
Malamnya, selesai belajar, Irfan mencoba kaus dan jins barunya. Cowok itu berdiri di depan cermin besar di pintu lemari pakaiannya. Berputar ke kiri kemudian ke kanan. Kemudian ke kiri lagi. Lalu ke kanan lagi. Dan setelah
berputar kanan dan kiri berkali-kali, ia lalu berdiam diri. Dipandanginya refleksi dirinya di cermin dengan puas. Ketika adiknya yang hanya berselisih umur dua tahun, Cevin, memasuki kamar tidur mereka, Irfan langsung menyambutnya dengan pertanyaan.
"Gimana penampilan gue, Vin?" tanyanya.
Cevin mengamati kakaknya. "Oke. Keren. Kayaknya tuh kaus mahal. Jinsnya juga. Iya?" Tanya Cevin.
"Jelaslah. Gue sampe nggak jajan. Bawa makanan ke sekolah, abis itu malah jualan." Kata Irfan.
Kalau itu sih orang satu rumah juga tau! gerutu Cevin dalam hati. "Buat si Balqis aja sampe segitunya." Lanjut Cevin.
Irfan tidak peduli. Setelah sekali lagi memandangi pantulan dirinya sampai benar-benar puas, ia melepas kaus dan celana jins barunya, lalu dengan sangat hati-hati menggantung keduanya di dalam lemari.
***
Di sekolah Cevin, tahun ajaran baru.
Tadinya Cevin pikir cewek yang sedang berjalan bersama ibunya itu cuma mirip dengan cewek di foto-foto di dalam laci Irfan. Tapi setelah seorang siswa menjeritkan nama cewek itu, lalu cewek itu menoleh kaget dan keduanya saling berlari mendekat serta berpelukan erat sambil tertawa-tawa, keraguan Cevin segera tersingkir.
Cewek itu memang Balqis!
Tanpa disadari, Cevin berdiri diam mengamatinya. Foto dengan realita ternyata bisa berbeda. Cewek itu lucu. Bisa dilihat dari caranya berbicara, gerak-geriknya, ekspresi muka, bahasa tubuh. Dia juga lincah dan gampang tertawa. Dan kalau sedang tertawa, kedua matanya membentuk sudut karakter usil dan jail pemiliknya.
"Manis," gumam Cevin tanpa sadar. Pinter juga si Irfan.
Begitu sampai rumah, Cevin langsung mencari Irfan, si pemuja Balqis yang membabi buta itu. Ia mendapati kakaknya sedang duduk bersila di tempat tidur. Mukanya tampak kesal.
"Fan, dia satu sekolah sama gue," lapor Cevin.
"Udah tau!" jawab Irfan ketus.
"Kenapa sih lo? Bi Puji masak kacang panjang lagi?" Tanya Cevin.
Irfan memang benci kacang panjang, dan selalu kesal kalau menemukan sayuran itu di meja makan.
"Kenapa sih dia satu sekolah sama elo? Kenapa nggak masuk sekolah gue?" Ucap Irfan kesal.
Ternyata itu masalahnya!
"Jangan ke gue dong protesnya. Mana gue tau?" ucap Cevin sambil melempar tasnya ke kasur Irfan. Sang kakak sontak berteriak kesal.
"Kenapa sih lo kalo ngelempar tas selalu ke kasur gue? Kenapa nggak ke kasur lo sendiri?" tas itu pun melayang dari kasur Irfan. Cevin buru-buru menangkapnya. Sambil tertawa geli diletakkannya tas itu di kasurnya sendiri.
"Dia manis, ya? Beda sama fotonya." Ucap Cevin.
__ADS_1
"Betul, kaaan?" Tampang keruh Irfan langsung berubah cerah. Tapi beberapa detik kemudian berubah menjadi tegang. Kalau Cevin bisa langsung sadar kalau Balqis itu manis, berarti cowok-cowok lain juga dong!
"Wah, gawat!" desis Irfan, langsung panik. Ia melompat dari tempat tidur dan bergegas menghampiri Cevin yang sedang berganti baju.
"Vin, tolong jagain dia, ya? Jangan sampe ditaksir cowok lain." Ucap Irfan.
"Gimana caranya? Gue kenal dia juga nggak. Lo aja nggak kenal dia." Balas Cevin.
"Ya elo kenalan trus jagain dia," usul Irfan. Usul yang aneh banget.
"Besok kan MOS. Tiga hari. Kalo ada yang naksir dia ya kudu nunggu MOS nya kelar dululah," Cevin beralasan.
"Itukan kalo yang naksir anak baru. Kalo senior sih lain. Nanti kalo dia disuruh macem-macem sama senior kalian, yang nggak masuk akal gitu, mengada-ngada, lo belain dia, ya?" Ucap Irfan.
"Hah!?" Cevin menatap kakaknya dengan mata terbelalak. "Nggak mau. Gila, apa? Ntar gue yang bonyok, lagi." Jelas Cevin.
"Nanti gue traktir deh." Balas Irfan.
"Setiap gue abis dibonyokin, lo mau traktir, gitu?" Cevin mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi saking takjubnya. Irfan kakak yang kejam banget ternyata. Ikhlas adiknya bonyok -bonyok demi cewek gebetannya nggak kenapa-napa.
"Bonyoknya paling dikit sih? Nggak bakalan banyakanlah!" Lanjut Irfan.
"Kalau bonyoknya sampai mati, gimana?! Bukan cuma bonyok-bonyok aja!" Balas Cevin.
Cevin ternganga...!
"Elo tu kelewatan ya!" ucap Cevin ketus. Jadi dongkol sungguhan. "Bodo amat si Balqis mau diapain besok di MOS. Bukan urusan gue!" Ucap Cevin.
Dengan kesal Cevin berjalan ke arah lemari bajunya, mencari-cari kaus rumah. Irfan membuntuti sambil menyeringai. Ia tahu permintaannya tadi terasa berat dan sulit di terima akal biasa. Tapi ia tidak tega membayangkan Balqis nya yang manis dan lucu itu dibentak-bentak lalu diperintah melakukan ini itu yang nggak jelas.
"Sorry, Sorry. Bercanda," kata Irfan. Dirangkulnya bahu adiknya.
"Ah, gue tau lo serius," jawab Cevin.
"Bonyoknya nggaklah. Ya udah. Tolong jagain dia aja, ya?" Lanjut Irfan pada Cevin adiknya itu.
"Caranya?" Tanya Cevin.
"Hmm…!" Irfan terdiam. Sampai mereka tiba di ruang makan, Cevin membuka tudung saji lalu mengamati lauk yang ada di meja, mengambil piring kosong, menyendokkan nasi dan siap makan siang, Irfan masih saja diam. Masih terus menempeli Cevin karena sepertinya ia tidak sadar satu tangannya masih merangkul bahu adiknya.
"Nggak bisa jawab kan lo?" Cevin meliriknya.
"Ini gue lagi mikir." Jawab Irfan.
"Bisa nggak lo mikirnya jangan sambil ngerangkul gue gini? Gue mau makan nih." Balas Cevin sewot.
__ADS_1
Irfan tersadar...!!!
"Sorry!" Dilepaskannya rangkulannya dari bahu Cevin, kemudian ditariknya satu kursi. Tapi sampai Cevin selesai makan, Irfan masih juga belum menemukan cara. Akhirnya ia pasrah.
Cevin tertawa tanpa suara. Ia berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kelakuan lo tu norak, tau nggak?" kata Cevin sambil membawa piring kotor ke dapur.
***
MOS hari pertama selesai. Cevin melangkah ke luar gerbang sekolah barunya dengan tubuh penat. Salah seorang senior, anak kelas tiga, sepertinya terobsesi jadi tentara. Sedikit-sedikit ia memerintahkan anak-anak baru, yang cowok pastinya, untuk push up. Lari-lari keliling lapangan atau naik-turun tangga, loncat-loncat dan jalan jongkok.
Langkah lelah Cevin yang lambat terhenti ketika di dengarnya namanya di panggil. Kejutan mendadak! Di depannya Irfan sedang duduk di atas motor yang diparkirnya di trotoar samping sekolah.
"Gue jemput elo nih. Kakak yang baik kan gue?" kata Irfan tersenyum lebar. "Dikerjain apa aja lo, sampe lecek banget gitu?" Lanjut Irfan.
"Nggak usah dibahas. Nggak penting," jawab Cevin malas.
"Balqis mana?" kepala Irfan celingukan mencari-cari.
"Nggak tau. Nggak sempet ngurusin dia. Motor siapa nih?" Tanya Cevin.
"Sigit. Baru! Tuker tambah sama yang lama. Tapi tadi Balqis masuk, kan?" Lanjut Irfan.
"Ya masuklah. Emangnya kepengin dibantai besok, hari ini nggak masuk? Kayak gitu kok ngomongnya mau jemput gue. Bilang aja mau liat Balqis!" Ucap Cevin.
"Ya dua-duanya deh." Balas Irfan.
Irfan tampak kecewa karena tidak berhasil menemukan Balqis. Kepalanya masih terus menoleh ke segala arah, mencari-cari. Sekolah sudah mulai lengang, jadi kemungkinan Balqis masih ada juga sangat kecil.
"Udah deh. Besok kan masih ada hari. Gue capek banget nih. Besok kudu dateng pagi-pagi lagi. Buruan balik yuk, Fan." Ucap Cevin.
Dengan berat hati Irfan menyalakan mesin motor, lalu meninggalkan tempat itu.
Besok siangnya Cevin mendapati Irfan sedang menunggu di tempat yang sama. Tapi kali ini wajahnya begitu ceria. Pasti dia sudah bertemu, atau paling tidak, melihat Balqis.
Dan dugaan Cevin benar...!
"Lucu ya dia, pake pita warna-warni gitu. Ngegemesin. Tapi kasian. Keliatan capek banget dia tadi. Diapain sih sama anak-anak kelas dua sama tiga?" muka sumringah Irfan seketika berganti dengan ekspresi marah.
"Mana gue tau! Orang nggak satu kelompok. Lo udah ngomong sama dia? Maksud gue, udah kenalan?" Balas Cevin bertanya.
"Ntar aja, kalo dia udah pake putih abu-abu. Lagian nyokapnya udah dateng duluan, jadi gimana gue mau kenalan? Yuk, ah... Balik. Besok gue nggak jemput ya. Udah hari terakhir, kan?" Jelas Irfan.
"Lo nggak pengin ngeliat Balqis lagi?" tanya Cevin sambil duduk di boncengan.
"Tadi udah. Ya penting gue udah tau tampangnya pas lagi MOS. Lucu." Irfan tertawa kecil, terdengar begitu bahagia. Dihidupkannya mesin motor. Dan sepanjang jalan Cevin terpaksa menabahkan diri mendengar celotehan abangnya tentang Balqis, yang benar-benar baru berakhir setelah motor masuk halaman rumah.
__ADS_1