
Adzan zduhur baru saja berkumandang. Meski sudah tidak terlalu ramai, namun para undangan masih terus berdatangan. Datuk Fazani nampak mendatangi dua mempelai yang tengah sibuk menyalami para tamu dan kerabat yang datang menghampiri mereka. Dan bergabung sejenak untuk ikut menyalami bersama di panggung pelaminan.
Sebab, datuk Fazani bersama keluarga serta beberapa kerabat dekat, berdiri menyambut tamu di dekat pintu masuk. Posisi mereka cukup jauh dari kursi pelaminan.
"Shin,," panggil sang datuk saat tamu penyalam sedang kosong dan jeda.
"Iya, pa..?" Shin sedikit mendekat pada papanya yang berdiri tepat di samping.
"Kau dan Dhiarra rehatlah lepas ashar sekali. Dzuhur ni, geser sekali juga kat ashar. Sebab masih ramai sangat. Macam mana, Shin?" tanya datuk agak enggan.
"Iya, pa. Macam itu pun tak kisah,," jawab Shin memandang sang ayah.
"Baiklah, Shin. Papa nak balik posisi kat pintu." pamit sang datuk seraya berjalan pergi dari kursi pelaminan. Shin mengangguk dan menatap punggung sang datuk yang perlahan menjauh.
Shin menoleh Dhiarra yang ternyata telah duduk di kursi singgasana mereka. Nampak anggun dan serasi dengan kursi yang sedang diduduki. Memandang istri jelitanya dengan hati terus berdebar meski sudah beberapa jam berdiri bersama.
Mata bening yang dibingkai dan dihias tinta indah itu tiba-tiba bergeser dan memandang cerah pada Shin. Dua pasang mata itu saling pandang cukup lama dan kemudian saling melempar senyum penuh makna. Dhiarra melempar pandangan bersama pias merona wajahnya. Shin mendekati kursi itu sambil terus tersenyum.
"Kau penat kah, Ra,,?" tanya Shin menepikan rasa debar di dadanya.
"Tidak, hon Shin. Aku tidak merasakan apa pun. Hanya,,," jawab Dhiarra menggantung.
"Apa,,?" desak Shin dengan menaikkan alis golok lebatnya. Gemas dengan pengantin perempuan yang cantik dan terus nampak pias wajahnya.
"Sebenarnya aku gugup dan seperti tak percaya jika kita ini benar-benar sudah dinikahkan," terang Dhiarra dengan mata beningnya menatap sang suami.
Shin Adnan begitu tampan dan gagah dengan baju pengantin warna putih kebiruan. Warna yang sama dengan gaun yang tengah dipakainya. Lelaki itu semakin terlihat sangat cerah dan menawan. Kian berdebar hati Dhiarra memandang Shin Adnan.
"Kau merasa tak percaya? Tunggulah hingga pesta kita ini usai, Raa. Akan kubuat agar engkau benar-benar bisa mempercayainya,," sahut Shin tersenyum. Menutupi perasaannya sendiri. Padahal apa yang dikatakan Dhiarra, juga sama dengan apa yang sedang dirasakannya.
Hanya demi membuat wajah sang istri terlihat kian merona dan malu. Maka Shin akan merasa semakin resah dan gemas melihatnya. Ingin drama duduk di pelaminan itu segera berakhir saja secepatnya. Dan membawa tarik Dhiarra ke dalam kamar pengantin mereka. Ah, Sh.in merasa semakin tidak sabar.
__ADS_1
Dipandanginya lagi sang istri yang benar-benar sedang membuang mukanya ke samping, dengan bayang senyum yang masih terlihat juga dari sebelah pipi mulus bermake upnya.
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
Sepasang pengantin sedang merasa seperti tak sedang berpijak di bumi. Saat orang-orang terdekat itu mengantar menuju kamar pengantin, serta berpamit bergantian meninggalkan mereka berdua di depan pintu kamar.
Masih dalam sayup pandangan saat datuk Fazani, datin Azizah, Fara, Yuaneta, Hazrul, Nimra serta Sahila, berjalan menjauh dan menyusuri lorong hotel meninggalakan kedua mempelai di depan kamar pengantin mereka. Hingga tak ada apapun yang bisa mereka lihat sebagai pelarian rasa canggung di hati keduanya.
"Raaa,,," panggil Shin memandang.
"Hon Shin,,," sahut Dhiarra menatap tersenyum.
Shin tidak lagi berkata, tapi segera menyambar genggam tangan halus Dhiarra sambil menggesek key card kamar di pintu.
Ting..! tanda pintu unlocked
Shin melesat masuk ke dalam kamar sambil menarik lembut tangan Dhiarra bersamanya. Menutup pintu dengan cepat dan menguncinya.
"Raaa,,," panggil bisik Shin Adnan.
"Hon Shin,,,," sahut lembut Dhiarra.
Tanpa berkata lagi juga, Shin memegang bahu Dhiarra, menarik lembut ke arahnya. Membawa merapat ke dada dan memeluk lembut Dhiarra dengan erat. Dhiarra mengulur tangan membalas, memeluk pungung lebar Shin erat-erat.
"Aku rindu, Raaa.. Sangat rindu,," ucap Shin menciumi rambut wangi kepala Dhiarra yang sedang menyandar rapat di leher dadanya.
"Hon Shin,,,aku juga sangat merindukanmuu,," balas Dhiarra menimpali. Memeluk erat lagi tubuh Shin Adnan.
"Raaaaa,,," sebut Shin pada sang istri dan semakin mendekapnya.
"Hon Shiiiinnn,,,," balas Dhiarra sekali lagi. Juga mengerat pelukkan tangannya.
__ADS_1
Mereka saling memeluk dan berpelukan. Memberi dan mencari rasa nyaman, demi ingin menghempas lautan rindu yang tertahan selama ini. Saling merapat dan melekat, berharap rindu itu terhempas lepas tak tersisa.
"Ra, kita bayarkan dulu hutang kita,," bisik lembut Shin terdengar serak di kepalanya.
Dhiarra mengangguk pelan, seperti tak rela jika pelukan itu harus terlepas meski sesaat.
"Iya, hon Shin," sahut Dhiarra. Paham dengan maksud ajakan sang suaminya barusan.
Meski perasaan mereka sebetulnya sama, berat merenggang pelukan. Mereka saling menjaukan diri dengan enggan juga akhirnya.
Shin kembali membawa tangan Dhiarra memasuki bagian kamar yang lebih dalam lagi.
"Sini, kubantu menanggal bajumu, Raa,," kata Shin tiba-tiba sambil membalik Dhiarra membelakanginya. Telah lama Shin ingin melakukan hal ini. Seperti adegan di film-film roman yang sering ditintonnya semasa muda kala dulu.
Dan kesempatan untuk keinginan terpendamnya telah di depan mata saat ini. Berdebar senyum Shin Adnan menyentuhnya. Meski membuka resleting gaun di tubuh Dhiarra bukan pertama kali yang telah dilakukan, namun rasanya tetap saja mendebarkan. Walau sedang melepasi baju dari tubuh yang sama sudah kesekian kali dilakukannya, masih tetap juga terasa menegangkan.
Shin merasa sesak tertahan nafasnya. Merasa diri ibarat kucing jantan kelaparan yang dihadapkan pada suguhan daging salmon pilihan namun masih terbentur tudung saji dari kaca.
"Hon Shin, aku dulu yang mandi?" tanya Dhiarra sambil berbalik menghadap sang suami.
Terasa kian sendat saja nafas Shin Adnan. Susah payah menelan sumber air di mulutnya sendiri. Dhiarra seperti sengaja memamerkan keindahan tubuhnya serta mengimingkan pada Shin Adnan, suaminya.
"Mandi bersama, Raa,,?" tanya harap Shin dengan tatapan menggelap. Tangannya mengulur cepat ke dada Dhiarra tiba-tiba.
Tapi sang istri begitu gesit berkelit dan melesat masuk ke dalam kamar mandi.
"Tahan, hon Shin. Ashar hampir habis dan sebentar lagi datang maghrib,,!" seru Dhiarra sebelum menutup pintunya.
Ah, sangat berat yang sedang dirasa Shin sebagai lelaki. Sebentar ingin meluruskan, sebentar juga ingin membelok tidak tahan.
Terbentur oleh tata cara serta keadaan dan juga kewajiban. Harus akur dilakukan demi rumah tangga yang telah dibangunnya akan terus abadi berkekalan.
__ADS_1
Shin duduk menyandar di sofa menghempas desir tegang sambil menatap pintu kamar mandi yang masih menutup rapat-rapat..