Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
67. Tidak Kurus


__ADS_3

Makan siang hari itu agak terlambat diantar ke Shin's Room. Pegawai konsumsi khusus direksi di Shin's Garment menerangkan pada Dhiarra bahwa ada kendala dari pihak pusat di delivery food. Dhiarra sedang berada di ruang sofa saat petugas konsumsi datang mengantar makanan.


Setelah siap dihampar di meja beserta peralatan makan yang diambil dari pantry, desainer yang konon juga merangkap sebagai sekretaris Shin's Garment itu pergi memanggil Faiz dan Shin Adnan.


"Iya, kejap lagi aku keluar, Dhiarra!" sahut Faiz dari kursinya.


Dhiarra menutup kembali pintu ruangannya dengan Faiz. Menggeser langkah menuju ruangan si boss di sebelah. Boss dengan status terbaru diam-diam dan mulai berani bersikap manja padanya.


Merasa berdebar mengingat kelakuan Shin Adnan yang aneh di ruangan. Tangannya masih terasa seperti sedang menyentuh di dagu dan rahang Shin Adnan yang berbulu. Gadis itu menggigit bibir dan mengambil nafas guna mengurangi rasa debarnya. Seperti tidak percaya bahwa hal rapat begitu baru saja dia lakukan, meski Shin sendirilah yang memaksa. Dhiarra merasa seperti sedang menjadi perempuan simpanan Shin Adnan.


Dibuka pintu ruangan Shin setelah ketukannya tersambut oleh sang pemilik dari dalam.


"Encik Shin,,!" sedikit berseru memanggil pemilik ruangan. Si boss nampak berdiri dan berputar cepat melewati mejanya.


"Silakan anda makan siang. Pegawai konsumsi telah menghantar makanan anda, encik Shin," cepat disampaikan pada Shin hal itu. Merasa was-was dengan gerakan Shin yang berjalan cepat ke arahnya. Tak ingin lelaki itu berbuat hal aneh sekali lagi.


"Ra,,!" panggilan yang ingin dihindari membuatnya kembali berdebar. Pegangan pintu dalam genggaman dilepaskan, berbalik menghadap pada Shin.


"Cangkir teh ini dah kosong!" seru Shin.


Dhiarra terdiam tak menyahut, sedikit mengira apa maksud perkataan Shin Adnan.


"Akan kubawa ke dapur, encik Shin!" sahut Dhiarra mendekati meja Shin. Bayang cemas jika saja Shin kembali bertingkah aneh membuat langkah Dhiarra agak pelan dan ragu. Namun tetap didekatinya cangkir kosong itu di meja.


Namun cangkir itu masih berisi setengah, bukan habis seperti yang telah dikatakan oleh Shin tadi. Tak ingin berdebat dan membuang waktu, tetap diambilnya cangkir teh.


"Dhiarra, aku ingin berbincang sebentar," Shin telah berdiri tepat di belakang menghadapnya. Dhiarra merasa benar dengan apa yang telah digalaukan hatinya.


Dan merasa cemas sendiri, seperti ingin menghindari saja moment-moment seperti ini dengan Shin.


"Encik Shin, apakah anda ingin membincang masalah kerja?" sambar Dhiarra tergesa.


"Bukan masalah kerja. Tapi masalah pribadi." wajah Shin nampak serius. Tak ada lagi garis senyum di wajah tampannya.


"Tapi saya sedang lapar. Saya ingin segera makan, encik Shin." Dhiarra sedang tidak ingin membicarakan masalah pribadi apapun dengan Shin.

__ADS_1


"Ini tidak lama," Shin berusaha menahan.


"Saya ingin segera makan sekarang. Nanti saya semakin kurus. Sebab susah sekali membuat badanku ini bertambah kilo sedikit saja, encik Shin," Dhiarra memandang memohon pada Shin.


Pandangan Dhiarra melemaskan Shin dari berdiri tegaknya. Perlahan menggeser diri menepi. Memberi ruang untuk Dhiarra menyelip melewatinya. Sedikit ragu si gadis melangkah.


"Lupakan saja pendapat Faiz itu.. Akulah yang lebih paham dirimu. Aku sudah sangat tahu, kau ini kurus atau tidak. Kau paham, kan? Kau tidak kurus, Dhiarra !" Shin telah berbisik setengah berseru saat Dhiarra melewatinya. Lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Dhiarra.


Terkejut rasanya mendengar itu. Shin tentu tidak asal bicara. Saat di penginapan, lelaki itu telah melihatnya dalam arti yang sesungguhnya. Meskipun tidak dalam keadaan bulat-bulat. Panas dingin Dhiarra mengingatnya.


Bergegas melangkah keluar meninggalkan ruangan panas Shin Adnan. Ingin bergabung makan siang bersama, meski sekarang hanya jadi setengah berselera..


Tergeser oleh rasa malu yang berubah jadi semangat yang datang berlipat tiba-tiba, hanya sebab ucapan Shin yang mengatakan jika dirinya tidak kurus...


🍒🍒🍒


🍒🍒🍒


🍒🍒🍒


Suara ketuk di pintu terdengar halus dan sopan. Dhiarra yang kebetulan sedang bersiap pergi ke meja makan segera membuka pintu kamarnya.


Pelayan laundry keluarga, yang memang biasa mengambil dan mengantar baju, nampak mengulur sedikit tumpuk baju yang terlipat sangat rapi di dalam keranjang khusus antar. Dhiarra bergegas masuk kamar mandi dan keluar lagi membawa beberapa lembar baju kotor di keranjang.


Kembali mengulur pada gadis muda petugas laundry yang berkebangsaan Kamboja. Gadis Kamboja itu sangat kaku, diam dan tak banyak berbicara. Duong, namanya, nampak kurang bisa berbahasa. Baik berbahasa Melayu atau juga bahasa inggris. Entah bagaimana Shin mengambil pekerja Kamboja itu.


Dhiarra meraih keranjang dan ingin menatanya di almari. Tercekat rasanya, setelah penutup keranjang terbuka, nampak baju apa di situ. Adalah bajunya serta baju Shin saat di perjalanan pulang dari Penang waktu itu. Lengkap dengan baju dalam miliknya dan juga kepunyaan Shin. Dhiarra menyangka Shin telah membuang baju basahnya waktu itu. Ternyata Shin membawakannya pulang. Ya Tuhan,,, Shin Adnan...


🍒🍒🍒🍒🍒


🍒🍒🍒🍒🍒


Fara telah hampir selesai makan saat Dhiarra baru datang dan Shin menyusul duduk kemudian.


"Engkau jadi berangkat malam ini, Fara?" tanya Shin sambil mengisi piringnya.

__ADS_1


"Ni aku dah nak berangkat, bang Shin. Tengah tunggu driver lah ni,," Fara telah juga menghabiskan air minum. Dara Malaysia itu telah benar-benar selesai dengan makan malamnya.


"Salamku buat parents, cakapkan besok aku pun datang," pesan Shin pada adiknya. Fara telah berdiri dari kursi.


"Iya, bang! Bawa kak Dhiarra juga,!" Fara berseru dan hampir melewati pintu di ruang makan.


Shin hanya memandang punggung Fara sesaat dan kembali menyendok isi di piringnya. Meja makan yang berisi dua kepala dan hakikatnya adalah pasangan pengantin baru itu hening sejenak.


"Dhiarra, jangan lupa siapkan apa yang harus terbawa olehmu. Kita akan keluar Melaka selama dua malam," Shin memandang Dhiarra setelah mengisi lagi nasi lauk ke mulut.


"Iya, encik Shin," jawab Dhiarra tanpa mengangkat wajahnya.


"Apa tamu merah bulananmu itu sudah pergi?" tanya Shin tiba-tiba dengan santai tanpa segan sidikit pun.


Meski terkejut setengah jantung, yang ditanya pura-pura bisu dan tuli. Seperti sedang menghitung jumlah nasi yang akan disendoknya. Shin pun memahami dan tidak lagi bertanya. Sang juara makan hampir selesai dengan urusan dalam piring.


"Encik Shin," Dhiarra memanggil nama orang yang duduk tegak di depannya.


"Ada apa, Dhiarra?" tanya Shin sambil mengambil minuman.


"Terimakasih telah membawa baju basiku dan menguruskannya. Bajumu waktu itu juga ada di keranjangku. Sehabis makan ini selesai, akan kuambilkan dan bawalah sekalian, encik Shin,!" Dhiarra mengatakan hal itu dengan terus makan menunduk.


"Sudah kuanggap itu bagian dari tanggunganku. Kau adalah tanggunganku, Dhiarra," Shin berkata dengan tegas.


Yang di pandang Shin kembali hanya pura-pura bisu dan tuli. Tak berani mengangkat kepalanya sebentar pun. Seperti ingin menghindari perbincangan hal itu. Namun hanya ingin menjalani begitu saja hingga batas waktu itu datang.


Shin di ikuti Dhiarra berjalan di teras sehabis dari ruang makan. Berjalan saling diam dan bungkam. Seperti ada hal berat yang sedang menggantungi leher mereka masing-masing. Berjalan dengan pandangan mengejar lantai di depannya.


"Encik Shin, tunggulah sebentar. Kuambilkan bajumu!" seru Dhiarra saat Shin hampir melewati kamarnya tanpa ada tanda berhenti.


Shin langsung berhenti dan berbalik memandang Dhiarra. Berjalan maju mendekati Dhiarra.


"Aku tak ingin membawanya. Tolong antar saja ke kamar itu, atau simpan saja di almarimu bersama baju-bujumu yang lain," Shin berkata sambil memandangi lekat Dhiarra.


"Antarlah ke kamar itu," Shin menunjuk kamarnya sendiri pada Dhiarra dengan gerakan dagu dan lirik matanya.

__ADS_1


Dhiarra terdiam memandang lelaki yang sedang berbicara dengannya itu tanpa menyahut atau pun mengangguk. Hingga Shin berbalik lagi dan kembali berjalan menuju kamar yang tadi dia tunjuk pada Dhiarra..


__ADS_2