
Gadis Indonesia pendatang telah berias tipis dan natural siang ini. Hanya ingin menutup aura pucat sebab stamina badan yang menurun. Dan penampilan khas alami itulah pembuat si gadis semakin nampak anggun.
Baju yang dibilang kusut, telah ditanggal dan ditukar dengan baju cantik yang dikata steril dari koper. Dhiarra sangat mempesona memakai dress baru yang dipilih dengan acak dan cepat oleh Shin dari stok gudang milik orang tuanya.
Semua perlengkapan penting telah dibawa bersama tas kecil di bahu. Dhiarra bersiap keluar kamar sebab merasa tengah hari telah habis. Tidak ingin jadi objek yang ditunggu, kaki itu melangkah cepat meraih gagang pintu.
Ceklerk..!
Melewati pintu lalu menutup dan tidak mengunci. Dhiarra merasa tidak berhak menguncinya. Sebab hanya menumpang sebentar saja, serta tidak ada barang berharga yang ditinggal dalam kamar, kecuali koper hadiah itu.
"Air sudah mengalir di kamar mandimu?" Dhiarra terkejut.
"Kau tidak menguncinya?" terdengar lagi suara Shin yang tiba-tiba sudah berdiri di samping.
"Encik Shin,,, " Dhiarra tertegun.
"Tidak ada barang berharga yang saya tinggal di dalam," menjawab sambil sedikit mendongak memandang Shin.
"Apa seluruh baju basimu juga di dalam? Akan kusuruh pegawai laundry mencucinya. Agar bisa kau bawa serta malam nanti," mata Shin menelusur penampilan Dhiara sekilas.
Dhiarra memandang tajam pada Shin, namun tidak tahu harus berkata apa saat itu. Perasaannya sedang bercampur aduk terhadap Shin. Antara malu, haru, dan sebal. Rasa terimakasih yang tersimpan telah tertimbun oleh ucapan Shin yang berbau arrogant padanya. Namun terpaksa mengangguk juga akhirnya.
"Ayolah turun. Mereka sudah menunggu," Shin memandang Dhiarra dengan ekor mata melirik ke tangga, bermaksud agar gadis itu berjalan di depan.
Dengan mulut yang membungkam rapat, Dhiarra berbalik dan berjalan cepat di depan. Pemilik mata laser berjalan tenang namun panjang di belakang. Membuntuti dengan pandangan puas pada baju yang menempel indah di tubuh Dhiarra meski hanya dipilih dengan cepat dan asal. Shin membuang senyuman yang terlepas bebas dari bibir tipisnya.
🍒
Perjalanan menuju menara kembar Petronas diselingi dengan obrolan Azlan dan Dhiarra yang duduk sebangku di belakang. Sedang Shin dan Sazlina duduk di bangku depan tanpa keluar satu pun suara.
"Dhiarra, banyak masa kau telah tidur yaa,," Azlan telah bertanya-tanya apa saja yang gadis itu lakukan di kamar.
__ADS_1
"Tak sengaja aku tertidur, Azlan,," senyuman tipis Dhiarra mengembang.
"Kau kena belajar berenang dengan baik, agar lama-lama kau tak jadi gemuk. Jika kat Penang, akan kuajar berenang. Nak tak, Dhiarra,,?" Azlan sungguh-sungguh menawari.
"Baik, encik Azlan. Sila tunjuk ajar padaku, cikgu,," Dhiarra tertawa sendiri dengan jawaban jenakanya. Azlan tertawa juga kemudian.
"Apa hal zaman dah modern macam ini, tak boleh (bisa) berenang pulak?" Sazlina tiba-tiba menyahut dari depan.
"Dah lah Saz, tak payah usik kami lah. Duduk bercakap-cakaplah dengan abang Shin. Malam nanti kalian dah tak saling tengok lagi dah,,," Azlan menggerutu pada Sazlina.
Senyap,,,tak ada tanggapan apapun dari dara Malaysia yang duduk di depan. Sazlina bergeser duduk lebih merapat lagi pada bahu lebar Shin. Dengan tak peduli pada dua rekan di belakang, seperti biasa Sazlina menggelayutkan dirinya pada Shin. Seperti biasa juga, lelaki itu membiarkan saja tak peduli. Entah sadar atau tidak jika sikap acuhnya justru membuat Sazlina semakin tak mampu untuk move on.
"Macam dah nak kawin saja daah,,, Dunia just milik dua orang, yang lain menumpang,," Azlan mengusik balas pada Sazlina. Tapi yang diusik seolah sedang tuli.
Gadis yang duduk belakang di samping Azlan membuang pandangan. Sangat enggan melihat penampakan gerah yang kembali mengganjal di mata. Rasa janggal tak biasa kembali mengusik dirinya. Berharap perjalanan pendek ini segera sampai saja di destinasi.
🍒
"Terimakasih, bang!" Azlan tengah menerima paket kotak makanan yang dia pesan melalui online.
Mereka memang belum makan siang. Shin ingin mendapat makan siang di resto favoritnya dalam menara kembar KLCC. Namun justru berakhir pada keinginan Azlan untuk makan siang terbuka di tepi telaga indah KLCC Park.
Semua turut setuju bergembira. Duduk menghampar di atas rumput hijau tanpa alas begitu saja. Bersiap untuk memulai makan siang mereka yang terlambat.
Bungkusan besar berisi kotak-kotak bermacam menu dan makanan telah dibentangkan panjang lebar seperti sedang di tata pada meja. Meski sebenarnya ada rasa kaku, mereka coba berbaur dalam canda dan senyuman.
Yang keseringan memang Azlanlah yang melempar canda kelakar dan jokian. Dan itu sukses membuat mereka tertawa, terpingkal dan terjungkal. Lebay....
Hal yang sangat hampir tidak mungkin dilakukan oleh mereka di tengah kesibukan kerja dengan posisi dan tanggung jawab masing-masing. Terlebih lagi Shin, yang bahkan hampir tidak pernah bercuti, kini berkali-kali lelaki itu nampak mengambil nafas dengan wajah terlihat sangat cerah dan segar.
Sepertinya Shin Adnan sangat menikmati moment seperti itu kali ini. Lupa sesaat pada urusan order baju, pada seluruh klien, serta urusan laba dan rugi. Shin hanya nampak tersenyum dan tertawa. Alis golok itu terus saja merenggang, tak sekalipun nampak merapat dan bertaut.
__ADS_1
"Permisi..! Excuse me,,!" suara bariton nyaring terdengar tiba-tiba.
Keempat bujang yang tengah bersiap makan itu menoleh serempak pada arah suara bersamaan.
Mendapati seseorang telah berdiri gagah tak jauh dari posisi duduk mereka. Menatap tersenyum tipis pada Dhiarra.
"Hai, gege Chen,,!" Dhiarra yang merasa kenal berseru sambil reflek berdiri. Tak menyangka akan bertemu tauke besar obat saat itu di sana.
"Ya. Apa kabar, Dhiarra? Bagaimana kau di sini?" sekilas mata Chen memandang Shin , Azlan dan Sazlina, lalu memberi angguk sapa yang samar.
"Aku ikut bos baruku, gege Chen," mata itu sambil melirik pada Shin yang ternyata juga sedang memandang Dhiarra dengan alis golok yang merapat.
"Gege Chen, aku ada perlu denganmu," Dhiarra melirihkan suara.
"Ada apa?" Chen memandang heran. Lalu bergeser mengikuti Dhiarra yang berjalan menjauh.
Dhiarra nampak berbincang sesuatu pada Chen. Lelaki putih itu kemudian mengangguk dan paham. Mereka bercakap-cakap sebentar. Chen lalu berjalan sendiri menjauh dan menuju tempat parkir.
Dhiarra kembali pada kumpulan bujangnya.
"Encik Shin, aku pergi sebentar ke tempat parkir. Ada sesuatu yang akan kuambil pada lelaki tadi," Dhiarra tengah izin dengan sopan.
"Siapa dia?" Azlan telah berdiri dan mendekati Dhiarra.
"Bos aku saat jual obat kat Sentral, Azlan," Dhiarra menyahut.
"Itu dah bekas bosmu, Dhiarra,,!" suara stereo menyela tiba-tiba.
Dhiarra memandang Shin yang sedang melihatnya dengan alis dan dahi berkerut.
"Iyalah, encik Shin,,!" jawaban itu bersamaan dengan tubuh Dhiarra yang berbalik menjauh. Berjalan menuju tempat parkir menyusul Chen yang nampak berdiri menunggu di mobil besarnya yang mewah.
__ADS_1
Azlan dengan sigap mengikuti Dhiarra merasa penasaran. Sebab Chen Lei terlihat bukan lelaki sembarangan. Gaya dan nada bicaranya menampakkan bahwa dia adalah lelaki berkelas. Bagaimana Dhiarra bisa berkawan dengan lelaki China itu, dan bahkan terlihat telah cukup rapat..