
Subuh telah lama berlalu ..
Tak disangka-sangka seseorang memasuki kamar tiba-tiba. Memeluk punggung Shin sangat erat.
Shin sangat terkejut. Namun segera paham bahwa itu adalah gadis pemilik kamar. Istri yang sedang sangat ditunggunya. Sang istri telah datang.
Ya,, Shin yakin dialah Dhiarra. Parfum lembut yang dipakai istrinya, telah sangat dikenali.Dhiarra selalu memilih wangi itu.
Sepert terhipnotis, sang istri menarik kuat untuk rebah di ranjang. Menarik tangan Shin Adnan untuk memeluk punggungnya dari belakang. Dengan debar semangat tak percaya Shin mendekap memeluk Dhiarra.
Shin kian mengeratkan pelukannya. Ingin lebih merasa hangat dari tubuh indah yang sedang dirapatinya.
Kamar sang istri terasa sangat dingin hingga tembus ke tulang sebab angin yang menerpa.
"Raaa, engkau dari mana? Berbaliklaah,, menghadaplah padaku, peluk aku. Dingin sangat, Raaa...Jangan punggungi aku,,," Shin mengeluh mesra pada Dhiarra yang terus memunggungi.
Namun Shin tidak lagi memaksa. Merapati Dhiarra dari belakang pun rasanya nyaman juga lama-lama.
Semakin hangat dan kian erat memeluknya. Rasanya semakin hangat. Begitu nyaman yang Shin rasakan, lelaki itu erat memejam mata sambil mengawang menikmati. Terasa syahdu berpeluk Dhiarra yang terus saja tidur memejam memunggungi.
Makin memeluk bukan saja hangat yang didapat. Rasa panas berdebar dengan darah mengalir yang kian berdesiran. Dan semakin panas dengan hasil yang kian jelas terasa berdenyutan.
Berdenyut-denyut yang perlahan bergerak menegak. Shin merasa kapitan miliknya di bawah sana telah menegang sekarang.
Ah, Shin semakin marapatkan dirinya dengan Dhiarra yang terus saja pasrah di dekapnya..
Sesuatu tiba-tiba mengganggu fokus tegangnya. Sayup terdengar ketukan beruntun di pintu. Dan terus diulang hingga berkali-kali.
Tergesa membuka mata dan sedikit menjauhkan diri dari Dhiarra. Melepas pelukan sembari bangkit dan duduk. Menggeleng-nggelengkan kepala dan mengedip kan ulang kali matanya.
Dhiarra,,,? Dhiarra,,,,, mana dia,,, Aaah..!!
Dengan cepat lalaki yang sedang sakit kepala itu mengucap asmaNya beberapa kali. Lalu berdiri dan memandangi tempat tidur. Hanya baju serta tumpukan baju rancang saja yang ada disana. Shin barusaja bermimpi.
Dhiarra yang terasa dipelukinya ternyata hanya setumpuk baju rancang yang memang didekap erat di dada. Dan Shin akhirnya tertidur seperti itu semalam.
Tersadar hari telah siang, segera disambarnya baju untuk Yuaneta dan baju rancangan terbaru yang ditinggalkan Dhiarra untuknya. Keluar dan menutup rapat pintu kamar itu kembali.
"Tuan Shin, anda tidur di kamar itu? Hari telah siang. Pukul delapan lebih. Saya mengetuk pintu kamar anda sudah lama,,," pelayan di meja makan menghampiri dan menyapa Shin Adnan sangat buru-buru.
"Iya. Apa mereka tidak datang?" Shin menatap wajah pelayan itu.
"Tidak ada yang datang, tuan Shin,," sahut pelayan itu dengan lirih.
"Baiklah. Aku akan bersiap," sahut Shin Adnan.
Shin bergegas ke kamarnya untuk segera mandi pagi. Sambil merenungi dirinya yang sendiri.
Rumah besarnya tengah lengang hari-hari ini. Fara di rumah parents. Siti Zubaidah lebih banyak menghabiskan hari di rumah baru Nimra, putrinya. Hisyam memang sering tidak pulang. Masih gemar akan dunia gemerlap malam alias dugem. Sudah lelah Shin menasihati keponakan lelakinya.
Untuk Sahila, anak gadis Hazrul nomor dua itu juga sangat sibuk. Shin tahu jika Sahilla akan menikah dalam waktu dekat ini. Dan dipastikan, Sahila kelak akan mengikuti sang suami setelah menikah.
Tinggal Shin Adnan sendiri di rumah ini. Shin tidak ingin kesepian hingga tua.
Semenjak perasaanya berubah rasa pada Dhiarra, dan entah terasa sejak kapan, terlebih setelah nenikahinya, Shin sering merasa sepi. Berfikiran untuk mempunyai pasangan hidup selamanya. Namun juga tidak ingin dengan wanita mana-mana. Hanya Dhiarra sajalah yang selalu diinginkannya.
Pria itu telah selesai dengan ritual mandi pagi yang terlambat. Segera mengemas badan tegap menakjubkannya dengan wear serta set baju kerjanya.
Berjalan dengan penampilan segar dan wanginya menuju ruang makan. Tidak lupa dibawa juga baju rancang terbaru dari sang istri yang masih saja terasa kejutan untuknya. Serta baju brand untuk Yuaneta yang akan segera dihantarkan pagi ini.
🍒🍒🍓
Masih jelas ingatan Shin akan posisi rumah Yuaneta. Dan sangat yakin bahwa itulah rumah Yuaneta. Tidak salah lagi..
Tapi rumah itu tertutup rapat seluruhnya. Bahkan jendela pun sedang menutup tanpa celah. Di rumahkah perempuan itu?
Tak bisa dihitung lagi, sudah berapa kali Shin dan dibantu Idris, membuat ketukan sopan di pintu. Sebab tak puas dengan bell pintu yang tak bisa didengar bunyi nadanya oleh Shin. Dan merasa tak percaya dengan kegunaan bell itu.
__ADS_1
Namun tak ada tanda sahutannya. Kedatangan mereka tak mendapat respon sedikit pun.
"Ke mana mereka ini, Driss,,?" Shin memandang Idris dengan gusar.
Idris tak menyahut. Tak tahu harus berkata apa dengan sang tuan. Merasa serba salah.
"Pulang kerja kita datang lagi, Driss," akhirnya Shin memutuskan.
Shin mengikuti Idris yang langsung bergegas menuju ke mobil setelah mengangguk satu kali pada sang tuan.
Shin merasa hampa dan penasaran, keinginan untuk segera menemui Yuaneta sia-sia. Ingin menanyakan tentang Dhiarra pada sang karib agar cepat mendapat pencerahan. Hanya bersabar hingga malam nantilah yang bisa dilakukan Shin Adnan saat itu.
🍒🍒🍓🍒🍒
Shin kembali ke Shin's Room dengan wajah sangat cerah. Nampak sangat bergembira meski sesekali gurat mendung itu terbaca di wajah tampannya.
"Iz,,,!! Izzz,,,!!!" Shin berseru nyaring memanggil asistennya.
Faiz yang keluar dari ruangan, memegang pintu dan tertegun. Ada sedikit senyum di bibir sang tuan saat itu. Faiz bersemangat mendekati sang tuan di sofa.
"Ada apa, tuan Shin?!" Faiz bertanya dengan bersemangat.
"Iz..Kau tau tak, Izz,,?!!" tanya Shin nyaring sambil memandang Faiz yang telah duduk di depannya.
"Apa hal, tuan,,?" Faiz bertanya menyimak. Sang asisten merasa hanya cukup mengimbangi. Menjadi pendukung dan penyemangat yang siaga. Dirinya sangat paham, sang tuan sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja saat ini.
"Iz,,,kau tahu? Pengusaha dari Manila itu telah memesan tiga puluh kodi untuk baju DIAZ yang baru kutunjukkan. Dan yang membuat puas, Izz,, telah kubandrol harga fantastis baju itu. Tapi Justin tak kisah..Kurasa Dhiarra akan merasa sangat suka, Izz,," Shin menjelaskannya pada Faiz.
"Izz,,! Kat mana Dhiarra, Izz,,?!! Kabar apa lagi kau dapat,,?!!" tiba-tiba Shin kembali melempar pertanyaan yang cukup merongrong ketenangan Faiz akhir-akhir ini.
"Beluma ada kabar, tuan Shin,," ragu Faiz menjawab.
Berharap sang tuan tidak murka. Mulai menyadari, bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan rutin yang akan dilempar sang tuan tiap hari. Faiz harus mulai menyiapkan jawabannya.
Shin lantas berdiri dari duduknya. Mamandang Faiz yang pias.
Faiz menatap lekat-lekat sang tuan yang bayang punggungnya telah hilang dihempas daun pintu. Hemmmh, engkau ini di mana Dhiarra? Semoga engkau baik-baik saja dan segera kembali bergabung dengan kami. Agar segera tenang hidup ini,,!
🍒🍒🍓🍒
Shin pulang lebih awal kali ini. Meski juga masih malam, setidaknya pulang lebih cepat dari semalam.
Kini telah meluncur lagi bersama Idris menuju rumah mungil sederhana milik sang karib Yuaneta.
Rumah itu terlihat sangat terang saat malam begini. Shin berjalan cepat diikuti Idris yang setia menemaninya siang malam di belakang.
Tok..Tok..Tok.. !
"Assalamu'alaikum,!" Shin berseru penuh harap.
"Yaa,, wa'alaikumsalam,," ada sahutan perempuan di dalam.
Shin merasa sangat lega. Suara itu pasti kepunyaan Yuaneta.
Ceklerk,,,!
Wajah cantik menyembul bersama pintu yang terbuka. Alis rapinya berkernyit sesaat..
"Tuan, Shin,,?!" Yuaneta nampak terkejut.
"Iya.. Ini aku, Yuaneta,,," sahut Shin merasa lega. Karib Dhiarra masih mengenali dirinya.
"Oh, iya,,iya.... Mari mari silahkan masuk, tuan Shin,,!" sambut Yuaneta sangat ramah dan riang.
Yuaneta bergegas menarik pintu dan berdiri menunggu. Berharap dua orang tamu yang keduanya cukup pernah dikenali sebagai om tiri dan satu lagi adalah sopir, mengikutinya masuk ke dalam rumah. Denis belum pulang, namun percaya jika om tiri Dhiarra itu adalah lelaki yang baik.
Shin segera masuk dan diikuti Idris di belakangnya. Mereka telah duduk sopan di sofa.
__ADS_1
"Begini,,Yuaneta. Aku hantar baju ini sebab baru tengok pesan Dhiarra, untukku. Dhiarra nak aku bagi baju ini kat engkau,," Shin berkata tenang sembari mengulur baju itu pada Yuaneta.
Yuaneta menerima perlahan dan nampak terheran. Mengamatinya dan lalu berseru.
"Baju ini,,,,Dhiarra akhirnya bagi kat aku??!!" Yuaneta berseru seolah sedang bermimpi. Memandangi baju itu dan beralih memandang Shin tanpa kedip. Ada yang janggal dari pandangan perempuan itu kali ini.
"Yuaneta, ada apa,,? Apa kau tak suka baju pemberian Dhiarra yanh pernah dipakainya ini?" tanya Shin ingin tahu tanggapan Yuaneta.
"Oh, tidak...Bukan seperti itu, tuan Shin,,,tapiii,," Yuaneta nampak bingung dan menggantung bicaranya.Memandang lekat pada Shin dan juga pada Idris sesekali.
"Tapi apa, Yuaneta,,?" tanya Shin hati-hati, menyamarkan rasa penasaran yang sangat. Kenapa Yuaneta nampak ragu menerima warisan baju Dhiarra yang sangat bagus luar biasa itu.
Shin terus mengamati wajah Yuaneta yang nampak pias dan terheran.
"Sebenarnya,,ini adalah baju taruhan, tuan Shin,," pasrah Dhiarra mengakui.
"Baju taruhan?" Shin semakin ingin tahu.
"Iya, taruhan. Emmmh,,, masa itu saya cakap pada Dhiarra. Jika suatu saat Dhiarra tidak jadi menikah dengan Adrian sebab suka pada anda,,,, baju ini akan jadi milik saya, tuan Shin,," Yuaneta menjelaskan dengan setengah bingung tak percaya.
Ini baginya sangat mengherankan. Sebab justru Shin sendirilah yang hantar bagikan baju itu padanya.
"Suka,,,?" Gumam Shin pada Yuaneta dengan pelan. Tapi Yuaneta telah mendengarnya.
"Iya, tuan Shin. Sukaa,,,! Dhiarra dah suka,,teman saya tuh dah jatuh cinta kat anda, tuan Shin,,! Dan fia tak jadi menikah dengan Adrian??!" Yuaneta kini berbicara keras-keras pada Shin Adnan.
"Apa kata-katamu bisa dipegang, Yuaneta,,?" tanya Shin serius. Menyembunyikan samar garis senyum di wajahnya. Meski bukan Dhiarra sendiri yang mengucap, tapi kabar itu benar-benar seperti sebuh kejutan besar mencengangkan.
"Tentu saja, tuan Shin. Anda harus percaya padaku. Tapi, kenapa anda datang sendiri? Apa Dhiarra sedang tidak bersama anda?" Yuaneta keheranan menatap Shin Adnan.
"Itulah yang sedang kupikirkan. Apa kau tahu , di mana Dhiarra sekarang ini?" tanya Shin tiba-taba.
Yuaneta nampak berpikir dang mengingat. Alis rapi itu kembali bertaut dan menyatu.
"Dhiarra,,,,emm,,,dia kata waktu itu akan beli tiket kat Sentral guna pergi ke Penang. Tapi saya tak tahu dan Dhiarra tak cakap bila akan pergi, tuan Shin.. Apa anda tidak tahu,,?" agak ragu Yuaneta menjawab. Terheran sadar tiba-tiba.
Sangat terkejut Shin Adnan. Menggeleng perlahan, antara rasa lega dan menyesal. Menyesal tak menduganya awal-awal. Ah, Dhiarraaaa.... Semoga aku segera bisa menjumpaimu,,!
Shin merasa kunjungan ke rumah Yuaneta telah cukup dan selesai. Ingin segera menghubungi Hazrul atau Azlan. Sebab ponsel Dhiarra belum juga nampak adanya tanda aktif.
Shin akan menelpon Azlan saja selepas ini. Barangkali Sepupunya itu sedang mengetahui sesuatu tentang Dhiarra...
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍓🍓
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍓🍓
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍓🍓
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍓🍓
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍓🍓
Terimakasih supportmu yaaa..
Beri nilai 5 bintang yaaa...
Kasih vote dan hadiah yaaa..
Kasih komentar yaaa..
Kasih like yaa...
...Terimakasiiiii...
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍓🍓
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍓🍓
__ADS_1