Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
24. Sekretaris!


__ADS_3

Tauke obat sedang kedatangan sang karib di kedai. Memberi training singkat seperlunya dalam perniagaan obat. Sedang harga, semua telah terlabel di setiap kemasan. Jadi sangat tidak susah. Hanya perlu menghafal tentang guna dan manfaat tepat dari setiap nama obat. Agar lebih cepat dalam melayani buyer yang datang dengat tepat.


"Sepertinya jalan menuju pelaminan sudah dekat, Ra..," diantara kesibukan mengamati obat di etalase, Yuaneta berkomentar.


"Ngaco...Hanya ibuku yang kupikir. Demi bertemu ibuku," sambil merapikan botol obat di etalase, Dhiarra menyanggah sang karib.


"Iya mulanya...Lama-lama encikmu doang yang kau mau..," tidak pernah putus Yuaneta mengharap. Dia memang sangat ingin sang karib tidak kembali ke Indonesia.


"Sudah, Nett... Jangan bahas pasal itu lagi. Stop kau kompor-kompori aku." Dhiarra bergegas pergi masuk ke ruang cipta baju.


"Nett, aku di sini ya...! Jika ada yang datang, layani dulu..! Kalo bingung, panggil saja aku..!" Dhiarra berseru dari ruangan di samping. Yuaneta diam saja tak menyahut.


Begitulah akhirnya....Dengan rayuan hebat, Yuaneta mendapat izin dari Denis Tan untuk menjaga kedai obat milik Dhiarra di Sentral. Sebuah janji jika sang suami pulang setelah kerja, Yuaneta harus standby cantik menyambut Denis Tan di rumah.


Dan janji itu bukannya susah, jarak Sentral dengan rumah Yuaneta di Batu Berendam, hanya ditempuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit saja.


Kini.. Toko obat milik Dhiarra sudah aman di tangan orang tepat pilihannya. Dirinya bisa melenggang tenang untuk mencoba job baru yang Shin tawarkan padanya.


🍒🍒


Formasi makan malam kali ini masih juga seperti kemarin...


Berulangkali Dhiarra melirik sekilas orang diam yang fokus makan di depannya. Ingin mulai bicara tapi rasa segan. Namun ini harus segera disampaikan..


Lelaki itu tetiba meluruskan wajah, mata hitam pekat semu birunya singgah memandang Dhiarra. Sepasang alis golok terangkat tinggi seperti bertanya. Mungkin saat gadis di depan itu beberapa kali mencuri pandang, sebenarnya Shin merasa.


"Mmmm...Encik Shin, saya just nak cakap.. Bahwa saya sedia kerja denganmu..," lirih ucapan Dhiarra. Namun cukup membuat Shin kembali mengangkat alis goloknya lebih tinggi.


"Bila(kapan) kau siap pergi bekerja..?" sepertinya lelaki itu cukup merasa gembira.


"Bila saya mesti start buat kerja?" tentu saja Dhiarra bingung menjawab.


Shin memandang lekat mata itu, seperti menilai kesungguhan ucapan Dhiarra. Dan kemudian mengangguk.


"Bagus, Dhiarra.. Start besok pagi. Pukul enam tepat. Faiz akan mengambilmu," pada akhirnya Shin memberi arahan.


Wajah tenang itu semakin terlihat cerah dan tampan. Dan Dhiarra mengangguk patuh sembari terus memandang sang paman.


"Asal pulak tak sama denganmu, uncle Shin?" ini adalah soalan tiba-tiba dari Hisyam.

__ADS_1


"Aku ada urusan penting pagi-pagi," wajah itu menunduk, menyambung makan lagi yang sempat terputus.


"Encik Shin, apa saja yang perlu kubawa..?" rasa tegang di hari pertama biasanya pasti ada. Dan berlaku juga pada gadis itu.


"Tidak perlu membawa apapun. Kau hanya perlu datang dan membawa dirimu dengan baik, Dhiarra..," mata laser itu mengamati Dhiarra sejenak, dan lanjut makan kembali.


Nafas Dhiarra tertahan sekian detik. Perkataan dan pandangan Shin barusan, terasa ancaman untuknya. Apa lelaki itu ingin dirinya berpenampilan lebih bagus lagi? Benarkah pekerjaan baru ini adalah untuk posisi sekretaris? Mudah sekali perjalanan kariernya.. Tanpa interview dan tanpa seleksi..


Setelahnya makan malam itu terasa kembali hambar dan dingin seperti biasa. Sahila dan mak cik Zubaidah juga terlihat hilang selera bicara tiba-tiba..


🍒🍒


🍒🍒


Sebelum subuh, Dhiarra sudah bangun. Waktu subuh di Malaysia, tepatnya di Ayer Keroh, Melaka , kurang lebih jatuh di pukul 04.50 am waktu setempat.


Sehabis subuhnya berlalu, gadis cantik itu segera merias diri jadi semakin mempesona. Sedikit make up di wajah, telah mampu membuat penampilannya berubah.


Dhiarra memang tidak suka berlebihan, selalu berdandan sewajarnya. Tentu saja bulu mata palsu, gadis itu tidak punya. Bulu matanya sudah terlalu lebat dan panjang, berhimpitan rapi di sepanjang garis mata atas dan bawah. Hanya kadang digunakan juga penjepit bulu mata. Dan bulu mata itu semakin melengkung menggeliat, jadi kian mendukung kecantikan di mata bintangnya.


Beberapa baju baru kostum kerja telah siap dimiliki. Dibeli bersama Yuaneta kemarin di salah satu butik pertokoan di luar area gedung terminal Sentral. Sebagai desainer, gadis itu sangat jeli memilih model yang pantas, sopan dan harus nampak menarik saat dilekat pada badannya.


Dan seperti itulah penampilan Dhiarra sekarang. Sangat menarik.... Dan nampak semakin perfect dengan lipstik pink memerah di bibir. Memberi kesan semakin muda belia saja usianya.


🍒


"Dhiarra..!" suara yang telah dikenal Dhiarra.


Ya, Hisyamlah yang menegur gadis itu dari belakang.


"Hai...Syam.." Dhiarra telah menoleh dan tipis tersenyum. Memberi balas sapaan pada Hisyam.


Ingat akan pesan dan penjelasan Shin padanya malam itu. Hati Dhiarra berhasil tumbuh iba pada keluarga ayah tirinya.


"Faiz dah datang kee..? Nak kuhantar tak..?" nada Hisyam cukup sopan dan lembut. Meski bagi Dhiarra.., masih tetap terdengar asing juga logat melayu lelaki itu.


"Terimakasih, Syam. Tak payah. Mungkin bang Faiz tengah tunggu aku kat depan..!" Dhiarra menggeleng. Tolakan halusnya segera dipahami oleh Hisyam.


"Baiklah, Dhiarra. Senang kurasa boleh tengok kau pagi ini...!" Hisyam tidak pergi. Hanya diam mematung memandang Dhiarra. Gadis itu sempat memberi senyum sebelum melangkah laju ke depan.

__ADS_1


🍒


Benar sangkanya, Faiz telah menunggu bersama mobilnya tepat di luar gerbang rumah besar. Dan sekarang memang telah benar-benar pukul 06.00 am.


"Assalamu'alaikum, bang Faiz.. Dah lama tunggu kee..?!" sapa seru Dhiarra memecah keterpakuan mata Faiz pada langkah lenggangnya.


"Eh..Iya.. Eh..,tidak, Dhiarra. Baru saja sampai dan engkau pun keluar. Jomlah....!" dengan cekatan, Faiz membuka pintu depan untuk Dhiarra.


"Terimakasih, bang Faiz..!" gadis itu telah duduk aman di depan.


"Engkau nampak bersemangat, Dhiarra..?" lelaki di samping Dhiarra itu meliriknya.


"Ini hari pertamaku, bang Faiz. Harap tunjuk ajarmu.. Kuharap tak payah galak-galak mengajariku..," Faiz menoleh Dhiarra dan tersenyum. Suara gadis pendatang itu jelas tapi lembut, sangat menyenangkan di dengar.


"Mana boleh aku galak kat engkau. Pamanmu akan pecat aku, Dhiarra..," kali ini Faiz sedikit tertawa dan menoleh pada Dhiarra.


"Apa encik Shin juga galak, bang Faiz?" tiba-tiba gadis itu ingin tahu.


Faiz kembali menoleh, " Pamanmu tidak galak. Hanya agak seram..," kali ini lelaki tampan Melayu itu tidak menoleh. Punggung dan kepala tegak lurus memandang ke arah jalanan.


"Kenapa encik Shin tidak punya sekretaris, bang Faiz..?" rasa ingin tahu Dhiarra semakin lebar dan menjalar.


"Bukan tak punya, Dhiarra.. Dia tengah penat." Faiz tetap lurus memandang ke depan.


"Maksudnya apa tuh, bang Faiz..?" terang-terangan Dhiarra menunjuk rasa penasaran.


"Sebelum ini, sekretaris dia tuh laju keluar masuk macam air.. Penat sangatlah aku bagi training tuh, Dhiarra.. Bagus tak payah panggil masuk orang baru..!" keluhan Faiz semakin tak dipahami Dhiarra. Gadis itu terus terlihat berkerut-merut dahinya.


"Eh..Sorry... Bukan engkau maksud aku, Dhiarra..Tapi itulah, tiap orang baru, tak lama kerja pasti jatuh hatilah pada pamanmu. Dan itu sangat meresahkan. Tiap datang kerja, pakaian mereka mulai tak betul.. Buat kerja banyak silap..Melambat-lambat bercakap.. Aku pulak yang repot,,," bang Faiz sedang merepet geram tak tertahan. Dhiarra hanya mengulum bibir menahan senyuman.


"Apakah encik Shin nak ambil peluang pada perempuan-perempuan itu, bang Faiz..?" suara Dhiarra sangat lirih, seperti was-was jika nama lelaki yang tengah dibincang itu mendengar dari jauh.


"Itu masalahnya. Jika tuan Shin menggatal, mungkin justru aman. Tapi pamanmu itu tak minat langsung. Jika sudah macam itu..., tuan Shin akan bising agar cepat kubagi surat pecat pada tiap sekretaris gatalnya. Dan semua macam itu akhirnya, Dhiarra.. Penat sangat aku laaah...." Faiz terdiam. Dan tetiba menoleh pada Dhiarra.


"Dan kurasa, pilihan tuan Shin untuk menarikmu sangat tepat. Kalian adalah saudara. Engkau mesti bersemangat, Dhiarra,,,," dan setelahnya Faiz kembali terdiam. Fokus lurus lagi di jalanan. Dhiarra pun telah puas dan paham, yang kemudian juga bungkam.


🍒


Memasuki gedung megah itu terasa khas. Aroma kuat gulungan kain-kain terhirup oleh hidung cantiknya. Tentu saja Dhiarra sangat menyukai dan rindu suasana seperti itu.

__ADS_1


Seperti telah berabad lamanya tak pernah lagi mengunjungi perusahaan fashion dan kain. Semenjak kena tolak di mana-mana sebab polah tingkah ayah tiri yang sesat. Kini seperti mimpi jika Dhiarra telah menginjak kaki di perusahaan yang kerap diangankannya selama ini.


Hanya saja kali ini Dhiarra datang dengan alasan berbeda. Bukan lagi sebagai designer, melainkan sebagai calon sekretaris..!!


__ADS_2