Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
41. Makan Larut


__ADS_3

Rumah yang gemerlap sedang tak ada pemiliknya di dalam. Alias orang tua sedang bepergian. Meski sudah dipesan Shin akan datang, namun kedua orang tua terlanjur memiliki rencana bepergian tanpa mungkin ditunda. Hanya mengirim pesan pada sang putra untuk menunggu mereka hingga pulang.


Makan sangat malam, 11.07 pm ...


Meja makan yang tak kalah besar dari kepunyaan Shin di rumah Ayer Keroh, telah terisi bermacam sajian. Pekerja rumah senantiasa ada dan siaga melakukan tugasnya. Meski hampir tengah malam pun, tetap menyambut kedatangan tuan muda mereka dengan bersemangat.


Keempat manusia lajang tengah duduk dengan saling berhadapan. Shin dengan Sazlina, Azlan bersama Dhiarra. Kursi mereka adalah yang paling berdekatan, tidak terjarak satu kursi pun yang menyekat mereka. Mereka tengah saling berbincang.


"Jadi malam itu, kaukah yang mengantar mereka, Lan?" Shin menoleh Azlan yang duduk di sebelahnya.


"Iya, bang. Aku dapat notif order, posisi kat rumahmu. On the way sajalah aku. Kupikir dari Fara, Hisyam, Sahila,, atau siapa sajalah yang aku kenal. Tapi ternyata dua anak dara itu aku tak pernah tengok,," jawab Azlan sambil memandang Dhiarra yang tersenyum di depannya.


"Kenapa, Azlan tak nak kubayar jika tak kenal?" sahutan Dhiarra. Azlan sebaya dengan Hisyam, 25 tahun.


"Sebab aku teringat akan anak tiri bang Hazrul yang kata tinggal di rumah bang Shin. Mungkin satu dari kalianlah itu," terang Azlan.


Meja makan senyap sesaat. Bunyi denting sendok, piring dan garpu saja yang kadang terdengar beradu. Dengan desis mulut berdecap pedas yang sesekali terdengar tak sengaja kelepasan. Mungkin mereka sedang berlomba makan sambal.


"Betulkah, Sazlina dan Dhiarra akan sama-sama buat rancang baju untuk perusahaanmu, bang,,?" pertanyaan Azlan tertuju pada Shin. Sambil mulutnya sibuk mengunyah.

__ADS_1


"Telah lama aku buat rancangan demimu, bang Shin! Asal pulak tiba-tiba kau pungut perempuan Indon itu?!" berapi-api Sazlina menyahut. Dan kadang menyebut abang pada Shin, kadang juga nama saja.


Shin menatap Sazlina dengan redup dan hangat....


"Sebab aku merasa menanggung salah Hazrul kat dia, Saz.., tolong pahamilah,," jawaban Shin cukup tenang.


"Hazrul yang buat, kau pulak yang tanggung! Suruh datang saja dia pada Hazrul dan ibunya kat Penang. Beres dah,,!?" Sazlina memang selalu mode sadis pada Dhiarra.


"Encik Shin sudah berjanji untuk menghantar aku pada ibuku, kau tak payah risau,,!" suara pedas Dhiarra menyahut cepat ucapan Sazlina.


"Jika bang Shin sibuk, Dhiarra dengan aku saja pergi Penang,,!" Azlan pun juga tiba-tiba menyahut.


"Kau tak boleh suka-suka pergi, Dhiarra. Kau sudah bekerja sekarang. Kau sekretaris Shin's Garment. Jika tak ada izin, kau tak boleh ponteng(bolos) kerja,,," mulut yang kadang sama lasernya dengan mata, telah menyela suka-suka. Shin memandang Azlan dan Dhiarra bergantian.


"Tau,,,aku tau,,Dhiarra. Tapi jika boss engkau tak bagi izin, aku tak jadi bawa engkau," Azlan lirih menyahut, memandang Shin sesaat. Azlan memang segan dengan perjaka senior di sampingnya.


"Encik Shin, bagilah aku cuti sehari saja. Aku ingin secepatnya jumpa ibuku,," suara yang melembut seperti yang biasa Dhiarra lancarkan.


"Kerjaku masih sangat banyak, Dhiarra. Bukankah aku pun sudah berjanji juga denganmu?" Shin mulai bimbang.

__ADS_1


"Tapi, saya tak sabar, encik Shin. Bagaimana jika saya saja yang pergi bersama Azlan, dia sepupu anda, kan? Kurasa tak masalah, saya akan aman dan selamat bersama Azlan,," Dhiarra terus mencoba.


"Shin,,,lepas sajalah.. Apa yang abang rasa berat sangat bagi izin kat dia,,? Lagipula kasian perempuan Indon tuuu,,rindu sangat nak jumpa ibunya,,," kali ini Sazlina bukan saja berkata manja-manja, tapi juga ikut merayu. Entah jin baik apa yang sedang menempelinya.


"Ayer Keroh ke Pulau Penang bukan dekat, Saz. Sangat jauh. Aku pun nak jumpa dengan Hazrul,," Shin mengutarakan alasannya.


"Encik Shin, anda boleh berbincang dengan ayah Hazrul melalui sambungan telepon. Tapi saya sangat-sangat rindu pada ibuku, saya mesti jumpa langsung dengan ibuku, tolong pahamilah perasaan saya, encik Shin,," Dhiarra tak lelah mengiba.


Semua terdiam. Azlan mengamati wajah Dhiarra di depannya. Merasa iba pada gadis pendatang yang tertahan untuk menjumpai sang ibu tercinta yang dirindukan. Azlan sangat paham perasaan rindu Dhiarra saat itu. Sebab Azlan pun juga berjauhan dengan ibunya. Azlan telah mandiri dan menetap jauh juga di Penang.


"Betul bang Shin. Kasian Dhiarra. Kau boleh percayakan dia ikut denganku. Aku akan bawa dan hantar balik sekretarismu ini dengan selamat," janji manis dari Azlan. Shin menoleh Azlan, lalu Dhiarra dan Sazlina.


"Sudahlah, kalian lekas habiskan makanan kalian itu. Malam sudah larut,," peringatan Shin memang betul. Tengah malam lewat seper empat, telah menuju dini hari.


Mereka bergegas menghabiskan makanan di piring. Seperti biasa, Shin selalu terdepan. Fokus pada makanan dan menghabiskan dengan cepat. Lelaki itu memang selalu juara dalam makan.


🍒🍒


Dhiarra mendapat sebuah kamar luas, yang lagi-lagi berada tepat di samping kamar Shin Adnan. Namun tidak hanya Dhiarra, sebab Sazlina dan Azlan pun menempati kamar yang sederet di lantai dua. Sedang kamar di sebelah adalah kamar Fara yang tentu saja sedang kosong dan pasti terkunci.

__ADS_1


Sangat-sangat bersyukur bahwa di dalam kamar, terdapat lemari berisi beberapa baju tidur wanita yang dilipat rapi dan diyakininya pasti bersih. Tak peduli lagi siapa pemilik baju, Dhiarra bersemangat meminjam dan memakai sehabis membersihkan dirinya. Sebab memang sedang tidak membawa baju ganti. Shin baru memberitahunya pagi tadi pasal keberangkatan ke KL dan begitu mendadak saat tiba di kantor...


__ADS_2