Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
63. Menghempas Kikuk


__ADS_3

Seruan kata SAH berpuluh menit lalu, telah diucap serentak dari enam pegawai Jais yang berperan sebagai saksi sah pernikahan tiba-tiba. Sekaligus jadi penanda bahwa mereka berdua adalah pasangan yang baru disahkan dan dihalalkan.


Kini kamar penginapan kembali lengang. Menyisakan rasa kikuk antara dua insan yang saling menunjuk ekspresi berlainan. Shin dengan wajah tenang seperti biasa, sedang Dhiarra dengan ekspresi bingung, salah tingkah dan wajah tak surut merona.


Semakin segan untuk bergerak dan berjalan. Kemeja putih dan jas coklat punya Shin yang masih dipakai hanya menutup sedikit paha atasnya. Meski lelaki itu tidak mengamati, tapi merasa kikuk dan risih sendiri.


Merasa heran dengan dirinya. Kemarahan, kecewa dan terhina itu seperti menguap entah ke mana. Bersama dengan terdengarnya sambutan janji ikrar Shin Adnan yang tegas dan lantang di hadapan saksi serta penghulu untuknya.Tergeser oleh rasa lega dan lapang. Sebentar lagi akan terbebas dari sandungan masalah di penginapan.


Tangis terhina sebab ditangkap basah JAIS berganti dengan selip rasa haru dan geli pada sang paman. Meski baginya itu konyol dan tidak mungkin sekali. Shin memberi Dhiarra mahar yang tidak tanggung-tanggung terdengar. Sebuah kereta baru dengan sopir pribadi sekalian.


Dan nama sopir pribadi yang dijaminkan seumur hidup oleh Shin itu adalah Syafiq Shin Adnan sendiri. Ucapan ikrar kabul oleh Shin itu terus terngiang di telinga dan kepala. Membuat Dhiarra justru tersenyum dan bahkan menahan tawanya sekarang. Sedang merasa hadir sensasi teruja di hatinya. Sejenak lupa dengan sang calon suami yang sedang berada di negara tercinta.


Sadar dengan senyum tawa yang meluncur tak sengaja, segera dirapat luruskan lagi bibirnya cepat-cepat. Tak ingin ditangkap basah oleh Shin. Merasa gengsi jika sampai kedapatan sedang tersenyum oleh sang paman.


Penasaran sedang apa Shin Adnan, lelaki yang dicari ternyata sedang memandanginya. Duduk menyandar punggung di kursi sambil menyelonjor kaki ke meja sangat santai. Nampak sambil bertelepon, entah siapa yang akan dihubungi. Hanya matanya sedang melaser ke ranjang di wajah Dhiarra. Mengikuti segala geraknya bahkan mungkin sampai pada setiap tarikan nafas Dhiarra.


"Iya, Driss. Sudah sampai?" Shin sedang menelepon sang sopir.


Shin terdiam, sedang mendengar perkataan Idris di seberang.


"Tidak, Driss. Tapi malam saja aku kembali. Aku akan pergi ke perusahaan besok pagi. Urusanku petang ini bersama klien dari Manila telah gagal. Jadi aku tidak lagi dikejar waktu." Shin kembali terdiam. Ponsel masih melekat di telinga. Namun mata tetap pada Dhiarra.


"Ok, Dris. Tutuplah," Shin meletak ponsel hitam itu di meja.


Menurunkan kaki dan lalu berdiri. Berjalan santai mendekati Dhiarra di ranjang. Shin tidak lagi menyeret kursi. Namun berjalan melewati Dhiarra menuju di sisi samping pembaringan. Merebah tubuh besarnya di sebelah Dhiarra yang kosong begitu saja.


"Encik Shin, apa anda juga akan tidur di sini?!" Dhiarra terkejut dengan kelakuan Shin yang dengan tenang justru mulai menutup matanya.


"Apa kau keberatan? Kau bukan gadis serakah kan, Dhiarra? Kursi yang panjang di sana terlalu kecil untuk menampung tubuh besarku. Sedang ranjang ini terlalu lebar untuk tubuh sempitmu itu," Shin membuka sedikit matanya, memandang dengan sedikit mendongak pada Dhiarra. Garis senyum sedang ada di sana.

__ADS_1


"Tapi,,,,encik Shin,,!" gadis itu menggantung ucapannya, wajah cantiknya memerah.


"Tapi apa, Ra, Dhiarra?" Shin tidak jadi pejam mata. Tapi berjingkat bangkit dan duduk.


Bersila kaki menghadap Dhiarra, gadis itu masih duduk menyandar di sandaran ranjang yang kokoh dan tinggi. Mereka duduk menghadap dan menyamping. Shin menyapu wajah jelita yang nampak gelisah di duduk sandarnya.


"Tapi apa?" lelaki tampan itu kembali mengulang tanyanya dengan lembut.


"Tapi saya tak rasa nyaman," sahut lirih Dhiarra, wajahnya menunduk.


"Ini hanya meletak badan dan kemudian aku akan tidur. Beberapa jam lagi kita melanjutkan perjalanan," Shin mengangkat alis goloknya. Sedikit senyum pada Dhiarra.


Sesaat terfikir, jika saja yang bersamanya di ranjang ini adalah perempuan lain, seperti Sazlina atau Velinda,,mungkin ceritanya akan lain. Bisa jadi dirinyalah yang merasa sangat ilfeel saat ini. Ah,Dhiarra,,,!


"Ra, Dhiarra,," Shin menyebut ulang nama si gadis. Itu adalah sebutan baru baginya.


"Ya," pemilik nama menjawab lirih dan kaku.


"Kau paham kan. Setidaknya aku ini siapamu, Dhiarra?" Shin memandang Dhiarra seksama. Mununggu bibir indah yang kembali merona itu bergerak menyahut. Tidak seperti yang diharapnya. Bibir itu tetap saja mengunci.


"Ra, Dhiarra,,,aku ini siapamu?" Shin mengulang bertanya. Dhiarra meliriknya sebentar.


"Iya saya paham, encik Shin. Anda pamanku? Bossku? Adik ipar ibuku? Yang menampungku di rumahmu? Yang sudi membeli bajuku?" Dhiarra mulai ikut tersenyum sambil berbicara pada Shin. Memandang dan menunggu reaksi lelaki di samping.


Shin merasa gembira dengan senyum Dhiarra. Namun jawaban yang di harap bukan salah satu dari pilihan yang diberikan gadis itu.


"Bukan itu semua,Dhiarra.. Jangan kau tahan satu jawaban yang sebenarnya kau sudah tahu,,!" Shin sengaja berkata agak keras. Sambil merebah badan perlahan seperti saat tadi.


"Suami,,," terdengar sahutan lirih dan lembut di samping. Shin menoleh dan mendongak.

__ADS_1


Dhiarra tidak ada. Ternyata telah menggelosor rebah seperti yang sedang Shin lalukan. Tapi gadis itu tak nampak. Shin tersenyum, hanya nampak guling besar yang dipasang Dhiarra dan memang sukses berguna sebagai penghalang. Shin menduga wajah cantik di balik guling itu sedang merona sekarang.


"Ra, Dhiarra,," Shin memanggil lagi di balik guling. Sepertinya ucapan jika Shin hanya berbaring lalu tidur saja, hanya isapan jempol belaka.


"Iya,," lirih sahut Dhiarra akhirnya.


"Aku ingin bertanya padamu. Meski ini hanyalah sebab hukum tindakan dari JAIS, tapi bagiku ini penting kau jawab," Shin terdiam, menunggu sahutan dari seberang.


Hening.. Agak lama... Mungkin gadis di seberang tidak ingin tahu dan tidak peduli sama sekali.


Ah, Dhiarraaaa,,,,,, Shin mengambil nafas dan menghembusnya dengan cepat. Membalik badan dan memunggungi guling yang memisah. Mata itu berusaha memejam, tapi dadanya seperti sedang membara.


"Encik, Shin,,! Pertanyaan apa itu?" seruan lembut terdengar dari seberang tiba-tiba.


Mendengar itu, matanya membuka sempurna. Membalik badan menghadap guling dengan cepat. Dada panasnya telah mendapat guyuran es yang sangat mendinginkan.


"Sebagai lelaki, jujur kucakap padamu. Mulai saat inipun,, aku siap memberi nafkah padamu. Nafkah apapun. Kau paham kan, Dhiarra?" Shin terdiam, menunggu sahutan dengan tak sabar.


"Ra, Dhiarra,,," Shin kembali tak sabar. Sebab tak juga ada sahutan.


Pertanyaan apa itu? Apa sebenarnya Shin tidak keberatan dengan pernikahan musibah ini. Apa Shin menganggapnya serius dan bukan sekedar akur pada hukuman. Dhiarra merasa panas dingin tiba-tiba.


Tapi mendadak juga teringat pada nama kekasihnya, Adrian. Janji pada sang calon suami untuk terus setia menunggu hingga datang. Lagipula, pernikahan macam apa ini? Pernikahan aib memalukan yang tak pernah terbayang menimpanya.


Meski Shin terkadang membuatnya panas dingin. Tapi dirinya adalah gadis yang punya harga diri. Baginya menepati janji untuk setia menunggu Adrian hingga datang adalah taruhan martabatnya. Dhiarra tidak ingin menjadi calon istri yang berkhianat.


"Encik Shin, seperti kata-katamu yang tadi. Pernikahan ini tidak akan mengikatku. Saya bebas menikah dengan calon suami manapun. Anda, tidak ingkar janji kan...Jika calon suamiku datang, tentu saya akan menyambut. Saya tidak ingin mengkhianatinya. Jadi, saya tidak akan mengambil apapun nafkah darimu. Saya ingin terus menjaga diriku. Terimakasih, encik Shin,"


Dhiarra merasa lega setelah mengatakan hal itu. Tapi, ada sesak yang menyumpal di dada. Merasa sedih tiba-tiba. Dhiarra telah menolak lelaki itu. Menolak Shin Adnan, orang yang cukup baik menjaganya selama ini. Sedih...

__ADS_1


"Tidak, Ra. Aku tidak ingkar. Kupahami prinsipmu. Adrian memang sangat beruntung. Tapi sebelum calon suamimu datang. Hubungan kita tetap akan seperti ini. Aku tidak akan menceraikanmu," Shin berkata lirih dari balik guling.


Dhiarra terdiam, semakin sesak dengan ucapan Shin yang seperti itu padanya. Air yang sedari tadi menggenang akhirnya berubah menjadi beberapa butiran dan jatuh...


__ADS_2