Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
115. Sazlina


__ADS_3

Pukul 08.05 am..


Hotel Casa Del Rio Melaka


Tok..Tok..Tok...Tok..Tok...!!


Tok..Tok..Tok...Tok..Tok...!!


Tok..Tok..Tok...Tok..Tok...!!


Dhiarra terkesiap membuka mata sebab ketukan beruntun di pintu telah terdengar banyak kali. Menepikan tangan besar yang melingkari pinggangnya dan berjingkat bangun segera. Merasa sedikit pedih dan kaku di bawah sana saat Dhiarra membawa dirinya bergerak. Tapi Dhiarra telah berusaha abai sejak semalam. Paham dan yakin bahwa hal itu adalah efek alami, normal dan wajar.


Berjalan pelan menuju pintu sambil menyisiri rambut dengan jari dan menepuk-nepuk wajah agar sedikit berkurang kesan sembab tidurnya.


Perempuan cantik itu berdiri diam sebentar, memeriksa penampilan bajunya. Risau jika ternyata ada yang tak beres sebab kelakuan Shin di saat dirinya lelap tidur. Semua masih aman, kancing-kancing baju masih menyemat di tiap lubang tak tergeser satu pun.


Ceklerk..!!


Pintu telah ditarik dan dibuka, seorang lelaki tengah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ra, sudah bangun? Segera ke resto hotel yang semalam. Semua akan makan pagi bersama. Sebentar lagi ayah akan berangkat kembali ke Penang," Hazrul sebagai pengetuk pintu, menjelaskan pada Dhiarra.


"Iya, pa. Encik Shin masih tidur, akan cepat kubangunkan," sahut Dhiarra apa adanya.


"Kami tunggu di meja, Ra..." Hazrul pamit sambil tersenyum maklum pada pasangan baru itu.


Ayah sambung itu bergegas pergi meninggalkan kamar pengantin yang masih nampak berasap kebul saja aura panasnya.


Dhiarra menutup pintu segera dan menghampiri Shin Adnan yang tak merasa terusik sedikit pun. Sejenak memandang wajah lelap yang nampak tenang dan menawan. Rasa berdesir Dhiarra, tidak menyangka bahwa lelaki itulah jodohnya. Dan bersama lelaki itu jugalah semalaman menghabiskan malam pertamanya sebagai pengantin di kamar hotel ini.


"Hon,,bangun. Bangun, hon Shin,,!" Dhiarra menepuk-nepuk pipi Shin lembut.


Penggilan memang direspon. Tapi bukan bergerak membuka mata dan bangun. Shin justru memggenggam tarik tangan Dhiarra, membawa pemilik tangan itu merebah tidur lagi dan memeluk erat-erat dengan mata terus memejam.


"Hon Shin, barusan bang Hazrulmu datang menyuruh segera bergabung makan pagi. Semua dah menunggu. Ayah Hazrul akan kembali kat Penang pagi iniih,," ucap Dhiarra terengah, wajahnya terjebak di ceruk leher suaminya.


Shin sedikit bergerak melonggarkan pelukan. Tapi kembali memeluk erat lagi, bahkan seperti akan meremukkan tulang-tulang Dhiarra. Dengan tiba-tiba juga merenggang jauhkan tubuh sang istri yang seperti boneka saja baginya. Diperlakukan suka-suka!


"Aku lupa, Raa. Bang Hazrul dah pesan padaku untuk di antar Idris kat bandara. Raa, subuh tadi kita dah mandi kan? Kita masih bersih lagi kan,Raa,,?!" Shin bangun cepat-cepat dan berdiri di tepi pembaringan. Memandang Dhiarra yang juga bangkit berdiri mengikutinya.


"Iya, hon Shin. Tukar baju saja,," jawab Dhiarra sambil mengambil satu baju barunya dari almari kamar hotel.


Dhiarra melesat ke kamar mandi. Sedang Shin menyambar baju bersih dan menukarnya segera di tempat. Menyisir rambut dan menabur parfum ke badannya.


Keduanya telah segar meski kesan kusut di wajah mereka tak mampu ditutupi. Bersiap keluar demi mengejar Hazrul yang akan bertolak kembali ke Penang.


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


Ada seorang tambahan penghuni di meja makan jumbo hotel itu pagi ini. Shin memandang wajah cantik yang nampak tajam itu sekilas.

__ADS_1


"Hai, Saz,,,bila datang?" tanya Shin ramah dan tenang. Sambil menarikkan kursi di sebelahnya untuk Dhiarra. Sang istri duduk perlahan di sampingnya.


"Pagi sangat tadi, dah," sahut Sazlina ketus. Tanpa memberi ucapan selamat sepatah pun pada pengantin baru yang terlambat datang ke maja makan.


"Terimakasih, kau dah sudi datang, Saz,,," kata Shin dengan suara stereo santainya.


"Bukan sebab kau tengah kawin aku datang, Shin. Sebab papa dan mamamu tengah buat acara dan aku diundang pulak,,!" sahut Sazlina sadis tak peduli. Matanya sedang tajam melirik perempuan yang bungkam di samping Shin Adnan.


"Dah, ayo ambil piring kalian masing-masing. Isilah cukup-cukup dan makanlah elok-elok," datuk Fazani yang telah paham akan watak Sazlina berkata menengahi. Tak ingin berlarut yang bisa jadi akan menyeret Dhiarra juga terlibat berbicara. Sang datuk tidak ingin ada keributan.


Mereka yang ada di meja makan, datuk Fazani, datin Azizah, Fara, Sazlina, Hazrul, Hisyam, Sahila, dan dua pengantin baru, telah terkaram di piring masing-masing. Meja makan yang dipenuhi bermacam makanan serta kursi-kursi yang juga telah memilik tuan masing-masing, justru terasa sedang lengang.


"Ehemm..!! Dua pengantin baru tuu, agaknya semalam tak tidur kee,,?! Macam sayur rebus jee,,kutengok,,aha..ha,," celutuk Fara tiba-tiba. Gadis cantik adik Shin Adnan yang tak menyukai kebisuan. Dan memang tengah meneliti pengantin baru itu sejak baru datang dan terlambat.


"Sempat tidur jugalah, Fara,,," Dhiarra ternyata menyahut dan tersenyum. Sedikit melirik ke arah Sazlina yang memicing tajam padanya. Dhiarra merasa puas hati.


"Apaaa,,,?! Sempat tidur,,,?! Hampir tak tidur semalaman lah tuu,,ha..ha..ha..! Akak dan abang tak sadar kee,,? Stamp merah kat leher kalian tuu dah melimpah sangat,,! Pamer, kee,,? Tapi sukalah kutengok.. Abang dan akak macam sedang berlomba cipta banyak stamp,,! aha..ha..ha..!" Fara benar-benar nampak gembira kala mengupas wajah dan perasaan pengantin baru di depan orang-orang tercinta.


"Ah, dahlah Fara,,," sahut Dhiarra dengan wajah terkejut. Semua orang di meja sedang tersenyum terang-terangan sambil memandang Dhiarra dan juga pada Shin Adnan. Kecuali Sazlina..


Dhiarra tak ingin menyambut ucapan Fara guna menambah respon di wajah Sazlina. Pengantin baru jelita itu sangat malu kali ini. Rambutnya segera ditarik banyak ke depan. Berusaha menutupi kulit di leher.


Diliriknya sang suami di samping. Leher cerah dan bersih itu nampak jelas bertabur lebam-lebam kecil dan merah. Shin nampak acuh dan tenang, namun rona pias di wajah menawan sang suami,,Dhiarra sangat paham. Keduanya sedang merasa malu sekarang.


"Ehem..!! Akak tak yah rasa malu daah. Anggap jee itu usaha akak dan abang tengah kebut input, guna kejar setor output.. Demi rilis cucu untuk ditimang papa dan mama segera kan,,kan,,kan,,,? ha,,ha,,ha,,!" Fara kembali menjadi.


Meski sebenarnya berniat menyemangati di balik canda bahaknya, pasangan suami istri baru itu tentu saja terlihat mati kutu.


"Dhiarra,, masa Fara habis kawin nanti,, kerjakan dia juga puas-puas,,," sambung sang datin. Namun wajah berkerut itu juga sedang menyimpan tawanya.


"Pasti itu, maaa... Tak sabar sangat aku tunggu masa Fara kawin nanti,," sahut Dhiarra cepat. Melirik Fara yang justru kian tertawa. Namun sang adik ipar tidak lagi mengusiknya. Lanjut menyendok makanan dipiringnya. Sebab sang datuk baru saja berdehem cukup keras. Dan tentu itu adalah tanda teguran halus darinya.


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


Dhiarra berjalan cepat menuju toilet di restoran, meninggalkan Shin Adnan dan yang lain yang masih duduk mengobrol santai di meja makan. Ginjalnya tiba-tiba melawan dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Saat berangkat makan pagi tadi, Dhiarra ke kamar mandi dengan hanya menukar baju tanpa sempat membuang air kecil.


Karena toilet sedang sepi, Dhiarra bebas memasuki salah satu biliknya dengan cepat. Dan menghempas ganjalan berkalanya itu dengan rasa lega luar biasa.


Pengantin baru itu singgah di cermin wastafel dan mengamati dirinya sejenak di sana. Tersenyum sendiri, apa yang dikatakan Fara memang benar adanya. Cahaya di kamar pengantinnya memang diatur Shin agar tidak terlalu terang. Dan itu alasan Shin dan Dhiarra telah lalai pada stamp jejak merah di leher mereka.


Setelah menata rambut dan merapikan baju, Dhiarra berbalik dan akan berjalan keluar. Namun seseorang mendadak menabraknya. Dhiarra cepat sadar dan membentengi dirinya. Bahkan berhasil menghentak balik badan orang yang menabraknya.


"Aaaahhh,,,,,!!!! jeritan histeris bersama jatuhnya seseorang ke lantai toilet yang basah. Sazlina yang bertubuh lebih tinggi dan besar dari Dhiarra sedang duduk terjengkang di lantai. Namun dengan cepat berdiri kembali dan menunjuk bahu Dhiarra sangat keras. Dhiarra sedikit oleng bergerak.


"Perempuan miang, dasar gatal,,!!" cerca keras Sazlina pada Dhiarra.


"Apa salahku?!!" tanya Dhiarra berseru.


"Aku dah cakap baik-baik padamu masa jumpa kat bandara. Jangan sekali pun kau mendekati Shin kembali. Tapi kau memang miang,,!" tuding Sazlina di wajah Dhiarra.

__ADS_1


"Aku tidak menipumu. Aku sempat jauh dari suamiku. Sebab aku pun sempat tengok engkau rapat sangat dengan suamiku. Tapi apa dikata Sazlina, kami memang dah betul-betul jodoh,, apa aku salah?!" sindir Dhiarra pada Sazlina dengan sinis.


"Jodoh,,?! Kau jebakkan dia pada Jais Terengganu, kan?!" Sazlina berkata dengan wajah berapi.


"Kau tahu pasal itu?!" tanya Dhiarra. Abai pada tuduhan Sazlina. Lebih heran pada fakta bahwa Sazlina telah tahu sebenarnya.


"Tentu aku tahu! Dina yang cakap semua padaku! Ha..ha..ha.. Gadis gatal kau Dhiarra,,!!" seru Sazlina seperti kesetanan.


"Dina,,?! Istri Adrian,,?! tercengang Dhiarra.


"Ha..ha..ha.. Kau tak menyangka kan? Istri bekas tunangmu tu adalah kawan rapat aku semasa di Paris!!" sentak Sazlina.


"Jadi kau sudah tahu sejak lama, bahwa Adrian adalah suami dari sahabatmu? Kenapa engkau tak pernah cakap padaku, Saz,,???" tercengang lagi Dhiarra.


"Sebaaaaabbb,,,, aku nak kau balik ke negaramu!! Kau balik ke Indonesiaa!! Kau jauh-jauh berhambus dari Shinnn..!! Tak patut perempuan pendatang, miang, gatal sepertimu bersama Syafiq Shin Adnan!! Kau telah jebak dia!!" racau Sazlina tanpa kendali lagi.


"Jaga mulutmu, Sazlina. Aku tak pernah berniat menjebak encik Shin. Kau nak tahu satu fakta yang tidak pernah kau sangka tak..,?!" tanya Dhiarra menatap tajam Sazlina.


Sazlina tidak menyahut, hanya mata lebarnya saja yang seperti ingin menerkam Dhiarra.


"Encik Shin lah yang menjebak aku pada Jais untuk dikawinkan!! Kau terkejut,,?!!" sentak Dhiarra.


Mata sazlina semakin besar dan lebar. Seperti akan lepas dan menggelinding keluar.


"Perempuan pendatang penipu,,!!!" lengking Sazlina.


Dara berbadan tinggi besar itu laju mendekati Dhiarra dan akan mendorong dadanya. Dhiarra yang siaga dengan kuda-kudanya sedari awal, sigap menangkap kedua tangan Sazlina dan mendorong mundur kuat-kuat. Hingga Sazlina kembali jatuh terpental di lantai.


"Stop it...!! Stop it..!! Hentikan,,,hentikan..!!" seru heboh tiba-tiba. Rupanya Fara sudah ada di toilet, entah darimana dan kapan datangnya.


"Fara,,,perempuan indon tuu ular sangat laaah...! Dia dah dorong tolak aku hingga jatuh macam nii,,!!" seru Sazlina mengadu.


Fara terdiam tak menyahut, mendekati Sazlina dan mengulur tangan membantunya berdiri. Dhiarra hanya termangu dan merasa bingung menatap mereka berdua.


"Fara,,,, itu semua tak betul. Aku tak pernah sengaja dorong dia. Bukan aku yang mulai,,," terang Dhiarra meluruskan.


"Dah,, akak pergi dulu keluar. Abang Shin tengah tunggu kat luar.." Fara memandang Dhiarra sekilas.


"Jom...Kak Saz aku hantar kat bilikmu. Sakit tak?" tanya Fara pada Sazlina.


Dhiarra berjalan keluar meninggalkan toilet. Dengan harap bahwa Fara lebih percaya padanya.


Kepala yang awalnya sudah pening sebab lelah dan kurang tidur,,, kini bertambah berat saja rasanya. Dengan perasaan panas dan darah bergolak sebab hasil adu mulut sia-sia dengan Sazlina barusan. Diperparah dengan datangnya Fara yang entah adik iparnya itu lebih percaya pada siapa.


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


🍒🍒🍓🍓🍒🍒

__ADS_1


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


Beloved readers... Yang belum pernah dan udah pernah tapi sekali sajaaa.... Kasih vote lagi dooooong...😘


__ADS_2