LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 45 : BERPIKIRAN LUAS


__ADS_3

Dengan naik taxi mereka menuju ke rumah Farel. Saat itu Farel sedang berkumpul dengan om dan tantenya di ruangan tamu. Alangkah terkejut hati Farel ketika melihat kedatangan Rahmawati, buru-buru Rahmawati perkenalkan mamahnya pada Farel dan Farel mempersilahkan mereka masuk serta memperkenalkan mereka pada om dan tantenya. Amanda menyediakan minuman setelah mereka duduk, diam-diam ia memperhatikan Rahmawati. Pantas kak Farel jatuh cinta pada Rahmawati, tidak tahunya Rahmawati begitu cantik dan ramah serta lembut. Pikirnya dalam hati.


"Sebetulnya kedatanganku mempunyai maksud tertentu!" Ucap mamahnya Rahmawati pada semua orang. "Besok Farel akan diajak oleh puteriku ke rumah bertemu dengan papahnya, namun, sebelumnya aku ingin memberitahukan bahwa papahnya berwatak keras. Sebab papahnya tidak senang kalau putrinya Rahmawati bergaul atau berpacaran dengan pemuda miskin." Jelas mamahnya Rahmawati.


Semua orang memasang kuping untuk mendengar pembicaraan mamah Rahmawati, terdiam dan membisu semua setelah mamah Rahmawati bicara sampai di situ.


"Maka dalam hal ini aku mengharap pengertian Farel dan maklum adanya." Mamah Rahmawati meneruskan. "Aku mengerti bahwa hal kalian agak genting maka aku kemari untuk bicara sebentar dengan Farel!" Lanjut mamahnya lagi.


"Silahkan bicara, bu!" Ucap Farel.


"Perlukah kami masuk ke dalam?" Sambung pak Ismo Harsoyo.


"Tidak perlu!" Jawab mamah Rahmawati. "Gejala-gejalanya Rahmawati bakal pergi dari rumah..." Jelas mamahnya kemudian.


"Hah!" Kaget hati Farel. "Mana boleh?" Balas Farel.


"Terpaksa!" Ucap Rahmawati sambil menatap Farel.


Sedangkan pak Ismo Harsoyo dan isterinya saling memandang memperlihatkan sikap, harus bagaimana?


"Tidak mungkin puteriku akan tinggal di rumah famili-familinya, aku cukup mengenal wataknya, maka dalam hal ini terpaksa aku berunding denganmu, Farel!" Jelas mamahnya.


"Harusnya bagaimana bu?" Tanya Farel.


"Aku anjurkan supaya kalian mengontrak sebuah rumah..." Jelas Mamahnya Rahmawati lagi.


"Tapi... tapi..." Farel tergagap-gagap.


"Farel, tenang dulu!" Suara pak Ismo Harsoyo.


"Setelah kalian mengontrak rumah, aku akan mensahkan kalian sebagai suami isteri dan aku juga mengharap pihak Farel diwakili oleh om dan tantemu." Lanjut Mamhnya Rahmawati menjelaskan maksudnya.


"Perlukah dipikirkan kembali urusan ini?" Tanya pak Ismo Harsoyo.


"Lagi pula belum tentu Rahmawati akan diusir oleh papahnya!" Sambung isteri pak Ismo Harsoyo.


"Kalau misalnya tidak diusir itu lebih baik, yang kubicarakan ialah seandainya diusir!" Ucap mamahnya Rahmawati.


"Saya mempunyai usul!" Ucap Farel mendadak.


"Bagaimana sekiranya Rahmawati tetap di rumah, setelah saya mencapaikan hasil yang gemilang baru saya ke rumah ibu dan..." Ucap Farel terputus.


"Saya menolak!" Potong Rahmawati. "Saya tidak takut hidup melarat dan apakah kau menyuruh saya hidup merana?"

__ADS_1


"Saya bukan menyuruhmu hidup merana, melainkan menunggu saya!" Jawab Farel.


"Tidak mau!" Rahmawati tetap berkeras. "Kalau kita sudah tinggal sama-sama, saya juga bisa membantumu mencari uang, supaya lebih cepat maju!" Balas Rahnawati.


"Rahma, saya rasa lebih baik ..." Ucap Farel.


"Kak Farel!" Suara Amanda mendadak. "Saya menganjurkan supaya kak Farel menerima usul kak Rahmawati, sebab jika kak Rahmawati harus menunggumu sekian tahun, mungkin kak Rahmawati akan merana terus dan juga batin kak Rahmawati akan tertekan atau tersiksa, perlu kak Farel ketahui, perasaan wanita lebih halus dari pada perasaan lelaki, kak Farel mungkin tidak akan merasakan hal tersebut, tapi, setiap wanita pasti merasakan hal ini, lagi pula kak Rahmawati sangat mencintai kak Farel, apa salahnya kak Farel menerima usul tersebut? Asal kak Farel berkemauan keras untuk berjuang demi masa yang akan datang, niscaya kak Farel pasti akan mencapaikan masa yang gemilang!" Ucap Amanda tiba-tiba.


"Husssh! Anak kecil ikut campur!" Bentak pak Ismo Harsoyo.


"Benar ucapan kak Amanda!" Entah dari mana munculnya Ilham seraya menyeletuk. "Tegakah kak Farel membiarkan kak Rahmawati setiap malam termenung sambil memandang ke angkasa raya? Tegakah kak Farel membiarkan kak Rahmawati setiap saat hanya mendengar desiran angin yang seharusnya mendengar suara kak Farel?" Ucap Ilham ikut mengemukakan pendapatnya tanpa di minta.


"Waduh!" Pak Ismo Harsoyo mengeluh. "Orang tua sedang mengobrol, anak kecil ikut-ikutan menyeletuk. Ayo! Masuk dalam!" Ucap pak Ismo Harsoyo.


"Papah, saya bukan menyeletuk, melainkan memberi saran!" Ucap Ilham. "Manusia tercipta disertai cinta kasih, pantaskah dipisahkan? Alangkah baiknya dirangkapkan!" Ilham nyengir. "Kaya dan miskin semua adalah umat Nya, haruskah lantaran hai sepele ini menyebabkan mereka terpisah-pisah dan hati mereka hancur luluh!" Lanjut Ilham.


"Siapakah yang kau maksudkan mereka itu?" Tanya Farel.


"Manusia yang sedang berpacaran dengan cinta yang suci murni, termasuk kak Farel!" Balas Ilham.


"Kiamat, kiamat!" Seru pak Ismo Harsoyo. "Kecil-kecil sudah menyinggung soal cinta yang suci murni, kau masih bau pupur tahu?" Pak Ismo Harsoyo terlihat semakin pusing.


"Walaupun saya masih berbau pupur, namun, saya mengenal apa itu cinta yang suci murni!" Lanjut Ilham.


"Cinta yang suci murni tidak ternoda oleh hawa kotor dari jiwa manusia!" Ilham menyengir sambil masuk ke dalam.


"Cinta kasih orang tua terhadap anak juga tidak boleh menitik beratkan pada harta kekayaan!" Sambung Amanda.


"Amanda, masuk ke dalam!" Suara ibunya.


"Ya, mah!" Amanda masuk ke dalam.


"Maaf! Maaf! Anak-anakku memang kurang ajar!" Ucap pak Ismo Harsoyo pada mamahnya Rahmawati.


"Ini bukan kurang ajar, melainkan berpikiran luas!" Mamahnya Rahnawati tersenyum kagum. Kemudian ia berkata pada Farel. "Farel, bagaimana keputusanmu? Apakah kau masih kalah dengan anak-anak?" Tanya mamahnya lagi.


"Baiklah!" Jawab Far setelah berpikir sejenak.


"Kalau demikian, besok sore saya akan bertemu dengan papah Rahmawati!" Sambungnya kemudian. "Tapi, kalau Rahmawati tidak diusir, berarti batal rencana tersebut, kan?" Balas Farel.


"Ya!" Jawab mamah Rahmawati, kemudian dari dalam tasnya ia mengeluarkan uang setumpuk dan diserahkan kepada Farel seraya berkata. "Uang tersebut harus kau terima untuk mengontrak rumah nanti, sebab aku mengenal watak papahnya Rahmawati, maka segalanya telah kusiapkan!" Farel menolak. "Kalau bukan dengan uang ini, dengan apa kau akan mengontrak rumah?" Tanya mamahnya Rahmawati.


"Ini... itu... ini " Farel terlihat bingung.

__ADS_1


"Farel, terimalah!" Rahmawati menganjurkan.


Terpaksa Farel menerima dan kemudian diserahkannya kepada omnya.


"Kalau batal rencana tersebut, saya akan mengembalikan uang ini!" Ucap Farel sungguh-sungguh.


"Tidak usah dikembalikan, mungkin berfaedah untukmu!" Tegas ucapan mamahnya Rahmawati.


"Tapi..." Farel semakin bingung.


"Kalau masih ada tapi, berarti kau tidak mencintai puteriku!" Mamahnya Rahmawati menatap Farel dengan tajam, sorotan matanya seakan menembus ke hati Farel, sehingga Farel menundukkan kepalanya. "Aku berbuat demikian ialah demi puteriku, di samping itu aku berdoa untuk kalian, terutama untukmu, setelah kau mencapaikan masa yang gemilang, datanglah ke rumah bertemu dengan papahnya Rahmawati." Lanjut mamahnya lagi.


"Ya!" Jawab Farel. Ia tidak menyangka urusan menjadi begini macam. Tak lama kemudian, mamahnya Rahmawati berpamitan dan pulang ke rumahnya, masih sempat Rahmawati berpesan pada Farel.


"Farel, jangan lupa besok sore ke sekolahan saya!" Ucap Rahmawati.


"Ya!" Jawab Farel.


Setelah mereka pergi, Farel duduk termenung di ruangan tamu dan ditemani oleh om dan tantenya.


"Farel, kau jangan mengecewakan harapan mamahnya Rahmawati!" Ucap pak Ismo Harsoyo.


"Saya mengerti, om!" Farel mengangguk.


"Uang ini akan kusimpankan dulu ke dalam lemari!" Ucap omnya sembari bangkit dari tempat duduk dan menuju ke kamarnya.


"Farel, biar bagaimanapun juga kau tidak boleh kurang ajar pada papahnya Rahmawati setelah bertemu." Ucap tantenya.


"Ya, tante!" Jawab Farel.


"Kalau misalnya Rahmawati betul-betul diusir, kau harus baik-baik menjaganya serta mencintainya." Lanjut tantenya lagi.


"Hanya..." Jawab Farel terkesan ragu.


"Hanya apa?" Tanya tantenya.


"Hanya saya masih belum mendapat pekerjaan!" Farel menghela nafas.


"Jangan kuatir, aku yakin tidak lama lagi kau akan mendapat pekerjaan!" Ucap tantenya.


"Mudah-mudahan!" Jawab Farel.


"Farel, kau duduklah sendiri, aku ingin ke kamar dulu!" Tantenya berdiri dan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Farel bangkit dari tempat duduk menuju ke pekarangan, kemudian ia duduk di bangku sambil menengadahkan kepalanya.


__ADS_2