
Hazrul tengah berjalan ke arah Dhiarra yang sedang melayani pembayaran seorang pelanggan di meja mesin kasir. Putri sambungnya itu sangat cekatan dan mampu menguasai apa saja yang telah di ajarkan hanya dalam waktu yang singkat.
Hazrul merasa bangga, sekaligus selalu merasa bersalah setiap kali memperhatikan putri sambungnya itu diam-diam.
"Ra, sini biar papa yang gantian melayan di kasir. Kamu makan sianglah dulu," Hazrul mendekati meja kasir.
Hazrul telah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia meski tentu juga bercampur dengan bahasa melayu. Sehari-hari jika di rumah hanya dengan sang istri, Hazrul terbiasa mendengar ucapan-ucapan istrinya dengan bahasa Indonesia.
Dan bahkan sesekali juga mengutip bahasa jawa. Satu kata, dua kata, tiga kata, empat kata, lima kata,,sepuluh kata,, belasan kata,, berpuluh kata,,,,, bahkan sudah banyak kata!
Dhiarra menyusun uang dalam kotak bersekat itu menjadi tumpukan-tumpukan yang rapi dan mudah. Mengambil jepit rambut yang diletak di samping mesin hitung, dan bergeser mundur dari kursinya.
"Iya, aku makan dulu,," jawab Dhiarra singkat sambil mengikat rambut dan memandang Hazrul sekilas.
"Arra,,!" panggil ayah sambungnya sekali lagi.
Dhiarra berhenti melangkah dan berbalik. "Ada apa,?" tanya gadis itu bernada menunggu.
"Mungkin hari ini kita pulang lebih cepat," jawab Hazrul pada Dhiarra.
"Kenapa,?" tanya Dhiarra dengan singkat.
"Kita akan kedatangan tamu," jawab Hazrul dengan sangat jelas.
"Iya," jawaban gadis itu sangat pendek. Dhiarra memang masih canggung dan merasa kaku jika bersikap dengan Hazrul. Meski perasaannya mulai biasa, namun feedback dan sikap yang dibalaskannya pada Hazrul, tetap saja hasilnya kaku begitu.
Eh, apa tadi dia bilang, tamuu,,, siapa tamu itu. Memang hampir tiap hari rumah mereka kedatangan tamu hilir mudik. Mereka yang datang itu karena ingin menyambang mama Ira dan bayinya. Tapi ini sudah hampir seminggu berlalu. Dan untuk apa mereka harus pulang lebih cepat hari ini,, bedebar hati Dhiarra mengingat kemungkinan siapa tamu itu. Apa yang dikata Azlan tadi mungkin memang ada betulnya. Dia benar-benar akan datang?
__ADS_1
"Tadi papa Hazrul bilang, tamu? Tamu dari mana?" tanya Dhiarra mendesak Hazrul dengan sangat penasaran.
Hazrul memandang Dhiarra sejenak. Mengesan jika raut putri sambung yang selama ini mendung, kali ini seperti sedang menyimpan harap dan semangat.
"Tamu dari Melaka. Keluarga kita yang di sana akan datang ke sini, Ra,," Hazrul menjawab sambil menyimak raut cerah gadis itu. Ada kesan tidak puas terbaca di sana.
"Papa, mama dan Fara akan berkunjung. Berkenalan dengan mamamu serta adikmu, Ra," jelasnya lebih khusus lagi. Hazrul semakin menyimak ekspresi Dhiarra yang justru berkerut dahi namun tetap diam membungkam.
"Om kamu juga datang, Ra.. Om Syafiqmu tuu akan datang bersama mereka juga," lanjut Hazrul sambil terus mencermati Dhiarra.
Betul yang diduganya, mata bening itu tiba-tiba melebar dan menatap Hazrul sesaat lalu mengalihkan pandangan. Wajah cerahnya nampak pias sekaligus samar merona.
Hazrul berfikir, apa yang sedang disembunyikan Dhiarra? Bisa jadi si putri sambung diam-diam menyukai om tirinya yang tampan itu. Sebetulnya apa yang terjadi.. Dhiarra batal menikah, namun justru tinggal di sini, tidak melanjut kerja lagi pada Syafiq,,
Dan Azlan kata, Syafiq sedang mencari Dhiarra. Apa mereka sedang ada masalah? Apa Syafiq pun diam-diam juga menyukai anak sambungnya yang kelewat memikat ini? Atau juga apa mereka sudah saling menyukai? Mengingat saat datang ke Penang waktu itu, Sayafiq nampak perhatian pada anak sambungnya..
Sedang Hazrul, mungkin justru dirinya adalah pejantan tangguh. Terbukti dengan menikahi Siti Zubaidah di usianya yang masih sangat muda. Dan segera juga menghasilkan tiga anak yang beruntun. Mungkin akan lebih beruntun dan banyak lagi jika saja datin Azizah, ibu angkatnya tidak rajin-rajin mengingatkannya dengan bising.
Dan sekarang, menikah lagi di usia senja yang hampir mendekati lima puluh tahun. Tak disangka juga, dirinya masih mampu mencetak baby dalam waktu yang singkat. Hazrul tersenyum terfikir hal itu.
"Aku pergi makan dulu, yaa,," pamit Dhiarra membuyarkan lamunan panjang Hazrul.
"Iya, Ra,, makanlah yang banyak. Mungkin om Syafiqmu akan tidak suka jika kau jadi kurus. Dia bisa jadi akan membawamu paksa untuk kembali ke Melaka," sahut Hazrul dengan nada yang serius.
Dhiarra diam saja tak menyahut. Berjalan cepat menuju meja makan di dapur. Meja makan khusus bagi para pegawai untuk duduk mengambil jatah makannya tiga kali tiap hari.
Azlan datang ke meja makan menemani Dhiarra yang sedang menyendok makanannya dengan cepat. Gadis itu memang jadi terbiasa makan seperti itu. Cara makan yang dia dapat secara tak sadar dari Syafiq Shin Adnan. Sebab terlalu seringnya mereka makan bersama dengan saling berhadapan.
__ADS_1
"Ra, makanlah cukup-cukup. Tak yah laju-laju kau makan nii. Anak dara tuu makan pelaan, bukan laju sangat,,," Azlan memprotes cara makan Dhiarra yang cepat.
Dhiarra tak menanggapi, hanya tersenyum. Dan berusaha melambatkan menyendok dan mengunyah. Namun nyatanya jadi terasa sangat susah.
"Apa hal, Azlan,,?" tanya Dhiarra sebab menduga Azlan tengah ada perlu dengannya.
"Selesaikan dulu makanmu. Lepas tuu, minta tolong hantar orderan makan siang kat dua titik. Tak jauh sangat. Kereta dah siaga tunggu kat depan. Tapi siapkan dulu makanmu," Azlan berkata lalu berdiri.
"Yelah, Azlan. Lepas nii kuhantar,, Barang dah siap kee?" Dhiarra memandang Azlan sambil terus mengunyah.
"Tengah packing. Kau ambil saja kat aku,," sahut Azlan sembari berlalu.
Memang begitu,, sebab kurang pekerja, tapi tengah pesat berkembang, semua jadi serabutan berbagi kerja. Apalagi Dhiarra,,tapi dia sangat suka dan enjoy.
Hazrul memberi tugas serabutan tambahan sebagai kurir food delivery. Tentu saja Dhiarra sangat bahagia. Mengantar order makanan di tempat-tempat yang berbeda. Dhiarra serasa jalan-jalan percuma (gratisan) ke tempat-tempat indah pulau Penang. Lebih mudah lagi, driver pengantar yang disediakan Azlan telah memahami tujuan di luar kepala.
🍒🍒🍓🍒🍒
Tugas Dhiarra telah selesai. Mengantar makanan di dua titik seperti yang telah Azlan arahkan pada sang sopir yang sekaligus bertugas sebagai security pribadi Dhiarra.
Driver dengan siaga mengantar Dhiarra hingga di titik akhir pertemuan alias di depan pintu. Jadi tugas Dhiarra hanya berbasa-basi sedikit dengan orang pemesan makanan, menerima pembayaran, berterimakasih dan pulang. Tidak pernah merasakan pening dalam mencari posisi tepat sang pemesan. Itu tugas driver dan Dhiarra hanya mengikuti di belakang. Tugas Dhiarra memanglah menyenangkan!
Meski Dhiarra berfikiran bahwa itu sangat pemborosan tenaga dan waktu di tengah kurangnya pegawai. Namun Dhiarra belum berminat bicara pada Azlan, sebab itu masih menyenangkan untuknya.
Hazrul telah menunggu berdiri di pintu depan penginapan. Sambil membawakan tas bahu Dhiarra di sebelah tangannya.
"Kita pulang sekarang, Dhiarra. Mereka dah ada di rumah. Jadwal terbang mereka lebih cepat dan dimajukan,," terang Hazrul saat Dhiarra telah sampai di depannya.
__ADS_1
"Iya," sahut Dhiarra sambil samar mengangguk. Menerima tas miliknya yang tengah diulurkan oleh Hazrul.