Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
68. Shin's Kiss


__ADS_3

Bagaimana ini,,, dalam bimbang dipeganginya setumpuk kecil baju milik lelaki di kamar sebelah. Lelaki yang sebenarnya sedang sangat berhak atas dirinya. Dan itu jugalah penyebab enggan untuk mengantar tumpukan baju kepada pemiliknya.


Entah perasaan apa yang membuat Dhiarra segera memasukkan baju itu ke dalam keranjang kembali. Diangkat dan berjalan menuju pintu dengan cepat.


Bergegas menuju tangga berundak dan buru-buru dinaiki. Dhiarra seperti sedang perang batin antara terus maju atau berbalik lagi ke kamarnya. Dan talah dihempas keraguan untuk membawa keranjang baju ke kamar itu.


Tok...Tok...Tok...Tok...Tok....!


Shin yang baru mengganti celana panjangnya dengan celana pendek santai merasa heran dengan ketukan di pintu. Melempar celananya ke sofa dan berjalan mendekati pintu kamar di teras.


Ceklerk!


Merasa tidak percaya jika yang mengetuk pintu kamar dan sedang berdiri pias di depan pintu adalah gadis yang baru saja dia nikahi. Masih tidak menyangka juga jika Dhiarra akan datang mengantar baju ke kamar.


Tadi Shin hanya merasa masih kesal dan asal saja bicara. Sebab gadis itu selalu menghindar dan pelit memberi respon. Maka inilah moment yang sedang ditunggu-tunggu olehnya. Dhiarra mendatangi kamarnya!


"Encik Shin, ini bajumu. Ambillah, akan kubawa kembali keranjangku." Dhiarra mengulurkan keranjang itu pada Shin.


Tapi Shin terdiam tidak mengambil keranjang yang disodor Dhiarra.


"Tolong susunkan baju itu di almariku, Ra. Masuklah!" Shin berkata jelas dan tegas.


Membuka pintu lebih lebar dan menepikan tubuhnya. Memberi isyarat pada Dhiarra agar cepat melewati pintu dan masuk ke kamar.


"Maaf, susunlah sendiri, encik Shin. Ini hanya sedikit kan?" suara Dhiarra terdengar agak gugup. Wajah piasnya telah terlihat kian jelas.


Shin merasa gemas dan greget melihat wajah itu.


"Permintaanku ini tidak susah Dhiarra. Apa kau lupa, aku ini siapamu?" paman tampan itu kembali melempar jurus andalan.


Mata Shin meredup memandang si gadis dengan mata indahnya yang sedang melebar. Menahan kuat keinginan untuk menarik paksa tangan halusnya ke kamar. Terus diam bersabar, yakin bahwa Dhiarra cukup memahami hukum agamanya yang hakiki.


Shin menarik nafas dan menahannya di dada. Gadis di depan itu sedang melewati pintu dan kini berada di dalam kamar. Shin segera menyambar daun pintu dan menutup dengan cepat. Lelaki itu menghembus nafas yang sempat ditahan sambil melepas senyum samarnya.


"Mana almarimu, encik Shin?" Dhiarra bertanya dan berusaha nampak tenang.


"Kat sana," Shin menunjuk sebuah pintu kaca yang lebar.


Gadis itu meletak keranjang di sofa dan membawa setumpuk baju ke pintu. Menggeser pintu kaca dan tenggelam di baliknya. Shin berdiri menyandar pintu, alis golok pekat itu terlihat merapat dengan mata lekat memandang hilangnya Dhiarra di ruang baju.


Ada dua almari saling berhadapan di sana. Seperti yang telah disangka. Almari besar adalah untuk tumpukan baju kerja lelaki itu. Jas coklat dan kemeja putih yang pernah dipakainya, telah diletak Dhiarra di dalam.


Bergeser di almari lebih kecil, memutar anak kunci dan membukanya. Meletak baju santai yang dipakai Shin saat kehujanan serta sepasang wear begitu saja di tumpukan. Segera menutup kembali dan mengunci.


Tak terasa dada Dhiarra berdebar berada di dalam ruang baju itu. Ruangan yang berbau segar dan beraroma khas. Serupa dengan wangi badan Shin Adnan.


Tok,,,Tok...Tok..


Tok..Tok...Tok..


Langkah kaki Dhiarra terhenti, tidak jadi keluar dari ruang baju. Terdengar ketukan dari luar pintu kamar.


Dan Shin telah membukanya dengan cepat.


"Ada apa, Fara?" Shin menyambut dengan tanya.


"Sorry, bang Shin, nak minta duit. Aku tak ada duit tunai. Driver minta duit beli petrol (bahan bakar)," Fara menjawab sambil berjalan masuk ke dalam kamar sang abang.


"Berapa kau nak?" Shin membuka laci di meja samping tempat tidur.

__ADS_1


" Terserah,,suka hati abang Shin lah,!" sahut Fara cepat.


"Hei, bang Shin! Apa sebab keranjang baju kak Dhiarra ada dalam bilik abang?!" Fara keheranan memandang Shin. Didekati keranjang di sofa dan diangkatnya. Matanya tak salah membaca . Memang selalu ada tulisan nama di semua keranjang laundry. Gadis Kamboja itu tidak ingin kesusahan.


"Pegawai laundry salah bagi," sahut Shin dengan santai. Uang beratus ringgit telah diberikannya pada Fara.


"Duong?! Benar kee gadis laundry tu salah bagi?! Macam tak mungkin itu, baaang,," Fara nampak semakin terheran


"Fara, aku nak rehat. Bila kau nak bertolak KL?" Shin memberi nada malas pada tanyanya.


"Bang Shin macam tengah halau aku,, nak bertolak lah, nii,," Fara berkata agak lirih. Seperti merasa kecewa pada sikap abangnya.


"Tak macam tu, Fara. Abang memang rasa penat sangat," bujuk Shin pada Fara.


"Yelah, yelah. Fara bertolak sekarang lah, bang. Assalamualaikum!" Fara menyambar tangan Shin dan menempel ke dahinya sekilas.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati kat jalan!" sahut Shin pada Fara yang telah berjalan ke pintu.


"Yee,,!" sahut Fara cepat dan menjauh.


Shin kembali menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Ra, Dhiarra,!" panggil Shin mendekati ruang baju.


Mendapati Dhiarra yang tengah menggeser pintu lebih lebar dan keluar. Gadis itu membungkam tanpa respon. Menghampiri sofa dan mengambil keranjang baju miliknya.


"Bajumu sudah saya letak di almari. Permisi, encik Shin." Dhiarra berkata ketus dan berjalan cepat menuju pintu.


Tangan halusnya gagal membuka daun pintu. Shin telah mengunci dan mencabut anak kunci.


"Duduklah sebentar,Dhiarra. Aku masih ingin berbincang hal penting denganmu," Shin juga berkata ketus dengan wajah yang berubah serius.


"Kita bincang di teras atau di ruang televisi saja, encik Shin," Dhiarra keberatan. Berdua di kamar Shin dengan pintu terkunci seperti saat itu, hatinya berdebar tak menentu. Dhiarra tidak berharap dan tidak tenang.


Tidak berguna lagi mendebat. Dhiarra sadar situasi dan kondisi. Kakinya segera kembali menghampiri sofa dan duduk menghempas di sana.


"Baiklah, encik Shin. Marilah berbincang. Cakap apapun yang ingin anda sampaikan padaku," Dhiarra bersuara cepat dan juga agak keras. Menyembunyikan degup dadanya. Entah sebab apa,,, sebab bersama Shin atau sisa kejutnya pada kedatangan Fara tiba-tiba ke kamar.


Shin duduk di sebelah Dhiarra dengan tidak rapat dan menjauh. Seperti sengaja untuk tidak sampai mendekat. Shin tidak ingin membuat Dhiarra semakin merasa tidak tenang dan tak nyaman.


"Begini, Ra, Dhiarra... Dengarlah... Besok kita akan ke Kuala Lumpur, ke rumah parentsku. Selain sebab papa birthday, tapi dia kata nak jumpakan aku dengan anak perempuan dari kawan rapatnya. Ini aku tahu dia tak main-main. Mereka dua orang memang rapat sangat. Papa berharap sangat aku lekas kawin," Shin berdiam sesaat memandang lekat Dhiarra. Mata laser itu telah redup menghangat. Dhiarra juga menatap menunggu.


"Aku pun merasa dah tua, Dhiarra. Paham dengan apa yang papa nak padaku. Papa dan mama nak cepat dapat cucu dariku. Papa pun dah sering sakit-sakit, dia ada gangguan kat jantung," Shin kembali terdiam dan terus memandang wajah segar Dhiarra.


"Dhiarra, apa kau benar-benar tak berminat padaku? Apa aku sangat jauh dan tak sepadan dengan calon suamimu itu? Aku tak setampan Adrian?" Shin memandang dengan mata yang berubah nampak sayu. Suara Shin pun juga telah melembut. Lelaki itu tengah berusaha mengambil iba Dhiarra. Shin sedang mencoba merayu.


Dhiarra masih terdiam dengan tangan mencengkeram erat di keranjang bajunya. Masih menunggu Shin untuk kembali berbicara.


"Jika engkau minat, besok akan kucakap pada parentsku akan status kita. Kita dah kawin, Ra. Parentsku pasti suka dan ingin kita kawin ulang. Biasa mereka akan buat semacam party besar, Dhiarra." Shin terdiam. Kali ini benar-benar berhenti. Memandang gadis di samping dan berharap direspon. Shin terus terdiam menunggu.


"Encik Shin,,," panggil lembut Dhiarra pada Shin.


"Ya, Ra,,?" Shin yang kini berganti menunggu.


"Apa kalian sudah saling mengenal? Maksudku, anda dengan putri kawan rapat papamu,," tanya Dhiarra memandang wajah Shin.


"Ya, kami pernah berkawan juga semasa kecil hingga remaja. Dulu mereka juga tinggal kat Melaka," jawab Shin dengan jujur.


Dhiarra menunduk terdiam sesaat. Dan kembali mendongak di wajah Shin.

__ADS_1


"Saya rasa, anda dan perempuan itu akan saling cocok, encik Shin. Anda harus mencoba lebih mengenalinya kembali. Kalian sudah lama tak bertemu kan?" Dhiarra berkata-kata dengan lembut dan lirih. Namun Shin sangat jelas mendengarnya.


"Jadi kau tetap menolakku, Dhiarra? Tak tergerak minat hatimu untuk menyambung perkawinan kita itu?" suara Shin terdengar lemah putus berharap.


"Maafkan saya, encik Shin. Terimakasih pada tawaranmu. Tapi saya tak ingin berkhianat pada Adrian. Hatiku tak tega. Dia tak buat kesalahan jahat padaku. Dia kata urusanya hampir selesai sebentar lagi. Calon suamiku akan datang minggu-minggu ini. Adrian meminta saya bersiap, encik Shin."


Sesak rasa dada saat mulutnya mengatakan hal itu. Ada kesedihan memandang wajah Shin yang nampak sayu dan kecewa. Tapi tak mungkin Dhiarra tidak merespon dan memberi jawaban apapun. Dan terpaksa jawaban itulah yang saat ini harus dikatakan sekali lagi pada Shin.


"Baiklah, Ra. Tetaplah setia pada calon suamimu. Seperti yang pernah kujanjikan, aku tak akan pernah memaksa. Tapi kau harus tahu, sebelum kau benar-benar pergi dengan Adrian, kita tidak akan bercerai," ucapan Shin kembali jelas dan tegas. Sepertinya Shin begitu mudah dan cepat menguasai perasaannya kembali.


Shin menggelosor badan dan menyandar punggung di sofa nampak lelah. Memandang lurus ke depan pada ranjang tempat tidur. Merenung entah apa yang sedang direnungkan. Hanya dahinya berkerut dan alis goloknya sedikit bertaut. Wajah tampan Shin nampak kusut saat begitu.


"Encik Shin, boleh saya keluar dan kembali ke kamar saya sekarang?" Dhiarra bertanya dengan pelan dan lembut. Rasa sedih berlama-lama memandang Shin seperti itu.


"Keluarlah," Shin menyahut pendek pertanyaan Dhiarra.


"Permisi, encik Shin," Dhiarra berdiri dan berjalan mengitari meja. Melangkah menuju pintu kamar dengan membawa keranjang.


"Bukakan pintu kamarmu, encik Shin!" Dhiarra berseru dari pintu. Ingat jika anak kunci ditaruh Shin di meja.


Shin terdiam sebentar memandangi Dhiarra. Akhirnya berdiri dan menyambar anak kunci. Mendekati Dhiarra dan pintu. Membukanya dengan lambat, seperti sedang ada yang tengah keras dipikirnya.


Dhiarra telah keluar dari kamar Shin. Akan berjalan menuju tangga penghubung teras kamarnya. Tapi Shin nampak menyusul dan kini berjalan di sampingnya.


"Kuantar ke kamarmu, Ra. Sudah sangat malam," Dhiarra tak menyahut. Sebab berjalan malam seperti ini sudah biasa. Apalagi kamar mereka berdekatan. Jarak tempuh perjalanan ini super pendek. Shin cukup lebay..


"Selamat malam, encik Shin," Dhiarra telah membuka pintu kamar dan sedikit menoleh pada Shin. Lelaki itu menjulang di belakang, hanya diam dan memandangnya.


Dhiarra bergegas masuk kamar, sambil sebelah tangan mengambil daun pintu dan merapatkannya.


Tapi sangat terkejut Dhiarra, lelaki yang menjulang di luar kamar tadi telah masuk juga ke kamarnya. Menutup pintu kamar dan menguncinya dengan cepat. Kini Dhiarra merasa cemas dan takut.


"Apa maksudmu, encik Shin,,?!" suara Dhiarra terdengar sangat panik. Memandang wajah Shin yang terus diam memandangnya.


"Jangan takut, Ra. Aku tak berniat jahat padamu. Hanya ingin mendapat sebuah kenangan darimu. Dari istri pertamaku. Kau masih istriku, Ra," jawab Shin sangat lirih.


"Mm,,maksudmu, encik Shin?" suara Dhiarra ikut melirih. Merasa tersihir oleh pandangan Shin yang terus lekat padanya.


"Hanya seperti ini," bersama jawabanya, Shin telah memegang bahu Dhiarra dan menunduk dengan cepat. Mendekatkan wajah dan menempeli bibir Dhiarra dengan bibirnya seperti kilat, begitu cepat. Dengan tangan terus menahan Dhiarra agar tidak lagi bergerak dan melawan.


Shin mulai melakukannya. Menciumi kedua pipi Dhiarra dan kembali ke bibirnya.


"Apa yang anda buat padaku?" susah payah Dhiarra bersuara. Shin tidak menanggapi. Justru telah mulai menghabiskan seluruh bibir indah Dhiarra atas bawah bergantian. Meski hembus nafas Shin terasa sangat panas dan memburu. Shin melakukannya begitu lembut, perlahan dan hangat....


Sebuah keranjang baju yang tadi begitu erat dicengkeram, telah terjatuh kaku dan tak berguna di antara dua pasang kaki manusia..


🍒🍒🍒🍒


🍒🍒🍒🍒


🍒🍒🍒🍒


🍒🍒🍒🍒


🍒🍒🍒🍒


Sekedar bernostalgia... Menghibur rasa duka... Adakah di antara reader tersayang yang mendengar tentang musibah nasional semalam/ hari ini. Begitu banyak korban meninggal di klub bola singo edan, Arema FC. Hampir 150 orang md dan mungkin akan terus bertambah... Oh, Arema-Persebaya... 😭😭😭.. ...Berdamailah..


Bernostalgia dengan karyaku Bukan Kacung Kaleng-Kaleng bab 115. Tamu Bertaksi Biru.. Kutulis beberapa paragraf tentang gempitanya Arema singo edan di sana 😘😘

__ADS_1


Tak menyangka... Terlalu besar musibah ini. Musibah ataukah mati konyol.. Tak tahuu..😭


🍒🍒🍒🍒


__ADS_2