
Nabila makin terenyuh mendengar cerita Ranti mengenai kehidupan perempuan itu.
"Dia bekerja siang sampai malam untuk membiayai kehidupan rumah tangganya. Cevin ataupun kami yang hendak memberi bantuan selalu ditolaknya. Dia pindah dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya hanya untuk menghindari Cevin. Untuk melupakan Cevin, karena dia tidak ingin merusak kebahagiaan orang lain. Dia ingin hidup tentram dan damai sambil menunggu bayinya lahir."
Jelas Ranti kemudian.
Nabila mengusap air matanya. Di hatinya mulai timbul penyesalan yang dalam. Dan selama ini dia baru menyadari apa yang dilakukan hanya menuruti emosinya saja.
"Maafkanlah aku, Queena. Maafkanlah aku Ranti," kata Nabila penuh penyesalan.
"Kata maaf itu gampang sekali diucapkan. Yang penting sebagai wanita tetap memiliki perasaan halus dan peka. Sekeras pendirian Balqis, tapi memiliki jiwa besar. Jadi soal kau mau mencintai kakakku bukan suatu paksaan, melainkan kesadaranmu untuk saling menghargai sesama
nya. Saling mempunyai tenggang rasa dan perbuatan yang baik. Itu saja yang ingin kukatakan," ujar Queens sembari bangkit. Lantas pergi bersama Ranti meninggalkan Nabila yang masih berdiri menyandar di batang pohon.
Hidup ini memang penuh problem. Tidak disangka kalau Cevin sampai begitu parahnya terombang-ambing oleh kenyataan. Kenyataan ingin menunjukkan rasa tanggung jawabnya terhadap Balqis. Namun perempuan itu sungguh patut untuk dipuji. Mudah-mudahan aku pun bisa seperti dia.
Sambil melangkah Nabila punya keinginan bisa bertemu dengan perempuan itu. Tapi bagaimana caranya?
Satu-satunya cara harus minta alamat rumah Balqis kepada Ranti. Maka diburunya Ranti dan Queena yang belum jauh meninggalkannya.
"Queena tungguuu!" teriak Nabila sembari berlari menghampiri Queena dan Ranti yang hampir naik ke mobil. Queena dan Ranti menunggu sesaat naik ke mobil.
Dilihatnya Nabila berlari-lari mendekatinya.
"Ada apa lagi?" tanya Queena.
"Beri aku alamat rumah Balqis."
Ucap Nabila.
"Untuk apa?"
Tanya Queena.
"Ingin menemuinya."
Jawab Nabila.
"Lantas apa urusanmu menemui perempuan itu? Mau menambah beban penderitaannya?" Tegas Queena.
"Tidak. Demi Tuhan tidak. Aku ingin bertemu secara baik-baik padanya. Rasanya di hati ini ingin meminta maaf,"
Balas Nabila begitu tulus.
"Dia tidak ingin ditemui oleh siapa pun yang masih ada hubungannya dengan Cevin. Karena dirasakan hal itu akan membuat hidupnya tidak tentram."
Jelas Queena.
"Tapi aku mohon berilah alamat rumahnya."
Pinta Nabila.
"Tidak," kata Queena tegas sambil menghempaskan pintu mobil.
Mobil itu meluncur meninggalkan asap dan debu. Nabila memandangi dengan perasaan kecewa. Tapi bagaimanapun caranya dia harus bisa mengetahui alamat rumah Balqis.
Harus...!!!
***
Instingnya mengatakan bahwa dia harus ke kantor suaminya. Pasti dia bisa menemukan keterangan dari sekretaris di kantor. Atau paling tidak bisa mencari di buku alamat para karyawan di kantor suaminya. Dan pagi hari sebelum suaminya bangun dia sudah pergi ke kantor.
Di ruang kerja Cevin nampak Vani sudah sibuk bekerja. Kedatangan Nabila cukup mengherankan buat Vani. Sebab selama ini nyonya atasannya itu belum pernah datang sekalipun ke kantor.
"Selamat pagi," sapa Vani penuh hormat dan ramah.
"Pagi Saya ingin melihat susunan daftar nama-nama karyawan."
Ucap Nabila.
"Baik." Veni tambah heran kenapa istri pak Cevin ingin melihat buku daftar nama-nama karyawan? Apa maksudnya. Tapi lantaran Veni takut yang meminta adalah istri direkturnya, terpaksa juga diberikan.
Buku daftar nama-nama karyawan itu mulai diperiksa oleh Nabila. Dia membaca satu persatu nama-nama yang tertulis di situ lengkap dengan alamat rumahnya. Dan akhirnya ditemukan juga nama dan alamat rumah Balqis.
__ADS_1
Perasaannya jadi lega...!!!
"Bagaimana pekerjaan di kantor apakah masih tetap stabil?" Nabila pura-pura bertanya begitu. Menghilangkan kecurigaan Vani kalau dia mengetahui tujuannya cuma ingin tahu alamat rumah Balqis.
"Masih seperti biasa, Bu."
Jawab Vani.
"Pak Cevin lagi sedang tidak enak badan. Mungkin dia datang ke kantor agak siangan."
Ucap Nabila menjelaskan.
Vani mengangguk sembari tersenyum.
Nabila mulai memeriksa laci meja Cevin. Beberapa surat di laci itu diperiksanya. Dan dia menemukan selebaran yang ada gambarnya wajah Balqis. Maka segera diambil dan dibaca kalimat yang isinya minta kepada setiap pimpinan perusahaan untuk memberi tahu bila mana Balqis bekerja di perusahaan itu. Lantas dia juga menemukan surat balasan dari asuransi yang mengatakan bahwa Balqis bekerja di situ. Berdebar jantung Nabila, antara girang dan bimbang.
Sementara itu Vani yang tahu hal itu jadi ketakutan. Dia segera punya dugaan akan terjadi pertengkaran antara Cevin dengan istrinya.
"Okey, saya pulang Vani. Jangan bilang apa-apa kalau saya datang kepada pak Cevin."
Ucap Nabila.
Vani mengangguk berat.
Nabila bergegas pergi dari tempat itu. Dengan naik taxi dia menuju ke rumah Balqis yang lama. Sesuai dengan alamat yang tercantum dalam daftar nama-nama karyawan. Nabila akhirnya menemukan alamat yang dicari.
Dengan segenap perasaan kasian dia mengetuk pintu rumah itu. Rumah yang sederhana sekali dan kehidupannya nampak miskin.
"Permisi."
Suara mesin ketik terdengar bertalu-talu. Nabila mengetuk lagi sampai berulangkah.
"Permisi," makin keras suaranya.
Bunyi suara mesin ketik berhenti. Sesaat kemudian pintu rumah itu dibuka dari dalam. Seorang laki-laki yang memakai tongkat menyambutnya.
"Mau mencari siapa?" tanya Sigit yang merasa belum pernah kenal dengan tamunya ini.
"Di sini rumah Balqis?"
Tanya Nabila.
Jawab Sigit.
Nabila jadi kecewa.
"Boleh saya sedikit ingin berbincang-bincang dengan anda?"
Tanya Nabila meminta.
"Silakan masuk."
Ucap Sigit.
Seperti biasanya Sigit duduk di kursi roda dan tamunya di kursi. Sesaat Nabila mengedarkan pandang keseputar ruangan tamu itu.
"Hidup yang miskin," pikir Nabila penuh rasa iba.
"Ada hal apa mengenai Balqis," tanya Sigit.
"Tidak ada hal apa-apa. Saya hanya ingin bertemu dengannya saja." Nabila memperhatikan Sigit dan dugaannya tak akan salah. Laki-laki yang duduk di kursi roda itu adalah suami Balqis.
"Saya boleh tahu anda ini siapa?"
Tanya Sigit.
"Istrinya Cevin."
Jawab Nabila.
Agaknya terbelalak kaget juga laki-laki itu.
"Mencari Balqis ingin mendamprat atau memaki
__ADS_1
makinya?''
Tanya Sigit.
"Tidak. Sama sekali saya tidak bermaksud begitu datang kemari."
Jawab Nabila.
"Lantas mau apa?"
Balasnya.
"Ingin tahu kehidupan yang sebenarnya."
Jelas Nabila.
Sigit mendengus seperti kerbau dan bibirnya tersungging senyum pahit. Lantas dia menggelindingkan kursi rodanya sampai membelakangi Nabila.
"Inilah kehidupan nyata rumah tangga kami. Balqis yang masih muda dan cantik serta penuh gairah cuma mempunyai suami macam aku. Suami yang tak bisa membahagiakan lahir dan batin. Sudah sepantasnya kalau dia pergi meninggalkan aku. Kemudian cari penggantinya yang bisa membahagiakan hidupnya lahir dan batin."
Ucap Sigit kemudian.
"Apakah kira-kira penyakit yang diderita anda tidak bisa disembuhkan?"
Tanya Nabila.
"Saya ini orang miskin, Nyonya. Kalau toh bisa biayanya pasti tidak terjangkau oleh kami. Barangkali hal yang saya alami ini adalah kutukan Tuhan?"
Jawab Sigit lirih.
"Kutukan Tuhan?"
Ucap Nabila bingung.
"Ya. saya telah melanggar nasehat orang tua. Saya hanya menuruti emosi cinta untuk menikah dengan Balqis. Padahal waktu itu orang tua kami sudah mempunyai pilihan sendiri."
Jawab Sigit.
Nabila jadi termenung memikirkan dirinya sendiri. Emosi cinta? apakah sama dengan diriku yang hanya dikuasi oleh emosi cinta terhadap Berry? Nabila menarik napas berat.
"Sekarang akibatnya saya jadi orang terbuang. Dalam keadaan seperti ini orang tuaku tak pernah mau tahu. Apalagi menengoknya."
Ucap Sigit.
"Sebab apa anda sampai menderita cacat?"
Balas Tanya Nabila.
"Saat menuju ke Puncak untuk malam pertama seusai pesta pernikahan, mobil yang kami tumpangi menabrak pohon. Kedua kakiku patah dan men... menderita impoten," suara Sigit serak parau.
Nabila mengkaitkan cerita Ranti dengan kenyataan memang benar. Tiga tahun lebih Balqis dalam pernikahan masih tetap perawan.
"Sekarang di mana Balqis tinggal?"
Tanya Nabila.
"Saya tidak tahu. Barangkali dia bisa bebas berbuat apa saja kalau tidak sendiri. Padahal selama di sini, aku pun tak pernah melarangnya berbuat sesuka hatinya. Aku senantiasa memberikan kebebasan."
Jelas Sigit.
"Selama dia pergi belum pernah menjenguk anda?" Tanya Nabila.
"Sudah tepat sebulan terhitung hari ini dia belum pernah menjengukku."
Jelas Sigit
"Begitu teganya," gumam Nabila.
"Yang kutahu pasti dia bukan perempuan kejam dan tega. Dia seorang istri yang setia dan penuh cinta kasih. Mungkin saja sedang sibuk menghadapi pekerjaan. Atau sedang memerangi hidupnya yang menderita."
Jelas Sigit.
Terdengar detak-detak sepatu menginjak lantai teras. Nabila segera mengalihkan perhatian ke pintu. Ternyata Balqis yang datang. Sesaat antara Nabila dan Balqis saling bersitatap.
__ADS_1
"Selamat siang, Balqis," sapa Nabila ramah.
Balqis tersenyum hambar. Lalu dia memeluk suaminya dan dicium jari tangan laki-laki itu. Kemudian berpindah di kedua pipinya.