
Sang ibu telah menyiapkan sebuah kamar spesial untuk Dhiarra dan sebuah kamar yang kosong untuk Shin Adnan. Kamar yang kembali bersebelahan dan bergandengan. Serta berhadapan dengan kamar utama.
Ada tiga kamar besar di rumah Hazrul Rahman. Kamar utama yang ditempati bersama istri. Kamar yang disiapkan untuk Dhiarra, serta kamar kosong bagi siapapun yang akan menginap dan sekarang diisi oleh adik lelaki angkatnya, Shin.
Mama Ira, ibunya Dhiarra telah menyediakan masakan kesukaan putrinya semasa bersama, ikan santan pedas serta sambal tomat terong goreng. Juga membuat ikan laksa kesukaan sang suami yang ternyata juga sama dengan kesukaan adik angkat, Shin Adnan.
Sebagai sang juara bertahan dalam makan, Shin tidak segan untuk mengambil laksa taste Malaysia sesukanya, serta mencoba makanan taste Indonesia kesukaan Dhiarra. Baginya, semua hasil masakan yang dibuat ibunya Dhiarra itu sangat khas dan lezat.
Makan siang telah selesai, namun keempat orang belum juga meninggalkan kursi dan meja. Mereka tengah asyik mengobrol.
"Apa anak perempuan kak Ira juga pandai memasak seperti ini?" Shin memandang ibunya Dhiarra. Melirik sekilas pada Dhiarra yang tengah meneguk air di gelas.
"Dhiarra tidak hobi di dapur. Padahal sudah dewasa dan sebentar lagi menikah. Entah bagaimana nanti tanggapan suaminya,," ibunya menahan senyum melirik Dhiarra yang juga sedang menoleh.
"Itu bukan masalah, maa..Bisa dipelajari otomatis setelah menikah. Lama-lama nanti aku juga pandai, maa... Lagian mas Drian ngerti kok, aku nggak bisa masak. Kata dia asal bisa bikin nasi goreng saja, itu sudah hebat,,!" Dhiarra membuang pandangan. Tak ingin mendapat tanggapan dari ibunya atau juga dari Shin.
"Saat sendiri di Indonesia, sebelum datang mencariku. Apa saja yang kau makan? Apa hanya nasi goreng?" Shin bertanya menyindir pada Dhiarra. Mengabaikan ekspresi ketiga orang itu di meja.
Wajah jelita itu serta merta menoleh Shin dan melebarkan bola mata. Nampak sedang menahan tawanya.
"Ini sudah modern, semua serba online, encik Shin. Sama hal kat Indonesia. Ramai sangat iklan menjual makanan dengan ragam menu dan harga. Asal ada uang, tak kan mati sebab lapar, di manapun. Itulah, saat sadar uangku tak banyak lagi, risaulah aku. Dan kala ayah Hazrul memintaku mendatangimu, pergi padamu jugalah akhirnya,," panjang sekali Dhiarra menjelaskan.
Hazrul terdiam, sang istri menyimak memandang Dhiarra, antara senyum, iba dan sesal.
"Yang ingin kutahu, selain nasi goreng, kau boleh buat apa lagi?" Shin Adnan tersenyum.
Dhiarra memandang Shin Adnan.
"Mie instant goreng,,mie kuah,,telur kocok,,telur ceplok,,telur rebus,,dan tumis, encik Shin," gadis itu berkata jujur, memang hanya seperti itulah kepandaiannya.
Hazrul dan juga Shin, serempak berpandangan menahan tawa,, ibunya hanya tersenyum makhlum menyimak ucapan putrinya.
__ADS_1
"Calon suamimu memang tidak masalah,Dhiarra. Tapi itu hanya sementara. Lambat laun kau juga perlu bergaul dengan keluarga besarnya. Betul yang ibumu itu cakap, kau harus siap dari sekarang. Belajarlah memasak," jawaban Shin sangat serius. Tapi juga sambil berdiri, mundur dari meja makan dan berjalan santai menuju kamarnya. Mungkin lelaki Malaysia itu akan beristirahat tidur siang.
Hazrul berkerut alis memandang adik lelakinya. Kemudian memandang sang istri lalu Dhiarra.
"Dhiarra, apa kalian telah akrab? Menurutku,, om Syafiqmu itu cukup perhatian denganmu," Hazrul berkata pelan pada Dhiarra dengan sungguh-sungguh.
Dhiarra terdiam memandang Hazrul sebentar.
"Akrab bagaimana ayah Hazrul,, kurasa kami tidak akrab. Paham sendiri kan, bagaimana wataknya,,?" Dhiarra sebenarnya juga ragu. Lalu dia pun berdiri, melempar senyum pada ibunya dan mengangguk kecil pad Hazrul. Berundur dari meja dan berjalan ke kamarnya.
Merebah tubuh di ranjang baru, pembelian ibunya. Dhiarra merasa selip bahagia. Memandang dinding kamar bercat putih sangat terang. Dan tertempel tiga buah pigura. Pigura pertama berisi fotonya masa baru lulus SMA. Badan Dhiarra cukup kurus, wajah polos, cerah dan gembira. Foto yang diambil dari ponsel sang ibu saat Dhiarra menang lomba rancang busana di Magelang. Dhiarra merasa bahagia.
Foto kedua dan ketiga adalah foto yang sama. Foto yang diambil sang ibu sebelum berpisah, saat Dhiarra mendapat undangan seminar terakhir kalinya di Semarang. Dhiarra nampak cantik, manis dan menyenangkan. Seperti itulah visualisasi gadis jelita itu sekarang. Dewasa dan meresahkan.
Kembali teringat akan tanya Hazrul barusan. Akrab,, apakah dirinya dan Shin sebenarnya sudah cukup akrab? Atau sejatinya sudah terlalu rapat?
Bayangan saat Shin telah beberapa kali memergoki tampilan seksinya meski itu tak sengaja. Juga kejadian saat Shin mengaku Dhiarra adalah pasangan halal di perjalanan ke KL meski itu hanya pura-pura. Dhiarra tersenyum, dadanya berdegub mengingatnya.
🍒🍒🍒
🍒🍒🍒
Selepas adzan ashar, Shin keluar dari kamar. Rumah kecil namun nyaman ini nampak lengang. Telah mengitari seluruh sudut rumah, tak satu pun bersembang dengan salah satu penghuni rumah.
Hanya terlihat kamar yang ditempati Dhiarra tengah terbuka sedikit. Shin mendekati, mengetuk pelan dan tak ada sahutan. Diulanginya sekali, tetap tak nampak tanda gadis itu di dalam.
Insting sebagai lelaki membuatnya penasaran. Dibuka pintu kamar perlahan, lengang. Tak juga ada tanda bahwa gadis itu berada di dalam kamar mandi. Shin membawa dirinya sedikit masuk ke dalam lagi. Mengamati keadaan kamar yang agak berantakan di ranjang.
Berpindah menyisir dinding. Mata Shin langsung melaser pada pigura-pigura unik yang menempel. Dan penampakan pigura itulah pembuat Shin senyum-senyum sambil tak sadar kakinya melangkah mendekat. Mengamati pigura yang berisi foto-foto indah meresahkan.
Pigura pertama adalah foto Dhiarra yang terlihat segar dan muda. Berfikir bahwa masa muda dan remaja Dhiarra saat itu berlalu cukup indah. Shin tersenyum makin lebar.
__ADS_1
(Foto Dhiarra masa baru lulus SMA yang dipajang ibunya di kamar. Di rumah ayah Hazrul, di Georgetown, Penang)
🍒🍒🍒🍒
Lalu Shin menggeser matanya, melaser pada pigura kedua dan ketiga. Shin tidak tersenyum. Wajahnya terlihat sangat tegang, matanya meredup dan bibirnya merapat. Tangannya terulur pelan menyentuh foto di pigura kedua itu pada bagian bibir Dhiarra yang samar tersenyum. Tangannya menyentuh diam tanpa gerakan.
Shin mematung memperhatikan foto itu. Itulah penampilan Dhiarra saat ini, cantik dan cerah.
Pigura kedua
Pigura ketiga
Shin tersadar, tak ingin kehilangan harga diri sebab tertangkap basah mencuri masuk ke kamar Dhiarra. Baik oleh pasangan Hazrul atau pun si pemilik kamar itu sendiri. Langkahnya bergegas menuju pintu dan keluar. Tangan Shin sempat menyambar pintu agar tertutup.
Berjalan santai keluar rumah seperti tidak pernah melakukan apapun. Shin berniat mencari penghuni rumah, terutama pemilik kamar yang diam-diam baru dimasukinya. Langkah kaki panjang itu sedang menuju kampung wisata China di Chew Jetty, Georgetown..
🍒🍒🍒
🍏🍏🍏
🍒🍒🍒
🍏🍏🍏
Kemarin dah setor bab...,, seperti biasa, kejepit di mesin cetak editor,, 😄😄😄😘😘😘
__ADS_1