
Wujud calon ratu sehari telah berhasil divisualisasikan dengan sangat sempurna dan maksimal oleh tim make up profesional dari wedor terbaik pagi itu. Wajah cerah yang kian jelita luar biasa, telah berpadu sangat matching dengan baju indah pengantin hasil pilihan suara, atau voting bersama keluarga mertua.
Penampilan keseluruhan Dhiarra nampak benar-benar cantik memukau dan indah. Bersebelahan dengan sang karib yang juga telah disulap menjadi dayang cantik yang setia menggandengnya.
Tim wedor perias telah bertukar dengan tim wedor pengiring pengantin perempuan di kamar Dhiarra. Bertugas mengiringi ratu sehari itu bersama sang karib, si dayang cantik di sampingnya.
Tok..Tok...Tok..Tok...!!
Mungkin ini adalah ketukan terakhir di kamar singgah Dhiarra. Sebab setelah duduk di pelaminan sehari bersama sang suami, Dhiarra akan di bawa lagi ke kamar baru, yaitu kamar pengantin bersama sang suami, Shin Adnan.
Bahkan segala barang milik pengantin wanita, juga ponsel dalam tas pun telah dipindah oleh sang karib ke kamar pengantin mereka. Tentu saja Dhiarra menyadarinya dan hal ini telah membuatnya semakin panas berdebar di dadanya.
Ceklerk,,!
Seorang lelaki yang diam-diam sangat diharap datangnya oleh Dhiarra, tengah berdiri tegak di depan kamarnya. Melangkah mendekati Dhiarra dengan tatapan yang teduh dan cukup menenangkan. Salah satu orang yang paling ditunggu selain sang karib, kini benar-benar telah datang.
"Selamat menikah ya, nduk,, Ayah juga sebagai wakil mamamu untuk datang di perkawinanmu. Ayah akan menemanimu dan juga terus mendoakanmu. Kau harus bahagia dan selalu bersemangat terus, Raa,," Hazrul yang mulai belajar bahasa Jawa itu berucap lembut pada Dhiarra. Setelah bersalam, lelaki itu menepuk-nepuk pelan bahu Dhiarra beberapa kali.
"Iya, pa.. Terimakasih, ayah Hazrul benar-benar bisa datang. Mama dan adik, apa mereka sehat?" tanya Dhiarra, menghempas haru sesak di dadanya.
"Jangan khawatir, mereka sehat. Ada seorang dari kampung Jetty yang menemani di rumah. Dan besok pagi pun, aku sudah kena kembali ke Penang, Raa. Oh, ya,, ada salam dari Azlan. Belum bisa datang, dia kata,, kado menyusul," terang Hazrul sambil tersenyum.
"Iya, paa." sahut pendek Dhiarra.
"Oh ya, Raa. Ayah nak ambil videomu sedikit. Mamamu ingin sangat melihatmu" izin Hazrul sambil mengeluarkan ponsel dari saku kemeja batiknya.
"Apa mama tak ingin meneleponku, pa?" tanya Dhiarra terdengar sendu.
"Mamamu nggak kuat, nduk,," jawab Hazrul lembut. Lelaki itu mulai mengarahkan kamera video pada keseluruhan Dhiarra.
"Assalamu'alaikum, maa,,, doakan aku bahagia selamanya yaa... Aku sayang sama mama... Arra rinduu, maaa,,," sapa Dhiarra dalam video itu sesungguh hatinya.
__ADS_1
"Sst..Raa,, tahan air mata..jangan nangis,," bisik sang karib di samping Dhiarra. Ratu sehari itu mengangguk menanggapi sambil tersenyum ke arah kamera di ponsel yang dipegang ayah sambung.
"Sudah ya, maa,, nanti Arra telpon lagi setelah acara selesai. Wassalam, maa,," Dhiarra melambaikan tangan. Hazrul mengangguk dan menyudahi rekamannya. Menyimpan kembali kamera itu ke dalam kemejanya.
Dhiarra telah mulai diiringi keluar kamar menuju ballroom hotel tempat diselenggarakannya acara akad nikah ulang dan pesta perkawinannya.
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
Pengantin jelita dari Indonesia itu telah didudukkan dengan kain lapis tipis yang ditutupkan sementara di kepala dan wajahnya.
Sang pengantin pria pun baru didatangkan kemudian dan duduk berhadapan agak jauh dari mempelai wanitanya.
Para kerabat serta handai taulan yang entah dari penjuru mana saja datangnya, seperti ditumpah ruah sedang duduk juga memenuhi isi ballroom. Sebagian ikut duduk melantai di karpet bersama pengantin, sebagian juga duduk di kursi-kursi khusus untuk para kerabat dan undangan. Makanan yang melimpah pun juga telah menghampar memenuhi meja-meja di ballroom.
Penghulu serta jajaran petugas perkawinan dari luar Jais dan telah khusus ditemui oleh datuk Fazani, agar acara berlangsung lancar dan mudah, telah siap menjalankan tugasnya. Dengan salah satunya sebagai wakil perwalian akad nikah pengantin perempuan yang telah professional.
Acara akad nikah ulang itu telah mulai dilakukan. Wakil wali dari pengantin perempuan telah melafadzkan akadnya dengan tegas dan tenang kepada mempelai lelaki.
Kalimat ijab itu telah selesai dan habis diucapkan. Menunggu sambut balasan dari mempelai lelaki yang terlihat sedikit tegang dan sedang mengambil nafas panjangnya. Meski ini adalah bukan yang pertama dan justru mengulang lafadzkan, tapi kali ini memang jauh lebih sakral.
Begitu banyak menghampar para saksi serta di hadapan orang tua dan para kerabat yang berkumpul berdatangan. Juga beberapa dokumentator foto dan video. Semua ada dan terlibat di acara perkawinan ulang sakral ini.
Wajar jika Shin Adnan merasa agak tegang kali ini. Tapi bayang cantik Dhiarra serta merta membuatnya bersemangat pantang ragu. Shin sedang mungucapkan balas sambut kabulnya dengan suara stereo gentlenya yang lantang, tegas dan wibawa. Shin telah berhasil menyelesaikan ikrar janji itu dengan sempurna dalam satu tarik nafasnya.
Sah..!! Sah..!! Sah..!!!Sah..!! Sah..!! Sah..!!!
Sah..!! Sah..!! Sah..!!!Sah..!! Sah..!! Sah..!!!
Sah..!! Sah..!! Sah..!!!Sah..!! Sah..!! Sah..!!!
Sah..!! Sah..!! Sah..!!!Sah..!! Sah..!! Sah..!!!
__ADS_1
Sah..!! Sah..!! Sah..!!!Sah..!! Sah..!! Sah..!!!
Para undangan dan kerabat yang datang menghampar, memang sangat berguna dan diperlukan. Kata SAH yang melimpah bersahutan di ballroom sungguh riuh dan kompak. Menandakan sesi sakral ijab kabul sebentar lagi berakhir.
Shin sedang memandang pada pengantin perempuan yang bernama Dhiarra dan telah dinikahinya ulang beberapa menit yang lalu. Menunggu tegang pada perempuan bertudung tipis yang sedang beringsut mendekati bersama dayang cantiknya di belakang.
Menjadi sangat tegang saat kain tipis penutup wajah itu dibuka perlahan oleh sang karib, Yuaneta. Dan nampaklah wajah menakjubkan yang memang mirip Dhiarra yang baru dinikahinya.
Hanya bibir manis seperti lelehan madu itulah yang meyakinkan Shin Adnan bahwa bidadari di depannya itu adalah memang Dhiarra, sang istri yang baru di kabul ulang barusan. Bertambah yakin lagi saat bibir madu itu tersenyum indah dengan mengulur tangan padanya.
"Hon Shin,,,," panggil lembut Dhiarra sambil membawa tangan Shin Adnan untuk ditempel cium di kening dan hidungnya.
Serasa jantungan saja Shin Adnan, takjub dengan perkembangan sikap Dhiarra. Begitu bagus tak disangka dan membuatnya bahagia.
Jauh beda saat berkahwin di depan Jais waktu itu. Dhiarra hanya bersandar di pembaringan dengan kepala menunduk dan terisak. Shin merasa sebagai lelaki yang sedang kawin sendirian saja waktu itu.
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
Pasangan yang nampak imbang serta serasi dalam rupa dan paras itu sedang duduk di pelaminan bersama. Menerima jabat salam dari segala relasi serta para kerabat yang datang. Memberi senyum terbaik agar selamanya jadi kenangan yang bagus.
Pasangan di pelaminan itu sesekali bertukar pandang tersenyum dan saling takjub menatap. Hanya sebentar dan tak sembat berbincang sebab hamparan kerabat masih memanjang untuk antri menyalam.
Dengan di selingi sang karib yang sesekali masih datang untuk menawari mereka sesuatu. Entah minum, entah makan atau juga cemilan permen yang manis.
Dan memang benar faktanya. Pasangan pengantin itu akan lebih memilih dan bahkan merasa nyaman untuk berpuasa saja sementara. Jiwa yang melayang gembira akan lupa pada rasa lapar dan dahaga yang sebenarnya sedang melanda raganya..
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
__ADS_1