
Sepertinya datin Azizah tidak lagi mampu menahan penatnya. Berkali-kali menguap sambil berkata siang tadi tidak sempat istirahat. Harus siaga demi sang suami yang mengeluh tak enak badan di perjalanan.
Dan datin azizah telah menghimbau pada para lajang itu untuk istirahat saja di kamar jika merasa bosan dan lelah. Mereka berempat mungkin sama rasa, serentak berdiri mengikuti apa yang tengah dilakukan sang datin.
"Sazlina,,, Kurma ini sangat bagus untuk penambah darah dan daya tahan tubuhmu. Bukankah kau ada anemia? Bawa yang banyak buat mama dan papamu, biasanya mereka suka,,!" datin Azizah sempat berseru sebelum meluncur ke belakang.
"Iya mama Zizah, nanti akan kubawa sebagian!" Sazlina berseru menjawab. Dan gadis itu berjalan melesat menuju tangga ke kamarnya.
Demi mendengar seruan datin Azizah, sebetulnya Dhiarra ingin menyambar sebungkus saja kurma itu. Tapi sedikit berkecil hati karena datin Azizah tidak basa-basi menawari. Mungkin juga terlupa. Tapi Dhiarra juga segan pada Shin Adnan. Lelaki itu tengah melasernya sehabis Dhiarra melirik kurma di meja.
Gadis itu cepat berbalik dan berjalan menaiki tangga menuju kamar di atas. Meninggalkan Shin di belakang serta Azlan yang duduk lagi lalu merebah lelap di sofa.
🍒
Shin berjalan tenang membuntuti gadis pendatang dengan menjauh di belakang. Mengamati kaki Dhiarra yang menaiki tangga dengan cepat. Lelaki itu melaju langkahnya menjadi sangat cepat saat daun pintu hampir diraih oleh Dhiarra.
Tap..!
Si gadis terkejut, telapak tangan yang mulai dihafal milik siapa itu telah menempel di pintu menahan dorongan ke dalam. Memang benar, Shin Adnan telah berdiri di belakang dan hampir merapatinya.
"Anda sedang apa, encik Shin,,?!" Dhiarra telah membalik badan yang sebagian telah berada di kamar.
__ADS_1
Shin menatap sangat tajam dengan rahang yang menegas dan keras. Mendorong pintu untuk lebih terbuka sedikit lagi.
"Apa untungmu tidak jujur jika toko obat di Sentral itu milikmu,,?!" Shin begitu dingin menghardik. Dhiarra langsung mengerti, dugaannya kenapa Shin nampak marah adalah benar.
"Saya bukannya tidak jujur padamu, encik Shin,,!" Dhiarra merasa sedikit gentar melihat wajah Shin yang semakin kaku dan dingin.
"Apa kau risau jika aku tidak merasa iba denganmu sebab niaga obatmu yang sukses? Apa kau begitu mengharap ibaku?" tiba-tiba Shin membungkuk dan bicara begitu dekat diwajah Dhiarra.
"Saya sungguh tidah bermaksud membohongimu, encik Shin. Anda tidak pernah bertanya. Apa aku harus memamerkannya? Memang benar, aku sangat berharap ibamu, agar anda mengantarku pada tempat ibuku,," buru-buru Dhiarra menjelaskan.
Dengan mencoba tetap berdiri di posisi masing-masing, terlihat wajah mereka begitu saling dekat. Dhiarra seperti terpaku di pijakan, berat menggeser kakinya untuk mundur ke dalam.
Ucapan Shin sama sekali tidak keras, tapi seperti menghentak- hentak telinga dan jantung di dada Dhiarra. Kian parah dengan wajah Shin Adnan yang begitu mendekat ketika berbicara. Meski tidak menyentuh, tapi mampu membuat Dhiarra kesusahan bernafas.
"Maafkan saya, encik Shin. Saya tidak bermaksud demikian. Hal itu benar-benar tidak kusengaja." senjata terakhir Dhiarra. Berbicara lembut dan merayu.
Tenyata bermanfaat, Shin menarik wajah dan punggungnya perlahan.Berdiri tegak kembali di tempatnya. Memandang lekat gadis itu cukup lama.
"Sudahlah, Dhiarra. Aku terbawa emosi. Kau memang tidak salah. Jangan pernah menutupi apapun lagi dariku. Istirahatlah,," wajah tegang itu telah mulai melentur perlahan bersama suara yang melandai.
Shin mundur selangkah, meraih gagang pintu yang dengan cepat dilepaskan Dhiarra. Gadis itu segera mundur ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Shin telah menutup pintu itu agak keras. Seperti menghempas seluruh sisa kecewanya saat itu. Terdiam berdiri sesaat di sana..
"Shin,,," suara lembut terdengar memanggil dari belakang.
Perlahan sang putra berbalik badan, mendekati sang ibu di tangga.
"Ma,," Shin merasa tertangkap basah oleh sang ibu atas perlakuannya pada Dhiarra yang tak jelas barusan.
"Kenapa kau seperti itu,,,?" lembut pertanyaan sang datin. Shin terus terdiam menatap ibunya.
"Jaga sikapmu, nak. Gadis itu punya calon suami. Sebentar lagi akan menikah. Jangan kau kacau perasaannya. Jangan kau permainkan hatinya,," datin Azizah menepuk-nepuk pundak Shin dengan sayang.
"Jangan ulangi lagi kebiasaanmu. Membuat perempuan mengharapkanmu, tapi terus kau abaikan. Meski kadang kau tak sengaja, tapi itu menyakitkan, Shin,," tangan itu tidak lagi menepuk pundak. Tapi mengelus jatuh di lengan bahu sang putra.
"Sebetulnya, kurang apa Sazlina? Dia gadis baik-baik, bermasa depan dan juga berpendidikan. Keluarga kita sudah cukup rapat dengan keluarga Sazlina, Shin," datin Azizah memandangi putranya. Kembali ingin membahas hal yang sama sekali lagi. Ingin putranya bersedia berbicara.
Shin terus terdiam tak menyahut. Memegang tangan sang ibu dan lalu melepaskan dari bahunya.
"Ma, aku akan pergi ke kamarku. Mama istirahatlah,," tanpa banyak kata, Shin berbalik dan pergi meninggalkan sang ibu di tangga begitu saja.
Datin Azizah mematung di tempat. Merasa sesak memandang pada Shin Adnan. Putranya yang tampan namun barhati keras seperti batu...
__ADS_1