
*Sudah tidur?*
Pesan yang hanya berisi dua kata dari lelaki di kamar nomor satu tujuh ujung lorong lantai lima itu, ibarat bintang terang di malam galaunya. Bangkit duduk segera namun tak tahu bagaimana membalas. Tapi lelaki itu pasti tahu bahwa dirinya tidak tidur dari dua centang biru pada pesan yang dikirimnya.
Tak berguna ragu bimbang hanya untuk hal seperti ini. Dengan cepat mengetik balasan..
*Tidak bisa tidur* send....
Dua centang biru begitu cepat mengekor di ujung pesannya... Dhiarra tersenyum.. Hatinya semakin berdebar..
*Kamarku sangat nyaman. Datanglah ke kamarku. Aku menunggumu.*
Ah, bukan hanya berdebar yang sedang dirasanya. Bunyi pesan yang terakhir dari lelaki itu telah membuatnya panas dingin tiba-tiba. Lelaki itu memang selalu on point dan tidak pernah basa-basi. Kini hati Dhiarra terasa sangat bimbang benar-benar.
Dan gadis itu tidak ingin terulang seperti semalam, berdebar tak berguna dan hasilnya hanya tidak tidur semalaman. Tapi Dhiarra juga tidak ingin mendatangi kamarnya. Baginya itu memalukan. Jarinya mengetik balasan dengan cepat.
*Aku juga sedang menunggumu, encik Shin.*
Send... Berdebar dadanya menunggu.. Seperti sambaran kilat juga dua centang biru itu menghias ujung pesannya.
Menunggu lelaki di sana membalas. Tapi tak juga ada pesan masuk balasan. Sedang apa dia, tertidurkah? Ah, tega sekali..
Kecewa tak juga dibalas. Tapi sebenarnya apa yang diharap? Hanya berbalas pesan? Pasti tidak akan ada puasnya.. Lalu, berharap lelaki itu mendatanginya, masuk ke kamarnya? Apakah hanya begitu, dan tidak terjadi apapun? Pasti juga tidak puas... Lalu, berharap Shin akan menyentuhnya,,,meredam debar dan rasa panas dingin tubuhnya?
Ah, mungkin seperti itu,,, Dhiarra merasa dirinya begitu mesum, genit dan kegatalan sekarang. Tapi sangat susah dihempaskan,, Shin telah menggoda hasrat jiwa dan raganya, tapi lelaki itu jugalah penyebabnya, lelaki itulah yang mengajarinya,,!
Drrtt...Drrtt..Drrt..Drrt...Drrt..Drrtt...
Terlalu kaget hingga latah akan dilempar jatuh saja ponselnya. Getar-getar di tangan tetiba terasa menggelitik di tangan.
*Cepat bukalah pintu. Aku menunggu.* Semakin jumpalitan jantung di dadanya. Shin Adnan telah berada di luar pintu kamar dan sedang menunggu. Sejenak kalang kabut dengan apa yang harus dilakukan. Disambarnya tombol lampu dan menghampiri cermin meja rias. Merapikan rambut sebentar. Dan sekali lagi merasa masih cantik dan layak.
Dengan dada terus berdegub debar, Dhiarra mendekati pintu kamar yang konon sedang ada Shin telah menunggu di baliknya.
Ceklerk,,!
Bersama menarik pintu, Dhiarra mengambil nafas dan menahannya. Begitu tegang untuk melihat Shin setelah pintu dibukanya.
"Dhiarra,"
"Encik Shin,"
Shin dan Dhiarra saling menyebut nama bersamaan. Begitu lirih dan pelan. Sebab tengah malam yang lengang itu sangat sunyi dan sepi. Seperti khawatir jika pertemuan mereka akan ditangkap basah seseorang. Lupa bahwa mereka telah resmi berpasangan. Hanya rasa gundah, debar dan panas dinginlah penyebab mereka saling ingin bertemu saat ini.
__ADS_1
Tak ingin menunggu, Shin membawa dirinya masuk kamar dan menyambar pintu dari pegangan Dhiarra. Menutup dan menguncinya rapat-rapat.
"Kenapa tak bisa tidur?" tubuh Shin telah menjulang di samping. Suara lelaki itu masih juga tetap lirih.
"Encik Shin pun, kenapa belum tidur?" sahut Dhiarra berbalik tanya pada Shin. Mendongak memandang wajah lelaki tampan yang nampak suntuk dan kusut.
"Entahlah, Ra. Perasaanku tidak pernah tenang akhir-akhir ini. Aku sangat kecewa dan ingin jauh saja denganmu. Tapi aku justru terus mengingatmu sampai rasanya susah tidur," suara Shin terdengar kalut dan parau. Mungkin karena memang benar-benar kurang tidur.
"Encik Shin sudah berada di kamarku sekarang. Cobalah untuk tidur,,," asal saja Dhiarra menyahuti. Bingung dengan apa yang harus dikatakan pada Shin Adnan.
"Tidak cukup hanya berada di kamarmu, Dhiarra." memang begitu Shin Adnan. Tidak suka menutupi.
"Encik Shin,,," suara Dhiarra tercekat. Paham dengan apa yang sedang dalam pikiran lelaki itu sekarang. Rasanya sudah merasa panas dingin duluan.
Namun, Shin yang menangkap suara Dhiarra tercekat dan terhenti begitu saja, justru mengira Dhiarra tengah ketakutan padanya.
"Maksudku. Aku sangat ingin tidur denganmu. Hanya tidur. Temanilah aku bebaring Dhiarra,," Shin mencoba menetralkan bicara. Tak ingin membuat Dhiarra panik dan menjauh. Shin mencoba mengalah. Merasakan rebah dengan Dhiarra di sampingnya saja sudah sangat beruntung baginya. Mungkin selama ini terlalu bernafsu dan itu penyebab Dhiarra
justru enggan padanya.
Lelaki gagah itu mengambil remote AC di meja rias dan menyalakannya di level yang rendah. Mendekati tombol lampu lalu menekan matinya. Lampu tidur ternyata sudah siaga menyala.
Dengan tenang lelaki itu melangkah menuju pembaringan dan merebah badan di atasnya. Shin merebah miring di salah satu sisi menyisakan tempat untuk Dhiarra agar baring menyusulnya.
"Lekaslah, Ra. Ini hampir dini hari. Aku sangat lelah," Shin berkata lirih dengan menepuk tangan di sebelahnya yang kosong. Rasanya ingin mengangkat Dhiarra dan meletak di pembaringan yang super lembut itu.
Tidak seperti yang diucapkan, sebenarnya Shin Adnan sedang merasa tegang dan berdebar. Terlebih Dhiarra telah berani tidur miring menatapnya dan tidak lagi meletak guling pelindung di antara mereka. Apakah tanda jika gadis itu telah rela padanya..?
"Encik Shin," Dhiarra memanggil lembut namanya. Nafas Shin tertahan sebentar.
"Hemm, kenapa, Ra? Apa kau makin tidak mengantuk?" tanya Shin dengan suara makin parau.
"Aku kedinginan. AC ini dingin," sahut Dhiarra lirih dan pelan.
Sangat susah payah Shin menyingkirkan pikiran nakalnya.
"Dimatikan saja ACnya?" tanya Shin sambil bangun dan ingin mengambil remote AC.
"Encik Shin,,!" bibir cantik itu menyeru Shin sambil menangkap tangan besarnya. Tangan halusnya terus memegang dan bibirnya bungkam tak bicara. Shin terduduk tak bergerak. Darahnya berdesir memanas.
Sebagai lelaki gentle dan normal, sikap Dhiarra itu adalah umpan panas yang sangat diharap. Tak berfikir ulang, dengan cepat ditariknya selimut lebar di bawah kaki. Membentangkan, menyelimuti Dhiarra dan dirinya sebatas dada.
Tanpa ragu, merapati tubuh Dhiarra dan mendekapnya sangat erat.Tak lagi ada jarak di antara keduanya. Gadis dalam pelukan telah mengulur tangan dan membelai punggung Shin dengan tangan halusnya. Shin merasa mabuk kepayang sekarang.
__ADS_1
"Masih dingin?" bisik Shin Adnan di kepala Dhiarra.
"Iya, masih dingin, encik Shin,," sahut Dhiarra lembut dan terdengar sangat manja pada Shin.
Shin yang sudah mulai sakit kepala semakin suka dan gembira. Jawaban manja itu adalah lampu hijau untuknya.
Bersemangat mulai menggesek hidung dan bibir ke seluruh wajah Dhiarra. Yang akhirnya bersandar oleng di bibir segar Dhiarra yang membuka. Terus oleng tanpa diam dengan bibir dan lidahnya yang mengombang ambing berkejaran dengan lidah dan bibir Dhiarra di mulutnya bergantian.
Sebab habis nafas, Shin melepas paghuttan dan memandangi Dhiarra penuh kabut hasratnya.
"Masih dingin?" serak parau Shin bertanya. Menatap mata sayu dengan wajah memerah indah di bawahnya.
"Masih dingiiiin..,,encik..Shiiinn,," bibir basah itu menjawab dengan desah dan terengah.
Seperti obor yang baru dituang minyak tanah. Shin kian bersemangat beradu lidah dan bibir bersama Dhiarra. Keduanya begitu gencar dan saling berebut mendapatkan.
Dua tangan Dhiarra telah menyelusup ke dalam baju di kulit punggung Shin yang terasa sangat hangat. Mengelus dan membelai lembut di sana. Elusan lembut dari tangan halus Dhiarra membuat Shin semakin sakit kepala dengan darah deras mengalir dan panas.
Meninggalkan wajah Dhiarra dan bergeser turun di bawah. Membasi seluruh leher Dhiarra dengan lidahnya dan sesekali lembut menyesapnya. Tak ingin lagi meninggalkan bekas tambahan di sana. Shin mulai sedikit berpengalaman sekarang. Berfikir akan ada tempat yang lebih aman dan nyaman untuk meninggalkan banyak stamp merah di kulit Dhiarra yang lain.
Dhiarra telah tanpa henti mendesah dan melenguh. Merasa panas dingin tubuhnya yang bercampur rasa geli dari gesekan lidah dan bibir Shin di lehernya.
Menunggu pasrah saat Shin mulai mendaratkan wajahnya di dada. Tangan halus Dhiarra terkaku diam di punggung saat sebelah tangan Shin mulai melepasi bagian atas baju tidurnya. Dan begitu menurut saat tubuhnya diungkit sedikit miring agar tangan kekar itu mudah melepasi kait pengaman di dadanya.
Tubuh atas gadis cantik itu telah benar-benar polos tak berbenang sehelaipun. Hanya selimut lebarnya yang ditutupkan Shin sebatas leher Dhiarra dengan Shin yang tenggelam di dalamnya.
Selimut yang terus bergerak dan melorot sedikit demi sedikit, penyebab Dhiarra terus histeris dan menggeliat jauh melebihi dari kelojotan cacing yang kepanasan di panggangan.
Terus seperti itu hingga belasan menit terjadi...
Sampai selimut benar-benar melorot turun ke bawah. Menampakkan apa yang sebenarnya sedang Shin buat di balik selimut.
Shin menyudahinya dan sedikit mengangkat wajahnya.
"Appakkahh..massih,,,dinnginn, Raaa,,?" Shin bertanya lagi dan terengah.
Dhiarra pun sedang terngah-engah mengambil nafasnya.
"Ah.,,ahgak,, hanngatt,,, encik,, Shiiiin,,," tetap terengah dan agak susah Dhiarra menjawab. Seperti malu tapi juga begitu manja terdengar.
Sekali lagi jawaban manja dan engah Dhiarra adalah obor terang yang sedang menyala-nyala bagi Shin. Dadanya kian berdegub, bersemangat dan darahnya berdesir panas menggelora..
🍒🍒🍒🍒🍒
__ADS_1
🍒🍒🍒🍒🍒
🐝🐝🐝🐝🐝