
Tidak ada kesempatan untuk Shin mengambil peluang berlebihan di saat kesempitan. Baru saja menunai ritual sunah pengantin habis maghrib, para keluarga menjemput untuk makan malam bersama para kerabat yang tersisa. Dan berlanjut dengan ajakan sang datuk pada Shin untuk berjamaah Isya bersama di Masjid Besar Melaka Bandaraya. Sedang Dhiarra diantar Fara untuk standby kembali di kamar pengantin mereka.
Sangat resah menunggu sang suami kembali. Duduk gelisah dan sebentar-sebentar berdiri. Menyandar sebentar di kaca cermin mengamati sudah layakkah dirinya..
Lingerie transparant sangat wangi, lembut, dengan setali di bahu dan juga warna biru tua lagi, yang disiapkan oleh mama dan fara, telah melekat meresahkan di tubuh indahnya. Istri jelita itu sangat ingin membuat sang suami semakin bersemangat menyentuhnya malam ini.
Ting,,! Mendenger tegang Dhiarra. Bunyi yang menandakan Shin telah sampai di pintu.
Ceklerk! Semakin tegang berdebar hati Dhiarra. Menunggu lelaki yang mendebarkan itu nampak muncul di pintu.
Lelaki meresahkan yang sedang ditunggu, telah menutup dan mengunci pintu. Sedang berbalik badan dan mendapati sang istri sedang berdiri memandangnya.
Shin takjub memandang, terpesona dengan penampilan yang disuguhkan Dhiarra seperti itu untuknya. Bergegas cepat mendekati dan takjub sekali lagi pada wajah istrinya yang polos dan jelita. Tidak ada sisa make up sedikit pun lagi di wajah cerahnya.
"Raa, apa aku lama?" tanya Shin merasa sangat susah bersuara.
"Iya, hon Shin,,, kurasa sangat lama. Apa akan keluar lagi,,?" tanya harap dan resah Dhiarra.
"Tidak akan keluar lagi. Kecuali denganmu." Shin berkata sambil menyentuh sedikit rambut halus di kepala Dhiarra.
"Tunggu diriku.. Aku akan mandi lagi sebentar saja, Raa,," Shin menaikkan alis sedikit dan tersenyum. Tanpa menunggu anggukan, meluncur cepat ke dalam kamar mandi. Udara Malaysia di luaran memang sangat gerah malam ini. Mungkin Shin sedang merasa tidak nyaman di kulit tubuhnya.
Ceklerk,,!
Degh,,! Tegang setengah jantung rasanya. Shin memang mandi sangat cepat dan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk mini sebatas pinggang. Shin tidak mengenakan bajunya lagi. Dhiarra sedang berdebar sangat tegang sekarang.
Shin telah berdiri rapat di depannya dengan aroma sabun sangat wangi. Tubuh sempurna itu menghampar seperti akan menelan Dhiarra ke dalamnya.
"Raa,," panggil Shin sambil mengulur tangan memegangi wajah Dhiarra. Mereka saling bertatapan dengan jantung di dalam dada jumpalitan. Tangan itu bergerak dengan jari yang menyentuh bibir Dhiarra dan mengusapinya sangat lembut. Pemilik bibir basah itu sedang meremang berdesir darahnya.
Augh,,! usapan jari itu telah terganti dengan tempel dan sentuhan lembut bibir Shin Adnan di bibir sensual Dhiarra. Bibir tipis Shin yang diam memempel, berubah perlahan menjadi memaghutt,,menghisapp,,,dan mellummatt..
Tak tahan lagi Dhiarra menyambut. Saling berpagutan dan bergelut lidah dalam mulut. Berebutan mencari puas dan nikmat. Saling beradu gummam,,,dessah,,, dan decap..
Mereka menumpah hasrat dan rindu melalui ciuman panas di bibir itu sangat lamaaa... Dengan tangan saling memeluk dan meraba di mana-mana pun yang diingin dan disuka. Dan mereka terlihat seperti sedang saling menyerang di posisi berdiri.
__ADS_1
Merasa sudah tegang tak terkendali, Shin mengangkat Dhiarra tiba-tiba dan merebahkannya di ranjang dengan gemas dan cepat. Lelaki yang terlihat sedang sangat garang itu sudah poloss tanpa handuknya lagi yang menutup.
Entah bagaimana Dhiarra telah menarik lepas handuk itu demi kebebasan tangan halusnya menggerayang dan bermain. Dan kemiangan tangan Dhiarra itu sukses membuat Shin kian mabuk kepayang tidak tahan.
"Raaa,,, akan kulakukan apa yang sudah kita tahan sangat lama itu. Kau rela?" bisik Shin parau di telinga wangi Dhiarra.
"Lakukan, hon Shin. Aku rela, sudah tak tahan rasanya," Dhiarra bicara jujur dan tersenyum. Ingin sang suami merasa semakin bersemangat dan panas.
Mendengar itu,,, seperti kuda liar yang habis kena cambuk saja Shin Adnan. Tubuh indah yang sudah dipolosinya sedari awal itu ditindihnya merapat perlahan. Kembali meraup habis bibir basah Dhiarra dengan bibir panasnya.
Dengan tangan yang terus bergerak lembut dan kadang nampak cepat memainkan berbukitan Dhiarra di dadanya. Sesekali menghentak puncak bukit itu seperti akan mencabut rumput saja gerak jarinya. Saat begitu, tubuh Dhiarra akan melenting dan mendesah tertahan. Shin Adnan masih sambil melumhat rakus bibirnya.
Wajah tampan itu telah bergeser pindah mengikuti gerak bibir dan mulutnya menuju lekuk leher Dhiarra. Mengeluss dan menghisapp dengan lidah panasnya. Menyapu seluruh permukaan kulit leher Dhiarra. Saat begini,, suara dessahh Dhiarra telah begitu bebas terdengar keluar.
Wajah dan kepala telah bergeser makin ke bawah lagi, menemani gerak tangannya yang terlebih dulu sampai dan berkuasa menjelajah di sana. Kini wajah dengan bibir dan mulut juga leluasa menelusuri seluruh area perbukitan. Kompak bekerjasama dengan tangan kekarnya untuk bermain nikmat di sana. Dhiarra seperti ikan menggelepar banyak kali tapi bukan pingsan.
Sudah terlalu lama menyandar bibir dan lidah di bukit-bukit dan puncak-puncak dada indah itu. Kepala gentle perlahan merayap turun menulusuri dengan hidung, bibir dan lidah basah andalannya. Bermusafir di hamparan kulit halus mulus dan menyisir hingga ke ujung benua di kakinya.
Dhiarra berdesis dan histeris merasa teruja. Merasa geli dan begitu panas dingin di mana-mana. Merasa desir-desir nikmat diseluruh tubuhnya. Dhiarra terhanyut, mengawang dan serasa tak sadar.
"Akan kumasuk kan, Raaaa...Kau siap?" tanya Shin dengan suara serak terengah.
"Iy..yya..Hoon Shiinn.." jawab Dhiarra yang juga tak kalah terengah.
Shin tersenyum penuh kabut dan gelap. Lebih merapat lagi ke tubuh sang istri. Memanasi lagi di bibir ..leher dan dada Dhiarra. Dengan kapitan tegak keras di bawah sana yang terus menggesek gerak melumasi.
Sangat panas tegang Dhiarra mencengkeram punggung Shin Adnan menunggu. Dhiarra tidak lupa bagaimana rasa sakitnya. Dan mungkin akan lebih sakit lagi saat Shin benar-benar melakukannya. Namun Dhiarra telah benar-benar siap sekarang. Dan itulah guna segala terapi dan perwatan yang sukses diikutinya selama ini.
"Aauuwwwh....Hon Shiiiiiinn...!!!"
"Aaaarrrggghh...Raaaaa...!!!"
Seru bibir cantik itu histeris. Bersamaan dengan erang raung Shin Adnan di wajahnya.
Keduanya saling memandang tercengang dengan mata yang melebar sempurna. Dan kemudian saling tersenyum pias bersamaan.
__ADS_1
"Raa,, kurasa ini berhasil. Sakit?" tanya bisik Shin sangat parau.
"Sedikit, hon Shin. Tapi itu tak masalah. Lakukanlah. Pelan-pelan, hon Shin,," pungkas Dhiarra dengan engah nafasnya.
"Raaa,,,, Love you, Raaa,,," bisik Shin di bibir Dhiarra.
"Love you more, hon Shin,," sambut Dhiarra.
Dengan cepat Shin menyambar bibir lembut itu. Kembali bermain saling adu hisab dan ***** di mulut. Tangan Shin juga menyisir aktif di bukit puncak dadanya. Berusaha kian memanasi sang istri tercinta.
Dhiarra sempat memekik saat Shin mulai menggerakkan sang kapiten di dalam lubang dalam misss Vii nya. Tangan yang sempat membelai elus punggung sang suami, kini kembali mencengkeram kuat dan tegang.
Hanya sementara, berganti dengan suara panas dari kedua insan yang telah sah dan sedang memadu cinta bersama. Mengerrangg,, menndessahh,, dan mellenguhh,, sebab rasa nikmat tak terkata yang tengah diarungi bersama. Mengejar puncak nikmat hingga dititik tuju kepuasan bersamaan.
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
"Dah, hampir subuh, hon Shin.. Dah berapa kali kita?" tanya Dhiarra manja dalam pelukan suaminya. Sisa engah dan keringat nampak jelas di wajah mereka berdua.
"Aku tak menghitung, tapi kita juga sempat makan, Raaa,," sanggah Shin agar Dhiarra tidak memojokkannya.
"Aku mengantuk, ingin tidur, jangan bangunkan lagi ya, hon Shin,,?" ucap Dhiarra berbisik. Namun matanya begitu bening, ucapan rasa mengantuk itu seperti hanya ucap bohong belaka.
"Iya... Tapi entah jika selepas subuh, aku nak ulang lagi, Raaa..." Shin tersenyum, mencium rambut kepala Dhiarra yang dipelukinya sangat hangat. Mereka berselimut sebatas leher dengan lingerie dan handuk yang terus berserakan di lantai.
"Pukul berapa petugas roomkeeping datang, hon Shin?" tanya Dhiarra kian bergelung merapati tubuh suaminya. Menjelang subuh udara sangat dingin.
"Sekehendak kita saja, Raaa,,, Kenapa?" tanya Shin mengelus punggung halus Dhiarra.
"Aku malu dengan noda merah yang sangat lebar ini" sahut Dhiarra. Noda merah miliknya telah dilapisi dengan selimut lainnya demi menggunakan ranjang lagi semalaman.
"Biarlah, tak yah malu.. Bahkan seluruh dunia pun dah maklum hal semacam begini, Raa,,," hibur Shin Adnan.
"Iya, hon Shin. Ayolah kita tidur," ajak Dhiarra memeluk dada suaminya.
"Tidak, Raa... Jangan tidur. Berilah satu kali lagi saja. Subuh masih lama, Raaaaaaa,,," rayu Shin pada sang istri.
__ADS_1
Tidak menunggu angguk Dhiarra lagi. Shin telah mulai beraksi sekaligus kembali bereaksi. Lelaki itu sangat bersemangat membangunkan hasrat istrinya. Benar-benar memanfaatkan moment di malam pertamanya. Shin mengarungi malam pengantin bersama Dhiarra tanpa membuang waktu sedikit pun..