
Kendaraan sewa sekaligus driver sewa itu telah berhenti di pelataran parkir sangat luas. Tempat parkir yang disediakan khusus sebagai sarana bagi pengunjung di pantai.
Dhiarra akur saja saat Shin mengajaknya ke pantai. Pantai Batu Ferringhi-Penang yang kemarin juga menjadi destinasi datuk Fazani dan family. Sangat indah dengan garis pantai berpasir putih yang menghampar luas di sepanjang area bibir pantainya.
Hanya dengan waktu perjalanan dua puluh menit saja dari Chew Jetty, Georgetown. Perjalanan sangat singkat yang tiba-tiba telah mengantar mereka pada tujuan dengan cepat.
Shin dan Dhiarra tengah berada di resto Holiday Inn, di area Batu Ferringhi Beach. Berdiri di meja pemesanan VIP dan segera dihampiri resepsionis resto dengan segera.
"Selamat pagi...Nak pesan yang mana kee,, tuan dan puan?" tanya pelayan wanita itu sangat ramah.
Sambil menyodor dua buku menu pada Shin, dan Shin pun segera menyodorkan lagi yang sebuah pada Dhiarra. Keduanya segera berlomba membuka dan mengamati. Namun Shin tidak terlalu menyimak buku menu. Matanya sibuk melaser area sekitar pantai yang juga nampak megah hotel Holiday Inn dari tempat Shin berdiri.
"Tuan terminat nak stay kat hotel juga kee? Boleh booked sekalian dari sini. Pasti akan lebih mudah untuk anda,," tawar pegawai wanita itu sangat ramah.
Shin dan Dhiarra menoleh bersamaan, keduanya saling pandang dan bungkam. Lalu saling melempar senyum menghempas kebimbangan.
"Terimakasih, kak. Tapi kami hanya ingin jalan-jalan saja kat pantai." Dhiarra segera menyahut memutuskan.
Khawatir jika Shin tiba-tiba menerima tawaran dari pegawai resepsionis itu. Wajah lelaki tampan itu mendadak meresahkan. Dhiarra sangat paham gelagatnya.
"Kak, aku nak pesan menu nomor empat puluh lima, dua... Sama soft drink nomor dua puluh tujuh, dua. Dah itu saja , kaaak,," Dhiarra cepat-cepat mengembalikan buku menu. Sebab Shin nampak pasrah dan tak minat memilih. Dhiarra lah yang memesan mengambil alih. Shin hanya tersenyum penuh arti menatapnya.
"Okey,,, jadi tuan dan puan sekedar nak dating dan kencan saja kee? Semoga anda berdua bergembira dan bahagia.... Silahkan menunggu di meja ini.. Terimakasih,,," sahut pegawai wanita itu dengan tetap penuh senyum. Lalu mengulur sebuah table card pada Dhiarra.
Table Card itu menunjuk angka yang sama pada pada sebuah ruang kaca kecil dan menghadap ke pantai. Yang merupakan meja privasi dalam ruang kaca tembus pandang.
"Kenapa dinding ruang ini dari kaca, Raa,,?" Shin tiba-tiba bertanya menatap Dhiarra. Tersenyum dengan alis goloknya terangkat ke atas.
Dhiarra menatap Shin sekilas dan abai pada tanyanya. Kakinya maju selangkah dan menyimpan senyuman. Sangat paham maksud pertanyaan Shin barusan.
Dhiarra menempelkan table card di scan pass, sesuai instruksi yang tertulis di sana. Bunyi 'diinngg' di scan pass mengawali tergesernya pintu kaca itu.
Dhiarra menolak dan menghindar saat Shin duduk menyebelahinya di sofa empuk yang panjang. Segera berdiri dan memilih duduk sendiri di kursi single di samping.
"Heii, Ra, kenapa engkau tak nak duduk denganku?" Shin terheran memandang Dhiarra di depannya.
Gadis jelita itu melebarkan mata beningnya sesaat.
"Pegawai wanita itu kata, kita ini hanya kencan. Jadi aku tak ingin duduk di sampingmu berdekatan, hon Shin. Sebab itu akan sangat membahayakan,," jelas Dhiarra sambil menahan senyuman. Shin tersenyum masam dengan perkataan Dhiarra.
__ADS_1
Namun kemudian tersenyum lebar membuang muka. Sama juga Dhiarra, berpaling muka dan tersenyum.
"Ra, engkau nak tukar resto, tak? Ini salah pilih, kita dah salah masuk, Raa. Asal pulak dinding ini berbahan kaca tembus pandang,,?" Shin berkata lirih mengeluh. Abai dengan ucapan Dhiarra barusan. Namun Dhiarra mendengar dan menahan tawanya.
"Dah lah, hon Shin,, Anggaplah hari ini kita tengah puasa. Tak boleh buat hal-hal yang berat saat puasa kan.? Dan harap-harap papamu tak ambil sewa penguntit untukmu,," Dhiarra tersenyum. Resah itu terus menyelip di hatinya, penyebab rasa tidak tenang. Bayang datuk Fazani berkelebat di kepala sesekali.
Tok...Tok...Tok...
Dua pegawai berseragam resto Holiday Inn mengetuk pintu dan menunggu. Shin dan Dhiarra bersamaan mengangguk. Mereka masuk dengan mendorong trolley makan dan menurunkan menu pilihan Dhiarra.
Nasi kari kambing kuah plus acar timun, serta dua soft drink rasa apel telah terhampar menggiurkan di meja. Shin kembali terheran dan memandang Dhiarra.
"Ini salah menu lagi, Dhiarraaa,," Shin pias menatap Dhiarra. Lagi-lagi berakhir dengan senyuman anehnya.
Dhiarra nampak heran dengan ucapan Shin Adnan itu. Mengamati dan memperhatikan seksama pada sajian menu di meja. Dahinya yang berkerut itu berangsur pias dan merona. Menatap Shin Adnan dengan menahan tawanya.
"Aku tahu apa yang sedang ada di pikiranmu itu, hon Shin. Itu hanyalah mitos. Dan aku memilih menu kambing ini bukan sebab ituu,," Dhiarra berkata cepat menjelaskan, namun juga menggigit bibirnya sebab malu dan itu terlihat menggemaskan.
Di mata Shin, bibir sensual tergigit itu nampak menggoda maksimal dan meresahkan. Shin merasa gelisah yang sangat menyiksa tiba-tiba. Padahal belum juga makan menu kari kambing yang telah dipesan Dhiarra dan kini tersaji nampak lezat di meja. Mungkin benar jika itu hanya mitos.
"Itu bukan mitos, Dhiarra. Pengantin-pengantin baru tuu, banyak makan daging kambing juga, lalu anak mereka banyak."
Shin seperti sedang berada dalam lubang yang sedang digalinya sendiri. Mulai merasa tegang kaku di sana, yang berusaha keras dihempaskan dengan mendesah perlahan diam-diam.
"Aku habiskan sendiri sajalah ini, Hon Shin. Kamu pesan yang lain lagi saja. Repot sangat nanti jika mitos itu ternyata memang betul," kata Dhiarra mencoba bertenang dan balas menggoda Shin Adnan.
Shin nampak pias dan tegang dengan ucapan Dhiarra.
"Kau sanggup makan sendiri? Tidak takut, Raa? Macam mana jika mitos itu merasukimu dan kau menyeret paksaku masuk ke sana,?"
Shin bertubi bertanya dengan menahan senyum tegangnya. Yang kemudian tangannya menunjuk kaca di sebelah yang memang tembus pandang dan jelas. Hamparan hotel Holiday Inn terlihat megah oleh Dhiarra.
Gadia jelita itu memilih abai dan pura-pura tak mendengar. Dengan tenang menatap meja kembali, mengisi dua piring dengan nasi. Mengisi miliknya dengan banyak kari kambing. Dan piring satunya hanya diisi acar timun.
"Ayolah hon Shin, kita harus segera makan pagi. Kita kumpul tenaga untuk jalan jauh kat pantai. Pantai Ferringhi indah sekali. Bosan terlalu lama dalam ruang kaca ini, hon Shin," kata Dhiarra sambil menyodor nasi acar timun pada Shin.
Shin menatap isi piringnya sebentar. Dengan cepat mengambil sendok dan menarik piring Dhiarra ke tengah dengan santai. Piring miliknya telah disingkir ke tepi.
"Apa maksudmu, hon Shin,,?" Dhiarra ingin menarik piringnya kembali. Namun Shin sangat kuat menahannya.
__ADS_1
"Kita habiskan kari kambingmu bersama. Jangan kau habiskan sendiri. Aku risau akan kewalahan melayanimu, Raa,," Shin menatap Dhiarra dengan tatapan sangat mesra. Mungkin sedang merayu agar gadis itu akur sepiring berdua.
Dhiarra mengerti keinginan Shin juga akhirnya. Makan sepiring berdua dengan sangat damai awalnya. Namun lama-lama juga sesekali bersengketa. Berebut sepotong daging kambing agar masuk saja ke sendok mereka.
Tak peduli potongan daging yang masih melimpah di sisi piring lainnya. Sesekali tak tahan untuk saling tertawa. Dan terus mengulang dan menyendok hingga isi piring bersama itu habis bersih tanpa sisa.
🍒🍒🍒🍓🍓🍓
Pasangan sah yang sedang mencuri moment bersama untuk pergi berkencan itu tengah berjalan santai menuju bibir pantai. Saling menggenggam tangan dan berjalan berdampingan.
Rambut panjang berkilau Dhiarra berterbangan indah tertinggal di belakang. Bahkan sesekali menyambar wajah Shin di sampingnya. Pemilik wajah tampan itu hanya tersenyum dan justru mengharap kembali datangnya sambaran rambut halus harum itu mukanya.
"Hon Shin, kamu pandai berenang kan? Apa tak ingin berenang?" Dhiarra menoleh sekilas lelaki di sampingnya.
Shin terdiam dan terus melangkah bersama Dhiarra. Semakin mengeratkan genggaman pada tangan halus ramping di tangannya.
"Hon Shin, kamu tak ingin mencebur,,?" ulang tanya Dhiarra.
"Tidak, Raa,," sahut Shin. Jawabannya terdengar kaku dan tegang.
"Mengapa?" tanya gadis di sampingnya.
"Tubuhku sedang tidak aman," sahut Shin tergesa.
"Kamu sakit kah, hon Shin,,?" Dhiarra spontan berhenti berjalan.
Menahan tangan Shin agar juga berhenti. Memperhatikan wajah tampan yang nampak memerah. Entah sebab demam atau terkena sengatan mentari pagi yang sudah mulai terik. Yang jelas Dhiarra agak panik.
"Hon Shin, kamu sakit? Kita patah balik pulang?" suara gadis cantik itu terdengar cukup cemas.
Dhiarra memegang raba lengan, leher dan berjinjit meraba dahi Shin. Terasa hangat semuanya. Hanya hangat,,, bukan panas atau demam.
Dhiarra menatap Shin dengan mata memicing. Mendapati wajah menawan yang sedang tersenyum dan bahkan sedang menahan tawanya.
Gadis itu merasa sangat kesal, sebab yakin bawa Shin pasti sedang menggodanya saat ini.
🍒🍒🍒🍓🍓🍓
🍒🍒🍒🍓🍓🍓
__ADS_1
🍒🍒🍒🍓🍓🍓