
Kembali merebah gontai di ranjang dengan rasa tak semangat. Selain tiba-tiba merasa segan jika berterusan melihat keakraban dan kemesraan antara Shin Adnan dan Sazlin, tubuh Dhiarra rasanya juga meradang. Meradang sebab kondisi tubuh kurang fit, efek yang kadang ada padanya akibat datang bulan.
Sudah paham dengan kondisi tubuh yang terkadang suka drop sebab susut imun, rasanya ingin baring saja seharian. Menikmati sensasi nyeri yang muncul samar di perut dan rasa tubuh meradang dengan tidur santai adalah keasyikan sendiri bagi Dhiarra. Sensasi perasaan merasa diri sebagai wanita sejati sesungguhnya!
Teringat akan kedai obatnya di Sentral. Dhiarra banyak memesan minuman suplemen jeruk UC1000 dan juga susu cair kemasan berjenama Bear Brand pada gege Chen. Selain dijual, tapi bertujuan untuk dipakai diri sendiri. Baginya, dua jenama minuman sederhana dan asyik dari Indonesia itu sangatlah berkhasiat. Mujarab dalam menjaga serta mengembalikan imun tubuh yang down, terutama saat mendekati hari Hnya tiap bulan.
Gadis itu akhirnya tertidur. Menikmati kenyamanan berselimut tak peduli hari masih pagi. Berharap rasa tubuhnya membaik setelah menambah tidur sebentar lagi saja. Sebab, Shin telah berkata akan jadi pergi ke Pulau Penang nanti malam. Rasanya sangat berdebar bahagia dan tak sabar. Dhiarra sangat bersemangat untuk berjumpa ibunya tak lama lagi...
🍒
Di meja makan lantai bawah..
Tiga bujang, dua perjaka beda usia bersama seorang dara cantik, tengah makan pagi bersama. Mereka sehabis mandi setelah kelelahan berenang. Dan akan mengisi perut mereka penuh-penuh.
"Apa hal, Dhiarra tak nampak?" Azlan bersuara bergumam.
"Tidok lagi kot? (Tidur lagi mungkin..)," Sazlina acuh tak acuh menyahut.
"Mungkin rasa penat sekretarismu itu, bang. Muka die pucat kutengok,," Azlan memandang Shin Adnan.
Shin terdiam, memandang pada Sazlin di depan lalu pada Azlan di samping.
"Betul, Lan. Mungkin penat jalan dari Ayer Keroh kat KL semalam. Dah lah, kalian makanlah cukup-cukup," jawaban Shin nampak abai. Terus fokus lanjut makan.
"Bang, malam nanti guna keretaku saja. Balik bawalah kereta papaku. Dia nak aku bagi balik kereta die. But macam mana Pulau Penang ke Ayer Keroh jauh sangat." Azlan memandang Shin berharap.
"Kucakap dulu driverku," pendek jawaban Shin. Terus kontinyu dengan makannya.
"Sayang sangat, aku tak bisa ikut laah," Sazlina mengeluh.
"Pukul berapa penerbanganmu, Saz,,?" kali ini Shin bertanya, menjeda gerakan sendok dan garpu di piring.
"Besoook....Pagi-pagi pukul enam kena bertolak ke Paris. Lihatlah...Abang Shin tak kasihan aku kee,,?" Sazlina tengah berwajah lembut dan manis saat itu.
"Asal pulak, Saz?" Azlanlah yang bertanya.
__ADS_1
"Coba bang Shin nak kawin (menikah) denganku. Dah lama dah aku setia kat engkau, bang Shin ," Sazlina berharap sangat jujur, gadis itu nampak sedih dan menunduk.
Azlan terdiam. Dia pun paham pada perasaan sepupunya yang telah begitu lama ada rasa pada Shin. Dan konyolnya gadis itu tak segan-segan mengakui, meski berkali-kali juga diabaikan oleh Shin Adnan. Sazlina tetap kukuh dan setia mendampingi. Padahal umur Sazlina tidak terlalu muda lagi. Perempuan cantik itu sudah berusia 27 tahun. Enam tahun lebih muda dari Shin.
"Jangan buat aku rasa tak enak, Sazlin. Telah banyak kali kucakap padamu. Terimalah lelaki-lelaki baik dan kacak (tampan) yang suka kat engkau tuh. Bahkan kau cakap kat Paris tak kurang laki- laki yang minat kat engkau,,?"
Shin berkata hati-hati dan lembut pada Sazlin.
"Aku tak cinta, bang Shin. Just kat engkaulah aku rasa cinta,,!" Sazlina kembali mencurah rasa hatinya tanpa ragu. Tapi kemudian menunduk kembali.
Memang baiklah perlakuan Shin pada Sazlin. Sebab sangat paham, Sazlin adalah gadis baik-baik dan putri dari keluarga terpandang. Keluarga Sazlin merupakan kerabat jauh dengan keluarga Shin. Meski gadis itu berani bermanja pada Shin, tapi Sazlin masih punya harga diri dan batasan. Itulah, Shin cukup menjaga mulut dan sikap saat berbincang dengan Sazlin. Tak ingin melukai perasaan gadis itu.
"Aku tak boleh janjikan apa-apa padamu, Saz. Maafkan aku,,," sudah berapa puluh kali Shin mengatakan hal sama seperti ini, tapi hati Sazlina sudah terlanjur cinta mati kepada Shin.
"Asal kau janji padaku, Shin,," tiba-tiba Sazlina berkata serius.
Shin kembali mengangkat wajah menatap pada Sazlina.
"Asal jangan sampai kau suka kat perempuan Indon itu. Ingat, bang Shin, aku tak kan rela,!" perkataan Sazlina mengejutkan. Shin terperanjat.
"Siapa yang kau maksud, Sazlin,,?" Shin bertanya santai dan landai.
"Sekretaris lawamu (cantik),,!" Sazlin menjawab sangat ketus.
Shin Adnan meletak alat makan di piring kosongnya. Menatap redup pada Sazlin.
"Apa kau kenal, Adrian Dibyo Matarmaja? Pengusaha bidang tekstil kat Indonesia? Dialah calon suami gadis itu, sebentar lagi mereka menikah. Dhiarra tengah menunggu kedatangan calon suaminya,," Shin menjelaskan dengan suara stereonya yang tenang.
"Benarkah,,?! Lelaki ningrat tampan itu?! Aku pernah,,,," Sazlina terputus bicara tiba-tiba. Ada gurat ragu serta heran di wajahnya.
"Pernah apa, Saz,,?" Azlan menyahut.
"Tak,,tak,,tak,, Hanya pernah jumpa kat seminar baju di Paris. Ya..Ya,, macam itulah,,!" Sazlina berusaha meyakinkan. Lalu tunduk kembali pada makanan di piringnya. Namun dua alis cantik melengkung itu justru sedang rapat bertaut.
"Jangan menyorok (menyembunyikan) sesuatu, Saz,," Shin yang sangat paham akan ekspresi Sazlina, merasa gadis itu sedang menyimpan sesuatu.
__ADS_1
"Mana kusorok apapun, tak ada, bang Shin,," nada Sazlina memelas. Bermaksud agar Shin tidak lagi bertanya apapun.
Tak ingin lagi bertanya, Shin terdiam dengan sorot mata tetap tertuju pada Sazlina yang nampak salah tingkah. Semakin membuat Shin ingin tahu dan curiga. Tapi Shin kembali nampak abai. Menyandar punggung ke kursi dan memainkan ponselnya.
"Macam mana? Jadi tak, kita pergi kat tower kembar KLCC?" Azlan memecah keheningan.
"Jomlah,,! Boring sangat aku, nih. Mama Zizah, lama sangat datang balik. Jom, kita pergi jalan-jalan, bang Shin,," nada Sazlina kembali manja pada Shin.
"Baiklah, lepas tengah hari nanti kita pergi. Sambil tunggu mama dan papa datang," Shin menyanggupi. Lelaki itu berdiri, dan bersiap untuk jalan pergi.
"Dhiarra tak sekali kita ajak kah?" Azlan pun berdiri dan memandang Shin.
"Dia pun kena ikut,," Shin menyahut. Mengabaikan muka Sazlina yang sedang mode kecut.
Ketiga lajang itu beriringan menaiki tangga menuju lantai atas. Shin terdepan, Sazlina dan Azlan paling akhir. Melewati kamar Fara yang kosong. Kamar di sebelahnya yang tertutup rapat tapi ada gadis pendatang di dalamnya.
Shin melirik daun pintu sekilas, dan berjalan lagi menghampiri pintu kamarnya. Sazlina terus berjalan, memandang Shin hingga lenyap di balik daun pintu. Azlan dan Sazlina hampir bersamaan memasuki kamar mereka masing-masing dengan diam.
🍒
Drrrt..Drrtt..Drrtt..
Rasa getar-getar benda pipih di tangan itulah yang membangunkan tidur lelap Dhiarra. Pesan masuk telah terkirim ke ponselnya. Sambil tetap merebah dan mata belum membuka lebar, membuka dan membaca bunyi pesan. Dari encik Shin.
*Lepas tengah hari ini, bersiaplah untuk ikut kami ke menara kembar petronas. Tower KLCC.*
*Tukarlah baju kusutmu itu dengan baju steril di koper. Jika kau ingin kuhantar ke Pulau Penang malam nanti.*
*Jika tidak, terus saja guna baju kusutmu itu.*
Ponsel itu jatuh di kasur bersamaan tangan yang juga jatuh terkulai. Perasaan berdebar gembira, sebab Shin benar-benar akan mengantarkannya ke sebuah pulau yang tentu sangat asing bagi warga pendatang sepertinya.
Namun perasaan seperti diremehkan oleh Shin sebab kata-kata dalam ponselnya. Jadi bimbang antara mengambil baju dalam koper itu ataukah tidak.
Ah, Shin Adnan,,, kau memang tukang pahat tukang angin, kadang hangat kadang dingin. Tak bisakah kau berkata sedikit lembut saja padaku...
__ADS_1