Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
90. Di Mana, Dhiarra?


__ADS_3

Shin dalam perjalanan pulang menuju Melaka setelah selesai dengan urusan di meja makan pagi hari. Sang ayah terus mendesak nya agar lekas pulang dan menghandle kembali Shin's Garment.


Datuk Fazani tidak ingin syarikat putranya itu dalam keadaan low power. Sebab om Hafiz pun juga tidak mungkin datang kerja dalam waktu yang dekat. Sedang Faiz adalah orang luar. Tidak etis jika mempercayakan seluruhnya pada Faiz.


"Jaga pandanganmu padaku, Driss,," Shin berkata tajam sambil memandang lelaki kurus di sampingnya.


"Iya, tuan Shin," jawab Idris cepat-cepat. Menjawab hardik sang tuan tanpa menolehkan kepala lagi ke samping. Wajahnya terus menatap ke jalanan.


Shin merasa kesal pada sang sopir. Setiap Idris terpergok menatapnya, wajah tirus sang sopir itu seperti sedang menahan tawa dan senyum. Shin merasa sangat tersindir karenanya.


Idris memang sedang takjub pada sang tuan. Lelaki yang selama ini hanya dimengertinya nampak berwibawa, tenang dan tegas, telah menghadirkan kesan konyol hanya dalam waktu semalam. Seperti rusak madu sebaskom sebab setetes susu basi ke dalamnya. Dengan alasan klasik yang pasaran,,,wanita,,,


Hanya Idris sangat tidak menyangka. Sang tuan yang dia sangka kebal pada virus wanita, nyatanya terdampak juga. Dan virus itu telah sukses disapu ratakan diam-diam oleh seorang gadis Indonesia saja, Dhiarra,,,


Ha..ha..ha...Mungkin di kala sendiri, Idris akan bebas tertawa-tawa.... Ha..ha..ha..


"Driss, tapi terimakasih. Semalam engkau jaga aku. Asal pulak engkau bawa balik aku ke rumah parentsku, hah,,?!" Shin sekedar bertanya gertak sambal pada Idris. Idris agak pias menoleh.


"Saya risau terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada anda, tuan,," sahut Idris ragu-ragu.


Shin menepuk keras bahu Idris sekali.


"Dris, apapun yang engkau lihat dan dengar dariku semalam, kau kena simpan. Jangan cakap hal semalam sedikit pun pada teman-teman engkau kat rumahku. Kau paham, Driss,,?" Shin bertanya pada Idris dengan wajah agak tegang.


"Iya, tuan. Paham,,!" janji Idris berseru. Benar-benar tidak berani menampakkan garis senyum lagi.


🍒🍓🍒


Shin sampai di Shin' Garment, Melaka, tepat sesaat sebelum dzuhur berkumandang. Faiz menyambut si boss dengan wajah cerah namun penuh tanya.


Sang tuan nampak dingin dan berbibir rapat tanpa senyum. Hanya menjawab sepatah, dua patah dari semua sapaan Faiz yang beruntun.

__ADS_1


Namun tiba-tiba Shin pergi ke ruangan Faiz buru-buru.


"Iz, kabar apa yang kau dapat,?" Shin bertanya tanpa ekspresi apapun pada sang asisten. Menyandar dinding di samping daun pintu.


"Sebentar, tuan Shin. Masih akan saya periksa," sahut Faiz buru-buru. Aura sang tuan tengah sedingin himalaya.


Shin tidak menanggapi, hanya terus mengikuti gerak tangan sang asisten dengan laseran matanya. Faiz yang menyadari tatapan sang tuan justru seperti sangat susah menggerakkan cepat tangannya. Faiz membuka ponsel dan pesan di email. Wajah Faiz nampak semakin pucat.


"Ada apa, Izz,,,?" Shin kembali menekan dengan nada tanyanya.


"Orang yang saya sewa, cakap hilang jejak, tuan Shin. Hanya tuan Adrian yang nampak keluar dari bandara semalam. Tuan Adrian kembali kat rumahnya sendirian. Dan Dhiarra tak terdetect pergi kat manapun oleh orang sewaku, tuan Shin,," Faiz nampak lemas melaporkan.


"Cakap yang betul, Iz ,!" Shin nampak tegang terdiam, menahan kesal dan kecewa. Bergerak bolak balik dan keluar masuk melawati pintu itu.


"Asal kau buat kerja tak baik-baik, Iz? Orang stupid macam apa yang engkau sewa kat Indonesia, tuu?" Shin berbalik lagi dari langkah keluarnya memandang Faiz makin geram.


"Tuan Shin,,! Orang sewa cakap, persiapan kegiatan adat untuk perkawinan mereka tidak dilanjut. Stop total. Tidak ada kesibukan apapun. Perkawinan batal, tuan Shin,,!" tiba-tiba Faiz berseru dan berdiri.


"Iya, tuan Shin. Betul. Tidak akan ada pesta perkawinan kat rumah tuan Adrian. Tuan Adrian tengah sibuk kat hospital. Jaga istri dia yang tengah sakit teruk. Hanya jejak Dhiarra yang tak boleh kena endus oleh orang sewaku, tuan Shin,," jelas Faiz benar-benar.


"Aaarrghh,,!! Pergi mana Dhiarra, Iz,,? Fokus cari istriku, Iz,,!.Tak payah lagi engkau urus Adrian. Cari Dhiarra, Izz,,,!" Shin berjalan pergi dari ruangan Faiz.


Dalam runsing hatinya, sempat juga mengucap sukur atas gagalnya Dhiarra untuk menikah dengan Adrian. Tapi pergi ke mana Dhiarra,,???


"Tuan Shin,,!!" Faiz beraeru sambil berjalan cepat menyusulnya.


Shin berbalik dan diam memandang Faiz.


"Tuan Shin, pengusaha dari Manila akan datang kembali untuk berdiskusi langsung dengan anda dan desainer anda, tuan Shin." terang Faiz tergesa.


"Bila itu, Iz,,?" tanya Shin dengan lirih.

__ADS_1


"Mungkin Besok siang, tuan Shin. Dan setelahnya, akan datang beruntun juga kunjungan dari Brunei, Korea dan Dubai, tuan." sahut Faiz bersemangat. Memandang sang tuan tak terkata. Membayangkan, bagaimana susah jika boss Adnan tidak datang.. Sedang manager Hafiz tengah lemah kat hospital. Jujur, Faiz tentu akan merasa kelabakan.


"Uruskan saja dengan baik, Iz. Laporkan padaku susunan kunjungan tuu saat dah siap," Shin berkata datar. Kembali berjalan menuju ruangannya.


🍒🍓🍒


Pukul 11.45 pm..


Pria tampan itu tidak juga bisa tidur. Kedua matanya sama sekali tidak mengantuk meski badan terasa sangat lelah.


Hatinya sangat gelisah dan resah. Ponsel Dhiarra sama sekali tidak aktif. Hingga lelah Shin mencoba mendialnya. Pesan yang bertubi dikirim juga tidak ada tanda sukses masuknya. Menggantung..


Di mana engkau ini, Raa,,,Dhiarraaa,,?


Sehabis makan malam, Shin mencoba menghubungi mantan tunang Dhiarra, Adrian. Nomor lelaki itu aktif, tersambung, dan diangkat dengan cepat oleh empunya.


Meski Adrian enggan mengaku apa alasannya, tapi Adrian mengakui jika pernikahan mereka batal terlaksana. Dhiarra telah menolak dirinya sekaligus menolak pernikahan. Dan Shin sangat yakin apa alasannya..


Adrian justru terkejut saat tahu bahwa mantan tunangnya itu hilang kontak dan belum kembali ke pelukan Shin Adnan di Melaka.


Adrian menerangkan pada Shin jika dirinyalah yang mengantar mencari tiket pesawat untuk terbang kembali ke KLIA. Namun Adrian terpaksa meninggalkan Dhiarra. Sebab selain waktu check in masih lama,, pukul satu dini hari nanti,, Dhiarra akan tenggelam ke mushola bandara demi mengejar isya'nya.


Dan di depan mushola bandara itulah mereka berpisah. Moment terakhir kalinya Adrian melihat Dhiarra..


🍒🍓


Kini Shin benar-benar tidak tenang. Di mana Dhiarra,,? Dhiarra yang masih selalu istrinya hingga kapan pun. Shin tidak pernah berniat menceraikan Dhiarra walaupun itu hanya dengan sepatah kata hatinya.


Kepergian Dhiarra dengan Adrian hanya dianggap mimpi menyakitan di saat tidurnya. Bahkan saat kolaps di Zeta pun, Shin tetap menganggap dan menginginkan Dhiarra sebagai istri sesungguhnya.


Di mana dirimu, Ra..Dhiarra,,??!

__ADS_1


__ADS_2