
Masih dalam hitungan lima hari dan itu serasa berminggu lamanya. Dhiarra telah dipingit sementara oleh datin Azizah dan keluarga di rumah besar mereka di Kuala Lumpur. Hingga datang hari H di mana pesta perkawinan bersama Shin akan berlangsung dua hari lagi.
Selama dalam penantian menunggu hari perkawinan tiba, Dhiarra terus mendapat pelayanan segala perawatan di seluruh tubuhnya. Meliputi kecantikan dan kebugaran dari pusat Beauty and Healthty di kota Kuala Lumpur, atas pilihan Fara dan sang mama.
Pegawai dari paket kecantikan itu mendatangi Dhiarra setiap hari sebanyak dua kali sehari di rumah besar Kuala lumpur. Keseluruhan pegawai adalah wanita, dan itu membuat Dhiarra merasa nyaman untuk mengikuti apa pun saran dan instruksi yang pegawai itu inginkan.
Jija di pagi hari, gadis jelita pingitan itu mendapat arahan dan latihan untuk kebugaran fisik meliputi, senam, jogging, yoga dan bahkan berenang. Dhiarra telah mulai diajari renang dengan tekhnik awal dasar pergerakan dan pernafasan saat berada dalam air. Juga makanan dan minuman apa yang dianjurkan serta apa yang harus dihindarinya.
Untuk petang hari, calon ratu sehari itu mendapat perawatan kecantikan tubuhnya luar dalam. Kulit, rambut, mulut, dan miss vi serta yang lain-lain, tidak luput dari gosokan tangan lembut dan telatan dari para pegawai perawatan. Dan sebagaian Dhiarra meminta diri sendiri untuk melakukan jika itu terlalu privacy baginya. Yang tentu saja mereka pun menghargai sepenuhnya privacy pilihan Dhiarra.
Perawatan yang sangat nyaman itu berakhir dengan pijatan lembut di tempat tidur hingga Dhiarra terlelap tidak sadar. Terbangun saat semuanya telah pergi dan dirinya sendirian di atas tempat tidur. Seperti itulah pelayanan khusus yang diberikan pada Dhiarra dan sudah berjalan selama hampir satu minggu lamanya. Calon pengantin jelita itu merasa sedang sangat dimanjakan oleh keluarga sang suami.
Dan hampir satu minggu ini juga, Dhiarra dan Shin tidak pernah saling bertemu. Kebersamaan setelah mendarat di bandar udara internasional Kuala Lumpur seminggu lalu adalah pertemuan terakhir sementara bagi mereka berdua.
Shin kembali ke Melaka bersama Idris menggunakan taksi biru. Sedang keluarga datuk Fazani membawa Dhiarra kembali sementara ke rumah besar di Kuala lumpur. Mereka dijemput oleh sopir keluarga yang sudah standby menunggu di bandara KLIA, jauh sebelum pesawat yang ditumpangi mendarat.
Tak ada percakapan berarti yang dilakukan Dhiarra dan Shin di saat bersama yang terakhir kali di bandara. Hanya sempat saling memandang tak sengaja dan itupun juga lupa untuk saling melempar senyum sebagai kenangan perpisahan. Menyadari rasa hampanya ketika masing-masing telah berjalan dibawa sang sopir ke arah yang saling berlawanan.
Dan rasa hampa itu sangat terobati saat Fara membawanya naik ke lantai dua dan tiba-tiba memasukkan Dhiarra ke dalam kamar sang abang. Fara tersenyum dan berkata bahwa itu adalah kejutan spesial permulaan dari keluarga untuk Dhiarra agar selalu bahagia.
Jadi di kamar boss garment itulah kini Dhiarra ditempatkan. Dan ini memang sangat kejutan yang sedang dirasakan Dhiarra. Sungguh, merasa bersyukur dengan ketulusan dari keluarga datuk Fazani padanya.
Menguasai kamar Shin Adnan sendirian. Bebas memandang dan menempati ruang di setiap pojokannya. Sesuka hati memandang foto Shin di pigura itu setiap saat semaunya. Leluasa bernafas mengambil udara yang bernuansa aroma Shin sepenuh paru-paru di dadanya. Selama mungkin menggunakan kamar mandi dan berendam lama di bathup jumbo itu sepuas raganya.
Dhiarra bahagia dengan senyum tak pernah meluntur dari wajah cantiknya. Berdebar setiap saat dan terkadang panas dingin tanpa sebab tiba-tiba.
Meski Shin belum juga memberi kabar sepatah pun di ponsel, tapi perasaannya tetap nyaman dan kepalanya juga rasa aman. Perlakuan keluarga mertua yang kelewat memanjakannya dan kini sedang ditempatkan di kamar Shin adnan, membuat Dhiarra selalu percaya dan tenang.
Namun keinginan untuk segera bertemu semakin saja menebal. Rasa rindu yang kian menumpah ruah di dadanya lah penyebab Dhiarra semakin berdebar saat ini. Terlebih saat berkhayal bebas di pembaringan luas sang suami. Dhiarra kerap kali merasa panas dingin kapan saja. Rasa yang sedang menyiksa jiwa raganya di pagi,sore, siang, malam, dan bahkan seharian.
Calon pengantin itu memang sedang sangat dipualamkan serta dimanjakan. Namun rasa kesepian dan tanpa teman, membuatnya lebih memilih untuk sering bergulingan di pembaringan luas itu sendirian. Fara dan mertua seperti sedang sengaja memberinya siraman siksa rindu pada Shin Adnan, suaminya.
🍒🍒🍓🍓🍓🍒🍒
Tok..Tok..Tok...!
__ADS_1
Bunyi ketuk di puntu yang tak disangka, penyemangat Dhiarra untuk melaju datang membuka pintu kamar. Entah sesiapa pun di luar sana, yang jelas tidak mungkin Shin Adnan. Sebab, datin Azizah telah memutuskan bahwa pertemuan Dhiarra dan Shin adalah saat mereka duduk bersama di pelaminan.
Crklerk..!
Wajah cantik Fara yang nampak lelah sedang tersenyum manis di pintu.
"Kak,, jom keluar. Dah masa makan malam,," Fara berkata dengan menarik lengan tangan Dhiarra. Sejenak mengamati wajah dan seluruh penampakan Dhiarra. Fara kembali tersenyum dan menggigit bibirnya sendiri.
"Patut laahh, abang Shin pilih akak. Akak kena perawatan kejaap jee, dah macam berlian... Pintar sangat laah, abangku pilih perempuan buat istri dieee..." Fara kembali menarik tangan Dhiarra menuju tangga untuk turun ke meja makan.
"Fara, lama tak nampak,,Sibuk? Sorry ya Fara, kau penat kee?" tanya Dhiarra lembut. Merasa segan dan iba pada Fara yang nampak penat wajahnya.
"Ish..Tak pe lah kaak... Fara sukee, abangku dah jumpa sama akak. Dah sedie nak kahwin cepat-cepat, meski dikata pun lampat juga, ha..ha.." Fara tertawa ceria sambil terus menyeret Dhiarra turun tangga.
"Tak nampak orang, Fara,,,? Papa sama mama, mana,,?" tanya Dhiarra. Meja makan masih kosong.
"Tengah jumpa kerabat dekat yang terlewat kena lawat kabar. Aku pun patutnya kena ikut juga, tapi Fara pikir tak perlu laah. Kasian akak sering sorang-sorang,," kata Fara sambil menarik kursinya.
"Persiapan pesta perkawinan kami tuh, rumit sangat kee, Fara,,?" tanya Dhiarra segan namun ingin tahu.
"Fara, pesta kawin kami di buat kat mana? Kota Kuala Lumpur atau kat Melaka,,?" tanya Dhiarra ingin tahu. Juga sambil mengisi piring dengan sedikit nasi, lauk dan sayur.
"Sebenarnya, mama dan papa nak buat kat KL. Tapi bang Shin nak sangat buat kat Melaka. Dia kata, relasi serta kawan dia melimpah juga kat Melaka. Akur sajalah, parents kak. Risau pulak jika tiba-tiba abang merajuk tak nak dikahwinkan. Ha..ha.ha.." Fara kembali tertawa tiba-tiba.
"Tepatnya Melaka mana, Fara,,?" kejar Dhiarra dengan lembut.
"Ha..ha..ha..Kakak nak tahu sangat kee? Nak mengkhayal tempat tuu sama bang Shin yee,,?" Fara senyum-senyum tak menjawab.
"Ha..ha..ha.. Tak macam itulah, Fara,," Dhiarra pun ikut tertawa dengan wajah pias merona biasanya.
"Iya laah tuu. Pipi akak dah macam tomat merah.. Masih kurang tempat khayal kee? Kakak dah kubagi kat kamar abang Shin, agar saat first night nanti akak kian hooot. Tapi masih nak khayal tempat lain? Ha..ha,,ha..!" Fara tak segan kembali tertawa. Dhiarra memandang sang adik ipar dengan menahan senyuman.
"Fara, kau dah ada boyfriend spesial kee?" tanya Dhiarra tiba-tiba.
"Haah..Asal pula akak tanya pasal aku,,?!" bibir manis gadis itu perlahan mengatup.
__ADS_1
"Aku pikir Fara pandai sangat daah. Diam-diam pun nak kahwin juga kee,,ha..ha..ha.." kini Dhiarra yang balas tertawa untuk Fara.
"Akak bijak laah..Aku memang teringin juga nak kahwin, tapi tak jumpa-jumpa boy friend yang tepat,," sahut Fara pura-pura mengeluh.
Dhiarra tertawa mendapat respon dan ekspresi Fara yang jujur.
"Belum pernah ada boyfriend,,?" tanya Dhiarra terheran. Fara sangat cantik. Pasti banyak lelaki yang antri untuknya.
"Belum pernah, kaak... Ada pernah satu yang Fara suka,, dia pun juga suka. Eh, ternyata dia dah kawin, kaak. Batal dekat-dekat daaah,,ha..ha.." Fara tertawa kecil sendiri.
"Betul tuu, Fara. Hindari saja hal semacam ituu,," Dhiarra perlahan menimpali.
"Hi..hi..hi..,," tiba-tiba Fara terkikik.
"Kenapa, Fara?" tanya Dhiarra terheran.
"Akak pun pernah ikut lelaki berkahwin kan?" Fara menatap Dhiarra serius.
"Jangan cakap ikut, Fara..Hanya hampir,,tak sama,," lurus Dhiarra.
"Tapi masa tuu, akak pilih dia pun daripada pilih abang Shin," protes Fara. Seperti tiba-tiba teringat akan tingkah Shin yang menyedihkan saat lalu.
"Faraa,,tak macam ituuu.. Sebetulnya aku dah niat nak putus dari tunangku. Aku dah suka pada abangmu tuu Fara, cuma aku tak sedar. Hingga aku ikut balik Indonesia. Jika masa boleh ditukar balik. Meski Adrian belum kahwin pun, aku tak nak tinggalkan abangmu. Aku bersumpah dah, Faraa,,,"
Dhiarra menerangkan dengan lembut. Tak ingin Fara terus bersalah sangka padanya.
"Betul kee, kak?! Ish,,so sweet sangat laaah. Eh, akak nak kubagi file video, tak? Tapi ini file keluarga, tak boleh bocor,," Fara tiba-tiba berkata dan sedikit berbisik.
"Video apa, Fara?" Dhiarra tertarik penasaran.
Memperhatikan Fara yang tengah memainkan ponsel dan sedang mencari-cari sesuatu.
"Nah, dah sent kak,, nanti akak tengok video tuu kat ponsel akak yaa..." Fara tersenyum nampak aneh.
Dhiarra mengangguk. Mempercepat laju makannya demi ingin segera kembali ke kamar. Ke kamar Shin Adnan untuk segera memeriksa video dari Fara di ponselnya.
__ADS_1