Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
69. First Kiss


__ADS_3

Jika itu adalah pemaksaan, Dhiarra sedang mendapat paksa mengejutkan yang kini berubah jadi nikmat yang nyata. Menjadi sukarela menerima dan mulai balas diberinya.


Tangan yang erat memegang keranjang bahkan telah sempat memukul badan besar Shin dengan benda itu, kini telah lunglai mencengkeram lembut leher Shin dan terkadang menggenggam rambut lebat sang paman. Sesekali berjinjit untuk mengejar tautan dan hisapan bibir yang hampir saling terlepas di mulut. Kekuatan Dhiarra sebagai gadis yang mengerti bersilat, seperti tanpa makna di hadapan Shin.


Tubuh Dhiarra perlahan telah habis menabrak dinding di sebelah pintu kamar. Shin sedang benar- benar merapatkan tubuh pada Dhiarra yang kini nampak nyaman tanpa geser mundur sedikitpun. Mereka tenggelam dalam lummat, paggut, hisapp dan saling gigit sesekali. Kedua pemula itu melakukan bersama dengan insting hasrat menggelora.


Tangan kiri Shin memegangi leher tengkuk Dhiarra dengan tangan kanan menempel erat di punggung cantiknya. Berusaha saling memberi nikmat ternyaman dari keintiman mereka saat itu. Keduanya telah larut dalam ciuman terdalam dengan lenguh samar yang sesekali terdengar. Bunyi decap lidah pun juga lolos di sela pagutan nikmat dari mulut mereka yang panas dan basah.


Mereka saling menjauhkan wajah saat merasa nafas di dada telah sesak dan terengah yang parah.


Wajah cantik yang jelas pias merona itu merasa malu saat membalas pandang pada lelaki penuh kabut dan hasrat di depannya. Hanya dada gentle yang terengah dan sedang mengeluarkan nafas panaslah tempat nyaman untuk matanya lurus memandang.


"Ra,,,Dhiara,,," suara stereo itu terdengar memanggil dengan lembut dan serak. Dhiarra jadi bisu dan tuli kembali. Hanya kedip mata bintang itulah penanda respon dengar pada panggilan Shin Adnan.


Membuat Shin hampir kalap dan berfikir untuk menarik Dhiarra ke tempat tidur saja saat itu.


Shin memegang tangan lembut yang menempel kaku tanpa gerakan apapun di dada kekarnya. Tangan yang selalu meremmass leher dan rambut Shin barusan itu telah meluncur turun ke dada dengan cepat saat bibir mereka merenggang.


"Ra, Dhiarra,,,,,,, jawablah dengan jujur," Shin memandang wajah merona yang terus saja lurus menatap dadanya.


"Ra, apa kau sering malakukan ini dengan Adrian?" Shin benar-benar bertanya tepat di telinga Dhiarra sangat lembut.


Tiba-tiba tangan lembut dalam genggaman tangan Shin itu menghentak ingin lepas. Namun Shin lebih menangkap eratnya dan membawa kembali menempel ke dada.


"Anda merendahkanku. Pertanyaanmu menyakitiku, encik Shin," suara tercekat Dhiarra terdengar ketus dan lirih. Sangat malu dan kecewa akan cara Shin bertanya padanya.


Mendapat respon Dhiarra begitu, rasa bersalah dan menyesal menghantam Shin Adnan. Dipeluk erat kembali tubuh kaku yang indah di depannya. Shin tak ingin menodai moment indah terakhir ini dengan kesalah pahaman yang menyesakkan.

__ADS_1


"Maafkan aku. Maafkan suamimu ini, Ra.. Apa aku yang pertama kali melakukannya padamu?" lebih lembut lagi Shin bertanya.


Bukan jawab angguk yang diterima oleh Shin. Tapi Dhiarra sedang tersengguk menangis di dadanya.


"Ra, kau menangis? Maafkan aku,,,," Shin semakin erat memeluk tubuh padat, lembut dan wangi yang didekap. Meletak wajah menangis itu di dada lebarnya.


"Aku mencurangi Adrian. Aku tak pernah membiarkan Adrian melakukannya," tersendat Dhiarra mengatakan hal itu pada Shin.


Sebutan saya telah berubah menjadi aku. Perasaannya pada Shin begitu campur aduk saat itu. Tapi tak ada kemarahan ataupun kebencian yang dirasa. Hanya sedikit kecewa atau terkejut saja yang ada. Atau juga merasa agak kesal, dan mungkin juga perasaan tanpa jarak setelah melakukan hal seintim itu bersama Shin.


Dhiarra kembali berdebar hebat di dadanya. Tangan besar itu sedang menepuk elus punggungnya.


"Baguslah jika seperti itu...Tidak ada yang salah denganmu. Adrian bukanlah sesiapamu. Sedang aku adalah suamimu. Dan kau juga telah mendapat first kissku, Dhiarra,,," Shin menerangkan dengan tenang di sela aliran panas darahnya. Menatap Dhiarra yang telah mendongak memandangnya. Mereka saling berpandangan penuh makna sesaat...


Meski perkataan Shin memang ada benarnya, Dhiarra seperti enggan mengakui. Ingin melepas diri dan merenggang pelukan dari Shin. Tapi tenaganya sangat tak bermakna, dorongan Dhiarra sama sekali tak melonggarkan dekapan Shin padanya.


Shin kembali melakukannya, menciumi Dhiarra sepenuh hasrat dan perasaan. Melakukannya begitu lembut dan hangat. Si gadis hanya pasrah dan berserah menikmati kembali. Memberi sedikit nikmat bahagia pada sang suami dadakan dan juga nikmat jiwa raga bagi dirinya sendiri. Keduanya sedang beradu bibir dan lidah dengan nafsu jiwa yang panas menggelora.


"Ah..ah..ssu..dah...sudah, encik Shin. Ssuddaah,,,!" Dhiarra berseru terengah sambil mendorong kuat wajah Shin agar terlepas dari lehernya.


Mungkin tenaga kuatnya telah mulai berfungsi kembali. Wajah dan badan Shin telah merenggang dan tidak lagi menempelinya. Mereka saling memandang sayu berkabut dan terengah.


"Dhiarra,,,,,," Shin masih berharap dan nampak kecewa.


"Sudah,,,, cukup ini, encik Shin. Maafkan aku,,," kata Dhiarra sambil menggeser diri agar lebih jauh lagi dari Shin.


"Kau benar-benar menolakku,,? menolak menyambung perkawinan kita?" tanya Shin dengan gemetar pada Dhiarra.

__ADS_1


"Maaf,,maafkan aku, encik Shin,," Dhiarra menunduk. Merasa tidak kuat lagi memandang Shin.


Lelaki itu menjambak rambut dan meraup wajah berkabutnya yang frustasi.


"Baiklah, Dhiarra. Mungkin kita sebenarnya tidak jodoh. Akan kuterima permintaan papa. Akan kucoba kenal rapat putri datuk Fauzan, kawan rapat ayahku." Shin berkata agak dingin dan kaku sambil memandang lekat mata Dhiarra.


"Maafkan aku, encik Shin. Semoga anda merasa nyaman dengan anak perempuan dari kawan rapat papamu," sesak Dhiarra menimpali ucapan Shin barusan.


Seperti yang diucapkan, hatinya pun merasa enggan untuk berharap agar Shin berjodoh dengan putri dari kawan rapat datuk Fazani. Maka hanya seperti itulah harapan yang diucap Dhiarra untuk Shin. Merasa enggan jika membayangkan Shin akan menikah lagi dengan jodoh yang disodorkan sang ayah.


"Kuncilah pintumu,,," Shin berkata dingin tanpa memandang Dhiarra. Wajah Shin lebih dingin lagi daripada suaranya. Lelaki itu membuka pintu dan menutupnya agak kasar.


Serasa tak bertulang-tak bersendi, Dhiarra menyeret kaki ke ranjang dan rebah meringkuk di atasnya. Kembali mengingati apa saja yang baru dilakukan serta dibincangkan Shin Adnan bersamanya...


🍒🍒🍒🍒


🍒🍒🍒🍒


🍒🍒🍒🍒


🍒🍒🍒🍒


Perjalanan menuju kota besar Kuala Lumpur bukan lagi selepas kerja saat petang. Tapi selepas makan tengah hari, Shin mengatakan untuk bersiap dan bertolak segera ke KL. Lelaki itu berkata dengan sikap acuh dan sambil lalu pada Dhiarra saat makan siang bersama di ruang sofa.


Perjalanan ke kota Kuala Lumpur dengan durasi tempuh kurang lebih dua jam itu di komandani kembali oleh Idris. Sopir muda kesayangan Shin Adnan yang pendiam. Sama pendiamnya dengan sang tuan yang duduk bisu di sampingnya.


Ya, begitulah sekarang.... Shin duduk di depan bersama driver Idris, sedang Dhiarra duduk sendiri di kursi belakangnya. Perjalanan itu hening dan lengang. Tanpa satu suara kata pun terdengar.

__ADS_1


Tidak hanya sekarang. Bahkan pagi-pagi saat sarapan berdua pun, Shin tak sudi bersapa kata dengan Dhiarra sekali pun. Hanya saat tiba di Shin's Room sajalah Shin sesekali memandang menyapa sebab urusan kerja bersama. Tidak ada lagi pandang hangat dari Shin untuknya...


🍒🍒🍒🍒


__ADS_2