
Sejuta rasa di dada saat menatap Adrian, justru membuat pandangan Dhiarra jadi kosong. Di sela bahagia yang ada, hadir selip kecewa yang datang. Adrian menjanjikan kembali pernikahan tanpa memberikan batas waktu. Tapi Dhiarra bungkam, tidak ingin menjatuhkan lagi harga diri Adrian di antara orang-orang yang duduk bersama menatapnya.
Adrian telah berpamitan dan berdiri, orang-orang di meja pun mengikuti. Begitu juga Dhiarra.
"Terimakasih atas waktu yang anda semua luangkan untuk kami. Khususnya anda, tuan Shin. Terimakasih telah bersedia meringankan kesulitan Dhiarra selama ada di negara anda." Adrian tersenyum hangat sambil mengangguk hormat pada Shin Adnan. Lelaki berdarah biru itu terlihat sangat tampan.
Shin hanya terdiam menatap Adrian tanpa bersuara ataupun mengangguk. Terus memperhatikan sikap Adrian di detik-detik kepergiannya. Adrian lebih mendekat lagi pada Dhiarra. Nampak akan bicara lagi pada Dhiarra.
"Dhiarra, kumohon padamu, yakinlah..,aku akan datang membawamu. Aku akan datang menikahimu. Kita pasti akan menikah." Adrian terdiam. Seperti habis kata untuk bicara tiba-tiba.
Saling berpandangan dengan Dhiarra, berjuta perasaan dan membuat kepalanya semakin kusut berkecamuk. Hati Adrian sangat sakit sekarang. Merasa berat meninggalkan Dhiarra lagi di Negara ini. Adrian terpaksa, lelaki ningrat itu merasa sedang menghadapi masalah berat dan harus cepat diselesaikan di negaranya.
"Dhiarra jaga dirimu baik-baik. Maafkan aku. Aku pergi dulu," lelaki itu mendekati Dhiarra. Dengan gerakan cepat mendekatkan wajahnya pada Dhiarra. Dan....
Cup...!
Adrian telah mencium Dhiarra dengan singkat. Dhiarra diam membisu sebab terpaku rasa kaget. Adrian telah berani mencium Dhiarra di kening. Tidak peduli pada mata-mata yang juga mengawasi di sekitarnya.
"Bye, Dhiarra..," bahkan tangan Adrian sambil mengulur dan mengelus acak rambut indah Dhiarra. Gadis itu semakin terdiam.
"Mari semuanya. Sekali lagi terimakasih, tuan Shin!" Adrian berpamit lagi untuk terakhir kali sambil dijabat salami semuanya.
Lelaki itu memandang Dhiarra sekilas lalu berbalik cepat dan melangkah pergi bergegas. Mungkin saat ini bahkan sudah lewat tengah malam di Malaysia.
"Faiz, ada apa..?!" seruan stereo Shin tiba-tiba mengalihkan pandang semua mata dari bayang Adrian.
"Sazlin akan datang besok pagi ke kantor, tuan Shin. Dia baru sampai. Penerbangannya tertunda," rupanya hal inilah yang ingin disampaikan Faiz dari tadi.
__ADS_1
"Cakap pada Sazlina, esok aku tunggu," Shin menanggapi kabar dari Faiz.
Shin memandang Dhiarra dan Yuaneta.
"Kalian berdua, pulanglah bersamaku," lelaki itu berjalan maju tanpa menoleh.
Dengan patuh, Dhiarra dan Yuaneta membuntuti langkah Shin menuju luar gedung dalam diam. Dhiarra berjalan dengan pikiran bercabang. Antara menatap kosong punggung kokoh yang berjalan tegap di depan, dengan isi kepala yang berlarian pada Adrian. Sudah sampai di mana Adrian? Bagaimana perasaan Adrian saat ini? Apakah lelaki itu merasa bahagia atau justru kecewa?
Perjalanan menuju rumah Yuaneta di Batu Berendam diselimuti kebisuan. Hingga benar-benar sampai di ujung gang menuju posisi rumah Yuaneta.
Yuaneta telah dikembalikan dengan selamat pada sang suami, Denis Tan yang sedang gusar menunggu di rumah. Kerisauan di wajah Denis lenyap begitu Yuaneta sampai kembali dengan diantar baik-baik oleh Dhiarra dan Shin Adnan.
🍒
"Jadi di sinikah hobimu pergi?" Shin bertanya pada Dhiarra yang sedang menatap lokasi rumah Yuaneta. Mereka telah kembali ke mobil.
Shin terdiam, menyuruh sang sopir melanjutkan perjalanan. Lelaki berwibawa itu telah berpindah duduk belakang di samping Dhiarra. Saling duduk menepi dan sangat berjauhan. Mereka kembali terjebak dalam bisu dan bungkam.
"Dhiarra..," terdengar Shin mamanggil nama Dhiarra tanpa nada.
"Iya..," Dhiarra menoleh.
"Apa kau kecewa telah gagal menghabiskan malam dengan calon suamimu?" nada dingin itu sangat jelas terdengar. Shin sedang menyandar punggungnya. Lelaki itu terlihat sangat penat.
"Tidak. Sebenarnya saya justru merasa agak lega. Jujur saya tak tega menolaknya, encik Shin," jawab Dhiarra dengan jujur.
"Maaf jika aku terkesan menahanmu. Tapi kau harus paham,Dhiarra. Kau telah datang di rumahku dan aku mengizinkanmu tinggal di rumahku. Jadi kau harus menerima konsekwensinya. Mengikuti aturan di rumahku," Shin berkata agak lirih.
__ADS_1
"Saya paham. Dan memang juga kuanggap sebetulnya anda sedang menjagaku. Meski saya pun tentu akan menjaga diriku dengan baik, sekalipun sedang bersama calon suami. Tapi tetap saya ucap terimakasih, encik Shin," lirih juga sahutan Dhiarra.
Shin diam tak menjawab. Kepalanya menoleh pada gadis di sebelahnya. Mata laser itu menelusur dan menangkap cincin putih bermata berlian yang dilingkarkan Adrian di jari manis Dhiarra.
"Apa kau gembira dengan cincin di jarimu itu, Dhiarra?" Shin menanyakan hal yang seharusnya tidak perlu.
"Apa saya gembira,,? yang jelas sebab cincin ini, saya akan ingat pada janji Adrian padaku..," Dhiarra tidak menjawab dengan tepat. Justru mengulang pertanyaan Shin padanya barusan.
"Apa kau benar-benar ingin dinikahi Adrian?" pertanyaan Shin masih juga berlanjut.
"Saya tidak ingin hubunganku dengan Adrian tak ada kejelasan. Bukankah jalan terbaik adalah menikah?" jawaban Dhiarra selalu tidak memuaskan bagi Shin.
"Apa kalian begitu saling mencintai,,?" terus saja Shin bertanya.
"Tidak ada alasan untuk kami saling berpisah. Kami akan menikah, encik Shin," Dhiarra terus menjawab pertanyaan Shin tanpa ragu. Meski heran dengan sikap Shin yang seperti itu, tapi perasaannya justru merasa senang jika Shin terus bertanya apapun padanya.
Shin terdiam, tidak lagi bertanya. Meski rasanya begitu gemas dan tidak sabar. Sebab Dhiarra tidak pernah memberi jawaban yang tepat dan memuaskan baginya. Namun Shin telah menyimpulkan, bahwa Dhiarra adalah gadis baik-baik, berjiwa setia dan sangat berkomitmen.
"Lelaki itu beruntung jika benar-benar bisa menikahimu..,," tak sadar Shin bergumam sangat lirih.
"Apa, encik Shin..,,?" Dhiarra tiba-tiba bertanya. Meski mulai mengantuk, masih samar mendengar perkataan Shin barusan. Hanya tidak yakin.
Shin tidak menyahut, mengabaikan pertanyaan Dhiarra. Lelaki itu meletakkan punggung dan kepala di kursi. Cepat-cepat memejamkan mata yang memang terasa benar-benar sedang lelah dan mengantuk.
Dhiarra juga menyandar kepala di kursi. Namun dengan kepala yang menoleh menyamping ke arah Shin. Memperhatikan wajah lelaki dewasa yang menawan itu sepuas mata dan hatinya. Shin begitu tenang dan sangat tampan terlihat dari samping saat terpejam seperti itu.
Dhiarra terus mencucikan matanya di wajah Shin hingga kantuk semakin datang menyiksa. Perlahan mata bintang itu meredup. Lalu terpejam rapat dan kemudian melekat. Dhiarra benar-benar lelap tertidur..
__ADS_1
Lelaki yang duduk di sebelah Dhiarra membuka matanya perlahan. Terbuka redup dan menyapukan mata pada wajah jelita di sampingnya... Terus memandang dan berharap perjalanan ini semakin lama saja berakhir..