Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
120. Happy Ending


__ADS_3

Sebulan kemudian,,,,


Di rumah megah keluarga datuk Fazani, kota Kuala Lumpur. Di dalam kamar Shin Adnan...


Alarm telah berdering dan dimatikan oleh pembuatnya beberapa waktu yang lalu. Udara yang dingin sebab AC membuat mereka saling bergelung, saling membelit dan saling erat memeluk. Merapatkan selimut dan menikmati kehangatan itu meski hanya beberapa menit lagi saja.


"Hon, bangun,, Jom, pergi subuh. Nanti papa marah kita tak ikut jamaahnya," Dhiarra menggoyang-goyangkan bahu Shin agar terbangun.


Lelaki itu menggeliat sambil membuka matanya. Melihat Dhiarra tengah duduk sambil melipati asal-asalan baju yang baru dipungutinya dari lantai di sebelah tempat tidur.


"Mari kita mandi bersama, han Raa,," ucap Shin sambil menggeser kepala mendekati perut buncit Dhiarra yang nampak mengkilat. Sang istri sudah mengenakan set celana tidur pendek dengan atasan yang kekecilan, menampakkan sebagian permukaan pusar dan perut buncitnya.


"Tidak hon Shin, kamu mandi duluan saja, kita buru-buru. Habis subuh kita harus segera berangkat ke bandara KLIA. Aku tak ingin ditunda-tunda lagi,,," ucap Dhiarra terdengar mengiba.


"Yeelaaah,,," Shin menciumi banyak kali perut Dhiarra seperti ingin dihabiskan namun tidak ada kepuasan.


Lalu bergegas bangun dan menuju kamar mandi. Tidak peduli dengan tubuh toplesnya yang tanpa baju sehelai pun. Dhiarra tersenyum merona memandangnya.


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


Keinginan dan pinta Dhiarra pada Shin Adnan tidak bisa dibendung lagi. Ingin berkeliling dari Kuala Lumpur menuju Penang dengan pesawat udara lalu kembali ke Melaka dengan melalui jalur darat.


Sebab itulah, Idris telah berangkat terlebih dulu menuju Penang melalui jalur darat, semalam. Demi standby menunggu dan menjemput sang tuan saat tiba di bandara pulau Penang.


Pasangan suami istri yang masih berkebul dan berasap itu berangkat dari rumah megah Kuala Lumpur dengan lambaian tangan berat hati dari datuk Fazani dan datin Azizah. Namun wajah kedua orang tua sangat nampak bahagia dan puas memandang sang menantu perempuan yang semakin cantik menggemaskan dengan perut besarnya.


Dan lebih memuaskan lagi, sang putra beserta istrinya, datang berkunjung dengan membawa berita membahagiakan. Cucu yang akan lahir empat bulan lagi itu telah dinyatakan berjenis kelamin laki-laki. Betapa gembiranya parents Shin Adnan mendapat kabar bahagia seperti itu.


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


Ceklerk..!!


Semakin berdebar dada Dhiarra, pintu yang tadi sempat diketukinya berulang kali bersama suami, kini perlahan terbuka.


Keluar jugalah wajah sang mama yang sangat dirindukan. Serta adik lelakinya yang nampak semakin tampan dalam gendongan sang mama.


"Assalamu'alaikum, maa,,," sapa Dhiarra mengejutkan sang mama.


"Wa'alaikumsalam,,,, Dhiarra,,,!!??" tercengang-cengang mamanya.


Tidak menyangka yang mengetuk pintu pagi ini adalah putri tercintanya. Yang rasanya baru menikah, namun kini telah datang kembali dengan perut yang membesar. Anak perempuannya telah mengandung, dan sebentar lagi sang mama akan menjadi seorang nenek-nenek. Mereka berpelukan penuh rindu dan sangat bahagia.


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


Ruang makan yang tidak luas dengan meja makan yang juga tidak besar, telah menampung empat orang yang sedang makan dengan nikmat.


Sambil mendengar kata ungkap Dhiarra bahwa dirinya merasa bahagia telah sampai kembali di Penang. Berjumpa dengan mama, adik lelaki serta ayah sambungnya.


"Bermakna kamu ini sedang nyidam nduk,,,Raa,,," terang mama Ira lembut sambil tersenyum.

__ADS_1


"Benar-benar tak bisa dijanji mundurkan lagi dah, kak Ira,," sahut Shin Adnan setengah pasrah dan mengeluh.


Shin tetap memanggil ibu mertua dengan sebutan kakak seperti sebelum menikahi putrinya. Namun semua akur saja tidak ada yang protes.


"Maa, paa,,, selamat anniversary pernikahan satu tahun yaa,,, tapi terlambat,," ucap Dhiarra terdengar menyesal.


Dhiarra sempat melihat unggahan status Hazrul saat mereka berannyversary satu tahun perkawinan mereka, beberapa bulan yang lalu.


"Terimakasih ya nduk,,," sambut sang mama gembira.


"Ma, Pa,,.maaf nggak ngasih kado apa-apa,, tapi,,," Dhiarra memandang mamanya dan Hazrul yang nampak menunggu Dhiarra untuk kembali bicara.


"Tapi,, hutang papa Hazrul waktu itu,, aku ikhlaskan saja,," sambung Dhiarra dengan yakin. Hazrul nampak begitu tercengang.


"Apa, Raa,,,?! Benarkah?? Kamu ikhlas, Raa,,??" tanya Hazrul begitu antusiasnya.


"Sangat ikhlas, tapi ada syaratnya, paa,,?" sahut Dhiarra dan nampak serius.


"Syaratnyaa,,, papa Hazrul tidak akan mengulanginya lagi. Dan paling penting,, harus bertanggung jawab, menyayangi serta menjaga mama dan adikku selamanya. Jangan pernah berpaling dan meninggalkan mereka. Papa Hazrul sanggup,,?" tuntut Dhiarra pada Hazrul guna mendapat jaminan sikap setia demi ibunda serta adik lelakinya.


"Terimakasih, Raa.. Papa sangat sanggup. Memang seperti itulah salah satu tujuan papa menikahi mamamu waktu itu." Hazrul berkata lembut dan sayu pada Dhiarra. Tidak menyangka bahwa beban hutang pada anak tiri yang selama ini sangat menyiksa, tiba-tiba tertunaikan oleh pemiliknya sendiri pagi ini.


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


Setelah mengunjungi pulau Penang dan hanya bermalam satu malam saja, Dhiarra merasa itu sudah cukup dan sangat berniat ingin pulang kembali ke Melaka. Rayuan sang mama agar menambah malam satu kali lagi, benar-benar ditolak Dhiarra. Bumil jalan enam bulan itu benar-benar kukuh ingin kembali hari itu juga.


Perjalanan panjang menuju pulang itu telah mulai memasuki kawasan hutan lebat di wilayah Terengganu. Hutan yang pernah dilalui saat hujan lebat dan menjadi awal tonggak perkawinan mereka, seperti membawa kembali pada kenangan dan perasaan yang dalam tersendiri.


"Hon Shin,,," tegur Dhiarra dengan lembut dan lirih pada suaminya.


"Hemm.. Ada apa hal, han Raa,,?" tanya Shin sambil membawa kepala Dhiarra ke dalam dekapannya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu. Sini aku bisikkan, hon Shin,." ucap Dhiarra sambil duduk tegak lagi dan menggapai telinga Shin Adnan.


Shin Adnan sedikit menunduk, sedang mendengarkan seksama perkataan Dhiarra di telinganya. Lelaki itu nampak terdiam lama sambil mengamati sang istri yang juga memandang sangat lekat padanya. Wajah cantik itu masih nampak pias dan begitu tegang terlihat. Sangat berharap Shin akan menyetujui keinginan terpendam Dhiarra kali ini!!


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


Dan di sini jugalah mereka akhirnya. Tempat yang sangat khas berbau pedesaan dan menyimpan pemandangan sangat indah di balik seberangnya. Sungai, persawahan dan perkebunan menghampar luas dan berwarna hijau sangat sejuk di pandang mata.


"Sudah kena sewa orang, kamar atas tuu,," sang pemilik rumah penginapan, mak cik itu sedikit memicing perhatian pada perut Dhiarra yang membesar.


"Kubagi kompensasi sepuluh kali harga sewa mak cik. Asal kamu bagi kamar itu pada kami," rayu Shin pada mak cik itu. Ingin memberi hasil paling sempurna untuk sang istri tercinta. Dhiarra...


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


Penginapan sederhana di lantai dua dan berada di ujung lorong, adalah destinasi impian Dhiarra diam-diam. Kenangan kelam saat itu namun kini terasa sangat manis saat kedua pasangan itu datang memasukinya kembali.


Seperti sedang bernostalgia akan rasa cinta yang sempat terselubung dan kini dirasakan terus terang dan begitu sangat membara...

__ADS_1


"Hoon,,, apa yang kamu rasa saat itu, selepas menikahiku di sini,,?" tanya Dhiarra manja sambil menggayut di leher sang suami. Mereka tengah melepas lelah dengan merebah santai di atas pembaringan kenangan.


Shin menatap Dhiarra sambil senyum-senyum. Akan mengatakan hal jujur saja akan apa yang dirasa saat itu pada sang istri.


"Aku kecewa, aku tidak mendapatkan malam pertama yang sangat kudamba waktu itu darimu,,," Shin semakin tesenyum sambil menciumi rambut di kepala Dhiarra.


"Ah, hon Shin,,, secepat itukah harapanmu padaku,,?" suara Dhiarra seperti tidak percaya sama sekali. Namun akhirnya juga tersenyum seperti Shin saat itu.


"Kau tidak percaya, han Ra,,,? Kau bersedia mengobati rasa kecewaku waktu itu, haaah,,?" tanya Shin dengan senyum yang mulai nampak mesum.


"Apa harus kuganti berlipat-lipat? Bukankah selama ini aku sudah memberikan segalanya?" Dhiarra tersenyum berterusan, menyembunyikan wajah cantiknya pada lekuk leher Shin Adnan.


Shin tidak lagi menyahut. Begitu pun Dhiarra. Ingin memfokuskann diri bersama sang istri untuk mengobati rasa hampanya waktu itu. Hampa,,sebab masih merasa segan dan gengsi untuk tidak saling menyentuh serta menyatakan perasaan..


Perasaan di dalam penginapan kala dulu, jauh beda dengan apa yang mereka rasakan saat ini.. Jiwa tenang,,raga pun merasa nyaman saat ini. Saat dulu,,hanya rasa cemas dan tertekan saja yang mereka berdua rasakan.


Dan kini,, mereka berdua semakin bersyukur menyadari. Betapa merasa nikmat, indah, tenang serta kelapangan sebab telah memegang serifikat kehalalan yang abadi dan hakiki.


Saling berjanji di hadapanNya serta pada diri sendiri. Menjaga ikatan suci itu selamanya hingga hayat masih di kandung dalam badan..!!


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


Alhamdulillah.......


Tega kutamatkan juga akhirnya...


Terimakasih pada beloved readers all...


Siinggahmu dan Istiqomah datangmu,,


Tidak lelah menyemangati dan meramaikan di setiap kolom bawah akhir chapter...


Akhir kata mohon maaf jika ada kata-kata serta perilaku author yang kurang berkenan yaaa...


****Dukung di karya baruku yaaa****..


Selfish Marriage,,!!


Harap ikuti akun author rengginan ini yaa... Author sangat ingin dukunganmu di setiap karya baru author.. Author sangat kekuranga followers...😭😘🙏


🍒🍒🍓🍓🍒🌰😘😘😘


Juga karya baruku yang lain


__ADS_1


Kutunggu hadirmu!!😘


__ADS_2