
Pagi-pagi di rumah belakang... Terletak terpisah beberapa puluh meter dari rumah besar utama. Dan semua bangunan adalah milik Syafiq Shin Adnan pribadi.
Bangunan rumah itu unik, serupa rumah panggung. Posisinya jauh lebih tinggi dari tanah dan hampir semua ornamen terbuat dari kayu berkelas. Bahkan ada juga jam dinding besar menggantung di luar pintu masuk, dibingkai dengan kayu gaharu. Yang konon adalah kayu asli Indonesia dengan harga fantastis, mencapai puluhan juta rupiah tiap kilogram kayunya.
Rumah tradisional cantik yang mirip rumah upin dan ipin di televisi itu nampak lengang dari luar. Namun ternyata sedang ada kegaduhan di dalam.
"Aku dah tobat daaah....Penat betul tengok tingkah kalian tetap macam tuu..!" seruan ini dari si sulung, Nimra.
"Dah laah.. Lagi pula, ayah telah buat kesilapan sangat besaaar... Cuma gadis Indon itu jugalah yang boleh tolong masa tuu. Kita orang tak ada wang untuk tolong ayah, puuun...! Kalian tak nak ingat kee?!" ucap Nimra menyambung.
"Itu sebab kalian punya pasal laaah!!" kali ini si bungsu Hisyam yang menuding.
"Korang pun tak jauh beda lah, Syam..! Kau nak sangat sekolah kat Bangkok! Engkau pun telah habiskan banyak wang, tauuuu..!!" ini adalah tudingan Sahila.
"Wang beaya kuliah aku tak seberapa, berbanding besarnya kalian kena tipu. Ikut arisan berlian macam-macam tak jelas. Invest niaga macam rupa tak jelas pulak. Kelas sosialita konon... Last apa..?! Kena tipu, kaaan..?!!" Hisyam tengah emosi.
"Dah..,dah...,daah..Kalian saling merepet-repet tu buat apa..?! Tak guna langsung laah..! Semua dah jadi tu biarlah..!" Zubaidah berusaha melerai pertengkaran.
"Baik kalian pergi sarapan sekarang. Jom..lah! Sambil kita bincang sama kat meja, tanpa boleh buat gaduh!!" sepertinya mak cik Zubaidah sudah mulai bertobat.
Empat orang anak beranak itu berjalan menuju meja makan dengan saling beiringan. Berurut mulai Nimra, Sahila dan Hisyam, dengan Zubaidah yang paling di depan.
Zubaidah baru saja selesai memasak di dapur. Namun sambil mengikuti jalannya percakapan serta pergaduhan ketiga anaknya tersebut. Sambil sesekali juga menyahut menimpali dari meja dapurnya.
Kini janda dan anak-anak Hazrul telah duduk berkumpul di meja makan. Mereka menikmati masakan sang ibu tercinta sambil menyambung bahasan barusan. Meski kadang juga bersitegang, tapi perbincangan itu jadi aman terkendali sebab ada sang ibu yang menunggu dan menegur..
🍒
🍒
__ADS_1
Hazrul resmi menceraikan Siti Zubaidah setelah benar-benar jatuh cinta pada ibunya Dhiarra, Ira Larasati. Namun dukungan keuangan tak pernah henti Hazrul alirkan. Uang berapa pun mengalir lari dari akun bank Indonesia ke akun bank Malaysia.
Hazrul selalu menyetujui berapa pun nominal yang diinginkan mantan istri dan anak-anaknya. Pria itu memang menyadari kesalahannya sebab telah mengkhianati pernikahan. Meski rumah tangganya bersama Zubaidah memang telah rapuh dan berguncang. Sebab Zubaidah pun sangat menyukai kehidupan yang mewah. Dan Hazrul begitu bosan dan jengah dengan istrinya yang semakin banyak tingkah.
Sampai semua habis terjual. Bahkan rumah pemberian orang tua angkatnya, atau juga orang tua kandung Shin pun juga ludes terjual tanpa sisa. Kini semua sedang tidak punya apa-apa. Baik Hazrul ataupun Zubaidah. Hanya mungkin keduanya..., suatu saat.., akan mendapat jatah warisan dari pihak orang tua kandung masing-masing.
Itulah kenapa janda dan seluruh anak-anak Hazrul tetap berada dalam rumah besar itu bersama Shin. Sebab pesan orang tua Shin yang tetap menyayangi Hazrul sebagai anak tertua, juga rasa kepedulian Shin pribadi yang tulus pada Hazrul.
Orang tua Shin, mulanya adalah setakat pedagang garment sukses yang telah menikah namun belum juga memiliki keturunan. Akhirnya mengangkat Hazrul yang berusia dua belas tahun, sebagai anak angkat yang kemudian sangat disayangi.
Hazrul adalah bocah cerdas dan rajin. Dia belajar bekerja part time selepas sekolah di kedai garment orang tua Shin. Yang sekarang telah berkembang pesat dan berubah nama menjadi Shin's Garment Store di Mahkota Parade. Bermula dari situlah, orang tua Shin sangat sayang pada Hazrul.
Orang tua Shin pilih menetap di ibukota kerajaan, Kuala Lumpur. Selain sebab rasa nyaman, juga untuk menjaga kestabilan bisnis keluarga. Yakni, Shin tetap tinggal di Ayer Keroh guna mengelola produksi barang. Sedang orang tuanya berada di ibukota untuk ikut memasarkan barang produksi milik Shin, dengan membuka kedai niaga fashion sekali lagi.
Sedang si bungsu Fara, gadis cantik 22 tahun adik Shin itu juga telah mulai berkarier lewat niaga online. Fara berniaga sambil bersekolah lanjutan di Singapura. Dan saat ini tengah menikmati liburan panjangnya.
Perniagaan Fara yang tanpa modal materi itu juga terbilang sudah sukses. Fara hanya bertugas menawarkan dan mengendorse sendiri prodak abangnya, lalu menerima orderan dan mendapat labanya. Sedang penyediaan barang serta pengiriman, dilakukan segalanya oleh manajemen marketing bagian online milik Shin di kilang.
Hisyam... Bungsu Hazrul ini belum punya pandangan. Saat Shin menawarkan posisi penting di kilang, Hisyam menolak sementara. Dia kata ingin menikmati sejenak kebebasan setelah tamat dari pendidikan. Dan Hisyam masih juga penganggur hingga kini. Mengandalkan uang jatah dari ayah ataupun ibunya. Dan kadang juga tak segan meminta pada Shin.
🍒🍒
🍒🍒
🍒🍒
Terminal besar Sentral siang hari....
"Terimakasih, kak..! Sila datang lagi..!" si toke (tauke/boss) cantik sedang bersapa ramah pada pengunjung toko obat yang tengah berlalu.
__ADS_1
Meski kebanyakan adalah obat buatan Indonesia, namun pembelinya dari bermacam kebangsaan. Makhlum, terminal Sentral adalah salah satu pusat keramaian di Melaka. Terminal lokal dan nasional, serta beroperasi dua puluh empat jam penuh. Semua orang menumpah ruah di sana. Begitu hiruk pikuk menuju destinasi kepergian masing-masing.
Posisi toko obat itu memanglah strategis sempurna dan maksimal. Dhiarra selalu merasa beruntung dan tidak pernah sekalipun menyesali. Nama Chen Lei, gege Chen, adalah salah satu nama yang cukup berjasa baginya.
Hampir tiap harinya, untung yang didapat dari niaga obat selalu berlebih dari target. Dan inilah satu pemberat, sebab Dhiarra masih bimbang akan tawaran paman Shin padanya. Tapi berat juga melepas, selain itu adalah pekerjaan baru dan menantang..., Dhiarra juga ingin cepat-cepat menemui sang ibu.
🍒
🍒
Belum juga pukul empat, toke obat telah menutup rapat kedainya. Melesat cepat bersama taksi gelap menuju perumahan di Batu Berendam.
Jarak dari terminal Sentral dengan rumah sang karib tidak sampai sepuluh menit. Sedang jarak dari rumah besar Shin ke terminal Sentral, lebih kurang dua puluh menit.
Kedua karib sama usia itu tengah menikmati bakso urat kuah pedas di mangkuk jumbonya masing-masing. Sambil fokus berbincang, dengan Dhiarra sebagai pembawa berita dan Yuaneta sebagai komentator berita.
" Jadi Ra...Jadilah... Bersedialah... sssh..huh..hah..sssh..," sambil mendesah-desah pedas, Yuaneta menyempatkan berkomentar. Lalu kembali menyendok potongan bakso urat di mangkuk dengan cepat.
"Huh.., hah.., tapi Nett, kedai obatku siapa yang jaga...Kaulah jaga kedai obatku, ya Nett.., gimana Nett? sshhh..sshh...hah.. pedas ..,sedap sangat bakso ini, Nett..," Dhiarra mendesah bibir sambil mengipas-ngipas bibir merah parahnya dengan telapak tangan mengibas bolak-balik.
"Sssshh..., suamiku mana membolehkan, Ra..? Akan kubantu mencari pekerja. Bagaimana? Huh..hah...Pedas gila duh, Raaa..," Yuaneta merasa tersiksa oleh pedas, namun terus menjejalkan lagi bahan pemedas ke mulutnya.
"Huh..hah..huh... Cobalah dulu izin pada Dennis Tan, Nett. Barangkali malah menembak lampu hijau padamu.., sshh...sshh..," sama hal dengan karibnya. Terus melempar butir bakso ke mulutnya. Bibir merah meradang itu telah monyong-monyong mengunyah sedapnya bakso pedas urat.
" Huh.., hah..,huh..Pedas gilaaa... Yelah, yelah Raa.. Jika suami pulang, gass luncur kutanyakan ke dia," Yuaneta telah melicinkan isi mangkuk. Kini menyandar santai di sofa sambil menyambung desah pedasnya yang mulai jarang terdengar.
"Iya, bagus itu Raa.. Kutunggu kabar baik darimu..,"mangkok Dhiarra pun telah lama dikosongkan
Yuanetta mengangguk perlahan " Beres deh, Raaaaaa..!"
__ADS_1
Dua karib duduk menyandar punggung dan setengah menggelosor di kursi. Duduk termenung sambil menikmati sisa desah pedas nikmat baksonya. Sambil berdoa agar yang diharap terwujud segera datangnya. Aamiin.
"