Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
104. Backstreet


__ADS_3

Pukul 11.35 pm...


Mukena yang baru dilepas untuk isya, dilipatnya asal dan diselip dalam sajadah begitu saja. Ingin segera meletak diri istirahat di busa empuk ranjangnya. Merasa raga begitu lelah justru saat didekat pembaringan.


Ah, begitu nikmat dan legaa...Akhirnya merebah juga dan sempat menyambar ponsel di meja. Ingin sebentar memeriksa, berharap semakin tenang saat pergi dalam tidur.


Bukan tenang menuju pejam mata yang didapat. Tapi ponsel yang dipegang periksanya itu justru membawa banyak pesan tertulis yang mendebarkan isi dada. Lelah jiwa raga seketika melayang hilang dengan mata yang terbuka sempurna tanpa rasa mengantuk sedikit pun.


Meski lelaki pengirim pesan baru saja pamit pulang darinya, tetap saja membuat berdebar meski itu hanya berupa pesan tertulis yang dikirim oleh Shin. Dengan degub dan senyum, Dhiarra membuka dan membaca seluruh pesan di aplikasi ponsel itu.


*Raa. Sudah tidur?*


*Macam mana jika esok pagi sebelum balik KL, kita back street kejap?*


*Pergi kat pantai, atau kat mana engkau ingin dating denganku?*


*Kau pernah backstreet tak? Aku nak rasa, kupikir itu seronok sangat, Raa*


*Raaa, replay Raaa *


Tertegun diam Dhiarra. Cukup terkejut dengan isi pesan dari Shin. Ajakan Shin sangat beresiko kali ini. Jika saja ketahuan datuk Fazani, dirinya sebagai perempuanlah yang malu. Tapi Shin adalah suaminya,,, ah, bagaimana ini.


Sudah berjanji sedia pada datuk Fazani untuk berjaga jarak dengan anak lelakinya. Tapi juga Shin masih sebagai sang suami. Membuat perasaan suami bergembira adalah juga keharusan... Ah, bagaimana ini..


Dhiarra mengikuti kata hatinya.. Juga keinginan hatinya..


*Baru nak tidur, encik Shin,,*


*Aku ikut saja mana baiknya menurutmu, encik Shin*


*Aku dah rasa backstreet 2 tahun sama Adrian. Sorry, aku jujur ya, encik Shin.*


Send... Dhiarra mengirimnya.. Belum ada centang biru. Cukup lama Dhiarra menunggu. Belum juga dibaca.


Mungkin berusaha tidur saja. Esok sebelum subuh, Dhiarra pasti sudah bangun. Akan diperiksa lagi ponselnya.


🍒🍒🍓🍒🍒


Pukul 03.55 am dini hari...


Gadis molek yang tergolek di atas ranjang itu menggeliat. Berlanjut dengan membuka mata dan terdiam sesaat. Terbangun sendiri padahal alarm di ponsel belum sampai berbunyi.


Teringat akan alarm di ponsel, Dhiarra bergerak dan bangun cepat menghampiri meja rias. Menyambar ponsel dan memeriksa aplikasi pesannya. Apa pun isinya, gadis yang baru bangun tidur dan membuka matanya itu tersenyum. Membaca isi pesan di ponselnya.

__ADS_1


*Aku bukan encikmu*


*Akan kuambil dirimu pukul delapan pagi. Cakap kat mamamu, kena sorok pasal nii.*


*Aku sangat cemburu. Kenapa tak dari dulu kau datang ke negaraku dan mencariku?*


Pukul delapan pagi ini,,,, sekarang belum ada pukul empat. Masih lama lagi..


Dhiarra terus saja tersenyum, merasa hal ini adalah kejutan dari Shin untuknya.


🍒🍒🍒🍓🍓🍓


Pukul 07.50 am...


Berdebar rasanya, sebentar lagi Shin akan datang menjemput. Bahkan lelaki itu telah menelpon barusan.


Tok...Tok...Tok...Tok..!


Dhiarra terus berdebar, berdiri di depan pintu kamar sang mama. Meski yakin sang mama selalu di pihaknya, tetap saja terasa dag dig dug.


Ceklerk..!


"Ada apa, Raa,,?" mama menyembul dari balik pintu kamar. Baby boy tidak dalam gendongannya.


"Maa,,pagi ini, encik Shin akan datang. Aku akan keluar sebentar bersamanya. Mama jika saja ada yang tanya, tolong bilang tak tahu saja yaa,,," rayu Dhiarra lembut pada mamanya. Sang mama nampak agak terkejut.


"Kalian mau ke mana, Raa? Datuk dah pesan pada mama untuk awasi kalian lho, Raa,," mama Ira nampak bimbang.


"Hanya pergi beli tiket pesawat, maa.." spontan Dhiarra memberi alasan acaknya. Sang mama menatap Dhiarra dengan iba.


"Baiklah, tapi kalian kena hati-hati. Jaga diri baik-baik. Ingat, Raa, selain kamu adalah calon pengantin, tapi kalian juga pengantin baru. Ingat juga pesan datuk Fazani padamu kemarin," sang mama memberi wejangan.


"Iya, maa. Terimakasih ya, maa. Mmuuaah.." Dhiarra berkata gembira dan mencium pipi mamanya.


Tok...Tok...Tok...Tok....!!


Dhiarra dan mama Ira saling berpandangan. Sang mama tersenyum dan mengangguk. Mengusap bahu Dhiarra dengan lembut.


"Temuilah. Salam buat Syafiq. Mama nak ke kamar mandi, sakit perut, Raa," kata mama Ira. Melangkah berusaha cepat namun masih sambil tertatih.


Dhiarra berjalan sangat cepat melaju ke depan. Ketukan di pintu kembali terdengar.


Membuka pintu dangan rasa berdebar..

__ADS_1


"Encik Shin,,,," sapa Dhiarra setelah pintu benar-benar terbuka. Menampakkan wajah tampan menawan pagi itu.


"Aku bukan encikmu. Berapa kali kucakap, Raa,?" Shin pura-pura berpaling muka merajuk. Dhiarra ingat dan tersenyum.


"Hai honey,,,, my hon Shiiin,,,? Selamat pagi,, Ayolah kita lekas pergi. Aku sangat takut jika tertangkap basah lagiii,,!" Dhiarra telah mengoreksi dengan berhias senyuman indahnya.


"Ayolah, lekas tutup pintu. Mana kak Ira?" tanya Shin Adnan. Dhiarra berkernyit sesaat. Meneruskan gerak tangan untuk mengunci pintu rumah.


"Sedang kat kamar mandi. Sebenarnya siapa ya,,,, dia mamaku atau kakakmu?" Dhiarra bertanya pada Shin sambil tersenyum.


Mereka telah berjalan menuju kendaraan. Shin tidak bersama Idris, tidak juga membawa mobil sewaannya. Tapi Shin bersama mobil lain. Membawa sopir lain juga di dalamnya.


"Aku juga tak yakin, kau ini sebetulnya siapaku laah, Raa.? Ponakan atau selingkuhan?" Shin bertanya santai dan tersenyum. Tidak peduli pada sang sopir yang tengah mencuri pandang padanya. Shin hanya meminta pada sopir untuk mulai berjalan.


"Jika selingkuhan,,,, apa maksudmu kita sedang menyelingkuhi papamu, hon Shin?" tanya Dhiarra berusaha menahan senyum lebarnya.


"Kau memang pintar, Dhiarra,," Shin menatap mesra wajah Dhiarra sebentar. Namun dengan cepat telah membuang mukanya kembali. Menyembunyikan senyum lebarnya diam-diam.


"Raa, apa yang telah kau cakap pada mamamu?" Shin bersuara sembari menyandar punggung di sandaran. Menarik punggung Dhiarra agar lebih merapat dengannya. Kini punggung cantik itu telah menyandar nyaman di lengan bahunya.


"Kubilang keluar ikut beli tiket, hon Shin. Apa tiket pesawat sudah booking?" tanya Dhiarra.


"Sudah, dari semalam. Tapi alasanmu bagus juga, Raa,," Shin tersenyum. Memandang Dhiarra yang duduk merapat dan menyandar padanya.


"Pasti dampak buruk dari kau terlalu lama backstreet dengan dia, haaah,,? Pintar bagi alasan, yaa,," tiba-tiba Shin Adnan memprotes. Merasa gemas dan jealous pada Dhiarra dan Adrian yang begitu lama menjalin hubungan rahasia. Shin tersenyum masam menyadarinya.


"Tapi aku dah nak tobat.. Hon Shin pulak yang bagi ajar aku sekarang nii, kaan?" manja Dhiarra memprotes.


"Jangan engkau samakan ajaranku nii dengan ajaran bekas lelakimu itu, Raa.. Kau paham kan apa beda pergi bersamaku dengan pergi sama mantan tunangmu?" tanya Shin Adnan serius.


"Aku sangat tahu laah, hon Shin,," sahut cepat Dhiarra, menoleh dan sedikit mendongak pada Shin.


"Apa bedanya, heeemm,,?" tanya Shin sambil meraih jemari halus Dhiarra.


"Emm...Mencuri jalan bersama dia adalah dosa... Sedang mencuri pergi bersamamu justru pahala? Betul tidak,, hon Shin,,?" jawab Dhiarra asal tebak. Shin tersenyum sangat lebar.


"Anggap saja jawabanmu itu dah sempurna, Raa. Agar kau tak rasa resah saat pergi bersamaku kali ini.," Shin menjawab lembut dan pelan. Bibirnya masih juga tersenyum. Dengan tangan yang terus menggenggam erat jemari Dhiarra...


Entah mereka ini akan pergi bersama ke mana sebenarnya... Dhiarra pasrah saja...


🍒🍒🍒🍓🍓🍓


🍒🍒🍒🍓🍓🍓

__ADS_1


🍒🍒🍒🍓🍓🍓


__ADS_2