Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
53. Di Mana Ibuku?


__ADS_3

Penumpang yang memilih keluar dengan santai seperti mereka berdua, hanya tersisa beberapa kepala saja. Dhiarra masih terlihat memegangi pagar anjungan. Demikian juga Shin Adnan.


Penyelam-penyelam kecil itu telah menghilang dari air di bawah anjungan. Beperapa naik ke kapal untuk berjemur. Meski akan turun menyelam lagi jika kapal kembali menyeberanh.


Rambut dan seluruh tubuh mereka basah kuyup. Dan sisanya tidak nampak lagi ke mana perginya. Mungkin sedang menukar siling yang didapat dengan makanan pengisi perut.


Shin bergerak, berbalik melepas pegangan di anjungan. Kepalanya menoleh pada gadis cerah yang menyandar pagar di sebelah.


"Apa kau ingin ikut kapal ini kembali ke Butterworth ?" partanyaan Shin mengakhiri kebungkaman mereka.


"Tidak, encik Shin," Dhiarra menoleh dan menjawab pada Shin.


"Apa sudah puas menaiki feri hanya sekali jalan saja?" Shin terus memandang Dhiarra.


"Sebetulnya terasa kurang lama dan tidak puas. Tapi saya tak ingin tergencet lagi kat pagar anjungan. Sakit, encik Shin," gadis itu menyahut cepat dengan asal. Tiba-tiba Dhiarra ingin sedikit menggoda Shin Adnan dengan jawabannya.


Penasaran, lelaki yang tak disangka bisa marah dan mengecewakan, tak disangka juga mendadak ada dan membuatnya gembira dalam waktu yang hampir bersamaan.


Shin menaikkan alis goloknya sedikit, bibir tipis itu lebih merapat. Memandang Dhiarra dengan sedikit berfikir. Ada samar senyum kemudian di wajahnya.


"Hal yang tidak bisa dihindari. Itu kau sudah tahu,Dhiarra. Hanya kau boleh pilih lagi lain kali. Siapa orang yang kau inginkan untuk berdiri di belakangmu. Orang-orang itu atau pamanmu ini?" sambil lebih tersenyum, Shin membalas ucapan Dhiarra.


Dengan tak peduli lagi pada balas ucapan gadis itu, Shin berjalan cepat menuju pintu keluar yang tak ada penjaganya. Dhiarra buru-buru mengikuti dengan bibir mencibir manyun tapi juga tersenyum berusaha mengejar Shin Adnan.


Setelah melewati jembatan panggung beratap yang panjang, mereka langsung berada di tepi jalan besar dan telah keluar dari pelabuhan Georgetown. Telah nampak mobil yang mereka cari tengah bersandar menepi.


Shin mendekati di ikuti Dhiarra dan segera masuk ke dalam. Shin kembali di bangku semula begitu juga Dhiarra. Duduk nyaman di depan bersama sang sopir yang pendiam.


"Macam mana naik kapal feri oii, Dhiarra,,?!" Azlan yang telah segar kembali menyeru pada Dhiarra.


"Asyik sangat. Bila-bila masa nak cuba lagilah aku, Azlan. Nak duduk, tadi habis kursi!" Dhiarra menyahut dari depan.


"Memanglah, jam masa ni penumpang ramai sangat. Sampai pukul delapan lah tuh ramai. Nak buat kerja,," Azlan menimpali ucapan Dhiarra.


"Apa pelabuhan masih buka dua puluh empat jam, Lan?" sahutan Shin mengudara dari belakang.


"Tak lagi, bang. Just pukul tiga pagi hingga pukul sepuluh malam jee.. Tak macam dulu lagi, daah," Azlan menerangkan.


"Apa sebab, Lan?" Shin terus bertanya.


"Sebab tahun lepas, ada anak dara kena rogol (pemerkosaan) saat malam buta kat kapal, bang," jawaban Azlan cukup mengejutkan.


Tak ada lagi sahutan dari Shin. Lelaki itu tak berminat lagi bertanya. Mengingat ada perempuan yang sedang bersama mereka. Rasanya tidak nyaman membahas lagi hal itu bersama.

__ADS_1


"Lalu, anak-anak kecil pengutip siling kat bawah anjungan, pernah ada accident tak, Azlan?!" ini adalah seruan Dhiarra dari bangku depan.


"Tak pernah dengar. Budak-budak (anak-anak) tuh selam dah berlebih lihai sangat lah, Dhiarra,!" jawaban Azlan terdengar cukup nyaring.


Dhiarra membenarkan, anak-anak itu memang terlihat santai saat mencebur dan menyelam. Gerak mereka tanpa ragu dan gentar segurat pun.


Driver nampak mengerem dan membelok, melajukan dengan sangat pelan-pelan sesuai arahan Azlan padanya. Memasuki sebuah perkampungan yang ramai.


Chew Jettylah nama kampung yang sedang mereka sisir. Kampung yang dihuni oleh hampir semua warga China. Dengan masyarakat yang mulanya sebagai nelayan.


Kampung wisata dengan banyak dermaga, serta pasar apung nelayan tradisional yang ramai. Suasana kuno modern itu begitu terasa dan kental saat menyisir di jalannya.


Tanpa terasa, driver telah berhenti dan menepikan mobil di halaman sebuah rumah mini modern yang beda jauh dari rumah-rumah di kampung Chew Jetty kebanyakan. Rumah ala Jepang yang terlihat sangat nyaman dengan pintu menutup rapat dan lengang.


Dhiarra mengikuti Azlan dan dan Shin yang berjalan mendekati pintu lalu mengetuknya.


"Assalamu'alaikum! Bang! Bang Hazrul!" Azlan berseru di pintu.


Lengang tak ada sahutan. Dhiarra merasa dadanya laju berdegup. Seperti mimpi jika akhirnya bertemu sang ibu yang sangat di rindu. Bahkan saat berhenti dan mendekati pintu rumah ini, dadanya bergemuruh. Apalagi sekarang, semakin resah dan tak tenang, hatinya begitu berdebar.


"Assalamu'alaikum! Bang! Bang Hazrul! Kami datang!!" Azlan berseru lebih lantang lagi dari yang tadi di pintu.


"Ya,,! Wa'alaikumussalam,,! Kejap!" sahutan samar dari suara lelaki di dalam.


Ceklerk...!


Pintu terbuka, muncullah wajah pria yang bayang wajahnya kerap melintas di kepala Dhiarra. Wajah yang tidak berubah, bahkan kini justru terlihat kian cerah dan muda. Seperti sedang tidak menanggung kesalahan apapun di hidupnya.


Ya, pria yang hampir setengah baya namun nampak muda itu adalah ayah sambung Dhiarra, Hazrul Rahman! Pria yang telah membawa ibunya serta membuat kehidupan Dhiarra jungkir balik jumpalitan.


"Dhiarra,,,!" nama Dhiarra lah yang pertama disebutkan oleh Hazrul.


"Shin, Azlan,,," Hazrul bersalaman dengan Azlan.


Mata Hazrul kembali menghampiri Dhiarra dan Shin bergantian. Lalu bersamaan Shin dan Hazrul saling mendekat bersalaman dan saling berpelukan sangat erat. Dan saling melepas perlahan. Hazrul kembali memandang Dhiarra. Nampak wajah tenang namun dengan mimik serba salah yang samar.


"Dhiarra, kau baik-baik saja?" itulah kalimat yang telah diluncur Hazrul pada Dhiarra. Hazrul lalu mengulur tangan, tapi Dhiarra abai dan tidak menyambutnya.


Dhiarra membisu, bibir indah merona terlihat jelas mengatup dan merapat. Yang kemudian mengangguk kecil dan hanya sekali. Pandangan Dhiarra lurus dan tajam pada Hazrul. Mungkin jika sesama perempuan, Dhiarra sudah menjambak-jambak rambut Hazrul saat itu.


"Ayolah, ke sini. Semua lekas masuk kat rumah. Jomlah,,!" Hazrul tidak ingin larut dan menanggapi sikap Dhiarra saat itu. Hazrul buru-buru membuka lebar pintu dan meminta Azllan dan Shin untuk masuk.


Shin dan Azlan bergegas masuk dan duduk santai di sofa. Hanya Dhiarra yang nampak kaku menjatuhkan pinggul cantiknya di sofa sembari terus menarik koper mini di genggaman. Gadis itu duduk sangat tegak dan tegang seperti sedang menunggu interview.

__ADS_1


Mengamati ruang tamu yang terasa nyaman dan bersih. Dinding bercat putih bersih itu sangat lapang dan polos. Tak ada pigura berisi satu foto pun yang terpajang dan dipamerkan di sana.


Namun tertempel sempurna set kaligrafi berjumblah empat pigura. Berlafadz asmaNya, nabi, bismillah, serta tulisan lengkap ayat kursi. Selebihnya tidak ada lagi hiasan dinding lainnya sama sekali.


Hazrul telah ikut duduk di samping Shin. Sedang Azlan duduk di seberang bersama Dhiarra. Sang sopir sedang merebah di kursi panjang yang berada di teras.


"Bagaiman garmentmu,?" Hazrul memandang lekat pada Shin Adnan.


Abang beradik yang terpaut hampir tiga belas tahun itu saling berpandangan.


"Alhamdulillah, seperti biasanya. Apa abang tetap tak nak bantu?" Shin memandang serius pada Hazrul.


"Maafkan aku, Fiq. Rasa tenangku dah kudapat kat sini." Hazrul menjawabnya dengan lirih. Shin terdiam dan merebah punggung di sofa.


Fiq, Syafiq, itulah nama panggilan dari Hazrul untuk Shin sedari kecil. Syafiq adalan nama depan Shin yang khusus diberikan Hazrul untuk adik bayinya saat baru lahir. Dan nama Syafiq itulah yang diberikan Hazrul pada Dhiarra untuk datang ke Melaka mendatangi Shin Adnan beberapa bulan lalu.


"Di mana ibuku? Aku ingin bertemu,," suara dingin Dhiarra terkesan menyela tiba-tiba.


Azlan, Shin dan Hazrul bersamaan menoleh pada Dhiarra. Wajah cantiknya terlihat kaku dan tegang, semakin jelita dipandang. Mata Dhiarra memandang tajam pada Hazrul.


"Sebentar, Dhiarra. Ibumu masih merapikan diri di kamar,,,," Hazrul terdengar agak gugup saat mengatakan hal itu pada Dhiarra.


Dhiarra terus menatap Hazrul tanpa segan. Menangkap aura tidak tenang pada wajah sang ayah sambungnya. Aura yang tidak biasa muncul di wajah tenang itu.


🍒🍒🍒🍒🍒🍏🍏🍏🍏🍏


🍏🍏🍏🍏🍏🍒🍒🍒🍒🍒


🍒🍒🍒🍒🍒🍏🍏🍏🍏🍏


🍏🍏🍏🍏🍏🍒🍒🍒🍒🍒


🍒🍒🍒🍒🍒🍏🍏🍏🍏🍏


Sementara otor setor bab, satu bab aja per hari yaaa.....


Otor sedang tak semangat saat ini, tapi tetap saja semangat update tiap hari..


Terimakasih pada kakak2 reader yang selalu memberiku semangat tanpa bosan...


🍏🍏🍏🍏🍏🍒🍒🍒🍒🍒


🍒🍒🍒🍒🍒🍏🍏🍏🍏🍏

__ADS_1


🍏🍏🍏🍏🍏🍒🍒🍒🍒🍒


__ADS_2