Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
40. Pergi KL


__ADS_3

Perjalanan dari Lorong Hang Jebat, Melaka menuju kota Kuala Lumpur tidak memakan waktu sangat lama. Hanya sekitar dua jam dan bisa jadi lebih sedikit.


Shin melirik gadis di sebelah dengan duduknya yang nampak gelisah. Menduga apa yang sedang dipikir oleh teman perjalananya itu hingga terlihat tidak tenang.


"Apa yang sedang kau pikir,,?" suara Shin terdengar jelas meski tidak keras.


Gadis di sebelah menolehnya dan menjawab.


"Apa Sazlina tidak jadi ikut?" Dhiarra menyahut.


"Sudah berangkat, bersama sepupu lelaki kami. Putra om Hafiz,," jawaban Shin cukup jelas dan sangat memuaskan.


Dhiarra terdiam, bermakna perjalanan ini akan dilalui hanya berdua bersama Shin dan seorang sopir yang hanya diam seperti patung. Ini adalah perjalanan panjang pertama Dhiarra di Malaysia bersama Shin. Memang pernah pergi ke luar kota sebelumnya. Bersama Faiz pergi ke Johor Bahru saat mengurusi ICnya kala dulu.


Keheningan meraja, dengan suara mesin yang samar terdengar serta dingin AC, menambah kediaman di antara dua insan. Shin dan Dhiarra saling diam dengan serabut pikiran di kepala masing-masing.


Satu jam kemudian... 09.30 pm


Keduanya terbangun dari tidur lelap yang tak sengaja. Bukan tanpa gangguan, tapi terkejut oleh guncangan kereta tiba-tiba. Ternyata sang sopir tengah mengerem dan menepikan mobilnya secara mendadak.


"Tuan Shin, maafkan saya..!. Saya kemasukan angin.... Perut saya sangat ..nyeri..! Saya perlu hangat-hangat...Makanan.., atau minuman pun boleh. Aargh...!" sang sopir telah merebah cepat sambil memegangi perut bagian bawah.


"Encik Shin, kita mesti lekas mendapat makanan atau minuman hangat..! Bahaya, encik Shin..!" mendengar Dhiarra yang panik, tanpa berkata apapun, Shin melompat keluar mobil diikuti Dhiarra. Tak ingin hal buruk menimpa sang sopir.


"Apa ke hospital saja, Dhiarra..?!" Shin berseru sambil mengejar Dhiarra yang seperti berlari di depan.


"Akan lama, encik Shin..! Lihat, itu ada kedai !"


Dhiarra semakin berjalan cepat setengah berlari menuju sebuah kedai runcit (toserba kecil) yang hampir tertutup.


Shin semakin tergesa mengejar Dhiarra yang kelewat cepat berjalan. Bukan berjalan, tapi berlari.

__ADS_1


"Mak cik..! Pak cik..! Tunggu..! Kami nak beli..,!" panik Dhiarra berseru.


Pria dan wanita tua itu termenung berkerut memandang kedatangan Shin dan Dhiarra yang tiba-tiba.


"Permisi, mak cik, kawan saya tengah masuk angin. Perut sakit tak bisa jalan. Boleh tak kami beli teh hangat dengan makanan hangat sekali..?!" Dhiarra bertanya sesopan mungkin.


Pria dan wanita tua yang mungkin adalah pasangan suami istri pemilik kedai itu saling berpandangan. Lalu memandang Shin dan Dhiarra penuh curiga.


"Kalian orang Indon kee..? Kami dah tutup kedai. Tak nak layan kapel haram,,!" Pasangan suami istri itu melengos.


Tak peduli dengan orang yang ingin beli di tokonya. Menyangka Dhiarra dan Shin adalah pasangan mesum tanpa ikatan. Pak cik dan mak cik tua pemilik kedai bergegas meneruskan kegiatan mereka tutup kedai.


"Maaf, permisi pak cik..,mak ciik..,! Kami bukan kapel haram. Kami dah halal..!" suara stereo Shin memecah senyap malam.


Terkejut sangat Dhiarra, bukan hanya suara nyaring Shin Adnan, namun sentuhan tangan lelaki itulah yang lebih mengejutkan. Tangan halus Dhiarra telah digenggam erat oleh tangan besar Shin Adnan. Bermaksud menunjuk kemesraan pada pasutri tua itu bahwa mereka telah halal. Sebab paham maksud Shin, Dhiarra menurut dan diam dengan manis. Bahu membahu sandiwara.


"Betulkah cakapmu..?!" pasutri yang cepat menoleh pada Shin itu terdiam. Menghentikan gerak tangan mereka menutup pintu kedai. Wajah keras mereka perlahan mencair dan cerah. Sepertinya mereka percaya sebab bicara Shin yang benar-benar logat khas Malaysia. Jauh beda dengan logat Dhiarra yang kaku.


"Betul,,! Sila layani kami dengan cepat, sangat mendesak, mak cik..!" Shin kembali menambah seruan. Genggaman tangan pada Dhiarra semakin dikencangkan.


Shin dan Dhiarra berdiri kaku di tempat menatap pintu kedai yang kosong. Dhiarra yang bingung, reflek menarik tangannya dari genggaman Shin. Bukannya di lepas, Shin justru mempererat pegangannya. Tangan Dhiarra semakin kencang digenggam.


"Tunggulah, sampai mereka menyerahkan minum dan makanan," Shin berbisik, sedikit membungkuk. Mendekatkan kepalanya pada Dhiarra.


Gadis yang sedang terkaku itu hanya diam membiarkan. Menunggu berdebar hingga pasutri itu kembali keluar.


Saat mak cik tua mengulur sekotak berisi sesuatu, Dhiarra kembali menarik tangan dan barulah Shin melepasnya.


Kotak itu diterima Shin sambil mengulur selembar ratus ringgit. Mak cik dan pak cik semakin nampak cerah.


"Terimakasih pak cik dan mak cik. Kami pamit!" Shin berbalik dan bergegas pergi diikuti Dhiarra. Menapaki jalan kecil beriringan menuju kereta dan Dhiarra kembali berjalan di belakang.

__ADS_1


🍒


Driver pribadi Shin telah kembali membawa kereta meluncur laju membelah jalan raya. Wajahnya kembali terang tanpa beban setelah menghabiskan tiga cup mie instan dan segelas teh hangat yang diberikan Shin padanya.


Bahkan driver itu harus lari terbirit menjauhi mobil sebelum meledakkan angin besar dari perutnya. Mungkin setelah itu rasanya sangat lega luar biasa. Merasa kembali sehat dan nyaman, driver itu nampak bersemangat lagi meneruskan perjalanan. Tawaran Shin untuk singgah makan ditolaknya. Begitu juga Dhiarra, tidak ingin singgah lagi dan ingin cepat sampai saja di tujuan.


🍒🍒


Perjalanan melewati kota besar gemerlapan itu berakhir di sebuah rumah megah yang benderang. Dan itu adalah rumah orang tua Shin Adnan. Ayahnya, datuk Fazani dan ibunya, datin Azizah. Datuk dan datin,,,sebutan umum untuk konglomerat atau orang terpandang dan disegani di Malaysia.


"Shin..! Asal lambat sangat sampai..?!" suara manja yang khas.


Sazlina muncul dari pintu dan bergegas menyambut. Hanya Shin sajalah yang disambut. Tangan kekar itu kembali digelayuti. Shin hanya mendiamkan dan membiarkan tingkah Sazlina. Mereka berjalan menuju pintu rumah. Dhiarra perlahan mengikuti di belakang dengan bimbang. Merasa siapalah dirinya di sini..?


"Hai, bang Shin..!" seruan lelaki terdengar dari dalam.


"Assalamu'alaikum, Azlan,,!" Shin membalas sapa pada lelaki di dalam.


"Wa'alaikumussalam, bang,,!"nampaklah lelaki yang bernama Azlan itu.


Berbadan tinggi dan gagah. Shin dan Azlan bersalam peluk dan saling tepuk bahu. Kemudian melepas pelukan. Azlan terdiam, mengamati Dhiarra seksama.


"Hai, kak,,! Ingat kat aku, tak,,?" Azlan tersenyum.


Dhiarra merasa tak paham, tapi hanya dirinya yang dipandang oleh Azlan. Kepala itu berusaha bekerja semaksimalnya. Dan...


"Driver...?!" Dhiarra berseru dengan jawabannya.


Azlan tersenyum dan mengangguk.


"Ya, kak,,! Itu adalah saya!" Azlan terus tersenyum.

__ADS_1


"Kalian, ada apa?" Shin menatap keduanya bergantian.


" Azlan adalah driver taksi gelap yang saya tumpangi malam lalu bersama Yuaneta, encik Shin,," Dhiarra memandang Shin dan Azlan bergantian. Serasa tak percaya dengan kebetulan bahwa Azlan adalah adik sepupu Shin Adnan. Driver taksi gelap yang tak sedia dibayarnya,,!


__ADS_2