LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 57 : TUKANG LONTONG


__ADS_3

Akan selalu ada jalan keluar untuk setiap permasalah. Pasti. Karena Tuhan telah mengaturnya seperti itu. Dan jalan keluar yang di sediakan Tuhan agar Irfan bisa membeli kaus dan celana jins yang diincarnya, yang sebenarnya terlalu mahal untuk ukuran uang sakunya dan akan memerlukan waktu menabung cukup lama, adalah berjualan lontong dan bakwan.


Promosi yang bermula dari tuduhan transaksi narkoba di ruang Kepala Sekolah itu lalu menjalar ke ruang guru.


Tapi hanya sampai di situ...!!!


Irfan tidak melayani pembelian dari kalangan murid. Lontong dan bakwan dagangannya hanya untuk Kepala Sekolah, Para Guru, Karyawan Administrasi, dan lain-lain yang non murid, biar terlihat Produk Eksekutif tingkat tinggi. Alasan sebenarnya sih biar bisa dijual lebih mahal.


Namun, meski Irfan menganggap dagangannya


Produk Eksekutif, tentu saja gelar yang kemudian di dapatkannya sama sekali tidak Eksekutif Class.


"Irfan Tukang Lontong".


Sigit lega banget tidak ikut kebagian gelar dadakan begitu, soalnya ia tidak tahu bagaimana cara menghilangkan aib itu kalau sampai dirinya ikut kebagian predikat juga.


"Sigit Asisten Tukang Lontong"


Tetapi Irfan cuek. Jelaslah, soalnya Balqis, cewek gebetannya, nggak satu sekolah. Jadi aman. Lagi pula menurut Irfan gelar, "Tukang Lontong" termasuk positif kok.


Suatu pagi Irfan berjalan masuk kelas dengan wajah gembira.


"Woi, Sigit... Sini!" Sigit yang sedang duduk bersama beberapa cowok di deretan bangku paling belakang segera bangkit lalu menghampiri Irfan.


"Apa?" tanyanya sambil duduk di sebelah Irfan.


"Ntar temenin gue, ya? Gue mau beli kaus sama jins yang gue incer itu." Ucap Irfan.


Seketika ekspresi muka Sigit tampak aneh dan cowok itu menghela napas.


"Sorry nih, bukannya mau matahin semangat lo. Lo yakin, tu kaus sama jins masih ada? Lo ngeliatnya kan udah lama. Udah sebulan lebih, mau dua bulan malah." Jelas Sigit.

__ADS_1


"Masih!" Irfan mengangguk yakin. "Gue udah pesen sama mbak yang jaga tuh toko. Pasti gue beli! Cuma duitnya belom ada dan dia udah janji mau nyimpenin." Balas Irfan.


"Oh, gitu," Sigit masih sangsi. "Mbak-mbak itu yang jaga toko apa yang punya toko sih?" Tanya Sigit.


"Pokoknya pasti masih ada deh!" tandas Irfan dengan tetap sangat yakin.


"Yaaa…!" Sigit mengedikkan bahu. "Oke deh kalo lo emang yakin." Balas Sigit.


"Yakin!" Irfan menepuk bahu sahabatnya. "Ntar lo gue traktir. Oke?" Lanjut Irfan.


Seharian itu Irfan begitu gembira dan kelihatan berbeda. Di setiap mata pelajaran, ia jadi tertib dan tekun. Mencatat dengan rajin dan menyimak penjelasan guru dengan serius. Dan di jam-jam pelajaran yang bikin boring, Irfan juga tidak lagi berpartisipasi membuat kelas ingar bingar.


Pokoknya hari ini Irfan manis banget. Tipe pelajar ideal idaman semua guru di seluruh dunia, tapi tipe teman yang paling disebelin semua murid yang duduk di deretan bangku paling belakang, atau murid yang alergi terhadap suasana kelas yang tertib dan tenang.


"Fan, elo kok nggak asyik sih hari ini?" tanya Suryo saat jam istirahat kedua.


"Maksud lo?" tanya Irfan tanpa menoleh. Sibuk memasukan pensil isi ulang ke dalam pensil mekaniknya.


"Sialan!" Irfan tertawa. "Gue pasti deh kebagian akting panik yang kudu bisa bikin pak Suparman sama cewek-cewek sekelas jadi pada ikutan panik. Gitu, kan?" Balas Irfan.


"Tepat!" Suryo menjetikkan jari lalu tertawa terkekeh-kekeh. "Nah, Sigit bertugas ngehalingin Pak Suparman atau siapa pun keluar kelas mencari bantuan. Caranya terserah. Nggak usah lama-lama. Lima belas menit aja. Paling lama dua puluh menit deh. Pak Suparman kan kalo kaget ilangnya lama tuh. Pasti abis itu dia jadi nggak konsen ngajar, trus paling kita cuma disuruh nyatet-nyatet doang sampe bel. Tapi rencana ini bakalan gagal kalau kalian nggak kompak. Pada hal, kami udah ngebayangin, pasti bakalan seru buuuanget!" Jelas Suryo lagi


"Eh, tu guru pagi-pagi udah berangkat dari rumah. Bela-belain desak-desakan di kereta api cuma buat ngajar murid-murid bego kayak elo-elo yang duduk di belakang. Untuk guru-guru di sini, meningkatkan prestasi kalian tuh berbanding lurus dengan resiko terkena stroke atau serangan jantung, tau nggak?" kata Irfan kalem.


Suryo kontan ternganga. Sementara Sigit tertawa terbahak-bahak. Irfan menoleh dan tersenyum geli melihat ekspresi muka Suryo.


"Sorry, Sur. Bercanda... Bercanda...! Gue lagi nggak mood iseng hari ini. Besok aja, ya? Bilangin anak-anak di belakang, sorry gitu. Oke? Jangan cemberut gitu dong. Percuma, lo nggak bakalan gue cium." Ucap Irfan.


"Ih, jijik tau...!" jawab Suryo. Ia balik badan lalu berjalan keluar kelas. Irfan dan Sigit tertawa-tawa geli.


Begitu bel pulang berbunyi, keduanya segera pergi. Sampai di toko pakaian yang dituju mereka, Irfan langsung menuju toko yang dulu pernah di datanginya. Pelayan toko ternyata masih mengenali. Ia langsung menyambut kedatangan Irfan dengan senyum lebar.

__ADS_1


"Mau ambil kaus sama jinsnya, ya?" tanyanya.


"Iya," Irfan mengangguk. "Masih ada kan, Mbak?" sambung Irfan penuh harap.


"Masih. Kan udah janji mau disimpenin." Ucap pelayan toko itu lalu berjalan menuju lemari kecil yang terdiri atas beberapa laci. Dibukanya salah satu laci dan dikeluarkannya sebuah tas plastik dari sana. Kemudian ia kembali ke depan Irfan dan menyodorkan tas plastik itu. Irfan menerimanya lalu menoleh ke Sigit dan mengacungkan jempol kirinya.


"Superkan mbak ini?" Ucap Irfan.


Irfan terharu saat melihat nota belanja yang menempel di tas plastik itu. Mba pelayan toko itu ternyata telah membelikannya lebih dulu kedua benda yang sangat diinginkan Irfan itu. Sepertinya dua benda itu sudah dibayar pada hari Irfan datang tanpa cukup uang beberapa minggu lalu.


"Coba kalo saya punya kakak kaya mbak, pasti saya bahagia banget deh.” puji Irfan sungguh-sungguh. Sigit langsung membantah dengan menggerakan telapak tangan kanannya kuat-kuat.


"Jangan, Mbak. Ibunya aja sering bilang nyesel banget udah ngelahirin dia." Ucap Sigit.


Irfan tertawa. Dimasukkannya tas plastik itu ke tasnya.


"Nggak dicoba dulu?" tanya Sigit.


Ronald menggeleng. "Udah waktu itu. Keren banget. Iya kan, Mbak?" Ucap Irfan.


"Banget!" Mba pelayan toko itu mengangguk sambil tertawa kecil. Irfan mengeluarkan sebuah plastik berisi beberapa potong bakwan udang dan lontong, yang memang sengaja disisihkannya untuk mba yang baik banget ini.


"Ini buat Mbak." Ia ulurkan plastik itu bersama sejumlah uang sebesar yang tertera di nota belanjaannya. Mba pelayan toko itu menerima dengan mata berbinar.


"Waaah, makasih ya?" Ucapnya.


"Iya, sama-sama. Saya makasih juga. Kami balik dulu ya, Mbak. Sekali lagi, thanks banget. Sumpah, Mbak orangnya asyik banget!" Balas Irfan memuji.


Irfan melambaikan tangan yang langsung dibalas Mba pelayan toko itu. Diikuti Sigit, ia lalu balik badan dan meninggalkan toko pakaian itu.


"Mbak itu emang baik banget," Sigit mengangguk setuju. "Gue tadi sampe terharu, pas tau dia beliin dulu kaus sama jins yang lo incer itu. Eh, jadi traktir nggak nih?" Lanjut Sigit bertanya.

__ADS_1


"Jadi dong!" tagas Irfan. "Tapi jangan yang mahal-mahal, ya?" sambungnya. Kemudian ia menarik napas panjang-panjang dan mengembuskannya kuat-kuat. Terlihat sangat lega. "Sekarang gue bisa konsen belajar buat ujian kenaikan kelas!"


__ADS_2