LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 34 : SAYA TIDAK TAHU


__ADS_3

"Mudah-mudahan usahamu akan berhasil!" Tantenya menarik nafas, kemudian ia berkata, "Jika demikian, sementara waktu kau tinggal di sini saja, hanya ...!"


"Hanya kenapa? Tante!" Farel merasa bingung.


"Hanya kau jangan kecewa, terpaksa kau harus tidur di ruangan tamu, karena tidak ada kamar lagi!" Jelas tantenya kembali.


"Tidak apa-apa!" Farel tidak merasa berkeberatan. "Saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih pada tante!" Ucap Farel.


"Jangan sungkan-sungkan!" Tantenya tersenyum ramah. "Anggap saja rumah sendiri!" Lanjutnya.


"Terimakasih!" Balas Farel.


"Oh ya! Kopermu dibawa ke dalam kamar anak-anak saja!" Tantenya mengajak Farel ke kamar anak-anaknya sangat sempit, sebuah lemari di sebelah pojok serta sebuah ranjang besi. Setelah Farel menarahkan kopernya, ia keluar lagi dan duduk di ruangan tamu. "Farel, kalau kau ingin istirahat, masuk saja ke dalam kamar anak-anak, jangan malu-malu!" Lanjut tantenya.


"Ya, tante!" Ucap Farel.


"Aku harus membereskan dapur dulu, kau duduk-duduk saja sambil menunggu ommu pulang!" Ucap tantenya seraya berjalan ke dalam dapur.


"Ya, tante!" Farel duduk di ruangan tamu, di bawah meja terdapat beberapa buah majalah, diambilnya majalah tersebut, kemudian ia membaca.


Mendadak ia mendengar suara ketukan pintu, ia bangkit untuk membukakan pintu, seorang gadis dan seorang pemuda menatapnya dengan heran.


"Kak Amanda, siapa orang ini? Kenapa ia berada di dalam ramah kita?" Tanya anak lelaki pada kakaknya.


"Aku mana tahu!" Jawab Amanda sambil masuk ke dalam ramah, ia langsung ke dapur, "Mamah, siapa yang berada di ruangan tamu?" Teriak Amanda pada mamahnya.


"Amanda, kau harus panggil kakak Farel padanya, sebab Farel adalah anak bibimu Cindy dari Lampung!" Jawab mamahnya pada gadis itu.


"Siapa bibi Cindy?" Tanya Amanda.


"Bibi Cindy adalah kakak sepupu papahmu, sedangkan suaminya Om Deska masih ada hubungan family dengan mamah, hanya sayang ...!" Ucap mamah terputus.


"Kenapa mah?" Amanda menatap mamahnya sedang mencuci piring.


"Om Deska telah meninggal!" Balas mamahnya.


"Oh!" Amanda memanggut, kemudian ia berkata, "Mah, saya ke ruangan tamu menemani kak Farel."


"Baiklah!" Mamahnya berkata seraya menaruh piring-piring ke raknya.


Amanda berjalan ke ruangan tamu, ia menyaksikan adiknya Ilham, sedang bercanda dengan Farel.


"Ilham, jangan kurang ajar!" Teriaknya.


"Siapa bilang saya kurang ajar," Ilham menoleh ke arah kakaknya. "Saya sedang bercanda dengan kak Farel!" Jawab Ilham.


"Tidak apa-apa!" Farel tersenyum, ia senang pada Ilhan yang jenaka serta ramah.


"Kak Farel belum mempunyai pacar?" Tanya Ilham. "Kakak saya Amanda sudah besar, kak Farel bisa pacaran dengan dia!" Ucap Ilham asal bicara.


"Ham...!" Bentak Amanda dengan wajah merah.


"Jangan ngaco!" Amanda duduk di hadapan Farel. Ia menatap Farel dengan malu-malu. "Kak Farel kapan tiba?" Tanya Amanda.


"Hari ini!" Jawab Farel singkat.


"Dari Lampung ya?" Amanda bertanya lagi.


"Apakah besar kota Lampung?" Tanya Amanda.


"Tidak sebesar kota Jakarta dan tidak banyak gedung yang tinggi-tinggi." Jawab Farel.


"Kak Farel datang di Jakarta ini, apakah ingin mencari pacar?" Tanya Ilham nyengir. "Sebab gadis-gadis Jakarta terkenal cantik-cantik!" Lanjut Ilham.


"Eh! Kecil-kecil masih bau amis! Sudah kenal pacar," celetuk Amanda.


"Kau sendiri bau apa?" Ilham melotot. "Bau bawang, tahu?" Balas Ilham.


"Siapa bilang aku bau bawang?" Mata Amanda sudah merah.


"Kalau tidak bau bawang, kenapa ke mana-mana harus memakai Deodorant?" Ilham tak mau kalah berdebat dengan kakaknya.


"Itu kan wajar, sebab aku adalah seorang gadis!" Bentak Amanda.


"Gadis ingusan yang sok dewasa!" Sela Ilham sambil tertawa.


"Ilham, jangan kurang ajar!" Suara mamahnya yang muncul di ruang tamu.


"Saya tidak kurang ajar, melainkan sedang bergurau!" Ilham meleletkan lidahnya.


"Kakakmu lebih besar, kau tidak boleh sembarangan berbicara!" Mamahnya mengelus rambut Ilham, kemudian ia berkata pada Farel ."Maaf, anak-anak memang suka membanyol!" kata tantenya, sembari tersenyum.


"Tidak apa-apa!" Farel tertawa kecil, ia kagum pada kecantikan Amanda, jika ia sudah dewasa, pasti sangat menarik dan cantik jelita, pikir Farel.


"Kak Farel sudah mandi?" Tanya Amanda.


"Belum!" Jawab Farel singkat.


"Pantas dari tadi saya mencium bau keringat." Ilham tertawa-tawa.


"Hussh!" Mamahnya membelalakkan matanya ke arah Ilham.


"Jangan marah kak Farel, biasa, bercanda!" Sambung Ilham.


Farel tersenyum, hatinya girang melihat kelucuan Ilham serta keramahannya.


"Farel, kau ingin mandi?" Tanya tantenya.


"Baik, tante!" Farel bangkit dari tempat duduk.

__ADS_1


"Kau membawa handuk?" Tanya tantenya.


"Ada!" Farel masuk ke dalam kamar, dari dalam kopernya ia mengeluarkan handuk.


"Amanda, antar kak Farel ke kamar mandi!" Ucap mamahnya.


"Ya, Mah!" Amanda dengan sopan mempersilahkan Farel ke kamar mandi sambil tersenyum, ia heran, kenapa ia sangat senang pada Farel, perasaannya ingin mendekati Farel terus.


Padahal Amanda baru berumur lima belas tahun, apakah ia sudah mengenal cinta? Setelah Farel masuk ke dalam kamar mandi, ia lantas ke ruangan tamu dan duduk dekat mamahnya.


"Amanda, mulai besok kau harus mencuci pakaian Kak Farel, ya?" Ucap mamahnya.


"Ya, mah!" Hatinya merasa senang ketika ibunya menyuruhnya mencuci pakaian Farel, ia tersenyum-senyum.


"Amanda, kenapa kau tersenyum?" Tanya mamahnya.


"Tidak apa-apa, mah!" Wajah Amanda agak merah.


"Mungkin sedang naksir pada kak Farel!" Celetuk Ilham.


"Hussh, Ilham, jangan suka omong sembarangan!" Sergah mamahnya yang kemudian berkata pada Amanda. "Amanda, kau masih kecil, belum waktunya memikirkan yang bukan-bukan." Lanjut mamahnya.


"Kak Amanda sudah berumur lima belas tahun, pantaskan mah, jika pikirannya suka memikirkan yang sungguh-sungguh!" Ilham nyengir.


"Eh! Mulai lagi!" Mamahnya melototkan mata.


Tiba-tiba pintu rumah terbuka, lelaki setengah baya sudah pulang, di tangannya membawa sebuah kantong plastik, entah apa isinya.


"Papah!" Ilham menghampiri ayahnya sambil menyambut kantong tersebut.


"Papah!" Segera Amanda masuk ke dalam, tak lama kemudian ia keluar lagi sambil membawakan segelas air minum untuk ayahnya, ia meletakkan di atas meja.


"Pah, minum!" Ucap Amanda.


"Ya!" Jawab ayahnya seraya duduk, ia mengulurkan tangan mengambil gelas tersebut, kemudian ia meneguk isinya beberapa kali.


"Pah," Ucap isterinya. "Anak Mbak Cindy ke mari!" Lanjut istrinya.


"Apa? Anak Mbak Cindy?" Suaminya terlihat kaget.


"Ya!" Balas istrinya lagi.


"Mbak Cindy yang mana?" Tanya suaminya bingung.


"Mbak Cindy Lampung!" Balas Istrinya.


"Oh!" Ismo Harsiyo mengangguk sambil tersenyum. "Apa kabar dengan mereka?" Tanyanya kemudian.


"Bang Deska sudah lama meninggal dunia dan isterinya mbak Cindy tetap sehat walafiat!" Jelas istrinya lagi.


"Masya Allah! Kenapa kita tidak mengetahuinya!" Ismo Harsoyo menggelengkan kepala. "Mbak Cindy juga tidak memberi kabar pada kita?" Suara Ismo Harsoyo sedih.


"Mungkin terlampau jauh dan tidak sempat memberi kabar pada kita!" Balas Istrinya.


"Sudah dewasa dan ganteng serta sopan!" Isterinya tersenyum.


"Ke mana Farel?" Tanya Ismo Harsoyo sambil melirik ke sana ke mari.


"Sedang mandi!" Jawab Amanda tersenyum.


"Kau senang kak Farel tinggal di sini?" Tanya Ismo Harsoyo pada puterinya.


"Senang!" Jawab Amanda dengan wajah berseri-seri.


"Saya juga senang!" Ucap Ilham sambil mengangkat kantong plastik.


"Eh! Ilham, kantong plastik itu taruh di meja makan!" Ucap Ismo Harsoyo pada putranya.


"Isinya apa sih?" Tanya Ilham sambil melongok ke dalam kantong plastik tersebut.


"Ayam kalasan!" Jawab papahnya lagi.


"Cihui! Siiip!" Teriak Ilham. "Nanti kita makan bersama kak Farel!" Ilham berlari-lari ke dapur, setelah meletakkan kantong plastik itu, ia langsung ke ruangan tamu. Berdiri di samping ayahnya.


Farel keluar dari kamar mandi, ia terbengong sebentar setelah menyaksikan seorang lelaki setengah tua duduk di kursi ruangan tamu bersama tantenya,


"Nak Farel!" Seru ismo Harsoyo. "Duduk sini!" Lanjutnya.


"Bapak adalah ...!" Ucap Farel terhenti.


"Ommu!" Sahut isteri ismo Harsoyo atau tante Farel.


"Oh!" Cepat-cepat Farel bersalam sujud pada Ismo Harsoyo. "Om!"


"Farel. kau sudah dewasa serta ganteng!" Ucap ismo Harsoyo. "Gadis-gadis Jakarta pasti bergembira menyambut kehadiranmu di kota ini!" Ismo Harsoyo tersenyum. Mendadak ia menghela nafas. "Sejak kalian pindah ke Lampung dikarenakan ayahmu mendapat tugas di sana, terputuslah kabar berita kalian!" Lanjut Ismo Harsoyo menjelaskan.


"Kami mohon maaf!" Ucap Farel. "Tidak lama kami pindah ke Lampung, mendadak ayah kami meninggal dunia, gara-gara sakit jantung!" Jelas Farel.


"Sudah kehendakNya!" Ismo Harsoyo menarik nafas. Kemudian ia berkata: "Kalau demikian, kau tinggal di sini saja!" Lanjut Omnya itu.


"Terimakasih, om!" Balas Farel.


"Oh ya! Maksudmu datang di Jakarta ini?" Tanya Ismo Harsoyo.


"Ingin mencari pekerjaan, sesudah mempunyai pekerjaan, saya ingin kuliah!" Jawab Farel.


"Mencari pekerjaan di Jakarta tidak gampang!" Ismo Harsoyo menggeleng-gelengkan kepala.


"Saya akan berusaha sedapat mungkin!" Jawab Farel.

__ADS_1


"Bagus! Bersemangat!" Ismo Harsoyo menepuk-nepuk pundak Farel. "Oh ya! Kau sudah makan belum?" Tanya Omnya lagi.


"Belum Om!" Jawab Farel.


"Kalau demikian, kita makan dulu!" Lanjut Omnya.


Kemudian Ismo Harsoyo berkata pada puterinya. "Amanda! Siapkan hidangan makan!"


"Ya! Pah!" Amanda bergegas-gegas berjalan ke dapur, tak lama kemudian ia ke ruang tamu seraya berkata: "Pah, mah! Sudah siap!"


"Mari, Farel, kita makan sekalian!" Ajak Ismo Harsoyo pada Farel.


"Om dan tante makan dulu, saya belakangan saja!" Jawab Farel.


"Jangan sungkan-sungkan! Mari!" Ismo Harsoyo mengajak Farel masuk ke dalam, dengan gesit Amanda menyediakan air teh.


Ilham melihat terus tingkah-laku kakaknya, kemudian ia ke ruangan tamu, disusul oleh Amanda.


"Ilham, kau belum mau makan?" Tanya Amanda pada adiknya itu.


"Mau sih mau, tapi ...!" Balas Ilham.


"Tapi, kenapa?" Amanda merasa heran. "Kalau saya makan sekarang, takut ada yang marah!" Balas Ilham.


"Siapa yang marah?" Amanda bertambah heran.


"Kakak!" Ilham menuding ke arah Amanda sambil menyengir. "Takut saya menghabiskan makanan, sehingga kak Farel tidak kebagian!" Ucap Ilham tersenyum.


"Ilham, kau mulai jail lagi, nanti akan kuberitahu pada papah dan mamah!" Wajah Amanda agak merah.


Amanda berdiri kesima di tempat, ia menatapi Ilham terbengong-bengong, pendengarannya hampir tidak percaya bahwa ucapan tadi adalah ucapan Ilham.


"Jangan suka melamun, cepat peot!" Ilham tertawa kecil.


"Ilham! Jangan sembarangan mengoceh!" Suara ayahnya, tahu-tahu papahnya telah berada di belakang anaknya disusul istrinya serta Farel.


"Amanda, Ilham, makan!" seru ibu mereka. Setelah anak-anak masuk ke dalam, mulailah mereka mengobrol di ruangan tamu, pak Ismo Harsoyo duduk berdampingan di kursi panjang, sedangkan Farel duduk di hadapan mereka.


"Sebelumnya kau harus mengenal kota Jakarta dulu, baru bisa kau mencari pekerjaan!" Ucap Ismo Harsoyo. "Kebetulan besok adalah hari Minggu, aku akan mengajakmu keliling kota Jakarta dengan mobil." Lanjutnya.


"Bukankah saya akan mengganggu om?" Tanya Farel.


"Tidak apa-apa!" Pak Ismo Harsoyo tersenyum.


"Ajak juga anak-anak!" Sambung isterinya.


"Ya! Kalau demikian, kau ikut juga mam!" Lanjut pak Ismo Harsoyo pada istrinya.


"Aku tidak sempat! Harus mengurusi rumah!" Balas istrinya.


"Sehari saja kan?" Lanjut Ismo Harsoyo.


"Baiklah!" Isteri pak Ismo Harsoyo tersenyum. Mereka mengobrol cukup lama, kemudian pak Ismo Harsoyo menyetel tivi, sesudah makan, Ilham langsung menonton tivi dengan asyik, Amanda masih mencuci piring.


"Ilham, kau tidak belajar?" Tanya pak Ismo Harsoyo sesudah duduk di tempatnya.


"Malam Minggu, pa, maklum!" Ilham tersenyum.


"Kalau terdapat pelajaran yang tidak mengerti, tanyakan saja pada Farel!" Ucap Pak Ismo Harsoyo.


"Ya, pa!" Balas Ilham.


Sesudah mencuci piring, Amanda membersihkan meja makan, kemudian ia masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil buku pelajarannya. Ia mulai belajar di meja makan tanpa menghiraukan acara tivi, tiba-tiba ia mendengar langkah kaki orang mendekatinya. Maka tersenyumlah dia.


"Amanda, kau sedang belajar?" tanya Farel.


"Ya, kak Farel!" Jawab Amanda. "Saya sedang belajar bahasa Inggris!"


"Apakah kau bisa?" Lanjut tanya Farel.


"Sedikit!" Amanda menundukkan kepalanya, Farel duduk berhadapan dengan Amanda.


"Kalau kurang mengerti, mungkin saya bisa membantumu!" Lanjut Farel.


"Kak Farel pintar berbahasa Inggris?" Amanda mendongakkan kepalanya.


"Sedikit!" Jawab Farel tersenyum.


"Who will love to me? Apa artinya kak Farel?" Lanjut Amanda.


"Ini bukan pelajaran sekolah," Jawab Farel. "Kenapa kau bertanya demikian?"


"Saya tahu bukan pelajaran sekolah, tapi justru saya ingin mengetahui artinya." Balas Amanda.


"Artinya, siapa yang akan mencintaiku!" Farel tersenyum.


"Jawabannya apa? Kak Farel?" Tanya Amanda.


"Saya tidak tahu!" Farel tersenyum lagi.


"Betulkah kak Farel tidak tahu?" Balas Amanda.


"Betul!" Jawab Farel sambil mengambil buku pelajaran Amanda, ia bolak-balikkan buku pelajaran tersebut, kemudian ia meletakkan kembali seraya berkata: "Amanda saya ke ruangan tamu dulu ya?" Lanjut Farel.


"Kenapa cepat betul? Kak Farel !" Entah kenapa mendadak hati Amanda merasa kecewa, ia sendiri juga tidak tahu kenapa?


"Saya harus menemani orangtua Amanda!" Farel tersenyum sambil berlalu.


Malam itu Farel tidur di ruangan tamu, ia merapikan segala kursi meja dan menggelarkan tikar. Amanda mengambilkan bantal guling serta selimut, kemudian ia membakar obat nyamuk.

__ADS_1


"Terimakasih, Amanda!" Ucap Farel.


Amanda tersenyum sambil menatap Farel, sejenak kemudian ia langsung memutarkan badan menuju ke kamarnya.


__ADS_2