
Seperti biasa, hobi si gadis Indonesia adalah berjalan di belakang mengikuti sang paman. Mata yang terkadang berlarian ke mana-mana, kini hanya untuk memandang punggung, rambut, leher dan seluruh bagian belakang tubuh Shin. Punggung gagah itu seperti menyimpan magnet yang tengah menjerat matanya agar terus memandang.
Diperparah dengan harum wangi yang terus ditinggalkan oleh Shin setelahnya. Dhiarra seperti terseret-seret mengikuti langkah panjang lelaki itu di belakang.
Shin,s Room terasa lengang. Belum ada Faiz yang tiba di dalam. Memang hampir tiap pagi Shin Adnan lah yang paling awal datangnya.
"Ra, buat teh hangat. Letak kat mejaku," Shin berpesan pada Dhiarra sebelum tenggelam dalam pintu ruangan pribadinya.
Sebab Shin tak nampak lagi, yang diberi pesan diam saja. Berjalan gontai menuju ruangannya. Meletak tas bahu di kursi dan berjalan lagi keluar.
Dhiarra nampak Faiz yang baru sampai di Shin's Room. Faiz tersenyum memandang Dhiarra, sambil memperlambat jalannya.
"Apa kabar, Dhiarra? Lama sangat bercuti. Tega ya buat aku sorang-sorang buat kerja?!" Faiz sambil terus tersenyum pada Dhiarra.
"Alhamdulillah. Bang Faiz apa kabar juga?" jawab Dhiarra agak kikuk. Jika saja Faiz tahu apa yang dah berlaku antara bossnya dengan Dhiarra, entah apa tanggapan lelaki itu.
"Masih sihat juga. Meski kepalaku pening saja tiap hari," Faiz mengeluh namun masih saja tersenyum.
"Bang Faiz, aku nak bikin teh. Tunggulah kat dalam," Dhiarra teringat pesan si boss padanya.
"Eh, Dhiarra. Kutengok engkau macam kurus. Apa sebab kau kurus?" Faiz tetap mengamati Dhiarra dan dahinya nampak jelas berkerut.
"Betulkah? Tapi aku tak rasa kurus, bang Faiz,," Dhiarra sambil menunduk-nunduk meneropong tubuhnya sendiri.
"Ehhemm!!" dehem stereo mengejutkan mereka. Shin telah menyandar di pemancang pintu dan memandangi mereka.
"Eh, tuan Shin. Anda dah datang kee? Anda, apa kabar?" Faiz berdiri tegak memandang Shin.
"Sihat... Pergi kat ruanganku, Iz.. Ada banyak pasal kerja yang ingin kubincang denganmu," sahut Shin pada sang asisten.
"Ra, jangan lupa. Teh hangat!" Shin berseru mengeksekusi perbincangan Dhiarra dan Faiz.
Dhiarra mengangguk dan bergegas berjalan keluar.
Shin dan Faiz tengah berbincang cukup serius mengenai perusahaan. Tidak ada masalah berat yang berarti selama hampir seminggu Shin tidak datang ke perusahaan. Om Hafiz sangat lihai dan berkompeten untuk menghandle segala urusan operational sementara selama Shin tidak datang. Ayah Azlan itu memang sangat mampu diandalkan.
Hanya satu masalah yang hingga kini belum tercover, yaitu tamu dari kota Manila, Filipina yang hingga kini masih belum ingin dijumpai. Setelah kecewa sebab gagal meeting bersama sang pemilik serta desainer dari Shin's Garment, calon klien itu masih terus mengejar tapi menggantungnya.
"Jadi pengusaha dari negara Philipin itu hanya ingin bertemu denganku dan Dhiarra di Camerun Highland?" Shin bertanya lirih memandang asistennya.
"Betul, tuan Shin. Jika mereka memang benar-benar tertarik dan menjatuhkan pilihan pada perusahaan anda. Segala kerjasama dengan badan garment dari Paris akan mereka stop dan dialihkan pada perusaahan kita, tuan Shin." Faiz berkata menjelaskan pada Shin.
"Bukankah itu menggiurkan, Iz?" Shin seolah tidak yakin dengan kesimpulannya sendiri.
"Benar, tuan Shin. Itu sangat menjanjikan keuntungan besar serta perkembangan pesat untuk perusahaan kita," dukung Faiz sambil mengangguk.
"Coba lobikan, Iz, bila orang dari Manila itu nak jumpa denganku?" ujar Shin pada sang asisten.
"Siap, tuan Shin. Akan segera kukabarkan," jawab Faiz.
"Thanks, Iz. Pergilah ke mejamu," kata Shin sambil menggerakkan dagunya.
Faiz mengangguk dan berdiri.
"Permisi, tuan Shin," Faiz beranjak disambut anggukan Shin.
Ceklerk..!
Bunyi pintu dibuka bersamaan datangnya Dhiarra dengan nampan berisi teh di tangan. Mendekati meja Shin sambil bersapa dengan Faiz.
"Teh punya bang Faiz, kuletak kat meja luar," Dhiarra memandang Faiz yang berpapasan dengannya.
__ADS_1
"Terimakasih, Dhiarra," ucap Faiz sambil berlalu. Dhiarra mengangguk meski Faiz tak melihatnya.
"Silakan, encik Shin," tangan indah itu meletak gelas teh di meja Shin.
"Ra, Dhiarra,!" panggilan baru untuk pemilik nama itu kembali disebut.
Dhiarra yang akan berbalik dan keluar kembali tegak memandang Shin.
"Duduklah,!" Shin menunjuk kursi dengan menggerak majukan lagi dagunya.
Dagu gentle yang samar berserabut hitam itu semakin berkharisma. Mungkin Shin sedang tidak ada waktu untuk mengikis bersihkan rambut halus di dagu. Biasanya rahang dagu itu selalu nampak licin dan bersih.
"Ra, Dhiarra,!" panggilan Shin ini membuyarkan pandangan Dhiarra dari dagu sang paman. Gadis itu duduk dengan buru-buru mengalihkan pandangan.
"Kenapa? Apa merasa kasihan padaku? Pulang kerja nanti, kau boleh mencukurnya untukku," Shin berkata tenang sambil meletak bolpoin di meja. Menahan senyum memandang wajah memerah di depannya.
"Aku ingin minum teh, Dhiarra," Shin menatap penuh arti pada Dhiarra yang kemudian nampak bingung.
"Ini adalah teh yang sudah anda minta padaku. Minumlah, encik Shin!" tangan Dhiarra memegang tatakan cangkir dan pelan mendorongnya pada Shin.
Tersentak kaget rasanya, Shin tiba-tiba mengulur tangan dan menangkap jemarinya sangat cepat. Begitu erat dan hangat tangan Shin menggenggam jemari halus lentik miliknya.
"Encik Shin, lepaskan! Ada bang Faiz,!" Dhiarra panik berseru.
Tempat duduk Faiz juga Dhiarra di ruang sebelah memang menghadap ke ruangan Shin. Pembatas kaca itu ada gorden namun jarang tertutup. Lebih sering dibiar terbuka seperti halnya saat ini.
Shin masih menangkap tangan Dhiarra dan menggenggam eratnya sesaat. Sebab tangan halus itu terus bergerak ingin dilepaskan. Wajah cantiknya telah merona dan pias. Selain terkejut tak menyangka, juga panik jika tiba-tiba Faiz melihatnya.
Tak tahan pada ekspresi Dhiarra yang cemas, segera dilepasnya dan cepat berdiri. Shin menuju pembatas kaca dan langsung menarik gorden hingga sempurna menutup. Ruangan Faiz telah sama sekali tak terlihat. Shin kembali duduk di tempatnya.
"Lihatlah, Faiz dah tak nampak. Anggaplah dia tak ada. Mana tanganmu,?" Shin berkata serius dan mengulurkan tangannya.
"Dhiarra, mana tanganmu?" Shin mengulangi pertanyaan.
Jemari halusnya kembali erat dipegang Shin. Terasa ditarik, tangan besar Shin mendekatkan jemari halus itu di dagu gentlenya. Shin menggeser duduk dan memajukan wajah lebih mendekat ke Dhiarra. Mereka terhalang oleh meja.
"Sentuhlah, Dhiarra. Aku sangat ingin tanganmu ini menyentuhnya," Shin telah menempelkan jemari Dhiarra pada dagunya.
"Encik Shin,,!" Dhiarra berseru. Tercekat dengan ulah Shin pada tangannya. Sangat kuat Shin menahan, sama sekali tak bisa ditariknya.
"Hanya seperti ini, Dhiarra." Shin memandang sayu dan seperti sedang merayu. Rasanya tak tega, Dhiarra mencoba melemaskan tangan dan pasrah pada keinginan Shin.
Shin bukan hanya menyentuhkan. Merasa pemiliknya telah diam, Shin membawa tangan halus itu untuk diusapkan berulangkali ke dagunya.
Seperti terhipnotis serta tak ingin membuat Shin bertindak lebih. Dhiarra mengikuti dan telah mengusap berulang kali dagu Shin.
Meski awalnya sebab tarikan tangan Shin, tapi kini jemari Dhiarra telah mengusap elus dengan sendirinya tanpa sadar. Merasakan sensasi geli dari rambut halus di dagu Shin yang menempel di telapak tangannya.
"Ra, apa kau sama sekali tidak bahagia setelah pergi ke Penang?" Shin tiba-tiba bertanya pelan dan lirih. Kedua tangannya telah berada di atas meja, tidak lagi memaksa Dhiarra. Shin sedang menikmatinya sekarang.
Dhiarra memandang lekat mata Shin, dengan tangan yang terus berada di dagunya.
"Saya merasa lega, ibuku ternyata baik-baik saja," jawab Dhiarra tak kalah lirihnya. Jemarinya nampak telah asyik bermain di dagu Shin.
"Apa kau ini benar-benar jadi kurus? Apa perjalanan pulang dari Penang itu membuatmu sangat tertekan?" Shin memandang redup hangat Dhiarra.
Gadis itu hanya menggelengkan kepala perlahan. Seperti tidak fokus pada pertanyaan Shin Adnan.
"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, encik Shin," Dhiarra memandang sayu pada Shin. Jemarinya semakin bergerak-gerak di dagu Shin.
"Ah, sakit, Dhiarra! Kau menarik-nariknya sangat kuat!" Shin sedikit berseru.
__ADS_1
Sensasi geli dari usapan tangan Dhiarra itu berubah sakit. Dhiarra tidak lagi mengusap, tapi berubah menarik-narik rambut di dagu Shin. Dan tarikan-tarikan lembut itu perlahan berubah jadi tarikan yang kuat . Namun Shin tidak menepis tangan itu. Dibiarkan sambil meringis menahan sakit. Dan akhirnya berseru kesakitan tidak tahan..
Tok..! Tok...! Tok..! Tok...!
Terkejut kaget keduanya. Shin cepat memundurkan punggung dan Dhiarra langsung menarik tangannya.
"Ya! Masuklah!!" Shin berseru agak keras. Membuang sisa degup di dadanya.
Ceklerk ..!
Faiz nampak tertegun di pintu. Terheran memandang Dhiarra. Dan kembali lanjut langkah dengan mata memandang Dhiarra.
"Engkau masih kat sini rupanya, Dhiarra?!" nada Faiz masih terdengar keheranan. Matanya berlari ke gorden yang tertutup rapat di belakang Shin. Dahi Faiz kembali berkerut sangat rapat.
"Apa hal, Iz?!" tanya Shin menegur pada Faiz.
"Saudagar sekaligus pengusaha dari Manila nak jumpa lusa petang, tuan Shin," lapor Faiz dengan cepat.
"Masih kena jumpa kat Cameron Highland Flora Park kah, Iz?" Shin mengambil cangkir teh dan meneguknya.
Shin melirik Dhiarra yang nampak canggung dan pias. Shin samar tersenyum.
"Betul, tuan Shin. Dan yang utama kena bawa desainer anda sekalian," Faiz memandang Dhiarra yang terus duduk dan mematung.
"Oke, Iz. Tapi terpaksa aku tak datang kerja sekali lagi. Tolong kau handlekan lagi apapun urusan kerja dengan om Hafiz. Sebab negeri Pahang jauh juga," Shin menerangkan rencananya pada Faiz.
"Iya, tuan Shin," Faiz menjawab sambil mengangguk.
"Dhiarra, engkau pun kena ikut pergi Cameron Highland lusa petang. Calon klien dari Manila yang sempat gagal kita jumpa kemarin nak jumpa engkau kat sana," Shin memandang tegas pada Dhiarra.
"Iya, encik. Apa kita akan bertolak dari KL langsung?" tanya Dhiarra ingin tahu.
"Betul itu, Ra," sahut Shin.
"Penampakan alam kat sana indah sangat, Dhiarra. Tapi engkau jangan lupa makan, boleh kian kurus engkau,!" Faiz sungguh-sunguh memberi pesan baiknya pada Dhiarra.
"Siap, bang Faiz. Terimakasih pada pesan baikmu padaku!" Dhiarra berdiri dari duduknya.
"Encik Shin, saya kena pergi. Nak sambung kerja,," Dhiarra berpamitan undur diri.
Tanpa menunggu jawaban dari Shin, gadis itu berlalu cepat meninggalkan mereka berdua di sana.Ingin mencari tahu di surfing. Apa,bagaimana, di mana, dan seberapa jauh Dhiarra akan menjumpai calon klien Shin"s Garment dari Manila di puncak Cameron Highland, negeri Pahang..!
🍒🍒🍒🍒
🍒🍒🍒🍒
🍒🍒🍒🍒
🍒🍒🍒🍒
🍒🍒🍒🍒
Terimakasih yang tak lelah mendukungku.. Memberiku doa2... hadiah..ngelike...dll
Trims yg udah ninggal2 jejak buatku.... Benar,itu sangat2lah menghiburku..
Apapun bunyi jejakmu,,,tetap selalu kuharap..
Maaf belum sempat membalas...
Tapi anggaplah updateku ini adalah bentuk balasan sayangku dari jejak2mu untukku..
__ADS_1
Doakan otor remeh ini ya,,, suatu saat ada karyaku yang sempat dipajang NT di sana.. Di pasar depan sana...😆😆😄