
Usai makan malam, Balqis mendekati mamanya, Cindy yang sedang santai di depan TV, lalu duduk di sebelahnya.
"Ma, besok aku nggak sekolah, ya? Aku malu banget tadi." Ucap Balqis.
"Ya jelas aja malu. Masa tembus sampai sebanyak itu sih?" Ucap Cindy.
"Makanya. Aku besok nggak sekolah, ya? Malu banget nih." Kata Balqis lagi.
"Memang ceritanya gimana sih?" tanya mamanya, Cindy sambil melirik putrinya. Saat Balqis menceritakan kejadian itu, reaksi mamahnya adalah tertawa terpingkal-pingkal.
"Mama kok ketawa sih?" Tanya Balqis.
"Ya kamu o’on sih," jawab mamahnya santai. "Kayak baru dapat mens pertama kali aja. Kayak mamah nggak pernah ngajarin mesti gimana." Ucap Cindy.
"Namanya juga salah perhitungan. Ya, mah? Besok aku nggak sekolah, ya?" Pinta Balqis.
"Oke, satu hari aja. Nanti mamah buatkan surat izin buat guru piket. Tapi lusa, mau nggak mau kamu harus hadapin. Biar nggak masuk setahun, orang tetap nggak akan lupa. Tetep akan ada yang ngeledekin kamu." Lanjut Cindy menjelaskan.
"Iya... Iya... Satu hari aja." Balqis cepat-cepat mengangguk. Lusa biar urusan lusa deh. Yang penting besok selamet!
Baru lima menit Balqis merasa gembira, telepon di meja kecil di sudut ruangan berdering. Dari Cevin, dan cowok itu langsung ke permasalahan.
"Qis, lo besok masuk, kan?" Tanya Cevin.
"Hah?" Balqis tercengang.
"Lo besok masuk, kan?" ulang Cevin. "Nggak ngumpet di rumah?" Lanjutnya.
"Kenapa lo ngomong begitu?" tanya Balqis takjub.
"Nggak tau. Feeling aja. Kalo nggak gue telepon lo sekarang, kayaknya gue besok bakalan duduk sendirian." Jawab Cevin.
Balqis makin tercengang. Akhirnya ia mengaku.
"Iya sih. Besok gue nggak pengin masuk. Sehari aja kok. Abis malu banget." Jawab Balqis.
"Benerkan feeling gue?" Di seberang Cevin tertawa. "Masuk dong. Ya?"
"Gue malu banget, Vin. Sumpah!" Jawab Balqis.
"Yang di bikin malu kan kita berdua. Trus besok lo mau ngebiarin gue malu sendirian, gitu? Nggak bertanggung jawab banget lo." Balas Cevin.
"Yaaah…." Balqis bingung.
"Besok lo gue jemput deh. Kita berangkat bareng," ucap Cevin, mengagetkan Balqis. Cewek itu sampai tidak bisa bicara. "Oke, ya? Besok gue jemput." Lanjut Cevin.
"Naik apa?" Tanya Balqis.
"Bus!" jawab Cevin pendek. "Sampe besok, ya. Bye!" terdengar suara telepon ditutup.
__ADS_1
Balqis meletakan gagang telepon. Masih setengah tak percaya.
"Besok jadi bolos, nggak?" goda Cindy, mamahnya.
"Nggak." Balqis meringis. "Ada yang takut sendirian," sambungnya, malu.
"Baru aja masuk Sekolah Menengah Atas, udah punya pacar. Awas kalau nilai-nilai kamu jadi jelek, ya," ancam mamahnya.
Balqis tertegun. Bukan karena ancaman itu.
"Idih. Emang siapa yang bilang dia pacar aku sih?" ralat Balqis kemudian. Tapi setengah hati.
Mamahnya berlagak tidak mendengar. Begitu Balqis berjalan ke kamarnya dan akan menghilang di sana, sang mamah mengulangi ancamannya, "Awas ya kalau nilai-nilai kamu jadi jelek." Lanjut Cindy.
Balqis menutup pintu kamarnya. Tampangnya cemberut. Dan begitu sendirian, ia menyadari satu hal. Satu keadaan yang sama sekali baru.
Dirinya gelisah. Sangat gelisah. Mendadak semuanya jadi serbasalah. Tidak satu pun usahanya untuk menghilangkan kegelisahan pekat itu untuk membuat dirinya tenang sebentar saja berhasil.
Usaha pertama, nonton TV. Dengan volume untuk orang yang kurang pendengaran, dan nontonnya dengan jarak yang cocok untuk orang yang matanya kena katarak. Tapi gagal! Balqis tetap gelisah.
Usaha kedua, belajar. Persiapan buat esok. Balqis meraih salah satu buku dari tumpukan di depannya. Bahasa Inggris. Pelajaran besok yang paling berat. Dibukanya bab yang telah dipelajari minggu sebelumnya. Kemudian ia mencoba berkonsentrasi untuk mengingat kembali pelajaran terakhir yang diberikan guru. Jelas lebih gagal! Nggak ada masalah aja, masuk ke otaknya susah. Apalagi ditambah ada masalah. Dengan kesal Balqis menutup buku di depannya.
"Belagu banget sih gue!" desisnya, mencela diri sendiri.
Kemudian dipandangnya seisi kamar, mencari-cari usaha lain. Dan matanya tertumbuk pada keranjang rotan kecil di kolong tempat tidurnya. Terkadang mamanya suka menemaninya belajar sambil menyulam.
"Coba nyulam, ah!" serunya, dan lansung bangkit dari kursi. Ditariknya keranjang itu dari kolong tempat tidur. Tak lama, Balqis sudah asyik menyulam, berbekal pelatihan singkat yang pernah diberikan mamahnya dengan paksa.
Balqis buru-buru meletakkannya kembali ke dalam keranjang. Tentu saja dengan bagian yang rusak itu tersembunyi dengan sangat baik.
Akhirnya cewek itu menyerah dari usaha menenangkan diri. Gantinya, ia duduk di lantai dengan punggung bersandar di dinding. Mencoba mencari akar penyebab kegelisahannya itu.
Besok pagi Cevin akan menjemputnya dan untuk pertama kalinya mereka akan berangkat sekolah bersama. Cuma itu sih sebenarnya. Balqis tercenung. Tapi kok gue jadi nggak jelas gini ya? Keluhnya dalam hati.
Balqis tidak menyelesaikan analisisnya, karena tiba-tiba teringat hal lain yang menurutnya lebih mendesak.
"Wah, besok gue pake apa, ya?" desisnya sambil buru-buru berdiri.
Dibukanya lemari tempat ia menyimpan semua tasnya. Lalu bibukanya laci tempat semua aksesoris tersimpan. Kemudian Balqis berjalan ke sudut ruangan, ke rak sepatu. Ditatapnya koleksi sepatunya satu per satu. Mendadak semua tas yang dimilikinya nggak ada yang bagus. Semunya jelek! Semua sepatu berikut kaus kakinya juga jelek. Semua koleksi aksesorinya nggak ada satu pun yang keren. Balqis menatap semua propertinya dengan mata terbelalak.
"Gila!" desisnya. "Jadi selama ini gue ke sekolah pake barang-barang jelek ini? Kok gue nggak sadar, ya?" Ia menggelengkan kepala sambil berdecak-decak.
Kalau tadi Balqis gelisah karena besok Cevin akan menjemputnya, sekarang cewek itu kebingungan karena merasa tidak ada satu pun barang-barangnya yang keren dan layak dipakai jalan bareng cowok!
Sayangnya, untuk masalah yang satu ini, yang menurut Balqis malah lebih gawat, tidak ada solusinya sama sekali. Ia terpaksa menerima keadaan, karena kalaupun ia minta uang sama mamah dan dikasih, ia tidak tahu apa yang harus dibeli lebih dulu. Soalnya ya itu tadi, barang-barangnya nggak ada yang keren.
Akhirnya Balqis mengalihkan perhatiannya pada hal lain.
"Nggak apa-apa deh barang-barang gue nggak ada yang oke, yang penting besok gue keliatan cakep!" putusnya setelah bercermin, mengamati wajahnya beberapa saat.
__ADS_1
Jadi malam ini Balqis tidak belajar, karena sibuk mempercantik diri. Sibuk dan heboh, hingga menarik perhatian mamahnya. Mamah Balqis yaitu Cindy hanya memperhatikan tingkah anaknya itu dengan senyum. Tidak berusaha melarang, karena ini bagian dari proses yang memang harus dilalui setiap anak perempuan.
Jatuh cinta untuk yang pertama kali kadang membuat cewek dengan sadisnya menghakimi diri sendiri, menganggap diri jelek sementara semua cewek di seluruh dunia cakep-cakep. Selanjutnya, mereka berusaha keras menjadi orang lain. Pengin kayak si A yang artis, si B yang model, atau yang lain, tapi tetap dalam kategori cewek populer. Cewek yang bijak biasanya menyadari kelebihan diri sandiri, bahkan bangga dan akhirnya mengerti bahwa cantik, keren, atau oke, bentuk dan versinya ternyata bisa banyak sekali. Bahkan sering kali nggak ada hubungannya sama wajah atau bodi. Proses ini bisa terjadi berulang kali. Bisa sebentar, tapi bisa juga makan waktu bertahun-tahun. Yang pasti, bisa sangat menyakitkan. Namun, itulah hidup. Mencari dan menemukan.
Mamahnya Balqis kemudian meninggalkan anaknya yang sedang menggeletak. Telentang di karpet di depan radio, dengan muka tertutup masker tebal. Wanita itu tahu, sebentar lagi anak perempuannya akan membutuhkan bukan saja pendengar yang baik, tapi juga penasehat yang tepat.
***
Di saat yang bersamaan, di dalam kamarnya yang kini hanya dihuninya sendirian, Cevin berdiri di depan meja belajar Irfan. Ada perasaan bersalah menyusupi hatinya, karena ia mulai naksir cewek kakaknya. Sebenarnya nggak bisa dibilang cewek Irfan juga, karena Balqis tidak pernah mengenal Irfan.
Cevin kaget sendiri ketika hati kecilnya kemudian langsung meralat. Bukan nggak pernah kenal, tapi nggak sempat. Kecelakaan itu membuat Balqis tak sempat mengenal Irfan. Namun logikanya segera memberikan bantahan. Tidak sempat atau apa pun namanya, yang jelas Balqis tidak mengenal Irfan. Titik! Jadi dirinya tidak bisa dibilang telah merebut pacar sang kakak.
Cevin menghela napas dengan panjang dan berat. Masalahnya adalah, ia tahu banyak setiap usaha Cevin demi cewek yang sudah lama diincernya itu. Meskipun pengamatan itu lebih sering dilakukan Irfan sendirian -kadang-kadang ditemani Sigit dan Irfan selalu menceritakan perkembangannya sekecil apa pun itu.
Kalau sedang merasa sangat gembira, Irfan bahkan akan menceritakannya pada Queena. Meskipun adik bungsunya itu jelas-jelas tidak tertarik. Kalau sedang sangat bahagia, Irfan akan menceritakan semua kisah yang sudah pernah ia ceritakan. Dengan heboh dan berapi-api pula. Bukan hanya tentang pengamatannya yang terakhir, tapi juga pengamatan-pengamatan yang
sebelumnya. Lengkap dengan semua perkembangannya. Irfan sama sekali tidak peduli meskipun pendengarnya sudah muak dengan ceritanya itu.
Masih terngiang di benak Cevin percakapannya dengan Irfan waktu itu, ketika tenyata Balqis satu sekolah dengan Cevin.
"Awas kalo lo berani-berani naksir cewek gue!" Ucap Irfan waktu itu.
"Emang dia cewek lo! Kenal juga nggak." Balas Cevin.
"Ya kan ntar kalo dia udah nggak pake putih-biru lagi, udah kelar MOS, gue mau ke rumahnya. Kenalan...!" Jawab Irfan.
"Emang kalo udah kenalan trus langsung jadi pacar, gitu? Jadi temen dulu, lagi. Di mana-mana juga gitu. Lagian juga belom tentu dia mau jadi cewek lo." Balas Cevin.
"Harus mau!" tandas Irfan. "Enak aja. Gue udah nungguin lama-lama. Sering gue tongkrongin di sekolahnya pula." Balas Irfan sengit.
"Kalo ternyata tu cewek nggak mau juga?" Cevin terus bertanya.
Cevin masih ingat benar. Pertanyaan yang terakhir kemudian membuat Irfan mendekatkan mukanya, sambil mendesis, tajam, dan berang.
"Pokoknya tu cewek harus mau jadi cewek gue. Gimana kek caranya!" Ucap Irfan.
Saat teringat kembali percakapan itu, tanpa sadar Cevin tersenyum sendiri. Namun kemudian senyumnya menghilang perlahan.
Bagi Cevin, awalnya Balqis adalah bagian dari Irfan yang masih tertinggal, yang masih hidup, yang masih bisa dilihat dan disentuhnya. Kadang, saat rasa kangennya pada Irfan tak bisa lagi ditahan, Cevin berkhayal kakaknya itu muncul tiba-tiba di hadapannya, lalu berteriak di depan mukanya, "Hei! Jangan di pegang-pegang. Itu cewek gue!" seperti yang selalu dilakukan Irfan tiap kali Cevin menyentuh foto-foto Balqis yang diambilnya dengan diam-diam. Kini, meskipun rasa itu masih ada, Cevin sudah tidak ingin mengelak lagi.
Sekarang tidak lagi murni seperti itu. Ia tidak ingin melepaskan Balqis, tapi terlebih, tidak ingin lagi menjaganya sebagai Irfan's legacy.
Perlahan, Cevin melangkah mendekati potret Irfan yang tergantung di dinding tepat di atas kepala tempat tidur sang kakak. Beberapa saat Cevin hanya berdiri diam di sana.
"Gue suka cewek lo," ucapnya kemudian. Suaranya lirih dan bergetar, sambil berusaha menentang foto Irfan. "Boleh nggak, dia buat gue?" Cevin meneruskan kalimatnya dengan susah payah.
Hening...!!!!
Tidak ada suara apa pun yang terdengar di malam yang mulai larut itu, kecuali suara jantungnya sendiri yang berdetak sangat kencang.
__ADS_1
Namun, ada perasaan lega dan tenang saat akhirnya kalimat itu telah terucapkan.