
Sekretaris Shin's Garment telah sampai di tempat kerja dengan menumpangi taksi gelap. Pagi ini tidak lagi menumpang di kereta mewah Shin Adnan. Sebab lelaki itu berangkat lebih pagi buta lagi dari biasanya.
Bergegas memasuki lift menuju lantai tiga di Shin's Room. Beberapa orang pegawai yang mulai dikenal melempar senyum padanya. Dhiarra membalas sapa senyum itu dengan perasaan gembira, sebab merasa diri telah diterima cukup baik oleh sesama pekerja di perusahaan.
Dhiarra belum juga mendapat ID Card pekerja dari Shin Adnan. Jadi hanya terus melenggang menuju ruang kerja tanpa perlu employee scanning pada mesin kedatangan maupun kepulangan, seperti kewajiban pada setiap pekerja di Shin's Garment lainnya.
Shin memang berangkat sangat pagi, namun Dhiarra juga seringkali berangkat lebih pagi dari Faiz. Dan khusus hari ini, dia tidak berangkat pagi, bahkan hampir tepat pukul tujuh pagi saat turun dari taksi.
Shin's Room...
Ruangan dengan tempelan papan bertulis itulah kini Dhiarra berada. Berharap Faiz sudah tiba dulu di ruangan, sebab Dhiarra akan rasa segan jika hanya ada Shin di dalam. Hanya berdua bersama Shin di dalam membuat diri Dhiarra rasa kikuk.
Ceklerk..
Gadis pendatang cantik itu menggeser diri melewati pintu dan masuk. Menutup pintu kembali dengan pelan. Saat berbalik, mata bintangnya mendapati hal yang amat mengejutkan. Gadis itu salah tingkah. Ah, mereka yang berbuat, tapi Dhiarra yang kelimpungan..
"Sselamat pagi....," lidah Dhiarra agak tersendat mengucap salam.
Shin Adnan yang tengah digelayuti seorang wanita di pundak, menatap Dhiarra tanpa ekspresi lalu mengangguk sangat samar. Wajah Shin kembali agak menunduk menatap layar di ponsel. Dan si wanita terus saja bergelayut, mengacuhkan keberadaan Dhiarra. Shin juga membiarkan saja tindakan wanita itu terhadapnya.
Dengan hati berkerut sebab terkejut, Dhiarra bergegas meninggalkan ruang sofa menuju ruangannya. Rasanya lega, telah ada Faiz di dalam. Faiz menyambut dengan pandangan menyelidiknya.
"Pagi, bang Faiz..," sapaan Dhiarra dengan ekspresi nampak bingung.
"Sstt... Sazlina tengah merajuk. Harap makhlum, Dhiarra," sahutan Faiz membuat Dhiarra mengangguk.
__ADS_1
"Apa sebab Sazlina tuh merajuk, bang Faiz?" tentu saja Dhiarra penasaran.
Faiz tak serta merta menjawab. Menatap Dhiarra dengan bimbang.
"Sebab pilihan brand baju terbaik, tuan Shin bagi kat engkau, Dhiarra. Selalunya memang Sazlina terus yang pegang. Launching kita kali ini memang beda, sebab engkau..," Faiz menjelaskan dengan santai, dan sempat mengacungkan jempol tangannya pada Dhiarra.
Dhiarra terdiam, duduk di kursinya dengan rasa penuh tanya. Apa antara Shin dan Sazlina telah ada hubungan yang berubah spesial? Sebatas mana hubungan mereka selama ini sebenarnya?
"Bang Faiz, nak tanya... Sebetulnya Sazlina tuh siapa?" Dhiarra tak tahan memendam penasaran.
Faiz memandang Dhiarra sejenak.
"Sazlin tuh keponakan istri bang Hafiz, bang Hafiz paman dari tuan Shin, manager Shin's Garment. Dan Sazlina telah lama suka kat tuan Shin. Tapi tuan Shin belum menyambut,," sangat sabar Faiz menerangkan.
"Semacam itulah, Dhiarra. Tapi status mereka belum juga jelas lagi..!" Faiz sedikit membenarkan.
Dhiarra terdiam, tak selera lagi menyahuti. Fakta bahwa Shin dan Sazlin telah saling akrab, perasaannya mendadak tidak nyaman.
Ceklerk..
Sang tuan yang barusan dibincang, mungkin akan sehat dan juga panjang umur. Shin nampak berdiri tegak di tengah pintu yang dibuka.
"Faiz, aku hantar Sazlin kejap kat ruangan om Hafiz yang baru. Sazlin belum tahu, dia risau akan sesat,!" Shin berseru dari pintu.
"Iya, tuan Shin,!" Faiz mengangguk.
__ADS_1
Shin memandang Dhiarra sekilas. Gadis itu tengah menekuri papan keyboard.
"Dhiarra,,!" nama itu juga di seru.
Si gadis pemilik nama mendongak. Menatap bertanya pada mata beralis golok.
"Rekaplah semua pemesanan produk yang baru dilaunching. Lalu print cetaklah dan berikan padaku,!" Shin memperjelas perintahnya.
"Baik, encik Shin..,," Dhiarra mengangguk. Mengarahkan kepala ke layar komputer. Bersiap melakukan apa yang baru diperintah Shin padanya.
"Dhiarra,,!" seruan itu masih terdengar sekali lagi. Si pemilik nama kembali menoleh dan mamandang bertanya.
"Petang nanti selepas kerja, ikutlah denganku ke KL, Kuala Lumpur,,!" Shin berkata dengan nyaring.
Dhiarra tak selera membantah atau pun bertanya. Hanya mengangguk sajalah pilihannya. Lagipula masih ingat perbincangan antara Fara dan Shin di meja makan pagi itu. Orang tua mereka sangat ingin melihat Dhiarra sebagai anak tiri Hazrul yang datang dari Indonesia.
"Shin.., aku nak ikut engkau kat KL,,!" bersamaan terdengar suara manja, muncul juga pemiliknya. Sazlina kembali menempeli bahu Shin sangat rapat. Seperti tak peduli dengan adanya Faiz dan Dhiarra.
"Kau serius ingin ikut, Saz? Ikutlah,,,," Shin menjawab pelan pada Sazlina.
Tubuh lelaki itu berbalik, sedikit mendorong Sazlina menepi, sambil menarik pintu dan menutup rapatnya.
Ceklerk..
Shin dan Sazlina seketika hilang dari pandangan. Dhiarra melirik daun pintu yang sudah merapat sambil menghembus nafas yang tertahan sesaat di dada..
__ADS_1