
Gadis kusut massai yang tetap cantik saat bangun tidur, nampak berjalan kencang menuju kamar mandi. Telat bangun sebab semalam memang tak sengaja tidur lambat.
Sang kekasih, Adrian, mengabarkan akan datang kembali menjumpainya nanti malam. Bersamaan dengan tujuan Adrian menghadiri undangan khusus dari Shin. Adrian akan ikut menyaksikan acara launching prodak baru di Shin's Garment.
Dhiarra bertanya-tanya, jadikah Adrian menikahinya pada kedatangan lelaki itu kali ini. Tapi Adrian tidak mengatakan apapun saat berbincang di talian semalam. Itulah yang membuat Dhiarra berfikir hingga sangat susah untuk tidur, seriuskah Adrian dengan ucapannya?
🍒
Meja makan yang akhir-akhir ini hanya dihuni Shin dan Dhiarra, pagi ini kembali cukup ramai. Fara telah duduk manis di kursinya. Zubaidah juga ada di kursi yang biasa. Hisyam pun demikian. Namun Sahila tak nampak duduk di kursinya.
"Kak Sahila tak nampak, belum bangun lagi kee?" Fara bertanya memandang Zubaidah.
"Pagi-pagi dah pergi. Dia cakap nak jalan kat pantai dengan pakwe (pacar) baru die...," Zubaidah menerangkan pada Fara. Sambil sesekali memandang kaku pada Dhiarra.
"Fara, apa kabar mama dan papa engkau?" Zubaidah balik bertanya.
"Alhamdulillah sihat beliau dua orang. Just sikit sakit pikir je lah kaaak...," Fara sedikit mengeluh sambil matanya melirik pada sang abang, Shin Adnan.
"Sakit pikir apa hal, Fara?!" Zubaidah terheran. Sebab orang tua Shin serta Fara atau bekas mertuanya selalu nampak segar bugar, uang mereka juga melimpah.
"Sakit pikir sebab abang Shin lah, kak..! Asal pulak bang Shin tak kawin-kawin? Tak de wanita yang nak kawin dengan dia kee? Mama dan Papa dah teringin sangat nak timang cucu dari bang Shin..,," Fara sengaja memancing Shin Adnan. Sebab paham, sang abang susah sangat menyukai wanita.
Shin tak menanggapi, hanya menoleh kecil pada Fara. Tahu ucapan sang adik hanya menyindir. Lelaki itu terus makan dengan santai.
Padahal orang yang perhatian dan memikirkan merasa sangat gemas serta cemas. Baik itu Fara hingga orang tuanya, tapi Shin tidak juga menanggapi.
Dhiarra terus mengikuti percakapan dalam diam. Dia pun sibuk dengan sarapan di piring. Sesekali melirik Shin yang mendingin dan acuh tak peduli.
Dhiarra monoleh ke samping. Kebetulan Fara juga sedang menoleh. Mereka berpandangan dan lalu saling melempar senyum.
Dhiarra telah menunduk pada piring kembali. Tapi Fara masih betah mengamati. Gadis Indonesia yang cantik alami tanpa cela itu menurut Fara sangatlah menarik.
"Kak, kau ada kekasih tak?" Fara bertanya sambil menowel bahu Dhiarra. Fara merasa mulai tidak asing lagi dengan Dhiarra.
Dhiarra terkejut, lalu cepat menggeleng namun tersenyum.
"Apa? Tak ada..? Secantik akak mana boleh tak punya pakwe..?" terheran Fara menatap Dhiarra.
"Tidak ada kekasih, Fara..,," tapi wajah Dhiarra tak bisa berbohong.
"Wajah kakak sedang bahagia, tipu aku kee?"
__ADS_1
Fara terus mendesak.
"Hanya calon suami, Fara... Dia akan menikahiku. Lelaki Indonesia," Dhiarra menjawab dan tak bisa menyembunyikan senyumnya lagi. Hatinya memang sedang berbunga. Bahagia ingat Adrian yang akan menemui nanti malam. Sejenak terasa lupa pada kecewa dan sakit yang sempat Adrian cipta untuknya.
"Apa...? Akak masih muda lagi dah nak kawin?!" entah betul-betul apa buatan, Fara nampak terkejut.
"Dhiarra..! Betul kee, kau nak kawin?!" bahkan Hisyam yang duduk di pojok pun menimpali.
Dhiarra tak menyahut. Hanya wajah cerah dan senyumanlah yang meyakinkan bahwa ucapan Dhiarra barusan bukanlah main-main.
"Siapa lelaki Indonesia yang bernasib baik itu, kak? Akak ada pictnya tak?" entah kenapa adik perempuan Shin itu sangatlah penasaran.
"Aku dah 24, tak muda lagi laah.. Dan ternyata dia rekan bisnis encik Shin, Fara!" Dhiarra menjawab. Melirik sekilas pada Shin yang ternyata juga sedang melihat padanya.
"Eh, betulkah yang kak Dhiarra cakap tuh, abang?!" Fara bertanya antusias.
"Heemm..," Shin hanya berdehem kecil dengan kepala gentlenya saja yang mengangguk samar tanpa memandang pada Fara. Lelaki itu sudah selesai makan pagi. Kini sedang meneguk air mineralnya di gelas.., dihabiskan tanpa bekas.
"Fara, cakap pada mama, lusa aku akan pergi kat Kuala Lumpur..!" Shin sambil berdiri akan pergi.
"Bang, mama nak jumpa dengan kak Dhiarra. Dia kata nak kenal anak tiri bang Hazrul. Bawa kak Dhiarra sekali pergi KL..!" seruan Fara tak dapat tanggapan. Shin telah melewati pintu besar ruang makan.
Dhiarra juga laju berdiri, mengangguk kecil pada Fara, Zubaidah serta Hisyam. Lalu melangkah mengejar sang paman demi mendapat tumpangan pagi ini..
🍒
"Encik...! Encik Shin ..!" panggilan Dhiarra terdengar terengah.
"Ada apa..?" Shin memperlambat langkah menoleh Dhiarra.
"Saya tumpang kereta lagi, boleh..?!" Dhiarra memasang wajah manis.
"Bergegaslah..!" kaki panjang lelaki itu kembali berjalan dan agak perlahan. Kini Dhiarra telah berjalan tenang di samping Shin menuju garasi di samping halaman.
🍒
"Calon suamimu akan datang, kau gembira?" Shin bertanya, memecah sunyi dalam mobil.
"Apa boleh saya tidak gembira? Dia akan menikahiku..," Dhiarra merasa tidak bisa menjawab dengan benar.
"Aku yang mengundang, berterimakasihlah padaku," lelaki berjas rapi dan bossy itu menoleh Dhiarra yang duduk menepi di jendela.
__ADS_1
"Terimakasihku padamu, encik Shin..," Dhiarra berkata sangat lembut dengan senyuman manisnya.
"Peragakan bajumu waktu itu olehmu. Akan kuberi imbalan di muka..,," Shin terus menoleh Dhiarra.
"Imbalan..? Maksudmu, encik Shin?" Dhiarra sedikit berkerut menatap Shin Adnan.
"Pertama, harga dirimu akan meninggi di depan calon suamimu, bukankah dulu dia juga sempat menolak karyamu?" Shin menatap serius wajah cantik Dhiarra.
"Encik Shin...." mata indah itu melebar dan semakin menoleh pada Shin.
"Anda sepaham itu tentangku...?" rasanya terharu, orang sehebat Shin telah sebegitu memikirkan dirinya.
Itu juga sebagian luka kecewanya, Adrian pun bahkan memutuskan dan menolak rancangannya juga waktu itu. Tapi Dhiarra merasa tetap cinta...
"Imbalan kedua, kuantar kau mendatangi ibumu yang sedang bersama Hazrul di pulau Penang," imbalan yang dikatakan Shin kali ini benar-benar mengejutkan Dhiarra.
"Benarkah??? Kapan kita pergi, encik Shin???" terlalu kejutan rasanya.
"Akan kuusahaan secepatnya. Kau bersabar saja," Shin menjawab tanya Dhiarra.
Dhiarra terdiam menyembunyikan sesak dadanya. Jujur, betapa rindu pada sang ibu. Sudah delapan bulan Dhiarra tidak menatap dan mengetahui keadaan ibunya. Dhiarra sangat rindu dan sangat ingin bertemu. Namun, ibunya justru seperti lari bersembunyi darinya. Ada apa..?
"Imbalan berikutnya, kau tak ingin tahu?" suara Shin kembali terdengar.
"Apa, encik Shin..?" bagi Dhiarra yang paling menarik adalah hadiah kedua.
"Pendapatan akan mengalir seperti air ke akunmu, Dhiarra," tapi gadis itu hanya mengangguk mendengarnya. Tidak terlalu terkejut, sebab Dhiarra sudah menduga. Kesuksesan pernah dia rasa saat dulu. Tapi secepat ini..Dhiarra patut bersyukur banyak kali.
"Saya sangat terimakasih, encik Shin. Semua berkat bantuanmu," jika bukan karena etika, rasanya tak sanggup menatap mata itu. Merasa lelaki yang duduk di sebelah sudah begitu baik padanya.
"Selain karena kau berbakat, tapi aku juga ingin mengurangi kesalahan Hazrul padamu, Dhiarra," Shin menjelaskan.
"Iya, encik Shin..Saya paham..," Dhiarra menunduk. Merasa agak segan pada Shin Adnan.
"Hari ini kau pulang saja tengah hari. Datang lagi pukul tujuh. Riaslah dirimu seperti saat kau kenakan bajumu yang kemarin," Shin berkata sambil lalu. Tangan dan matanya sibuk pada ponsel.
"Yang merias saya adalah Yuaneta, boleh saya undang kawan saya, encik Shin..," pertanyaan ini membuat Shin hampir tertawa.
"Kawanmu lagi...?" Shin memang benar-benar heran tentang hal ini.
"Hanya dia yang saya punya, encik Shin..Kami dah macam sodara..," alasan yang jujur dari Dhiarra.
__ADS_1
"Ya,ya,ya. Paham..Bawa saja sesiapa yang ingin kau ajak, Dhiarra," Shin meralat rasa herannya. Kini lelaki itu sangat paham arti seorang kawan bagi Dhiarra. Sebab gadis itu memang hanya mempunyai Yuaneta saja di sini. Tidak ada yang lain..
Mungkin Dhiarra juga sedang menjadi anak ayam yang kehilangan sang induk. Dan terpaksa menyasar di negara Malaysia juga demi mencari sang induk..