Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
10. Zubaidah


__ADS_3

Pakaian indah yang melekat di tubuh sempurna itu, jauh beda sama sekali dari dress tidurnya semalam. Dengan baju yang rapi dan sopan namun modis, Dhiarra berjalan keluar setelah mengunci rapat-rapat pintu kamar. Berjalan cepat di pagi buta menuju setapak jalan di halaman luas dan panjang, seperti taman kota yang hijau dan asri.


"Heh ! Benalu! Pagi-pagi buta dah menor. Pergi jalan-jalan tak gunakah, kau?" Salah satu manusia yang dihindari Dhiarra di rumah besar Shin, Zubaidah, telah menghadang jalan secara tiba-tiba.


"Pagi, mak cik! Saya tak jalan-jalan lah! Tapi, saya mau buat kerja!" Tidak terima dengan perkataan mantan istri Hazrul, Dhiarra meluruskan kebenarannya.


"Perempuan pendatang macam kau..?! Nak buat kerja macam apa pulak, ha..ha..ha..!" Zubaidah tertawa lebar demi mendengar jawaban gadis cantik itu yang berkata akan mengerjakan sesuatu. Suara tawa Zubaidah cukup nyaring memenuhi seluruh sudut halaman hingga masuk dalam rumah. Terlebih ini waktu pagi yang buta. Zubaidah hilang kendali tanpa sadar.


"Terserah kau sajalah mak cik! Saya tak kisah pada apapun cakapmu! Saya kena pergi cepat sekarang!" Dhiarra bersikap tak peduli dengan ucapan sinis dari Zubaidah yang sangat menyibuk padanya. Baginya, menemui Yuaneta jauh lebih penting dari menanggapi ucapan Zubaidah yang tak ada manfaatnya setitik pun.


"Heei..!! Tidak sopan kau ya, perempuan! Orang tua tengah cakap, kau tinggal macam itu saja?!" Dhiarra terkejut, Zubaidah mengumpatnya sambil menarik gulungan rapi rambutnya dari belakang. Rambut indah milik gadis itu kini mengurai jatuh sangat cantik di punggung dan menutupi leher jenjang cerahnya. Dhiarra memang jarang berurai rambut. Terlebih setiba di rumah besar ini, belum sekalipun Dhiarra mengubah gaya rambut gulung tinggi itu.

__ADS_1


"Apa yang mak cik buat padaku?! Kembalikan, kembalikan tusuk rambutku!" Dhiarra benar-benar menahan marah. Ibu macam apa sebenarnya, Zubaidah itu?


"Mau ambil? Kau sinilah... ambil tusuk rambut busukmu nih!" Zubaidah mundur ke belakang, mengayunkan tusuk rambut di tangan.


Dhiarra ingin tidak peduli, tapi tusuk rambut itu cukup berarti baginya. Pemberian Adrian sebagai hadiah untuk Dhiarra, yang dibelikan sang kekasih dari kunjungan kerja di Thailand.


**


**


"Ku bilang ulang, mak cik Zubaidah! Kau beri padaku, atau harus ku rebut kasar darimu?!" Kulit Dhiarra yang cerah halus tanpa cela, terlihat merah karena menahan rasa geramnya. Gadis Indonesia itu semakin mempesona dengan rambut terurai dan wajah yang memerah. Zubaidah terus mundur tak berniat memberikan tusuk itu.

__ADS_1


"Nah...nah..Coba kau tangkap, nah!" Saat Dhiarra sudah dekat dan akan meraih tusuk rambut, Zubaidah cepat melempar tusuk itu ke sembarang arah. Dan keduanya pun tidak bisa mengira ke mana tusuk rambut itu melayang. Tak ada tanda jatuh sedikit pun yang terkesan.


Dhiarra begitu geram tak tertahan. Merasa diperdaya serta dipermainkan oleh Zubaidah. Disambarnya rambut Zubaidah yang terikat rapi dengan pita rambut. Lalu ditarik-tariknya rambut Zubaidah.


"Perempuan sial, gatal, liar, tak punya sopan kau ya!" Zubaidah terus berteriak sambil berusaha lepas dari tarikan tangan Dhiarra.


Sampai Zubaidah berkesempatan menyambar segenggam rambut halus Dhiarra. Lalu ditariknya kuat..sekuat tangan Dhiarra yang juga tengah gencar menariknya.


***


Shin tak habis pikir dengan kelakuaan keduanya kini. Sambil menyimpan sebuah tusuk rambut di balik baju, lelaki tegap itu turun perlahan,berjalan akan menghampiri keduanya dengan tujuan melerai adu kelakuan konyol mereka.

__ADS_1


__ADS_2