menjadi biarawati, seandainya saya tidak kawin dengan pemuda itu!" Lanjutnya.


"Hah! Apa?" Terkejut hati Farel. "Siapakah yang menyebabkan kau begitu nekad?" Mata Farel membelalak sebesar telor burung puyuh.


"Saya bukan nekad, hanya semata-mata demi kesetiaan cinta." Balas Amanda.


"Waduh! Cinta lagi cinta lagi!" Farel menggeleng sebentar. "Siapakah pemuda ingusan itu?" Farel berkelakar.


"Bukan pemuda ingusan, melainkan seorang pemuda yang telah dewasa." Balas Amanda.


"Boleh kan, seandainya saya ingin berkenalan dengannya?" Tanya Farel.


"Belum saatnya!" Balas Amanda.


"Eeh! Pakai saat segala ya?" Makin melebar tertawa Farel. "Oh ya! Amanda, apakah kau bisa menyanyi?" Tanya Farel.


"Bisa!" Jawab Amanda dengan cepat dan hatinya mendadak merasa gembira. "Apakah kak Farel bias bermain gitar?" Tanya Amanda kemudian.


"Mana?" Tanya Farel singkat.


"Ada!" Amanda bangkit dari bangku, dengan cepat ia masuk ke dalam rumah, hampir saja Amanda menubruk ibunya, kaget hati ibunya.


"Ada apa?" Tanya ibunya Amanda.


"Mau ambil gitar Ilham, Kak Farel ingin bermain gitar!" katanya sembari berlari-lari ke dalam kamarnya.


Ibunya tersenyum sambil menggelenggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian, Amanda sudah keluar dari kamarnya sambil membawakan sebuah gitar, langsung ia menuju ke tempat Farel.


"Kak Farel ..." Amanda menyerahkan gitar yang dibawanya.


"Terimakasih!" Farel menyambut gitar itu, kemudian ia mencoba suaranya. "Bagus juga bunyi suaranya." Farel memuji. Kemudian ia bertanya: "Amanda, kau ingin menyanyikan lagu apa?"


"Saya ingin menyanyikan lagu..." Amanda berpikir sebentar. "Lagu Rindunya Hatiku!" Jawab Amanda.


"Nyanyian orang dewasa!" Farel menggeleng lagi.


"Apakah tidak boleh?" Tanya Amanda.


"Boleh saja!" Mendadak Farel membunyikan suaranya, kemudian ia berseru: "Ayo, nyanyilah!"


Terdengarlah suara nyanyian Amanda yang merdu serta diiringi dentingan suara gitar yang


dimainkan oleh Farel mengalun indah.


***


Mengapa kau tak datang lagi. Oh... Mengapa?


Mengapa kau tak pernah lagi menjemputku.


Biasanya engkau di sisiku.


Di saat-saat begini, kau pegang tanganku, kau panggil namaku.


***


Setelah Amanda selesai menyanyi, tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan yang merdu, entah kapan Ikham telah berdiri di samping mereka sambil nyengir.


"Kak Amanda, tidak disangka suaramu begitu merdu, apa lagi suara gitar kak Farel, betul-betul menggetarkan kalbu." Kicau Ilham.


"Ilham, kau dari mana?" Tanya Amanda.


"Eh! Kenapa kau harus tahu?" Ilham melotot. "Sedang asyik menyanyi, tidak ada yang usik-usik, eh, tahu-tahu ingin mengusik diri saya!" Balas Ilham.


"Ilham, jangan kurang ajar!" Suara ibunya. "Kau dari mana?" Tanya ibunya.


"Dari rumah teman!" Ilham menundukkan kepalanya.


"Lain kali jangan pulang begini malam!" Ucap ibunya lagi.


"Ya! Ma!" Ilham masuk ke dalam rumah.


"Farel, aku tidak sangka kau begitu pintar bermain gitar!" Ucap tantenya sembari tersenyum.


"Suara Amanda sangat merdu!" Ucap Farel. "Suara gitar masih kalah kalau dibandingkan dengan suara Amanda." Lanjut Farel.


"Bagaimana kalau Mira menyanyi lagi dan kau mainkan gitar?" Ucap ibunya.


"Bagus!" Seru Ilham telah berada di hadapan mereka dan di tangannya telah membawa sebuah harmonika. "Saya akan iringi dengan suara harmonika!" Lanjut Ilham.


"Bagus! Bagus!" Seru Farel dengan girang. "Amanda, kau ingin menyanyikan lagu apa lagi?" Tanya Farel.


"Lagu yang tadi saja!" Ucap Ilham.


"Baiklah!" Farel mulai memainkan gitarnya, kemudian ia berseru, "Amanda, mulai!"


Terdengarlah suara nyanyian Amanda yang diiringi gitar dan harmonika yang merdu mengalun di malam nan sunyi.

__ADS_1


__ADS_2