Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
99. Kamar no. 21


__ADS_3

Praktek kegiatan panas pasangan suami istri baru itu terus saja berlangsung. Semakin karam dan hanyut dalam arus hasrat dan nafsu. Berterusan sangat lama dan tidak ingin berhenti. Berebut saling memberi dan menerima nikmat indah dengan perasaan menggelora. Semakin menuntut dan mengejar sejauh mungkin tapi tak kunjung mendapat kepuasan.


Merasa resah namun memilih abai sesaat jika saja seseorang menangkap basah mereka. Menikmati lagi meski sebentar, dengan sensasi seru di waktu yang sempit. Terus saja berpaghut dan berebut rasa nikmat penuh hasrat yang resah.


Klik,,!


Ceklrekk,,!


Bunyi putaran kunci dan pintu terbuka dari satu kamar di ruang tengah yang terdengar jelas itu, menghentikan total adu rebut paghutt mereka. Mematung saling pandang dalam degub debar yang cemas.


Langkah kaki di ruang tengah itu terdengar pelan melangkah. Berdetak laju jantung mereka. Terdiam menyimak ke arah mana langkah itu berjalan.


Uhukk,,!! Uhukk,,!! Uhukk,,!!


Uhukk..!!Uhukk,,!!


Dan itu adalah suara batuk dari datuk Fazani yang membahana di pagi yang sunyi.


Shin menahan kuat tangan Dhiarra yang berusaha lepas dari genggaman. Terus menggenggam dan yakin semua akan baik-baik saja. Merasa andai sang ayah memergoki, tentu memakhlumi dan akan diam pergi membiarkan.


Yang diharap pun berlaku. Suara kaki datuk Fazani menjauh. Menuju kamar mandi yang ada di bagian belakang. Sesekali terdengar batuknya yang seperti sangat jauh.


"Lepaskan aku, encik Shin!! Aku takut,," suara Dhiarra terdengar kalut dan panik.


"Aku masih ingin,,, rinduku belum habis,," bisik Shin yang kembali menarik tangan Dhiarra dan merapatkan tubuhnya kembali.


"Aku sudah minta maaf dengan baik,," sahut Dhiarra menimpali. Tangannya tidak lagi menolak, tapi justru ikut memeluk punggung lebar dan hangat punya Shin.


"Belum,,," sahut Shin cepat di telinga Dhiarra.


"Asal pulak, belum,,?" tanya Dhiarra berbisik dan heran.


Shin kembali menahan kepala Dhiarra dan mendekati wajahnya. Wajah tampan itu tersenyum dalam keremangan.


"Belajarlah satu lagi. Meminta maaf dengan sempurna padaku,," suara lelaki itu lirih dan serak saat berkata dekat di wajah Dhiarra.


"Mmaksudmuuu,,,?" tanya Dhiarra lirih. Mulai paham dengan maksud terselubung ucapan Shin Adnan.


"Kapan kita sekamar,,?" tanya Shin serak di telinga Dhiarra.


"Tapi aku malu jika kita harus sekamar di sini, encik Shin. Aku tidak nyaman." jawab Dhiarra terdengar mulai bermanja.

__ADS_1


"Kenapa,? Takut membuat bising?" tanya Shin sangat mesra. Mungkin dia sedang tersenyum


"Ada baby,,,pendengarannya tajam, nanti dia nangis terus," ucap Dhiarra sambil tersenyum.


"Aah, Dhiarra.. Baiklah...Aku paham maksudmu. Akan kudapatkan tempat yang nyaman untuk kita." bisik lirih Shin terdengar serius di telinga Dhiarra.


"Di mana itu, encik Shin,,?" tanya Dhiarra penasaran.


"Kejutan untukmu. Hanya kuharap kau menyukainya,," bisik Shin cepat.


Kali ini bicara tergesa. Suara batuk dari datuk Fazani kembali terdengar seperti sangat jauh.


"Aku ingin kembali ke kamarku. Aku sangat risau,, sangat malu jika kita terciduk," bisik Dhiarra terdengar mulai panik.


"Kembalilah, Ra.. Terimakasih, kau telah minta maaf padaku dengan sangat baik," Shin memeluk erat Dhiarra sesaat. Mencium lembut keningnya.


"Terimaksih juga, encik Shin. Lain kali, aku akan minta maaf dengan lebih sempurna lagi untukmu," Dhiarra berkata sangat lirih.


Kakinya berjinjit lurus dan tinggi, memberanikan diri menempel bibir pada bibir Shin sekilas. Shin sangat terkejut, berusaha mengejar bibir indah itu tapi tak dapat. Dhiarra sangat cepat menarik wajah serta tubuhnya menjauh.


Istri yang dicinta telah meninggalkannya termangu, berjalan laju menembusi kamarnya di pintu.


Lelaki itu mendekati sofa dan merebah cepat kembali. Tepat sesaat sebelum sang datuk yang tadi hanya terdengar batuknya, datang mendekati ruang tamu dan mengamati Shin sejenak. Lalu bergerak pergi dan kembali ke kamar tamu yang ditempati datuk bersama sang istri.


🍒🍒🍓🍒🍒


Dhiarra berangkat kerja bersama ayah sambungnya setelah selesai dengan urusan di meja makan pagi hari. Meninggalkan keluarga datuk Fazani bersama mama Ira dan baby di rumah.


Hazrul yang berniat izin ponteng kerja bersama Dhiarra sehari saja, mendapat tentangan keras dari Azlan. Sangat keberatan sebab dua orang sekaligus. Azlan merasa kelabakan dan akan pontang -panting. Azlan memohon agar mereka tetap datang hingga berbicara langsung dengan pak longnya, datuk Fazani sendiri sambil bersalam sapa dan meminta maaf harap makhlum.


(pak long\= saudara lelaki ayah yang tertua)


🍒🍒🍓🍒🍒


Setelah melalui tengah hari, pengunjung resto mulai berkurang arusnya. Dhiarra merasa agak longgar setelah begitu sibuk dengan mesin hitung di meja kasirnya.


Hazrul berjalan cepat mendatangi Dhiarra di meja kasir. Seperti ada yang akan dikatakan.


"Ra,,,," panggilnya pada Dhiarra.


"Ada apa,,?" tanya Dhiarra memandang pria di samping meja kasir.

__ADS_1


"Papa dan keluarga sudah mendapat makan siang?" tanya Hazrul pelan.


"Tadi sudah diantar oleh pegawai layanan kamar ke atas. Mereka mendapat kamar di lantai dua," jawab Dhiarra menerangkan sambil merapikan tumpukan uang. Menyimak sebentar muka ayah sambung yang terlihat sangat lega.


Keluarga datuk Fazani baru saja datang ke tempat usaha Azlan sekaligus meminta untuk disiapkan kamar sewa di penginapan. Mereka memang berprinsip profesional.


Meski Azlan keponakan dan datuk Fazani adalah abang kandung ayahnya. Tetap berlaku bisnis adalah bisnis. Lain cerita lagi jika berurusan di luar bisnis. Dan itu sudah biasa berlaku sedari dulu.


Namun sehabis makan siang tadi, kata Azlan,, mereka keluar penginapan untuk pergi ke Feringi Beach. Sebenarny Dhiarra merasa sedikit kecewa. Shin pergi ke pantai tanpa sedikit pun mengajaknya. Namun berusaha bijak dengan berfikir dirinya tengah sibuk kerja. Atau juga sang datuk ingin di temani putranya ke pantai.


"Baiklah, lanjutlah kerjamu, Ra.. Eh, kau pergilah makan siang. Aku baru makan dengan Azlan. Sini kugantikan," kata Hazrul agak lebih mendekat pada meja kasir.


"Iya,, terimakasih, pa," sambut Dhiarra agak hangat kali ini.


Segera bergeser dan berbalik cepat menuju meja makan di ruang dapur. Tidak ingin membuang waktu untuk makan siang, dan kemudian lanjut dzuhur.


🍒


Azlan mendatangi Dhiarra yang baru saja meninggalkan ruang kecil mushola yang sebagai fasilitas ibadah sementara di resto Azlan. Sebab pemiliknya itu tengah mengadakan pembangunan demi menyediakan mushola dan toilet yang lebih besar lagi dan layak.


"Ada apa, Lan?" tanya Dhiarra sambil menyimpan mukena di locker mininya.


"Ada tugas selip untuk kau, Ra..Hantar selimut dan handuk kat kamar dua satu. Lepas tuu, hantar food deliver bersama driver,," terang Azlan nampak gontai. Mungkin sangat lelah menghadapi limpahan pengunjung, namun kesiapan tenaga operasional tidak siap.


"Iya, Lan. Mana barang?" tanya Dhiarra sambil mengoles lipstik tipis di bibirnya.


"Ada kat ruang laundry," jawab Azlan pendek. Matanya tak lepas memandang Dhiarra hingga selesai dan menyimpan alat make up di locker kembali.


"Akan ku hantar ya, Lan," pamit Dhiarra tergesa pergi meninggalkan Azlan di tempatnya berdiri.


"Ra..! Kau dah lunch, belum,,?!" seru Azlan dari belakang.


"Dah,,,Lan,,!!" sahut Dhiarra tanpa sebentar pun menoleh.


Selimut dan handuk wangi berbalut plastik wrapp telah dibawa naik tangga menuju kamar nomor dua puluh satu di lantai dua. Sangat mudah mencapainya.


Dhiarra sudah mulai bisa menghafal dengan cepat setiap posisi nomor kamar di penginapan. Penginapan kecil dengan jumlah kamar mencapai total dua puluh empat nomor kamar.


Tok,,,Tok,,,Tok,,,Tok,,,!


Dhiarra mengetuk pintu kamar itu sesopan pelan mungkin. Kemudian berganti mendongak, memandang kamera cctv yang menempel di atas pintu.

__ADS_1


__ADS_2