Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
57. Banyak Buntalan


__ADS_3

Setelah menghabiskan bulatan pizza mini di meja masing-masing serta segelas milo coklat hangat, keduanya kembali berjalan menyusuri perkampungan wisata China di Chew Jetty. Dan berakhir di tempat penitipan dua puluh empat jam, tempat si gadis menyimpan barang belanjaan.


Shin terheran dengan belanja Dhiarra yang banyak tak tanggung-tanggung. Bahkan mengalahkan Fara yang baginya suka lupa diri saat belanja. Lelaki itu hanya terdiam saat penjaga penitipan mengulur semua belanjaan itu di tangannya. Sedang pemilik barang hanya nampak sibuk mengecek kebenaran serah terima titipan yang semua telah dipegang Shin Adnan dengan kaku.


Dhiarra mengabaikan tatap mata protes dari Shin. Tetap membiarkan semua kantung belanja itu tersangkut di tangan kanan kiri Shin seluruhnya. Si gadis sengaja membuat lelaki itu merasa sebal dan gengsi. Seperti tertantang untuk mencoba sejauh mana kesabaran Shin dengan perlakuan konyol yang diberikan Dhiarra pada sang paman.


"Encik Shin, apa kita lanjut berjalan-jalan atau anda memilih pulang?" Dhiarra memandang wajah kaku itu dengan tersenyum.


"Jika lanjut berjalan-jalan, untuk apa mengambil benda-benda tak jelasmu ini sekarang?!" sepertinya Shin masih berharap jalan-jalan.


"Apa anda ingin pusing-pusing (putar-putar) lagi kat sini? Macam mana jika barang-barang ini kita titip kembali saja, encik Shin?" Dhiarra bertanya seolah sungguh-sungguh. Padahal bibir itu sedang sangat ingin tertawa.


"Tidak. Kita pulang saja sekarang. Meletak dulu barang-barangmu ini. Sebentar lagi datang waktu maghrib, Dhiarra," Shin menyahut dengan tegas. Mulai berjalan terpaksa dengan langkah yang pasrah.


Tapi Dhiarra menangkap ada maksud lain dari jawaban sang paman barusan.


"Meletak dulu? Apa encik Shin ingin mengajakku jalan-jalan lagi ke sini?" Dhiarra terus mengejar. Rasanya sangat bersemangat jalan-jalan bersama sang paman kali ini.


"Apa kau tidak bosan di sini terus? Kita akan mengunjungi tempat Azlan. Sekaligus tempat kerja ayah sambungmu." wajah Shin perlahan nampak cerah. Mungkin mulai menikmati berjalan dengan banyak buntalan di tangan. Dhiarra yang melihat itu tersenyum, merasa sang paman terlihat menggemaskan saat berpenampilan seperti itu.


Tiba-tiba Shin berhenti berjalan, menoleh dan memandang Dhiarra.


"Dhiarra, apa kau sering memperlakukan Adrian seperti ini?" tiba-tiba Shin memberi pertanyaan yang menyusahkan sekali lagi.


Tentu saja susah, sebab memang belum pernah. Belum pernah berbelanja besar bersama Adrian selama bersama. Hanya jalan, makan, nonton, serta membeli sesuatu yang kecil. Dhiarra tersenyum mengingat kenyataan itu.


"Tidah pernah, encik Shin. Apa anda merasa keberatan membawa itu semua?" senyum sengih gadis itu pada Shin. Merasa kedatangan segan tiba-tiba.


"Aku tidak keberatan. Kelak jika kau sudah menikah. Jangan pernah lupa pada kebaikan pamanmu ini," lelaki itu berkata ketus dengan wajah yang kembali keras dan kaku. Kembali berjalan meninggalkan si gadis yang diam tertegun di belakang.

__ADS_1


Berjalan memburu sang paman yang mulai hilang jejak sebab tertutup orang-orang menyemut di Chew Jetty. Perasaan takut ketinggalan serta gores rasa sesak sebab perkataan Shin Adnan barusan. Tiba-tiba merasa tidak ingin membayangkan saat Adrian datang menjemput dan harus pergi meninggalkan sang paman.


🍒🍒


Hazrul yang tengah duduk di teras sambil menunggu adzan maghrib, memandang adik angkat serta putri sambungnya yang baru pulang dari kampung nelayan dengan pandangan tercengang. Shin nampak repot dengan banyak tentengan ditangan, sedang Dhiarra melenggang kangkung tanpa barang satu pun dibawa. Ini sangat janggal dan diluar kebiasaan Shin Adnan. Hazrul sangat paham bahwa Shin begitu malas berbelanja. Bahkan dengan sang ibu sekali pun.


🍒


Mereka sedang makan malam setelah melunasi waktu maghrib. Hazrul dan Shin nampak sama-sama mengenakan kemeja koko panjang dan sarung. Sang abang membawa adik lelakinya untuk berjamaah di masjid yang tidak terlalu jauh dari rumah.


"Shin, kalian tadi pergi ke pasar Chew Jetty? Banyak sekali belanjaanmu," ucapan Hazrul terdengar ingin tahu.


Shin terdiam menghentikan gerak sendok. Melirik Dhiarra yang justru buru-buru membuang muka dari Shin.


"Punya dia,," tunjuk Shin bersama sendoknya pada Dhiarra.


Hazrul terdiam, memandang Dhiarra yang duduk disamping Shin. Dhiarra menangkap pandangan Hazrul padanya.


"Jangan repot-repot lagi, nak. Mama bisa membelinya sendiri nanti," jawab sang mama dengan lembut.


"Tidak mengapa, ma. Aku justru akan merasa bersalah jika ternyata tidak bisa datang saat mama melahirkan. Sedang aku belum pernah membelikan apapun untuk kalian," jawab Dhiarra. Sang ibu terdiam lalu mengangguk tersenyum.


"Terimakasih, Dhiarra. Apa rencanamu untuk menginap dua malam lagi di sini itu sungguh-sungguh? Mama akan mengajarimu memasak menu yang kebanyakan orang pasti suka," sahut sang mama.


"Benar, ma. Tapi Dhiarra sendiri. Encik Shin lebih dulu pulang,," jawab Dhiarra.


"Bagaimana jika lebih lama lagi?" sang ibu mencoba menawar.


"Dua hari lagi, kau akan dijemput sopir, Dhiarra. Maaf kak Ira, masih banyak tanggungan kerja Dhiarra padaku. Jadi aku hanya bisa membagi ponteng dua hari saja untuknya," sahut Shin dengan sangat cepat.

__ADS_1


Semua terdiam tak menyahut. Boss besar garment itu sangat tegas menyampaikan. Hazrul merapatkan bibir dan bertaut alis memandang Shin yang tengah menyorot lurus pada Dhiarra. Ada sesuatu yang berkelebat di kepala Hazrul dari pandangan adik lelaki angkatnya itu pada putri sambungnya...


🍒🍒


Dengan saling diam, mereka sedang keluar menuju tempat Azlan yang sama-sama masih di kawasan Penang heritage, Georgetown. Menaiki mobil milik om Hafiz yang telah dibawa ke rumah Hazrul oleh drivernya Shin. Kini sang driver membawanya kembali ke tempat Azlan dengan memuat dua orang di dalam.


Mereka telah sampai di rumah makan serta penginapan mini milik Azlan. Rumah makan dengan menu khas olahan Malaysia itu sangat ramai. Namun Azlan adalah seorang boss muda yang sedang bersantai dan sering dihinggapi rasa kantuk. Mereka bertiga tengah bersembang santai di ruang pribadi Azlan dekat penginapan.


"Rugi sangat just pergi Chew Jetty, Dhiarra! Besok kubawa engkau pergi tempat-tempat lawa kat sini. This is Penang heritage, Dhiarra! Georgetown adalah situs warisan dunia by UNESCO,,!!" Azlan begitu bising berbicara di depan Dhiarra.


Dhiarra tersenyum pada Azlan, melirik sebentar sang paman yang semakin nampak kaku terdiam. Dhiarra tahu apa yang membuat wajah lelaki itu nampak keras tapi kian tampan.


"Bawalah aku kat mana-mana tempat yang seronok (asyik/menyenangkan), Azlan. Waktuku tak banyak. Lusa petang aku kena bertolak balik kat Melaka,!" dengan tersenyum gembira, gadis pendatang membalas ucapan Azlan.


"Dengan senang hati kubawa engkau pusing-pusing kat Penang hingga bosan. Aku janji kat engkau, Dhiarra," Azlan tersenyum lebar.


Mengacuhkan abang sepupu yang berkabut semenjak datang. Azlan tak tahu apa masalah lelaki itu. Yang Azlan paham memang macam itulah Shin Adnan.


🍒🍒🍏🍏


🍒🍒🍏🍏


🍒🍒🍏🍏


🍒🍒🍏🍏



Pasar apung di Chew Jetty

__ADS_1



Sudut kampung wisata China di Chew Jetty siang hari saat sepi.


__ADS_2