
Langkah kaki seperti kehilangan arah saat berjalan. Sangat terkejut mendapati orang yang telah dianggap tidak mungkin ada, kini nyata wujudnya dan sedang duduk tenang bersama Azlan di sana. Dan bahkan Shin Adnan juga beberapa kali telah memandangnya.
Perlahan menyeret bangku kosong di samping Azlan. Duduk sambil memandang lelaki di seberang depan Azlan yang juga menatapnya. Dhiarra terus membalas pandangan Shin dengan dada yang terasa masih saja jantungan. Wajah itu datar dan tak ada senyuman, tapi tetap saja mode tampan.
"Dhiarra, lenyap saja kau,,,tak cakap dulu," teguran Azlan mengalihkan pandangan keduanya.
"Sorry, Azlan. Aku benar-benar tak tahan,,,," jawab Dhiarra sambil menerima uluran nasi goreng dari Azlan.
"Tak pedas sangat. Penjual kata, stok chili habis." Azlan menerangkan sambil bersiap menyendok miliknya.
Dhiarra seperti tak mendengar ucapan Azlan barusan. Matanya kembali bertatapan dengan Shin yang kini nampak sedikit hangat auranya. Sebab itulah secara tak sadar bibir Dhiarra merekah, melempar senyum indahnya pada Shin.
Shin tidak langsung membalas senyum Dhiarra. Alis goloknya hanya sedikit terangkat, namun ada samar senyum juga di bibir tipis itu kemudian. Shin membuang pandang ke piring. Mulai menyendok nasi goreng miliknya, menyusul Azlan yang tengah asyik memilah tulang ayam di piring.
Dhiarra tidak fokus dengan rasa sedap nasi goreng yang tengah dikunyah. Menyesal tidak memberi apapun sapaan pada Shin. Rasanya tidak tahan saling diam, mungkin dirinyalah yang kurang sopan kali ini. Tapi sudah terlanjur begini, saling bungkam dan saling diam diri.
"Lepas ni kita sebrang jembatan menuju Penang. Sampai daah..." Azlan berkata sambil menoleh Dhiarra.
"Lantas kita sampai kat mana ni nama tempatnya, Azlan?" gadis itu merasa kurang paham.
Shin yang sudah selesai makan sedari tadi hanya diam menyimak sambil melayari ponsel di tangan.
"Kita kat Butterworth, Penang juga. Lepas ni kita sampai kat George Town. Kita kena sebrang jembatan dulu,," Azlan meniup kopi panas yang baru diantar.
"Feri juga bisa jadi pilihan. Jika kau ingin rasa naik feri," suara stereo menyahut. Namun orang yang barusan bicara tetap menatap layar ponsel. Dhiarra menarik nafas dalam-dalam.
"Apa orang luar macam aku boleh naik kapal, Azlan?" Dhiarra memandangi Azlan sekaligus berharap lelaki itu membawanya naik feri.
__ADS_1
"Ha..ha.ha..Boleh lah Dhiarra. Hei,,bukankah kau dah ada IC Malaysia?" alis Azlan bertaut memandang wajah cantik di samping yang lalu nampak mengangguk padanya.
"Nah,,, kian mudah lah tuh!" sambung Azlan.
"Apa kita akan naik feri?" tanya Dhiarra.
"Tidak untuk sekarang, Dhiarra. Kita naik kereta guna jembatan. Pemandangan cantik jugaa,," jelas Azlan.
"Jika kau ingin, pergilah denganku. Aku dah lama tak naik feri," sahutan stereo itu tiba-tiba terdengar.
Dhiarra sempat menangkap pandangan Shin yang sekilas itu padanya. Lalu menoleh Azlan yang hanya diam memegangi cangkir kopi.
"Azlan, aku nak ikut encik Shin naik feri. Tak pernah aku naik feri. Kau tak ikut sekali?" lembut suara Dhiarra bertanya pada Azlan.
"Kalian pergilah sama naik kapal. Aku dah sangat sering dah. Aku nak pejam mata kejap kat kereta,," Azlan berkata lalu meneguk cangkir menghabiskan sari kopi di dalamnya.
Bersamaan mereka berdiri. Kedua lelaki Malaysia itu berjalan di depan dan diikuti gadis jelita dari Indonesia yang terus berjalan di belakang.
Driver yang juga ikut mengisi perut tapi duduk di meja luar, tergesa menyusul untuk segera mencapai mobil yang terparkir. Membuka semua pintu, sebab tahu ada Dhiarra yang akan duduk di depan lagi bersamanya.
Mobil tetap gelap, namun kini sangat dipahami siapa saja penumpangnya. Dhiarra melirik bagian belakang saat membawa dirinya masuk mobil. Shin mengambil posisi di belakang Azlan dan masing-masing duduk sendiri.
Dhiarra duduk manis sangat tenang dan nyaman dengan sisa detak jantungnya yang sesekali masih melaju. Namun serabut yang mengendap di kepala itu telah berurai lepas dan tidak lagi sedang kusut. Pening di kepalanya telah ambyar dan telah hilang sama sekali. Wajah cantiknya terus menampakkan garis senyum dengan mata cerah mengamati tepian jalan raya dengan sangat bersemangat.
🍒
Di bangku belakang...
__ADS_1
Azlan yang duduk di kursi depan, telah menggelosor badan sangat nyaman. Tidak nampak bergerak-gerak lagi sebab mata itu telah benar-benar merapat. Jiwanya telah terbang ke nirwana untuk ke sekian kalinya malam ini. Azlan memang sangat mudah terpejam di manapun.
Lelaki yang tengah duduk tegak di kursi belakang...
Sepasang mata di wajah tampan dengan alis golok itu melebar dalam remang gelap mobil. Mengamati gadis asing yang duduk tenang bersama sopir di depan.
Setelah sempat bimbang cukup lama dengan banyak macam pertimbangan, akhirnya diputuskan juga untuk ikut. Selain tidak ingin dianggap telah ingkar janji serta bukan lelaki bertanggung jawab oleh gadis itu, tapi Shin merasa tidak tenang saat mengingat perjalanan panjang ini Dhiarra hanya pergi berdua dengan Azlan.
Karena sebenarnya jika normal, perjalanan dari Kuala Lumpur ke Penang akan memakan waktu lebih dari enam jam. Dan jika dari Ayer Keroh justru lebih lama lagi, yakni sembilan jam. Selain itu, alasan terakhir dirinya ikut adalah sebab Hazrul.
Diluar perbuatan nekat korupsinya, Hazrul adalah kakak lelaki yang baik bagi Shin. Abangnya adalah seorang pekerja keras serta cukup pantas menjadi panutan. Dan Shin telah bersedia pada Hazrul waktu itu, untuk mengantar sendiri Dhiarra dengan selamat ke pulau Penang, tempat ibu Dhiarra menetap bersama Hazrul di sana.
Sebab itulah Shin menarik kembali ucapannya pada Dhiarra sore tadi agar gadis itu pergi sendiri ke Penang bersama Azlan. Serta ucapan bahwa dirinya akan istirahat saja malam ini.
Tanpa diketahui Dhiarra, Shin yang telah bersiap sehabis mandi panjangnya, segera turun dan berpamitan pada orang tua. Dan segera masuk mobil sebab Azlan telah sampai.
Mengamati Dhiarra yang telah muncul dan berpamit pada mama Azizah. Bersiap jika saja gadis itu akan duduk bersama di sebelahnya, tapi ternyata justru memilih duduk dengan sopir di depan. Dan Dhiarra sama sekali tidak pernah memandang ke belakang.
Shin tidak mengantuk, matanya terus saja lekat memandang Dhiarra. Sedikit geram sebab gadis itu sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Terasa gemas dan gelisah memandang Dhiarra di sepanjang perjalanan. Hingga meminta sang sopir berhenti untuk singgah makan pun, gadis itu tengah lelap tak mendengar.
Saat turun dan Azlan kemudian membangunkan Dhiarra cukup lama. Shin lebih memilh berjalan dengan sopir menuju restaurant. Lalu berbelok mencari letak toilet dan terpaksa bersabar turut gabung antri di sana.
Hampir tiba giliran Shin, namun cukup terkejut melihat Dhiarra dengan gaya tertekan sebab menahan rasa kebelet, telah berdiri gelisah di antrian belakangnya.
Saat orang di dalam nampak akan keluar, dengan rela dan tanpa berfikir panjang, saat itulah Shin reflek menarik tangan Dhiarra dan memasukkannya ke dalam kamar mandi.
Shin tidak minat antri lagi, namun memilih pergi sebab rasa ingin ke toilet tiba-tiba menghilang. Hanya mengulum senyum dengan perasaan puas telah menyelamatkan Dhiarra pada kasus yang sama seperti subuh kemarin itu sekali lagi. Seperti telah menebus kesalahan sebab sempat marah-marah dan mengecewakan gadis itu.
__ADS_1
Dan kini Shin sedang tersenyum sekali lagi. Sebentar lagi akan menuju pelabuhan di Butterworth untuk menaiki kapal feri bersama Dhiarra menyeberangi selat Penang menuju George Town di seberang...