
Dua bulan kemudian.....
Dua karib berjalan menyusuri sungai Melaka yang cantik. Membawa satu bungkus es krim di tangan sebelah masing-masing dan belum dimakan sama sekali. Sebab merasa repot dengan tangan sebelah lagi yang juga sedang menenteng payung. Sungai Melaka- Melaka River Cruise sangat panas saat siang. Namun tidak juga menyurutkan jumlah pengunjung yang datang menyusurinya.
"Net, kita duduk di kursi itu yuk. Meleleh-leleh liurku ingat es krim ini,,,!" seru Dhiarra yang berjalan di belakang Yuaneta.
"Samaan... Aku pun tak sabar nak makan,,!" sahut sang karib dari arah depannya.
Mereka lebih menepi mendekati bangku kosong di pinggiran sungai Melaka. Bangku-bangku memang banyak terpasang permanen di tepian yang sengaja disediakan untuk pengunjung penyisir sungai.
"Nyammm,,,sedapnya Raaa,, manisss,,,segerr,,, kau pilih rasa apa aja, Raa,,?" ucap Yuaneta disela kesibukannya mencairkan eskrim dalam mulut dan lidahnya.
"Iya..ya..ya..yang kau rasa sama persis dengan yang tengah kurasa, Net,,, seger gila. Punyaku rasa coklat premium mix stroberi. Aku beli tiga sama rasa, Net,,!" terang Dhiarra tentang pilihan es krimnya pada sang karib.
"Asal kita sama persis nih, Raa... Aku juga beli tiga sama rasa semua. Coklat mix stro,, sedap gila, ah,,!!" sungut Yuaneta sambil terus menyendok es krim nikmatnya.
"Habis makan es krim, kita naik kapal yuk, Net! Kayaknya siang-siang gini akan rasa sejuk naik kapal kencang begitu,,!" seru Dhiarra yang juga sama sibuk dengan Yuaneta menyendok es krim segarnya.
Tiba-tiba terasa terliur-liur juga saat memandang kapal-kapal yang melunjur kencang dengan membawa beberapa penumpang di atasnya.
"Ish... Sama lagi,,?! Aku pun juga ingin mengatakan hal yang sama denganmu lah, Raa,,,ha,,ha,,,ha,,!" Yuaneta tertawa-tawa. Disambut tawa juga dari Dhiarra, merasa cukup heran dengan kesamaan yang kebetulan bersama sang karib saat itu.
"Heeeeiiiiikkk,,!"
"Heeeeiiiikkk,,!"
Tiba-tiba kedua karib yang sama-sama baru menghabiskan tiga kotak kecil es krim rasa coklat mix stro itu bersendawa cukup keras bersamaaan. Seketika mereka saling menoleh dan berpandangan menahan tawa.
"Haa,,ha,,,ha,,ha,, ya Allaaah, Net,,,, kita ini kenapa siih,,??" semakin terheran Dhiarra. Yuaneta pun juga sedang berekspresi yang sama dengannya.
"Ha..ha..ha.. Aku pun bingung lah, Raa.. Ah, gak papa lah. Artinya kita memang ditakdirkan bersahabat dekat selamanya,," jawab Yuaneta di akhir tawanya.
Keduanya bergandengan tangan mendekati sebuah pos loket. Pos untuk melayani pembelian tiket bagi pengunjung yang ingin menaiki kapal menyusuri sungai di wisata sungai Melaka. Pos yang tidak hanya satu, tapi ada beberapa pos yang menyebar di banyak titik tepi sungai.
Sebuah kapal yang lewat, berhenti menepi demi melihat lampu rambu-rambu di pos itu menyala. Tanda ada calon penumpang yang sedang menunggu untuk diangkut naikkan.
Dhiarra dan Yuaneta telah duduk manis dalam kapal yang mulai meluncur laju perlahan. Dan semakin lama semakin kencang saja lajunya.
Dua karib itu bukannya menikmati pemandangan indah tepi sungai. Namun terpejam rapat-rapat sambil berpegangan bangku kapal yang mereka duduki. Bangunan-bangunan kuno yang kokoh dan bersanding dengan bangunan modern yang megah sangat indah itu nampak berubah tidak menarik sama sekali.
Merasa begitu sakit kepala tiba-tiba. Terlebih saat perjalanan putar kembali. Kapal itu meluncur pelan bertujuan agar penumpang berubah rasa dan sensasi.
__ADS_1
Namun dua karib itu tidak merasakan asyik lagi sama sekali. Semakin tersiksa saja rasanya. Bukan saja sakit kepala, namun juga rasa mual yang dahsyat tiba-tiba di perut keduanya.
"""Pak cik, boleh stop kapal kat sini, tak?!""" tiba-tiba dua karib itu berseru bersamaan. Meski sadar kekonyolan itu kembali terulang, namun mereka sudah tidak sanggup untuk saling merespon. Rasa raga sudah seperti tidak kuat ditanggung lagi siksanya.
Pak cik itu seperti paham derita mereka. Kapal telah menyandar cepat ke tepian. Menurunkan dua penumpang cantik yang terlihat sangat pucat.
🍒🍒🍓🍓🍒🍒🍓🍓🍒🍒
Dhiarra dan Yuaneta tengah beratur antri di sebuah klinik prktik dokter umum. Suami Dhiarra, Shin Adnan lah yang membawa paksa dua karib itu untuk bersedia pergi periksa.
Shin yang sedang mengunjungi storenya di Mahkota Parade, segera meluncur datang setelah sang istri menghubungi. Sangat cemas mendapati keadaan Dhiarra bersama Yuaneta yang lemah.
Padahal belum ada satu jam yang lalu mereka ditinggalkannya di Melaka river dalam keadaan segar bugar, kini dijumpainya dalam kondisi pucat pasi. Dan suami siaga idaman itu segera melaju menuju klinik terdekat dari sungai Melaka.
"Puan Dhiarra Adnan,,!!" panggilan suster asisten membawa rasa lega yang sangat setelah berharap resah dalam antrian.
Dhiarra bergegas mengikuti suster masuk ruang praktik dokter dengan disertai sang suami.
Setelah melewati pemeriksaan, Shin dan Dhiarra di minta duduk berhadapan dengan dokter umum itu. Mereka diminta menjawab beberapa pertanyaan yang cenderung bersifat pribadi dan detail. Dan sepertinya analisa dokter langsung keluar dengan cepat.
"Puan Dhiarra,,, serta tuan Shin Adnan,,, tahniah yaa, anda tengah mengandung dan memasuki usia delapan minggu. Anda kena berjaga diri serta memperhatikan asupan gizi," ucap sang dokter dengan sabarnya.
Meski sangat berharap dan sedikit menduga, penjelasan dokter barusan masih juga mencengangkan Shin dan Dhiarra. Ini adalah super kejutan yang sangat dinantikan.
Nampak bahagia setengah tak percaya. Merasa telah berhasil dengan cepat dalam rangka usahanya rilis prodak embrio baru. Shin merasa puas, bangga dan bahagia yang sangat.
"Iya, hon Shin, terimakasih juga,," sahut Dhiarra serasa juga tak percaya dan terkejut.
Dokter memberi banyak arahan-arahan serta beberapa resep yang bisa ditebus oleh calon pemilik baby, di apotik depan klinik.
Mereka berpamitan undur diri pada dokter berdarah Melayu itu. Perasaan Shin dan Dhiarra serasa mengawang bahagia dengan senyum lebar yang terus menghias di wajah mereka.
"Selamat deh buat kalian,,, asal kalian ini tokcer banget. Lalu aku ini kapan?" ucap salut Yuaneta, terlihat sangat pucat dan lemas.
"Puan Yuaneta Tan,,!!" suster itu kini memanggil sang karib.
Yuaneta berjalan mengikuti suster asisten memasuki ruang praktik. Diikuti pandangan Dhiarra mengamati sang karib hinga lenyap tak nampak punggungnya.
Perasaan Dhiarra tiba-tiba merasa iba pada sang karib. Merasa dirinya beruntung telah memiliki Shin Adnan sebagai suaminya. Siaga untuknya dan sangat perhatian. Ah,, semoga saja ini berterusan dan berkekalan. Bahwa Shin akan senantiasa membuatnya bahagia.
"Hon Shin, aku temankan Yuaneta, boleh?" Dhiarra menatap Shin yang tengah mengetik sesuatu di ponselnya. Shin memandangnya terdiam. Melirik sekilas pintu klinik.
__ADS_1
"Masuklah, Han Raa. Kutunggu kat sini,," ucap Shin sambil mengelus rambut Dhiarra yang lembut dan licin.
"Terimakasih, Hon Shin. Tunggu kami, yaa,," pamit Dhiarra pada sang suami. Shin mengangguk tanpa berekspresi apa pun.
Ceklerk,,!
Shin memandang pintu klinik yang sedang dibuka. Menunggu seseorang yang sangat ditunggu, untuk menampakkan diri dan keluar.
Dhiarra dan Yuaneta terus tersenyum nampak sangat gembiranya. Mendekati Shin Adnan yang berdiri heran mengamati.
"Hon Shin, coba tebaklah. Apa sakit Yuaneta ini,,?" Dhiarra bertanya dengan mata bening berbinarnya.
Melihat sang istri begitu cerah dan bersemangat, tidak lagi pucat dan lemas, Shin merasa iba dan perlu mengimbangi pinta kata istrinya. Tidak ingin menghampakan dan mengecewakan Dhiarra. Shin memandang Yuaneta seksama. Perempuan itu juga terlihat sangat cerah dan gembira. Matanya juga berkilat bahagia. Aura pucat dan lemas, telah samar dan tidak nampak lelahnnya.
Terkesiap Shin Adnan, satu prasangka berkelebat di kepala. Merasa tebakannya ini sedikit tidak masuk di akal. Tapi siapa tahu jika tebakan dan sangkaannya ini memang benar dan bukan setingan...
"Yuaneta, kau juga sedang mengandung? Berapa bulan?"Shin begitu percaya diri bertanya.
Juga merasa iba pada karib sang istri. Suami Yuaneta adalah seorang lelaki berdarah China yang begitu sibuk sebab sangat rajin bekerja. Lelaki yang dulu kaya raya namun kini hidup sederhana dan mungkin seadanya demi wanita pilihan hatinya..
-🍒🍒🍓🍓🍒🍒🍓🍓🍒🍒
Di rumah besar Shin Adnan, Melaka Bandaraya..
"Jangan keras-keras, yang lembut saja, sakiit,,hoon,," Dhiarra nampak meringis, merasa kesakitan.
"Ha..ha..Hon Raa, ini sangat pelan dan tidak kuat. Aku memijatmu sama sekali tanpa tenaga,," Shin terheran dengan tingkat sensitifitas Dhiarra akan pijatan pelan tangannya.
"Iya bagimu,, tapi ini kuat sekali, sakiiit," manja Dhiarra pada Shin. Mereka berada di kamar besar Shin Adnan. Shin membawa Dhiarra untuk bersama-sama menempati kamarnya.
Sebab terus merasa serba salah, Shin tidak lagi memijat betisnya. Hanya mengusap dan menepuk-nepuk kaki Dhiarra yang halus itu.
"Kamu ini biasanya jadi wanita sakti yang kuat , han Raa,,, Apa hamil membuat tubuhmu lemah,,?" tanya shin tengan terus menepuk-nepuk kaki betis sang istri. Posisi Dhiarra tengal terlentang, sebab Shin melarangnya tengkurap.
"Aku lemah hanya malam ini, hon Shin. Aku baru saja minum obat. Setelah sadar, kekuatanku akan kembali seperti semula." Dhiarra berkata sangat yakin. Shin sedang merenung memandangnya.
"Kalian iniii,,, bagaimana bisa hamil bersamaan begitu?" tanya Shin terdengar iseng saja. Masih merasa geli dan gembira, Yuaneta juga sedang hamil dengan umur minggu yang sama persis dengan sang istri.
"Ini rezeki yang tak disangka datangnya dan sudah diatur olehNya, Hon Shin,," manja Dhiarra mulai berdebar memanas. Shin tidak lagi lembut memijat. Tapi telah bergerak pelan dan lembut merapat memeluknya.
"Apa malam ini aku harus libur?" tanya Shin memandang rapat wajah Dhiarra yang kini kian jelita saja dipandangnya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah melarang dan membatasimu, hon Shin. Lakukan saja sesukamu,,sebosanmu,, Aku tidak akan memilih. Sebab, libur pun aku akan suka.. Atau jika terus dikebut pun, tetap juga bahagia,,," Dhiarra tersenyum nampak pasrah. Membelai rahang sang suami dengan penuh rasa sayang..!