Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
87. Encik Shin...


__ADS_3

Belasan jam yang lalu di jalan raya arah bandara KLIA Kuala Lumpur....


Gadis jelita berwajah mendung sedang nampak cemas dalam duduk. Berpegang erat pada sabuk pengaman yang melintang di perut tipis ratanya.


Driver begitu laju membawa mobil sedannya jauh meluncur bahkan melesat pergi maju. Terlalu patas dan membuat penumpang perempuan itu sangat cemas.


Sang sopir hanya melakukan arahan sang tuan yang telah memberi sewa padanya sangat mahal. Demi mengejar waktu penerbangan yang sebentar lagi datang waktu check in.


Namun Dhiarra merasa sangat pening. Benda-benda yang dilewatinya seperti angin yang bergerak melesat. Laju mobil ini sudah kelewatan dan luar biasa cepatnya. Dhiarra sudah tidak tahan.


"Mas, lajunya terlalu kencang. Kepalaku sakit. Aku takut jadi mual dan kemudkan muntah. Bisa tidak dipelanin saja,,?" Dhiarra bertanya harap setengah memohon pada lelaki yang duduk diam di sampingnya, Adrian.


Adrian menoleh Dhiarra dengan aura yang bimbang.


"Ini tidak akan lama, Raa... Sebentar lagi sampai. Kita mengejar waktu. Tahan ya, Arra.. Bagaimana kalau memejamkan mata saja?" Adrian berkata lembut sambil mencoba membujuk Dhiarra.


"Tapi jika aku mual dan muntah, itu sangat tidak nyaman, mas. Dipelankan sedikit saja, kok..." Dhiarra mencoba untuk menego lagi.


"Tapi kita nanti ketinggalan pesawat, Arra..." Wajah Adrian sangat bimbang.


"Kalo ketinggalan ya beli sekali lagi saja, mas,," sahut Dhiarra cepat.

__ADS_1


"Pesawat berikutnya sangat malam lho, Ra.. Pukul sebelas malam check in. Kita bisa sampai di Yogya pukul dua dini hari,Ra...Sedang besok aku ada kunjungan customer." Adrian menjelaskan dengan pelan di antara deru mobil yang patas melaju.


Dhiarra terdiam, tidak menyambung debatnya. Bukan sebab akur pada kata-kata Adrian, tapi rasa malas dan tak semangat mendebat tiba-tiba. Ibarat daun putri malu yang tersentuh lalu menutup seketika. Itulah perasaan yang sedang dirasa Dhiarra.


"Ra,,,tidak apa-apa kan? Masih pusing?" tanya Adrian lembut pada Dhiarra.


Dhiarra menggeleng, memandang wajah tampan Adrian. Lelaki yang nampak lembut, namun agak keras sikapnya. Dhiarra paham akan hal itu. Dan dulu Dhiarra memahami sangat rela dengan sejuta rasa hatinya yang penuh bunga cinta.


Tapi apa yang baru dirasa Dhiarra sekarang...? Dhiarra perlahan menyadari, debar itu telah samar bahkan seringkali tanpa rasa. Semakin memandang Adrian yang duduk di samping, hatinya kian terasa asing. Hanya rasa hambar dan gelisah.


"Ra,,, cobalah santai menyandar. Maaf ya, Ra. Kita benar-benar sedang mengejar waktu. Kamu paham kan, Raa...?" Adrian mungkin merasa bersalah juga.


"Iya, mas. Harus gimana lagi... Aku ngerti," jawab Dhiarra cepat-cepat.


Dhiarra kembali menyandar menutup matanya. Bukan merasa tenang sebab memejam, tapi kepalanya jauh melayang ke Melaka. Rasa sedih mengingat Shin Adnan.


Terkenang saat perjalanan pulang dari Penang menuju Melaka. Shin rela menyuruh Idris melambatkan laju jalan hanya agar Dhiarra menikmati perjalanan di mobil yang atapnya terbuka. Agar Dhiarra tak gelagapan sebab angin. Juga agar tidak mengusutkan rambutnya.


Padahal Shin juga tengah buru-buru mengejar waktu. Yang ada janji dengan pengusaha Manila petang itu. Tapi Shin menyampingkannya.


Juga saat di penginapan,,, Janji dengan calon customer itu dibatalkannya begitu saja. Tidak ragu dan bimbang. Tidak khawatir akan kehilangan peluang.

__ADS_1


Meski nampak disiplin dan keras. Namun Shin sangat baik selama ini padanya. Tidak perhitungan memikirkan kemauan Dhiarra. Ah, encik Shin,, rasanya sangat sedih sekarang. Seperti tersayat saat mengingat Shin Adnan.


Dhiarra terkejut, bahunya di tepuk lembut Adrian.


"Sudah sampai,Ra. Ayo kita turun," Adrian menepuk-nepuk lembut bahunya.


Dhiarra meluruskan punggung cepat dengan mengembalikan ingatan serta pandangan setelah Adrian menarik tangan dari bahunya.


"Ayo, agak bergegas, Raa..!" tegur Adrian yang sudah meloncat ke luar mobil.


"Iya mas, bentar." Dhiarra bergegas cepat menyusul Adrian keluar.


Sat set,,,! Mungkin itu lah persamaan gerak tangan Adrian yang menyambar tangan Dhiarra. Menggenggam erat berjalan di keramaian hiruk pikuk menuju antrian check in penumpang serta barang bawaannya.


Adrian menggenggam erat dan menarik cepat tangannya untuk terus melangkah ke depan. Tidak sadar jika Dhiarra cukup kesusahan saat membawa dan menyelipkan barang bawaannya yang besar. Beberapa kali hampir tersandung dengan paper bag yang menyangkut di tubuh orang. KLIA sangat ramai malam ini.


Moment tak nyaman ini kembali menyeret ingatan Dhiarra pada encik Shin Adnan. Saat lelaki itu pasrah membawakan banyak buntalan di tangan...Saat mereka berjalan bersama di kampung Chew Jetty, Penang.


Ah, encik Shin, kenapa kenangan denganmu terbayang selalu...Ingatkah dirimu padaku? Sedang apa dirimu sekarang, encik Shin? Tak sadar kepala Dhiarra kembali jauh melayang ke Melaka...


Dhiarra telah menarik tangannya dari Adrian perlahan. Memilih mengikuti lelaki itu menuju ruang tunggu keberangkatan pesawat. Dengan sesekali mengamati kanan kiri yang banyak terpampang papan informasi dan iklan.

__ADS_1


Hingga Dhiarra menjumpai layar iklan yang sangat mendebarkan baginya. Layar iklan yang lebar dan memasang banyak gambar-gambar baju terbaru. Baju keluaran Shin's Garment terbaru dan atas nama brand milik Dhiarra sendiri.


Brand nama DIAZ tertulis nyata di tiap gambar baju rancangnya. Diaz-Dhiarra Azzahra, nama brand yang bahkan hanya iseng disebutkan pada Shin waktu itu. Dan Shin benar-benar serius telah menyertakan nama brand miliknya. Bahkan,,, ada juga foto dirinya bersama Shin saat melenggang bersama di panggung saat launching baju malam itu. Dhiarra serasa jadi model jelita bersama pangeran Adnan yang tampan. Aaah,, encik Shin....


__ADS_2