
Pagi-pagi di Shin's Room,,,,
Faiz baru saja membuka pintu ofis dan langsung mendapat tangkapan mata sosok sang tuan di sofa. Pria yang sedang duduk itu tiba-tiba berdiri lurus begitu Faiz tiba di pintu.
Dan wajah tampan sang tuan lebih cerah berlipat lagi dari kemarin, saat merasa puas sebab mendapat orderan dari Justin. Tatapan Shin adnan pada Faiz bukan lagi tatapan yang ingin menelan. Tapi pandangan hangat dari seorang atasan.
" Assalamu'alaikum. Pagi, tuan Shin,,!" sapa Faiz sambil hormat menunduk.
"Wa'alaikumsalam, Iz,,!" Shin terus memandang Faiz dengan tegak berdiri.
Lalu mengikuti di belakang sang asisten yang sedang menuju ruangannya.
"Izz,," Shin memanggil nama Faiz. Namun kali ini panggilan itu terdengar pelan, tidak lagi kencang dan seru seperti biasanya.
"Ya, tuan Shin,," Faiz menyahut dan tidak jadi duduk di kursinya.
"Masih berapa banyak lawatan lagi yang datang, Iz,,?" tanya Shin yang berdiri di pintu.
"Lima lawatan lagi, tuan Shin. Dengan hari yang beruntun," jawab Faiz sangat cepat. Sang asisten memang telah lihai dengan tugas kerjanya. Jauh beda jika diminta mencari di mana Dhiarra, Faiz merasa pening melakukannya.
"Jadi lima hari lagi baru akan habis lawatan itu, Izz,,?" tanya Shin tetap dengan mode tenangnya.
Faiz buru-buru mengangguk. "Betul itu, tuan Shin,,!" jawab asisten sambil mengangguk.
Faiz terus mengikuti gerak sang tuan dengan rasa sangat lega. Si boss telah di luar dan akan menutup pintunya.
"Izz,,,!" tiba-tiba Shin berbalik dan memanggil nama asisten.
Faiz kembali tegak berdiri menatap si boss yang kembali menembak panggilan maut padanya. Faiz bersiap tegang mendengarnya.
"Ya, tuan.." Faiz menatap menunggu.
Dalam hati berharap si boss janganlah bertanya dulu tentang kabar Dhiarra. Hari ini Faiz sedang mati langkah untuk menggali kabar di manakah Dhiarra.
"Bekerjalah yang baik, Iz,, tak yah lagi kau turut pikir pasal Dhiarra. Dia dah ada kat Penang. Kerja kat Azlan, putera bungsu om Hafiz," Shin berkata tanpa mampu lagi menyembunyikan cerah wajahnya yang tersenyum.
__ADS_1
"Benarkah, tuan Shin?!!" Faiz berseru, bertanya gembira pada sang tuan.
"Ya,,," Shin menjawab singkat.
"Iz,, cepat bagi pensiun orang-orang stupid yang engkau sewa tuu. Tapi bagilah pesangon yang cukup-cukup buat orangmu tuu. Berapa wang habis, laporkan juga kat aku,,!" Shin berseru sebelum benar-benar berbalik dan meninggalkan Faiz di dalam ruangannya.
Faiz sedang sangat ingin jungkir balik bersuka ria saja rasanya. Akhirnya Dhiarra dah terdeteksi. Bahkan si boss sendiri yang mendapat beritanya.
Ah, akhirnya kau muncul Dhiarra. Bebas dan fokus bekerja sajalah Faiz sekarang.
Memang sangat repot menghadapi sang tuan yang sedang gila pada wanita. Dan lebih ribet lagi sebab yang digilai itu adalah istri sendiri yang baru saja dikawini,,
🍒🍒🍓🍒🍒
🍒🍒🍓🍒🍒
Rumah keluarga datuk Fazani,, Kuala Lumpur..
Makan bersama tengah hari oleh tiga orang saja dalam meja makan itu, sambil berbincang serius di antara ketiganya. Mereka adalah sang ayah, datuk Fazani,, sang ibu datin Azizah dan juga anak dara mereka yang cantik, Fara.
"Sebaiknya kita datang semua saja, ma,,," Fara mengusulkan.
"Tapi jauh sangat Fara. Ayah engkau boleh tahan tak,,?" datin Azizah menatap Fara kemudian pada sang suami.
"Papa kena ikut juga. Papa pasti tahan lah, ma,, asal kita naik pesawat saja," sahut datuk Fazani menatap putri dan istrinya sebentar. Kemudian memandang isi piring guna melanjutkan makannya.
"Best jika macam tuu, paa,, selepas makan, Fara akan buat booking pesawat pergi balik untuk kita," Fara nampak bersemangat. Mengunyah cepat makanan di mulut serta menyendok penuh-penuh makanan dari piringnya.
"Tapi,,, macam mana dengan Shin,,? Dia nak ikut, tak,,? Dia masih tak fokus lagi kee,,?" tanya datin Azizah pada Fara.
"Fara, coba engkau hubungi abangmu. Nak ikut pergi, tak,,?" kali ini adalah arahan datuk Fazani.
"Fara tak nak kolling abang Shin, pa,, Fara akan tanya kat bang Faiz saja. Sambil tanya die, kak Dhiarra dah terjumpa kee,,?" Fara memandang sang ayah sesaat.
Fara dan orang tua sudah mendengar juga jika Dhiarra tidak jadi menikah dengan calon suaminya, Adrian. Sebab Fara pun juga masih ikut menyelidik perkembangan Adrian di Indonesia, melalui kawan Indonesianya di Yogyakarta. Hanya saja Fara juga gagal mendapat laporan akan keberadaan Dhiarra.
__ADS_1
Fara mondar mandir di teras dapur sambil berbicara. Wajahnya nampak serius saat terdiam mendengarkan lawan bicaranya di ponsel. Sesekali wajah cantiknya pun mengangguk. Dan sesekali juga menoleh pada datin Azizah serta datuk Fazani yang juga sedang memandang mengikuti sebagian percakapan Fara dengan Faiz di talian.
Fara telah selesai dengan perbincangannya di ponsel. Kini telah duduk manis lagi di kursi meja makan berhadapan dengan sang parents.
"Ada kabar menarik apa, Fara,,?" tanya sang ayah pada putrinya.
"Bang Faiz cakap, kak Dhiarra ada kat Penang, pa,,, tak nak balik jumpa abang Shin kat Melaka,," Fara berkata termangu-mangu memandang parentsnya.
"Asal pulak Dhiarra tak balik dulu jumpa dengan Shin,,? Tak betul sangat Dhiarra nii,," datuk Fazani terkesan merutuki Dhiarra.
"Tak boleh salahkan orang macam tuu, paa.. Selain Adrian dah kawin tuu.. Kita tak tahu, apa lagi alasan mereka tak jadi kawin.. Alasan apa juga Dhiarra direct pergi Penang langsung.. Kita tak tahu isi hati orang, paa,," datin Azizah coba meredam darah panas sang suami.
"Lalu, apa Shin sudah pergi ke Penang,,?" tanya datuk Fazani pada sang putri.
"Bang Shin memang terniat sangat nak jumpa kak Dhiarra, paa. Tapi bang Faiz kata, abang Shin nak urus kerja syarikat hingga khatam. Lepas tuh akan pergi Penang pulak,," terang Fara penuh semangat pada datuk Fazani.
"Baiklah, Fara. Minta kat Faiz bila agak-agak Shin nak bertolak kat Penang. Kita ikutkan dia saja. Selisih sehari dua hari pun tak kisah," putus datuk Fazani.
"Pa,, macam mana saat kat Penang, kita lamarkan sekali tuu Dhiarra buat Shin. Sekali jalan, pa. Agar kuat perkawinan mereka tuu. Biar Dhiarra lebih bertenang, tak lagi main lari-lari kucing macam nii,, Ikut terpikir sangat lah mama nii, paa,," datin Azizah berkata pelan pada sang suamj. Berharap saran dan idenya diterima.
Datuk Fazani manggut-manggut menatap sang istri.
"Benarlah tu, maaa,,, Jadi kita kat Penang nii, apa boleh dicakap? Melawat cucu kee,,melawat besan kee,,, atau melawat menantu,,?" datuk Fazani tiba-tiba tertawa kecil dengan ucapannya. Jadi merasa konyol sendiri.
"Ha...ha..ha...ha...ha.. Betul sangat tuu, paa.. Pening juga kupikir laah. Papa boleh lah pilih tajuk yang mana papa suka... Menantuku besanku kee,,, atau Cucuku menantuku kee...? Ha..ha..ha..." fara jauh lebih terbahak lagi tertawa.
Merasa hubungan keluarga kali ini akan jadi sangat rumit disebutkan. Nasib baik keluarga bang Hazrul agak jauh di pulau seberang. Jika tidak, mungkin akan lebih mudah diendus serta jadi bahan bincang seru dari para kerabat.
Apalagi yang sekedar kerabat. Bahkan datuk Fazani, datin Azizah, serta Fara sebagai pemilik hubungan keluarga yang rumit itu sendiri pun merasa hal itu cukup sangat kelakar dan boleh ditertawakan. Ha..ha..ha..ha..ha..
"Lalu apa sebutan untuk putra kita dengan Dhiarra itu, paa,,,?" kali ini datin Azizah yang melempar bahan kelakar sembari menahan pingkal tawanya.
"Istriku adalah keponakanku,,, ah, ini tak rumit sangat maa.,, Ha..ha..ha..," fara kembali tergelak-gelak yang tak bisa ditahannya lagi.
Oh, Shin Adnan,,,, Kau telah memilih gadis Indonesia itu yaaa,, Kau telah mencipta hubungan yang rumit bagi mereka....Ha..ha..ha..
__ADS_1