
Ceklerk...
Pintu kamar telah dibuka dari dalam oleh penyewanya sebagian. Namun pengunjung yang dicari tidak menampakkan diri keluar.
"Selamat siang, penyewa kamar nomor dua puluh satu yang budimaan. Ini adalah layanan kamar penginapan, nak hantar selimut dan handuk untuk anda,,!" salam sapa Dhiarra terdengar mengudara ceria menembusi pintu ke dalam kamar.
"Bawa masuk,,!" suara lelaki dari dalam.
Degh,,! Sangat terkejut Dhiarra. Suara lelaki barusan sangat mendebarkan dadanya. Itu adalah suara Shin Adnan.
Apakah ini kamarnya,,? Dhiarra memang tidak sempat untuk tahu-menahu di kamar nomor berapa mereka menyewa. Hanya sempat tahu saja bahwa mereka bertempat di lantai dua. Lalu kenapa Shin masih di kamar. Bukankah harusnya sudah pergi ke Feringi Beach?
Ah, entahlah. Lebih baik masuk saja.
Mata bening itu menyapu cepat setelah melewati pintu kamar. Mendapati lelaki dalam kepala telah duduk santai memandangnya.
"Encik Shin...Anda di sini,,?" sapa Dhiarra pada pengunjung penginapan, yakni Shin Adnan.
Shin tidak menyahut. Hanya terus memandang sambil tangannya menepuk sofa sebelah yang kosong.
"Kemarilah, Raaa,,," pinta lembut Shin pada Dhiarra.
Dhiarra yang belum biasa dengan status mereka itu nampak bimbang sesaat. Namun segera ditepis dengan kenyataan bahwa Shin adalah sang suami di mana pun dan kapan pun yang punya hak mutlak padanya.
"Encik Shin, kenapa tidak pergi ke Feringi Beach?" tanya Dhiarra sambil duduk dan menolehkan kepala pada lelaki di samping. Gadis cantik itu tengah menghempas rasa segan pada suaminya sendiri.
"Sudah ada Fara dan Idris yang temani parents. Aku lebih minat menemanimu buat kerja," sahut Shin dengan santai.
"Tapi saya benar-benar tengah buat kerja pada orang, encik Shin,," sahut Dhiarra cepat. Ada was-was jika Shin mengundangnya untuk membuat kerja lain dalam arti tanda kutip. Sebab, Dhiarra merasa ini bukan waktu yang tepat.
"Ha..ha..ha..Kau telah paham sangat dengan suamimu ini yaa, Raa,," Shin tertawa di antara sela ucapnya. Tangannya terulur mengusap lembut rambut di kepala Dhiarra.
"Sebab saya tak ingin mencemari citra penginapan Azlan. Status saya masih bekerja, encik Shin," Dhiarra berkata perlahan. Berharap Shin paham dan tidak akan tersinggung.
__ADS_1
Shin tidak menyahut. Dengan tetap menampakkan sisa tawa, diambilnya nampan di meja. Mengulurkan nampan makanan pada Dhiarra.
"Kau sudah makan?" tanya Shin menatap wajah pias Dhiarra.
"Aku sudah sangat kenyang, encik Shin,," jawab Dhiarra tergesa. Sambil memegang nampan yang terus disodor oleh Shin Adnan.
"Benarkah..? Jika begitu, tolong manjakan aku,," Shin hanya berkata pendek. Dengan cepat mengubah posisi duduk menghadap Dhiarra.
"Apa maksudmu, encik,,,?" Dhiarra sedikit menduga apa yang diinginkan Shin padanya.
"Suapkan makananku,,,, aaaa,,, aaaa,,," Shin berkata manja dengan membuka lebar-lebar mulutnya. Sangat siap mendapat suapan dari Dhiarra.
"Tapi,,," Dhiarra tak habis pikir dengan sikap Shin yang seperti bukan dirinya. Shin mulai menampakkan sisi manjanya sebagai suami.
"Dhiarra, kau tidak usah bekerja di tempat ini. Kau masih sebagai sekretarisku, kan?" Shin mulai mengeluarkan kuda-kuda.
Dhiarra sangat paham dengan maksud Shin. Segera dibukanya plastik penutup makanan di nampan.
"Aku suapi,,,, bukalah mulutmu, encik Shin,," Dhiarra buru-buru menyendok nasi dan lauk sayur dari mangkuk-mangkuk kecil di nampan. Mengarahkan sendokan ke arah mulut Shin Adnan.
"Encik Shin, aku tidak lupa akan statusku sekarang. Aku istrimu... Tapi biarkan aku selesaikan dulu kerjaku pada Azlan. Setidaknya sehari ini saja. Aku akan cakap sendiri pada Azlan, bahwa aku tidak lagi buat kerja di tempatnya," Dhiarra berbicara sambil terus menyendok makanan dan menyuapkan. Terus menyuapi dengan sesekali mengulur gelas minum pada Shin.
"Hemmmm,,,,," lelaki yang terus mengunyah bersemangat itu mengangguk-angguk dan bersikap cukup manis. Tangannya terus diam di tempat. Tidak lagi mengulur sentuh pada Dhiarra. Mungkin sedang sangat mengendalikan diri agar tidak menyulut sendiri hasratnya.
Makanan di mangkuk-mangkuk dalam nampan itu telah terlibas. Tidak perlu waktu lama bagi Dhiarra untuk menghabiskan suapannya. Shin bersikap apa adanya. Tidak memperlambat atau pura-pura lama untuk menghabiskan makanannya.
"Encik Shin, dah habis kan? Aku kembali ke bawah, yaaa.. Azlan memintaku untuk mengantar pesanan food delivery. Pasti driver sudah menungguku di depan,," lemah lembut gadis itu mengatakan tugasnya pada Shin.
"Sebenarnya aku sedang menunggu datangnya handuk untuk mandi, Raa,," Shin berkata dengan menahan senyuman. Alis golok tebalnya sedang naik sedikit.
Dhiarra yang mulai paham akan segala bahasa yang Shin gunakan, nampak merona pipinya.
Segera mengambil nampan dan mangkuk kosong lalu berdiri.
__ADS_1
"Maaf ya, encik Shin. Aku harus keluar, sebelum Azlan mencariku ke sini." Ada kesan panik di wajah Dhiarra.
Shin juga berdiri sejajar Dhiarra. Mengamati gadis jelita itu sejenak.
"Segera ajukan pengunduran diri pada Azlan. Aku akan membawamu ke suatu tempat yang indah. Dan tak seorang pun bernyali mengganggumu," Shin Adnan berkata serius namun juga sambil tersenyum.
"Kita pergi ke mana, encik Shin,,?" tanya Dhiarra dengan mata bintang beningnya memandang Shin ingin tahu.
"Kita pergi ke pulau Langkawi. Pernah dengar?" tanya Shin dengan lembut.
Dhiarra mengangguk. Pulau yang pernah disebut sarankan oleh Hisyam untuk dikunjungi Shin dan Ladisa waktu itu.
"Aku paham, pulau itu sangat cantik dan menakjubkan, encik Shin." jawab Dhiarra penuh harap.
Shin mengangguk dan terus tersenyum teduh pada Dhiarra. Sangat puas dengan sambutan antusias yang ditunjukkan Dhiarra akan idenya.
Tok,,,Tok...Tok....Tok...!
Ketukan mengejutkan di pintu, membuat wajah mereka sangat pias merona bersamaan. Segera menduga pada siapa saja yang telah mengetuk pintu dari luar. Antara Hazrul atau juga Azlan sendiri...
📚📚📚📚📚📚
📓📒📒📒📒📓
📚📚📚📚📚📚
💻💻💻💻💻💻
Readers tersayang...
Terimakasih dah memberiku segala dukungam dan hadiah.. Vote dan bintang.. Atau apapun bentuk hadiah aprisiasi darimu.. Jazakillah pokoknya...
Terimakasih dengan sekala komen jejak yang kalin tulis tinggalkan untukku...
__ADS_1
Yang telah meninggalkan jejak komen dalam tiap bab dan chapter.. Bahkan sering dobel..tripel..mopel demi memberiku semangat... Demi menghidupkan kolom komentar tiap babnya... Haru tak terkata..!
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘