Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
102. Tahan Sementara


__ADS_3

Sebab tahu bahwa kamar nomor dua puluh satu yang sedang dituju adalah kamar encik Shin, yang kenyataanya adalah sang suami, hatinya terus berdebar dan jantungnya berdegup. Pemilik kamar yang berpesan agar dirinya datang menemui sebelum pulang.


Hanya pesan seperti itu...Bukan pesan agar menemani dan tidak usah pulang saja malam ini. Ya,,hanya seperti itu... Bahkan Shin tidak mengatakan pada Azlan akan status mereka. Tidak mengatakan tentang perkawinan mereka pada Azlan..


Menepis rasa berkecil hati, percaya bahwa Shin sedang merencanakan sesuatu di balik ucapannya. Dhiarra mengetuk pintu perlahan dalam debar.


Tok...Tok...Tok...Tok...Tok..!


Setelah mengetuk pintu, kembali menengadahkan wajah tepat di kamera cctv. Memang begitulah keharusan yang dilakukan oleh pegawai yang bekerja di penginapan. Dhiarra hanya spontan melakukannya. Tak peduli bahwa dirinya sudah selesai bekerja.


Lelaki penyewa kamar di dalam, sedang tersenyum menahan tawa, memandang monitor kecil di atas pintu. Wajah gadis yang selalu dirindu sedang memenuhi isi layarnya. Wajah yang biasanya cantik sempurna itu nampak seperti wajah kartun di sana.


Ceklerk..!


Wajah asli yang jelita, nampak terheran dengan muka pemilik kamar yang keluar, namun sangat jelas sedang menahan tawanya.


"Encik Shin ingin aku menemuimu? Kenapa menertawakanku?" tanya Dhiarra terheran, merasa keberatan.


"Masuklah,," ucap Shin dengan terus menampakkan seluruh giginya. Menarik tangan Dhiarra dengan cepat masuk ke dalam kamar. Menghentikan Dhiarra di depan pintu


"Kau lihatlah di sana. Aku akan menyapamu," Shin membalikkan Dhiarra dan menunjuk monitor di atas pintu dengan terus tersenyum. Lalu dengan cepat keluar kamar dan menutup pintunya.


Terbengong Dhiarra menatap layar kosong di atas. Dan tiba-tiba muncul wajah Shin Adnan di sana. Wajah yang aneh,, Dhiarra laju tertawa, dia paham maksud suaminya.


"Hallo, Raaa... Assalamualaikum,,," Shin yang sedang bersapa salam di luar dan nampak serupa kartun di layar itu, membuat Dhiarra kian terpingkal. Namun berusaha dijawab juga salam sang suami..


"Wa,,,,alaikum,,salam..Ha,,ha,,ha,," Dhiarra menjawab dengan tak bisa menahan tawa bahaknya lagi. Wajah yang standby tampan itu kini nampak aneh dan lain.


Ceklerk,,!


Shin telah masuk ke dalam kamar kembali. Mereka berpandangan sesaat, tiba-tiba saling tertawa. Meledakkan rasa geli dan kelakar dengan tertawa bersamaan.


"Ra, Dhiarraaa,,,,ha,,,,ha,,,ha,,,, aku setampan apa,,haaaa,,!" tanya Shin Adnan di antara tawanya. Dan tawa itu perlahan mereda.


"Ha..ha..ha... Setampaaan... Setampaan.. Mr. Bean,,ha..ha..haaa..." Dhiarra kembali terbahak setelah memberi jawab pada Shin Adnan.


Shin yang tawanya hampir mereda, kini meledak lagi bahaknya. Dan sangat sulit dihentikan apalagi di tahan. Keduanya kembali menikmati gelak tawa bersama sepuasnya......


"Kenapa Azlan bagi kamera cembung parah macam tuu, encik Shin,,?" tanya Dhiarra setelah kembali bertenang mengusai dirinya. Tapi senyumnya masih lebar terlihat. Sedang kepalanya kembali mengingat sesaat pada ungkapan Azlan di locker. Dhiarra tidak ingin mengatakan tentang itu pada Shin.

__ADS_1


"Aku tak paham apa maksudnya, Raa.. Kelakar (konyol) betul dia itu laah,,," Shin juga masih tersenyum memandangi Dhiarra.


Diam-diam memuji Azlan dengan pasangan kamera cctv konyolnya di penginapan. Tak disangka sebab hal sepele itu, Shin melihat tawa lepas Dhiarra yang gembira. Dirinya pun demikian. Rasa bahagia tak terkata bisa tertawa-tawa lepas bersama Dhiarra tanpa disangkanya.


Shin telah menarik Dhiarra untuk duduk berdampingan di sofa. Wajah itu telah kembali bergeser di bautnya semula. Nampak tenang dan serius.


"Dhiarra," sebut Shin perlahan.


Pemilik nama pun memandang menyimak bertanya. "Ada apa, encik Shin,?" suara lembutnya keluar.


"Lepas ni,,, akan ada jumpa keluarga lagi. Parentsku akan datang ke rumahmu untuk bincang pasal pesta perkawinan kita. Papa nak bikin pesta yang layak untuk kita,," terang Shin perlahan.


"Kapan acara pesta kahwin itu, encik Shin,,?" tanya Dhiarra dengan dahi berkerut.


"Aku pun tak paham pasti. Lepas isya' nantilah kita orang otewe kat rumah bang Hazrul," jelas Shin Adnan.


Namun mendadak bibirnya merapat dan wajahnya menegang. Bersamaan dua tangannya yang mengulur pada pinggang Dhiarra.


Shin meletak tubuh Dhiarra sangat cepat di pangkuan menghadapnya.


"Ish, encik Shin,, aku terkejut laah,," Dhiarra memprotes tindakan Shin dengan wajah memerah. Namun mematung, tak ada niat gerak untuk turun dari pangkuan di paha kokoh Shin Adnan.


"Hanya sajaa,,," Shin menggantung ucapannya. Menatap istri di pangkuan sambil mengambil kedua tangan halusnya, meletak di pundak kekar leher Shin.


"Tapi aku juga penat, encik Shin.. Aku baru lepas buat kerja,," tepis Dhiarra sangat lembut.


"Benarkah,,? Kasihan sangat istriku nii,, dah banting tulang carikan nafkah buat suami,," Shin berkata sambil tersenyum lebar-lebar.


"Aku dah tak ingin lagi bekerja, encik Shin. Esok aku tak datang lagi ke sini,," sahut Dhiarra sungguh-sungguh.


"Kau sudah cakap pada Azlan untuk berhenti kerja,,?" tanya Shin Adnan dengan lembut. Tangannya mengulur ke pundak Dhiarra.


Dhiarra hanya mengangguk tak menyahut. Merasa geli dengan tangan Shin yang ternyata mulai memijat pundaknya.


"Biar aku yang memijatmu. Seharian ini aku hanya bersantai menunggu datangmu. Kau ingin kupijat begini, apa berbalik,,?" tanya Shin memandang hangat wajah Dhiarra.


Tanpa menyahut, dengan cepat Dhiarra bergerak turun dan duduk di sofa membelakangi suaminya. Shin tersenyum sambil tangannya mengulur mengikuti pundak Dhiarra.


Dhiarra merasa sedikit meremang. Namun tetap membiarkan jari-jari yang besar itu memijat tekan pundaknya. Tidak lagi hanya rasa geli, namun lebih pada rasa nyeri dan sakit. Shin sedang benar-benar berniat memijatnya.

__ADS_1


"Encik Shin,, Tadi ingin cakap apa? Hanya saja,,,apa?" tanya Dhiarra di sela rasa nyerinya. Mengingatkan ucapan Shin yang sempat tergantung.


"Hanya saja,,? Hemm,,,hanya saja, papa tiba-tiba ingin kita sorok dulu status kahwin kita ini Dhiarra. Hingga kita selesai dikawinkan ulang oleh papa. Dia tak nak orang bincang miring pasal kita. Apa kau paham maksudnya, Raa,," Shin menghentikan pijatan jarinya. Menunggu jawaban sang istri.


"Aku sangat paham apa tujuan datuk, encik Shin. Bermakna kitaa,,," ucap Dhiarra dengan menggantung.


"Kita tidak sekamar dulu, Raa. Kitaa...Harus tahan sementara," Shin berbisik di telinga Dhiarra. Hembusan nafas panasnya membuat rasa geli yang berbeda. Dhiarra mulai merasa berdesir berdebar.


"Iya, aku paham, encik Shin," lirih sahut Dhiarra.


"Terimakasih, Raa.. Maafkan aku, aku hanya ingin mengikuti kemauan papa. Aku paham akan rasa kecewanya padaku. Aku ingin sedikit menebusnya. Mungkin apa yang papa lakukan itu, akan membuat kita semakin bahagia nantinya, merasa sebagai pengantin sesungguhnya saat melakukan itu. Kau paham, Raa,," Shin kembali membisik di telinga.


"Iya, aku paham sangat, encik Shin,," sahut Dhiarra tergesa. Tangan Shin telah memijat kembali. Bukan memijat,,tapi mengelusi lehernya.


"Tapi tidak akan tahan jika begini, Raa,," bisik Shin sangat lirih di telinga. Sambil tangannya menjalar turun dari leher cantik Dhiarra. Menyentuh area di bukit dadanya.


"Auwh,, encik Shiiiiinn,,," bibir indah itu bersuara mengeluh setengah mendesah.


"Hentikan panggilan encikmu itu, Raa.. Apa aku masih orang asing bagimu? Bahkan kita sudah berbuat seperti ini," ucap lirih Shin Adnan.


Tangan besar itu begitu cepat merambat ke bawah lagi. Menyelusup ke balik blouse lembut Dhiarra. Mengusap kulit perutnya sebentar. Merambat pelan ke atas di dadanya.


"Encik Shiiiin....!" Dhiarra mulai histeria. Shin telah menyelip lagi dan bermain tangan di kulit bukit dadanya.


"Buang saja,,, kata encik itu, Raaa,,," Shin pun mulai terengah berbicara.


"Ab..abbang,,Shiiin,,," Dhiarra tercekat mengucap sebutan baru untuk Shin.


"Yang lain... Semua orang sudah sebut aku abang, Raa,," keluh Shin sambil menggerak lagi tangannya.


"Honn,,ney,,,?" parau tanya Dhiarra.


"Honey,,? Sayang,,? Ah,,itu sangat bagus, Raa. Sebutlah aku begitu,," Shin terengah bahagia. Sambil tangannya bergerak super aktif memainkan seluruh bukit di dada Dhiarra.


"Honey,,,Shiin.... Hon,, Shiiiinn.. Aaaaah,," Dhiarra kembali histeris. Menggeliat semuanya. Punggung, bahu dan kepalanya meliuk. Benar- benar telah panas dingin dibuat Shin.


"Ah, Raaaa...Sepertinya aku.. tak tahaaan.. Berat sekali ujian kita niii..Raa," Shin pun sudah tak kalah merasa kepyar panas di tubuhnya.


Sangat bimbang, antara hasrat haknya dengan pesan pinta sang papa untuk menunda bersama.. Saat begitu, Shin merasa sangat berat rasanya,,,

__ADS_1


🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍓


🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍓


__ADS_2