Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
65. Kabar Bocor dari Fara


__ADS_3

Hampir pukul sebelas malam mereka tiba di rumah besar Ayer Keroh, Melaka. Perjalanan yang sangat parah melambat. Setelah singgah di kedai baju cukup lama, Shin juga mengajak Dhiarra singgah lama lagi di Rumah makan sebelum memasuki gerbang Melaka. Itulah alasan mereka sampai di Ayer Keroh larut malam.


Melewati gerbang yang sempat tertahan sejenak oleh penjaga pos di depan. Merasa asing dengan mobil yang datang dan sama sekali tidak dikenali sebelumnya. Ternyata tuan mereka bersama gadis Indonesia.


Dhiarra menenteng tiga bag baju yang dibelikan Shin di tangan sebelah kirinya. Shin berjalan di samping kanan membawa ransel di tangan.


"Apa hatimu lega telah kembali ke rumah ini?" Shin memecah lengang di teras.


"Iya, saya sangat lega," Dhiarra memang lega setelah kembali ke rumah ini. Berbeda pada saat awal datang. Saat para saudara tiri bersikap memusuhi. Rumah ini terasa sesak bahkan bergerak saja tidak nyaman.


"Ingat tidak ini rumah siapa?" Shin menoleh sambil berjalan.


"Bukankah ini rumahmu, encik Shin?" Dhiarra bertanya terheran.


"Lalu apa sudah lupa, aku ini siapamu?" Shin nampak tersenyum sedikit.


Shin kembali melempar tanya yang membuat Dhiarra tersadar. Shin selalu menggiring jebakan dalam setiap tanyanya.


"Encik Shin, terimakasih. Aku pergi dulu ke kamarku," sekali lagi kamar Dhiarra hampir saja terlewat. Tidak menanggapi lagi pertanyaan Shin barusan.


Dhiarra menuju pintu kamar dengan melewati Shin Adnan.


Memasukkan lubang kunci dan membuka pintunya. Kamar Dhiarra gelap gulita. Kepergian ke KL yang tidak disangka, membuat lampu di kamarnya dalam siaga off.


Saat bergeser langkah untuk masuk ke kamar, satu lengan kekar tetiba menahan daun pintu. Dhiarra cepat berbalik, Shin telah berdiri rapat di belakang dan menahan pintunya.


"Encik Shin, tolong biarkan aku,,,,," ucapan Dhiarra terhenti, Shin lebih maju lagi merapatnya.


Saat Dhiarra merapat diri ke belakang, daun pintu itu tidak terlalu menahan. Shin melonggarkan pegangannya hingga Dhiarra terus mundur dan Shin terus maju. Pintu itu habis di dinding. Keduanya telah berdiri saling pandang di dalam kamar Dhiarra.


"Dhiarra, ini rumahku kan? Lalu siapa aku?" Shin telah membungkuk. Wajah cantik yang remang-remang sebab lampu teras itu benar-benar tepat di depannya.


"Ayolah, Dhiarra. Jangan buat aku kesal," nafas Shin terasa panas di wajah Dhiarra.


"Anda, encik Shin adalah suamiku,,hanya sementara,," jawaban Dhiarra terdengar agak gugup. Menebak cepat, bahwa hanya jawaban itulah yang sedang Shin ingin dengar darinya. Rasanyanya ingin cepat terbebas masuk kamar dan menutup rapat pintunya.


"Ya, itu betul, Raa. Kutanya sekali lagi padamu, bagaimana jika aku menafkahimu malam ini?" sepertinya Shin tidak bisa menahan-nahan lagi inginnya. Tidak peduli pada keterkejutan Dhiarra. Berbicara sangat dekat dan bahkan hampir menyentuh wajah Dhiarra dengan hidung dan bibirnya.


"Encik Shin, kumohon tinggalkan aku. Anda benar-benar sedang membuatku takut,,!" tiba-tiba Dhiarra barkata kencang dan memang terdengar cukup panik.


Mendapat sambutan Dhiarra yang jauh dari harapan, Shin merasa tertampar. Sadar bahwa Dhiarra memang justru ketakutan padanya.


"Baiklah, Ra. Seharusnya aku tidak bersikap begini padamu. Aku tidak bermaksud memaksa, apalagi menakutimu. Maaf, aku sedang tidak bisa menahan inginku. Masuk dan istirahatlah," Shin berkata kaku dan lirih. Tubuhnya telah mundur menjauh dari Dhiarra.


Lelaki itu tidak mengambil dan menutup pintu seperti biasa. Namun berbalik cepat dan pergi meninggalkan Dhiarra di kamarnya tanpa salam sapa.


Bukan lega juga yang dirasa saat punggung lebar itu berlalu begitu saja. Sedikit kecewa pada Shin saat berbalik cepat meninggalkannya. Perlahan dengan rasa sesak dan hampa yang tetiba datang terasa, ditutupnya sendiri pintu kamar. Biasanya jika begitu, sang pamanlah yang akan menarik dan menutupkan pintu kamar untuknya. Ah, Encik Shin, apa kau marah,,,,,?

__ADS_1


🍒🍒🍒


🍒🍒🍒


Sambil berjalan buru-buru di teras menuju ruang makan pagi itu, Dhiarra mengikat rambutnya dengan cepat dan asal.


Meja makan yang luas hanya berisi fara yang cantik, saudara tiri tak satu pun yang nampak. Matanya memandang Shin yang telah fokus dengan makanan di piring. Hingga Dhiarra duduk pun, Shin sama sekali tak mendongak.


"Hai, Fara,,, mana yang lain?" sapa Dhiarra pada Fara.


"Tengah kat KL. Semua dapat undangan. Papa buat syukuran, rayakan umur enam puluh tahun. Akak sama abang Shin pun kena datang, tahu?" Fara memandang Shin dan Dhiarra bergantian.


"Bila itu, Fara?" Dhiarra menoleh Fara di sampingnya.


"Esok petang hingga malam. Kita beramai-ramai menginap kat KL. Pasti seronok, kak!" sahut Fara bersemangat.


"Abang mesti datang, bawa serta kak Dhiarra sekali, tak boleh tak datang. Kasihan papa, kita tak boleh hampakan (kecewakan) die!" sambung Fara pada Shin.


Dhiarra terdiam, memandang makanan di piring. Apa Shin akan mengajaknya,,,,siapalah Dhiarra? Bukan sebab hubungan dengan Hazrul, tapi dirinya bergantung pada segala ajakan Shin.


"Kak, apa kabar dengan bang Hazrul dan istri baru? Eh, maksud aku, mama kak Dhiarra,,?" tanya Fara dengan lembut.


"Alhamdulillah mereka tengah sihat. Salam dari ibuku untuk semuanya, Fara. Sorry, oleh-oleh yang rencana aku bagi kat sini. Lupa tak kubawa, Fara," sahut Dhiarra penuh sesal.


"Yelah, kak. Takpe,,, orang dah lupa, nak buat macam mana lagi kan?" Fara mengangguk-angguk dan tersenyum.


"Bang Hazrul nak punya baby lagi,,!" suara stereo meluncur tiba-tiba.


Dhiarra hanya mengangguk mengiyakan. Wajah cantiknya nampak mendung. Ingat pada sang ibu yang telah dimiliki dan memiliki suaminya, Hazrul. Bahkan sebentar lagi anak kesayangan mereka akan keluar dan ada...


Dhiarra mengambil segelas kecil air dan menghabiskannya sekaligus.


"Fara, bila kau bertolak pergi KL?" Shin memecah bisu pada Fara.


"Malam inilah, bang Shin. Aku kan free,,,boleh pergi bila-bila (kapan-kapan),," sahut Fara gembira.


"Bang,,,nak kubagi satu rahasia, tak?!" mendadak Fara berseru lirih pada Shin.


"Apa hal?" tanya Shin pada Fara.


"Mama dan papa nak usahakan sorang jodoh buat abang! Mana tahu cocok, kan? Sebab abang macam dak tak boleh lebih rapat lagi dengan kak Sazlin, kaan?" Fara tersenyum-senyum pada Shin.


"Tak minat sangat aku Fara. Cakap pada parent kita. Takyah nak coba-coba cari perempuan buatku,," Shin menyahut tegas bocoran kabar dari Fara.


"Mama dan papa tak coba cari, baang. Hanya bincang dengan kawan rapat papa. Ingat tak, datuk Fauzan? Anak dara cantiknya dah berumur pulak. Dah masa nak kawin... Coba abang kenal saja pun. Mana ada rugi?" Fara mencoba membujuk Shin.


"Betul tak, kak?" tiba-tiba Fara menoleh pada Dhiarra.

__ADS_1


"Eh, iya,, betul sangat, Fara," sahut Dhiarra cepat, meski masih terkejut sebab ditanya Fara tiba-tiba.


"Dahlah,!" Shin telah berdiri. Menyambar tas kerjanya dan akan berjalan keluar.


"Ra, Dhiarra. Jika habis makanmu, berangkatlah denganku!" Shin berkata pada Dhiarra namun kakinya terus cepat berjalan.


"Iya, tunggu, encik Shin!" sahut seru Dhiarra. Ditolehnya Fara sambil berdiri. Adik Shin yang cantik itu nampak tertegun menatapnya.


"Kak, nampaknya bang Shin perhatian denganmu,,?" Fara buru-buru bertanya sebelum Dhiarra benar-benar akan pergi.


"Apa hal, Fara? Kami adalah rekan kerja,," kata Dhiarra cukup lembut.


"Senangnya jadi akak.... Bang Shin dah lama tak bagi perhatian macam tuu kat aku,," Fara nampak mengeluh.


Dhiarra segera paham pada perasaan fara yang seperti itu. Seperti yang dirasanya barusan pada sang ibu.


"Mungkin, sebab Fara dah besar, dah dewasa.. Fara juga ada parents yang sayang sangat kat Fara,, Mungkin abangnya Fara fikir, Fara dah tak perlu perhatian lagi dari bang Shin,,," Dhiarra berkata lembut sambil mengusap pundak Fara.


Fara menangkap tangan Dhiarra tiba-tiba.


"Muka akak cantik sangat, dalam pun cantik. Andai akak tak de calon, nak sangat punya ipar macam akak,," Fara tersenyum memegangi tangan Dhiarra. Tercekat hati Dhiarra dengan ucapan Fara yang seperti menyindirnya. Meski sebenarnya Fara berkata sungguh-sungguh.


"Fara, aku nak pergi kerja. Abangnya Fara akan marah jika aku tak segera," Dhiarra teringat pada Shin yang mungkin sedang mendidih menunggunya.


"Yelah, betul lah tuh, kak!" Fara menyahut sambil melepas tangan Dhiarra.


Dhiarra menepuk lengan Fara satu kali sebelum benar-benat berjalan keluar dari ruang makan.


🍒🍒🍒


Di halaman setelah turun dari teras, nampak mobil yang semalam dibawa oleh Shin. Sedang berhenti dan mungkin sedang menunggu Dhiarra.


"Gegas, Dhiarra,,!" Seruan Shin terdengar saat Dhiarra berjalan melambat sebab ragu.


Demi mendengar seruan Shin, langkah Dhiarra berubah cepat dan bersemangat. Teringat pada ucapan Fara bahwa Shin nampak perhatian dengannya. Namun Shin yang telah duduk di dalam, terlihat kaku dan abai seperti saat makan barusan.


Shin tidak lagi di belakang kemudi seperti semalam. Idris kembali hadir mengemudi di antara mereka. Dhiarra membungkam sebagaimana Shin yang terus terdiam sedari tadi. Meski mereka duduk bersebelahan, lelaki itu nampak acuh dan tenggelam pada ponselnya.


Namun tiba-tiba Shin menoleh Dhiarra dan sambil menyimpan ponsel ke saku jasnya. Lelaki itu nampak akan berbicara.


"Besok petang selepas kerja, kita pergi KL. Bawalah baju ganti. Kita menginap di sana semalam. Lepas subuh kita bertolak balik ke Melaka," Shin mengakhiri ucapannya bersama kepala yang menoleh ke samping di jalanan.


Dhiarra teringat akan kabar rahasia yang baru saja dibocorkan Fara pada Shin.


"Apa encik Shin akan berkenalan dengan anak gadis dari kawan rapat ayahmu?" pertanyaan Dhiarra meluncur untuk Shin begitu saja.


Cepat kepala Shin menoleh pada gadis di sampingnya.

__ADS_1


"Bukankah kalian, kau dan Fara cakap bahwa aku memang perlu mengenalinya? Dan siapa tahu kami akan saling cocok, bukan begitu Dhiarra?" Shin tersenyum pada Dhiarra kali ini.


Gadis yang mendapat senyum membungkam. Membayangkan jika Shin ternyata saling cocok dengan gadis senegara Malaysia yang akan dikenalinya besok di Kuala Lumpur. Harusnya Dhiarra merasa lega dan ikut gembira jika sang paman mendapatkan perempuan...


__ADS_2