Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
42. Menumpang Kamar Mandi


__ADS_3

Alarm ponsel pukul empat setengah pagi berbunyi nyaring meriuhkan isi kamar. Pemilik ponsel menggeliat dan terhentak duduk bangun. Kepala yang masih kosong, berfungsi lagi setelah terdengar bunyi alarm yang kedua.


Meski si anak dara sedang mendapat aliran merah rutin bulanan dan libur dari ibadah wajib apapun dua hari ini, tapi bunyi alarm itu tetap dibiar membangunkan. Terlebih di kehidupan sekarang, hidup tinggal menumpang di rumah orang. Merasa harus lebih siaga serta menjaga diri dan etika.


Bergegas bangun meski rasa ingin bermalasan. Kamar mandilah tempat favorit pertama yang dituju, meski perutnya sedang stabil dan tidak merasa bermasalah.


Aduh,,,, telah dicoba ulang kali semua kran air diputar. Namun semua sama, tak ada aliran air di kamar mandinya. Hanya sediki air yang terjebak dalam leher kran saja yang mengalir dan terbuang. Setelahnya, setetes pun tak datang. Padahal semalam air itu mengalir lancar melimpah ruah.


Kaki indahnya melangkah gontai menuju luar pintu di kamar. Merebah resah sebab krisis air saat ini. Tak ada bak penampung air di kamar mandi. Tak habis pikir dengan rumah megah yang gemerlap, ternyata bermasalah.


Sayup-sayup terdengar adzan subuh dari luar kamarnya. Sangat dekat, bahkan bukan dari alat pengeras, itu asli dari sebuah suara yang lantang. Ternyata adzan terdengar dari terobosan di angin-angin pintu balkon yang terbuka.


Dhiarra bangun dan berjalan menuju balkon. Berdiri di tepian mengamati sekitar ke bawah. Sebuah bangunan mungil nampak terang dilihatnya. Dan yakin itulah mushola sekaligus asal lantunan adzan yang mengudara barusan.


Dhiarra masuk kembali melewati pintu balkon ke kamar. Mengambil ponsel dan memainkan di sofa. Beberapa saat tenggelam dalam layar ponselnya.


Tapi mulai terusik oleh rasa tak nyaman di perut serta di area feminimnya. Teringin buang air kecil dan menukar pembalut yang hampir melebihi empat jam. Dhiarra khawatir keburu rembes dan meluber. Sebab hanya membawa sepotong dalaman pengganti sebagai serepan. Yang selalu diselip di tas bahu saat haid, bersama pack kecil pembalutnya.


Kecewa dan resah, air tak mengalir keluar juga dari semua kran. Sedang rasa tak nyaman semakin saja menjadi.


Nama-nama koneksi muncul berkelebat.. Mengelilingi isi rumah,,, tapi tentu saja kurang sopan.


Sazlina..,,menumpang ke kamar gadis itu di sebelah sana? Ah, si gadis congkak,,, gengsi rasanya.


Kamar Shin Adnan yang tepat di sebelah? Tapi segan dan malu.


Lalu..Azlan,,, dia memang hangat dan baik, tapi tak terlalu kenal..


Dan ini adalah urusan terhakiki perempuan. Lagipula, apa kamar mandi mereka airnya tak bermasalah?


Mushola....Ya..Ya,,,mushola adalah pilihan terbaik dan paling tepat saat genting. Segera disambar pembalut ganti dan pergi ke balkon. Saat keluar tadi, matanya sempat merekam adanya tangga besi melingkar di balkon. Tangga terbuka penghubung langsung antara kamarnya ke bawah.


Sambil turun, Dhiarra mengamati balkon-balkon kamar yang berderet di sebelah. Semua sama. Tersedia tangga melingkar. Begitu juga kamar Shin yang tepat di samping. Ah, bagus sekali rumah ini..


Kakinya dibawa jalan cepat menuju Musholla. Lalu melambat. Dalam pelan melangkah, mata bintang itu mencuri pandang ke dalam Mushola. Eh, Shin terlihat tengah duduk paling depan memimpin doa. Imamkah,,? Ada Azlan di belakangnya, lalu beberapa perempuan dan lelaki yang tentu tak dikenal.


Subuh berjamaah itu akan segera berakhir. Dhiarra berjalan menyelinap ke toilet di belakang bangunan. Langsung menuju kamar mandi perempuan.

__ADS_1


Sama... Air tak mengalir.. Tak ada juga bak penampung air. Hanya ada satu kran, mati. Gadis itu keluar dengan rasa hati makin resah. Bagaimana..


Bilik Bersuci Lelaki,,


Itulah tulisan yang dibaca di papan yang tertempel di pintu toilet lelaki. Sudah terlanjur basah, gadis itu masuk saja dengan cepat. Yakin tak akan ada seorang pun yang menggunakan tolet selain dirinya saat ini.


Hah..., mati juga,, Dua bilik mandi telah dimasuki dan coba diputar, tapi semua sama, hampa.. Iseng dimasuki kamar mandi yang terakhir. Ada bak penampung air cukup kecil, tapi airnya sedang penuh, pertanda belum ada orang yang memakai. Inilah oase di padang pasir yang sedang diburunya.


Ceklerk...


Pintu telah ditutup dan dikunci dengan aman. Dhiarra siap untuk menggunakan air sebaik mungkin. Membersih diri tapi tidak mandi.


Tap..Tap...Tap..Tap..Tap...


Suara langkah kaki berat dan perlahan. Semakin lama kian dekat. Dhiarra yang telah melorotkan celana tidur, menariknya lagi dan berdiri tegak dengan tegang. Sadar diri tengah ada di bilik mandi lelaki. Siapa itu?


Beberapa menit yang lalu..


Semua jamaah subuh telah kembali meninggalkan mushola. Begitu juga dengan Azlan, lelaki itu baru habis menaiki tangga lingkar dan kini masuk ke dalam kamarnya.


"Tuan muda,,!" seorang lelaki tua menyeru Shin Adnan.


"Pompa air di Mushola bermasalah. Tiba-tiba tak berfungsi. Sedang teknisi datang tengah hari, tuan,," lelaki itu melapor dengan lirih.


Shin bertaut alis sejenak.


"Bukankah sama pompa dengan dua kamar di atas?" mata tajam itu melaser sebentar ke kmar di atas.


"Iya tuan, kamar nona Fara dan kamar tamu sebelahnya tak ada air,," pelayan itu membenarkan.


"Pergilah. Jika maintenance datang, segera minta serviskan.," Shin melirihkan suara. Matanya menangkap sesuatu. Jauh di sana, di belakang mushola.


"Siap. Saya permisi, tuan muda," lelaki itu pergi memasuki rumah di salah satu pintu lantai satu.


Shin mendongak sejenak ke pintu kamar balkon yang terbuka. Yakin bahwa seseorang yang baru berkelebat di toilet mushola barusan adalah penghuni kamar itu.


Sedikit menit kemudian...

__ADS_1


Tok..Tok..Tok...Tok...!


"Dhiarra,,,!" Shin memanggil, tak ada sahutan.


"Kaukah yang di dalam? Jangan gunakan air di bak kecil itu. Mungkin ada banyak sangat telur nyamuk. Pengurus mushola dah dua hari tak datang,,!" Shin kembali berseru.


Hening sesaat...


Ceklek..!


Shin menahan nafas saat pintu kamar mandi terbuka. Gadis yang di maksud telah keluar dan berdiri tegak salah tingkah. Wajah jelita dan nampak baru bangun tidur itu terlihat agak pucat.


"Tak ada air di kamarmu?" tanya Shin. Gadis itu mengangguk cepat-cepat.


"Saya tak tahan lagi, encik Shin,,! Tolonglah, di mana kamar mandi,,?!" wajah pucat itu sedang panik.


Shin sangat mengerti keadaan.


"Ikutlah aku cepat, Dhiarra,,!" lalaki itu berkata sambil berbalik dan berjalan sangat cepat.


Dhiarra mengikuti tergesa setengah berlari. Lelaki itu tidak menuju ke manapun. Tapi menaiki tangga lingkar menuju kamarnya. Dhiarra terus meniti tangga dengan cepat. Pasrah dengan letak kamar mandi yang akan dipinjamkan oleh Shin padanya.


"Masuklah, Dhiarra. Gunakan saja kamar mandiku sepuasmu,,!" langkah Shin melambat memasuki kamarnya dari pintu balkon.


Terus berjalan masuk dan meraih sebuah pintu lagi dan membukanya.


"Jika ingin mandi, mandi saja. Aku tidak akan mengintipmu," bibir lelaki itu samar tersenyum.


"Hanya menumpang buang air kecil, encik Shin," gadis yang nampak pias dan kikuk itu tengah melewatinya dan masuk ke dalam.


Ceklek....


Shin cepat menutup pintu yang terus dipegangnya. Terdengar pintu terkunci dari dalam. Gadis itu telah mengunci pintunya. Bibir Shin Adnan telah bebas tersenyum-senyum sekarang.


Sangat lama kemudian....


Ceklek...

__ADS_1


Dhiarra telah selesai dengan urusan bersih diri di kamar mandi. Dengan perasaan nyaman dan lega, melangkah keluar dengan hati yang kini berdebar. Sebab sedang berada di kamar Shin Adnan. Moment tiba-tiba yang tak pernah disangkanya..


__ADS_2