LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 35 : KESETIAAN CINTA


__ADS_3

Sekeluarga bersama Farel naik mobil taxi gelap keliling-keliling kota Jakarta. Isteri pak Ismo Harsoyo duduk di depan, sedangkan Farel duduk di belakang bersama Amanda dan Ilham. Tak henti-hentinya mulut Amanda memberitahu keadaan kota Jakarta dengan jari tangannya yang mungil menunjuk hal-hal yang perlu diketahui oleh Farel. Setelah puas berkeliling-keliling, mobil dibelokkan ke jurusan Ancol, tiba di tempat tujuan, mobil diparkirkan oleh pak Ismo Harsoyo, ia mengajak Farel serta anak-anak bermain di pantai, pak Ismo Harsoyo dan isterinya duduk di bawah pohon, sedang Farel dan Amanda serta Ilham berkejar-kejaran di pantai dengan wajah berseri-seri.


"Pah, sungguh akrab mereka itu!" Ucap isteri pak Ismo Harsoyo.


"Ya! Mah!" Tiba-tiba pak Ismo Harsoyo menghela nafas. "Entah bagaimana kita membalas budi Mbak Cindy dan Bang Deska?"


"Ya, aku juga berpikir demikian, kalau dulu tidak ada Mbak Cindy dan Bang Deska yang mengongkosimu ke rumah sakit, mungkin ...!" Lanjut istrinya.


"Mungkin aku sudah menjadi tulang belulang!" Sambung pak Ismo Harsoyo. "Maka budi tersebut harus kita balas pada anaknya." Lanjutnya.


"Hanya keadaan kita tidak memungkinkan." Sahut isterinya.


"Oh ya! Kenapa kau menyuruhnya tidur di ruangan tamu?" Ucap Ismo Harsoyo pada istrinya.


"Habis mau tidur di mana?" Balasnya.


"Iya. harus tidur di mana?" pak Ismo Harsoyo menggelengkan kepala.


"Pah, aku masih bingung." Ucap istrinya lagi.


"Bingung kenapa ?" Pak Ismo Harsoyo menoleh ke arah isterinya, ia tercenung sejenak.


"Tingkah laku Amanda!" Lanjut istrinya lagi.


"Ada apa dengan tingkah lakunya?" Pak Ismo Harsoyo heran.


"Amanda sangat girang dan bergembira kelihatannya!" Balas istrinya.


"Lumrah," Ucap pak Ismo Harsoyo. "Sebab Amanda jarang berteman dengan lelaki, kini Farel sering menemaninya, pantas kan hatinya merasa girang serta gembira." Lanjutnya.


"Tapi, kelihatannya kurang wajar!" Ucap istrinya.


"Maksudmu mah?" Tanya pak Ismo Harsoyo.


"Mungkinkah Amanda yang berumur lima belas tahun sudah mengenal cinta?" Ucap istrinya.


"Apa? Maksudmu Amanda jatuh cinta pada Farel?" Pak Ismo Harsoyo membelalakkan matanya. "Mustahil! Amanda masih kecil, jangan menyangka yang bukan-bukan!" Lanjut suaminya lagi.


"Seandainya Amanda sekarang atau nanti jatuh cinta pada Farel, bagaimana?" Tanya isterinya.


"Tidak apa-apa, aku juga senang pada Farel!" Ucap pak Ismo Harsoyo.


"Demikian juga aku, tapi...!" Ucap istrinya terputus.


"Tapi kenapa?" Pak Ismo Harsoyo bertambah bingung lagi, ia menatap isterinya dengan mimik wajah tidak mengerti.


"Farel akan menerjunkan diri ke dalam kancah masyarakat, di saat itu ia pasti berkenalan dengan gadis-gadis, maka aku kuatir ..." Lanjut istrinya ragu.


"Kuatir Amanda akan merana, bukan?" Pak Ismo Harsoyo tersenyum, ia mengeluarkan rokoknya serta menyundut dengan korek api yang sudah dinyalakan, ia menghisap rokok tersebut dengan asyik, sehingga asap-asap rokok mengepul mengelilingi di atas kepalanya, kemudian ia melanjutkan ucapannya: "Jangan terlalu banyak berkuatir, urusan ini kita serahkan saja pada Yang Maha Kuasa!" Lanjut suaminya.


"Betul!" Isterinya tersenyum.


"Tuh! Lihatlah! Mah!" Pak Ismo Harsoyo menunjuk ke arah anak mereka serta Farel, "Mereka bertiga sedang bergandengan tangan dengan mesra!"


"Oh ya! Pah, apakah Farel mengetahui bahwa dirinya adalah anak angkat Mbak Cindy dan Bang Deska yang sudah meninggal?" Lanjut istrinya bertanya.


"Kita tidak usah singgung hal tersebut di hadapannya!" Pak Ismo Harsoyo menyentik abu rokoknya. "Mungkin ia tahu dan mungkin juga belum tahu!" Lanjutnya.


"Ya! Kita jangan singgung hal tersebut padanya!" Isterinya setuju.


"Kak Farel," Ucap Amanda. "Bagaimana kalau kita duduk sebentar?" Lanjutnya.


"Duduk di mana?" Tanya Farel sambil melirik ke sekitar tempat itu.


"Di situ saja!" Amanda menunjuk ke arah pohon.


"Baiklah!" Mereka menuju ke arah pohon itu.


"Kak Farel dan kak Amanda!" Seru Ilham. "Kalian ingin duduk sebentar ya?" Lanjut Ilham.


"Ya!" Jawab Amanda.

__ADS_1


"Kalau demikian, saya ingin mencari keong dulu!" Ucap Ilham gembira.


"Baik, tapi jangan jauh-jauh!" Seru Amanda di bawah pohon.


"Beres!" Jawab Ilham berlari-lari.


"Kak Farel!" Ucap Amanda. "Kelihatannya langit dan laut selalu berkumpul menjadi satu, tapi ..., kenyataannya tidaklah demikian!" Lanjutnya.


"Amanda! Kau masih kecil, jangan berpikiran sedemikian jauh!" Farel menatap Amanda sambil tersenyum simpul. "Kalau kau sudah dewasa, barulah kau boleh berpikir tentang filsafat kehidupan dan cinta." Balas Farel tersenyum.


"Apakah saya masih belum dewasa?" Tanya Amanda tersenyum manis.


"Belum!" Farel mengambil sebuah batu kecil dan melemparnya ke arah laut.


"Kapan saya baru dewasa?" Tanya Amanda.


"Tiga tahun atau lima tahun lagi!" Jawab Farel dengan suara lembut.


"Kalau saya sudah dewasa, apakah kita masih akan bertemu dan bermain seperti sekarang ini?" Amanda menundukkan kepalanya, entah kenapa hatinya mendadak menjadi sedih dan berduka.


"Kalau kita masih hidup, pasti akan bertemu!" Jawab Farel. "Dan kita akan bermain lebih gembira dari sekarang ini!" Lanjutnya lagi.


"Apakah benar?" Amanda mendongakkan kepalanya sambil menatap Farel dengan girang.


"Apakah Kak Farel tidak berbohong?" Balas tanya Amanda.


"Benar dan saya tidak membohong!" Ucap Farel dengan sungguh-sungguh.


"Terimakasih, kak Farel, kau sungguh baik!" Mata Amanda bercahaya. "Kak Farel ..., maaf, ya, saya ingin bertanya, boleh?" Lanjut Amanda.


"Boleh!" Suara Farel halus.


"Betulkah cinta yang sejati harus setia?" Tanya Amanda.


Tercenung hati Farel, ia tidak habis pikir, kenapa Amanda bertanya demikian? "Mungkin demikian!" Jawab Farel. "Saya sendiri juga belum pernah bercinta, maka saya tidak tahu mengenai persoalan itu!" Lanjut Farel.


"Benarkah cinta yang agung harus berkorban?" Tanya Amanda lagi.


"Wah! Saya jadi bertambah tak mengerti!" Farel nyengir, memang ia tidak tahu, sebab ia belum pernah pacaran. "Amanda, kenapa kau tanyakan soal cinta?" Balas Farel.


"Tapi ..., kau belum dewasa, Amanda!" Lanjut Farel.


"Tiga tahun atau lima tahun kemudian bukankah saya akan tumbuh dewasa, secara tidak langsung saya pasti terlibat atau terlilit oleh urusan cinta!" Amanda menjelaskan. "Maka saya bertanya sekarang." Ucap Amanda.


"Saya tidak berpengalaman dalam hal ini!" Farel tertawa lebar. "Nanti setelah kau bercinta, kau akan mengerti sendiri!" Ucap Farel tersenyum dengan kebingungan atas segala pertanyaan yang di lontarkan oleh Amanda.


"Mungkinkah saya akan bercinta dengan orang lain?" Amanda seolah-olah bertanya pada diri sendiri.


"Kenapa tidak mungkin?" Farel menatap ke arah laut. "Kalau kau sudah dewasa, pasti kau akan dicintai oleh pria dan kau juga akan mencintai seseorang pria." Jelas Farel.


"Kalau sekarang saya menyukai seseorang pria, apakah itu namanya cinta?" Tanya Amanda sambil menatap ke arah laut.


"Mungkin juga!" Farel mengangguk. "Tapi ini yang dinamakan cinta kanak-kanak!" Farel kembali dengan senyuman manisnya.


"Kenapa disebut cinta kanak-kanak?" Amanda melirik ke arah Farel.


"Sebab cinta tersebut akan berubah setelah menginjak pada waktu dewasa." Farel tidak tahu lirikan Amanda yang mempesonakan.


"Kalau tidak berubah setelah dewasa hingga tua?" Tanya Amanda secara mendalam.


"Aduh!" Farel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sejenak kemudian ia baru menjawab, "Mungkin ini yang dinamakan kesetiaan cinta!"


"Kak Farel senang pada kesetiaan cinta?" Mata Amanda memancarkan sinar yang aneh.


"Senang!" Jawab Farel tanpa berpikir lagi.


"Tapi ..., di mana ada gadis yang setia pada cintanya?" Farel menggeleng-gelengkan kepala.


"Kalau misalnya ada?" Balas tanya Amanda.


"Mungkin saya tidak kebagian!" Farel tertawa geli.

__ADS_1


"Sebabnya?" Amanda membelalakkan matanya.


"Sebab saya adalah pemuda yang miskin, pemuda yang tidak memiliki apa-apa!" Jawab Farel bernada sedih.


"Kak Farel, janganlah berputus-asa, setiap manusia mempunyai peruntungan masing-masing, asal mau bertekad bulat memperjuangkan masa depan mereka, niscaya akan mencapai prestasi yang gemilang serta cemerlang!" Jelas Amanda tulus.


"Eh! Amanda, pikiranmu lebih dewasa dari umurmu!" Farel terbengong sesaat. "Betulkah kau baru kelas tiga Sekolah Menengah Pertama?" Tanya Farel becanda.


"Benar!" Jawab Amanda segera.


"Heran? Kenapa pikiranmu begitu mendalam?" Farel membelalakkan matanya, ia menatap pada Amanda seakan tidak percaya, maklum, Amanda baru berumur enam belas tahun.


"Jangan heran, kak Farel!" Amanda menerangkan. "Saya sering berpikir sebelum tidur!" Amanda tersenyum manis, senyumannya akan menjatuhkan perasaan setiap pemuda seandainya ia telah dewasa nanti.


"Oh, kiranya demikian!" Farel tersenyum cerah, tanpa disadarinya, Amanda mencuri pandang senyuman Farel yang sangat memikat hati setiap gadis. Mendadak Farel berkata: "Amanda, sebetulnya saya bukan anak kandung ayah dan ibu, hanya anak pungut saja!" Jelas Farel.


"Apakah benar?" Kaget hati Amanda. "Dimana ayah dan ibu kandung kak Farel?" Lanjut Amanda bertanya.


"Saya tidak tahu," Farel menggeleng. "Mamah Cindy ibu angkatku menyuruh saya berusaha mencari ayah dan ibu kandung saya, namun, ke mana saya harus mencarinya?" Tanya Farel menjelaskan.


"Kak Farel, jadi manusia jangan terlalu cepat putus asa atau putus harapan, berusahalah sekuat tenaga, saya yakin dan percaya, pada suatu hari kak Farel akan bertemu dengan ayah dan ibu kandung kak Farel!" Jelas Amanda dengan kedewasaannya.


"Mudah-mudahanlah demikian!" Farel tidak berani terlalu mengharapkan.


Tiba-tiba Ilham berlari-larian menghampiri mereka seraya berseru, "Kak Amanda, kak Farel, sudah waktunya pulang!" Suaranya sirna, orangnya pun telah berada di hadapan Farel dan Amanda.


"Baiklah!" Jawab Farel sambil bangkit berdiri, kemudian ia berjalan duluan diikuti oleh Amanda dan Ilham.


Mendadak Ilham memperlambat langkah kakinya serta menarik tangan Amanda.


"Kak Amanda!" Bisiknya. "Apakah kak Farel menciummu?" Tanya Ilham mengejutkan Amanda.


"Eh! Kau sudah gila!" Teriak Amanda sambil mencubit lengan Ilham, sehingga Ilham menjerit kesakitan.


"Ada apa Ilham?" Tanya Farel kaget, spontan langkah kakinya berhenti.


"Disengat nyamuk betina yang gila-gilaan!" Jawab Ilham meringis.


"Di mana sengatannya?" Farel mendekati Ilham.


"Tidak apa-apa! Sudah baik!" Ilham tertawa lucu.


"Mari kita pergi!" Seru Amanda.


Pak Ismo Harsoyo dan isterinya tersenyum-senyum menyambut kedatangan mereka bertiga, selanjutnya mereka telah berada di dalam mobil, pak Ismo Harsoyo meluncurkan mobilnya ke sebuah restoran Padang, setelah mengisi perut, pulanglah mereka ke rumah.


Tiba di depan gang, pak Ismo Harsoyo tidak turun dari mobil, ia hanya menjulurkan kepalanya seraya berkata pada isterinya.


"Mah, kalian pulang dulu, aku masih ingin mencari muatan!" Ucap pak Ismo Harsoyo.


"Tidak mau istirahat dulu, pah?" Tanya isterinya.


"Tidak usah!" Pak Ismo Harsoyo tersenyum, kemudian ia meluncurkan mobilnya ke pangkalan taxi gelap.


***


Tiba di rumah, Farel merasa letih juga, ia menghempaskan dirinya ke kursi, sedangkan tantenya langsung ke dapur, Ilham entah ke mana?


"Farel!" Ucap isteri pak Ismo Harsoyo. "Mana pakaian kotormu, Amanda ingin mencuci!" Lanjutnya.


"Terimakasih, tante, tidak usah repot-repot biar saya akan mencucinya sendiri!" Jawab Farel menolak.


"Tidak usah!" Isteri pak Ismo Harsoyo tersenyum ramah. "Biar Amanda saja yang mencucinya!"


"Mana boleh?" Balas Farel.


"Kenapa tidak boleh? Kak Farel!" Suara Amanda baru keluar dari kamarnya.


"Berikan saja pada Amanda!" Tantenya mendesak.


"Baiklah!" Farel terpaksa. Segera ia masuk ke dalam kamar untuk mengambil, pakaian kotornya. kemudian dengan perasaan tidak enak ia menyerah pada Amanda.

__ADS_1


"Terimakasih Amanda!" Ucapnya.


"Tidak usah berterimakasih, kak Farel, seharusnya!" Dengan cepat Amanda berlalu dari hadapan Farel dan langsung menuju ke kamar mandi.


__ADS_2