
Pukul 03.20 am.. Jauh sebelum waktu subuh di pulau Penang....
Terbangun tiba-tiba tanpa alarm sebelum subuh, sudah menjadi rutinitas Dhiarra akhir-akhir ini. Mengerjapkan mata dan menggeliat kecil sesaat. Merentang luruskan tangan jauh-jauh ke atas.
Menoleh sesorang yang tidur masih sangat lelap di bantal sebelah. Wajah berkerut itu entah sedang bermimpi apa dalam tidurnya.
Semalam memang keluarga datuk Fazani ingin mengambil kamar sewa di penginapan milik Azlan. Tapi berhubung perbincangan berlangsung sangat seru dan lama, mereka selesai diakusi hampir tenggah malam. Hazrul meminta keluarga angkat untuk menginap semalam saja di rumahnya. Tentu dengan sarana dan fasilitas tidur yang ala kadarnya.
Fara memohon pada keluarga terutama pada abangnya Shin, agar diberi izin untuk tidur bersama kak Dhiarra di kamarnya. Dan tidak mungkin seorang pun menentang. Keadaan memang sedang tidak memungkinkan.
Dhiarra yang merasa sebagai tuan rumah, tentu dengan senang hati mengikuti tarikan tangan Fara menuju kamarnya. Gadis cantik yang mungkin adalah adik ipar itu, berkali-kali memang terciduk menguap dan nampak sangat kelelahan. Tidak fokus dengan perbincangan di sofa.
Itulah sebab kenapa Fara bisa tidur sangat nyenyak di kamarnya.. Dan yang lain tidurnya bagaimana, Dhiarra tak paham. Seperti latah ketularan rasa kantuk dari Fara, Dhiarra pun cepat tertidur, hingga terbangun sekarang ini.
Dhiarra mencari-cari ponselnya. Ingin memesan food delivery yang terawal, pukul enam pagi di rumah makan milik Azlan. Merasa tak sanggup memasak, sedang dirinya adalah satu-satunya tuan rumah perempuan. Melempar beban pada food delivery, dia rasa adalah jalan ninja terbaik pagi ini.
Dhiarra teringat ponselnya ada dalam tas yang diletaknya di meja pojok belakang sofa. Bergegas bangun dan keluar perlahan dari kamar. Ada rasa was-was, tak ingin fara terbangun karenanya. Dhiarra singgah sebentar di meja makan untuk duduk dan mengambil air minum segelas. Dan itulah hal utama yang harus dia lakukan saat baru bangun tidur.
Dhiarra meninggalkan meja makan, berdiri sejenak di perbatasan ruang tamu dan ruang tengah. Terkejut sesaat, hatinya berdebar. Tubuh besar panjang yang tengah rebah di sofa itu adalah jelas Shin Adnan.
Dhiarra berusaha tenang dan meyakinkan diri bahwa Shin masih tidur sangat pulas. Ruang tamu yang gelap itu menjadi samar-samar sebab sorot cahaya terang dari ruang tengah, lampu ruang tengah tidak pernah dipadamkan.
Berusaha mengabaikan Shin yang sebenarnya membuat Dhiarra agak iba. Tubuh Shin yang besar itu seperti tidak muat ditampung di sofa. Mengharukan, boss garment terhormat itu tengah tidur pulas di kursi sofa yang sempit.
Ah, biarlah,,, memang harus begitulah lelaki. Siap berada di segala macam posisi dan kondisi. Dhiarra coba mengacuhkan.
Fokus pada tas di meja yang samar-samar dilihatnya. Berjalan tergesa menuju meja dengan hati-hati. Ada rasa debar dan resah jika bunyi teplak kakinya akan didengar oleh Shin. Saat ini tidak ingin lelaki itu terbangun, yang justru menyebabkan Dhiarra jadi salting dan kikuk.
__ADS_1
Kakinya telah mencapai meja di pojok dengan tas yang sudah tersambar di tangan. Sedikit lega rasanya, namun resah itu masih juga tersisa. Resah yang mungkin tidak jelas. Antara resah cemas Shin terbangun atau resah harap agar Shin bangun dan melihat datangnya. Mungkin pilihan terakhirlah yang diresahkannya...
Shin dengan posisi tidur yang letak kaki ke arah meja pojok dan kepala membujur di sana, masih pulas tertidur saat akhir kali Dhiarra meliriknya.
Berbalik jalan dengan tas yang mulai dibukanya. Mencari raba ponsel di segala penjuru dalam tasn. Ingin segera membuat pesanan agar Azlan memberi layanan prioritas padanya.
Degh,,! Auuugh! Dhiarra hampir saja histeris. Namun terbungkam sendiri saat sadar tangan yang tengah menariknya lalu memojokkannya kembali dekat meja adalah Shin Adnan...Suaminya!
"Nnciik Shiiiinn..." Dhiarra merasa termegap. Shin telah memeluk hangatnya sangat nyaman dan lembut. Lengan besarnya telah melingkari pinggang dan punggung dadanya.
"Raaa,,, Aku rindu, rindu yang sangat denganmu. Kenapa kau sama sekali tak bisa dihubungi, heemm,,??" Shin bertanya bisik di rambut kepala Dhiarra. Tangan Shin terus bergerak mengusap-ngusap lembut punggungnya. Rasanya sangat hangat.
"Maaf,,maafkan aku. Ponselku hilang saat aku sujud isya' di mushola bandara, Indonesia," jawab bisik Dhiarra. Shin merasa hembus nafas Dhiarra sangat hangat menerpa dadanya.
"Lalu, kenapa tidak pulang ke rumahku? Tidak kembali langsung padaku?" Shin mengeratkan pelukannya. Menumpahkan sisa frustasi sebab sempat kehilangan perempuan di pelukan.
"Harusnya kau sudah paham, bagaimana Sazlina itu bersikap padaku," jawab Shin dengan terus berbisik.
"Tapi hatiku tidak rela. Risih melihatnya. Rasanya sakit,," Dhiarra menjawab jujur dan berbisik. Mengulur tangan melingkari punggung Shin, memeluk lelaki itu sangat rapat.
"Raa,,, kau merasa cemburu? Kau sangat cemburu padaku?" tanya Shin yang masih terus berbisik. Tangannya berpindah ke rambut di kepala. Mengelus lembut di sana. Begitu syahdu rasanya. Dhiarra kian termegap.
"Aku cemburu,,,, aku tidak suka, encik Shin. Jangan bolehkan dia menyentumu,," kata Dhiarra berbisik manja pada Shin.
Mendengar itu, Shin agak merenggangkan pelukan. Memegang kepala Dhiarra dan memandang wajah bangun tidurnya yang cantik dan remang.
"Itu kau cemburu padaku. Aku tidak akan lagi mengizinkannya. Maafkan aku juga,,"
__ADS_1
"Tapi, Raa..... Berfikirlah juga, bagaimana perasaanku saat kau lebih memilih pergi dengan Adrian,,Seperti sedang kau bakar, Dhiarraaa..." bisik lirih Shin benar-benar tepat di wajah Dhiarra. Shin menundukkan kepalanya.
"Aku minta maaf. Maafkan akk,,kkuu,,," Dhiarra bicara tersendat. Shin merambatkan lembut tangannya di wajah dan menyentuhkan jarinya di bibir lembut Dhiarra.
"Minta maaflah yang benar, " suara bisik Shin terdengar mulai parau. Hanya mata berkilatnya yang sedang nampak di keremangan.
"Aku minta maaf padamu,," sambut lirih Dhiarra memandang Shin Adnan dalam remang.
Wajah tampan itu mendekat dan merapati wajah Dhiarra.
"Belajarlah minta maaf lagi dengan benar," bisik Shin sangat lembut.Dan tiba-tiba telah menempel rapatkan bibirnya pada bibir Dhiarra. Hanya menempel dan diam.
"Belajarlah,,," Shin berdesis dan kembali diam di bibir Dhiarra.
Gadis yang sangat berdebaran dengan rasa yang mulai panas dingin itu sejenak berfikir. Belajar bagaimana yang sebenarnya sedang Shin Adnan inginkan darinya.
Auwwauw,,, mungkin saja inilah yang sedang diinginkan Shin darinya.
Bibir indah itu dengan agresif telah menngulumm bibir Shin dan ********** berhasarat.
Seperti memasang jerat di kail pancingnya, Shin langsung menyambut sambar bibir Dhiarra yang terus bergerak memaghutt bibirnya. Benar-benar tidak rela menyiakan kesempatan.
Shin dan Dhiarra sedang berlomba berebutan bibir dan lidah dalam mulutt. Mereka berciuman dalam remang yang justru kian menggelorakan. Panas dingin saling berbelukan dengan wajah yang jian rapat tak ingin melepas.
Pagi buta yang dingin menusuk telah berubah jadi panas dingin nikmat tanpa rasa puas. Terus saling memaghutt dalam deru hasrat dan nafsu.
Berdebar sebab hasrat sekaligus debar rasa resah. Resah jika saja seseorang datang tiba-tiba dan menangkap basah mendadak.. Tapi situasi rasa seperti itu justru seperti bahan bakar yang kian berkobar,, Seperti ingin tak peduli dengan apa saja dan siapa saja yang datang...
__ADS_1